Cinta Gadis Buta Huruf

Cinta Gadis Buta Huruf
Tuan dan nyonya besar murka


__ADS_3

Bab 10


Tuan dan nyonya besar murka


"Mala, kamu harus pulang ke rumah. Sekarang !" Perintah tuan besar dengan suara beratnya, dan tidak seperti biasanya dia melakukan itu padaku.


Apakah terjadi sesuatu di rumah? Aku bergegas pulang. Aku tidak ingin seseorang terluka karena aku. Mengingat perlakuan nona tadi yang begitu sangat tidak terduga. Membuatku sedikit bergidik ngeri untuk memikirkannya.


Di dalam ruangan ini tuan dan nyonya sepertinya sedang menunggu kedatanganku. Wajah bapak dan ibu terlihat panik dan cemas.


"Mala, apa yang terjadi, sehingga kepalamu di perban seperti itu ?" Sepertinya tuan dan nyonya sudah mendengar cerita dari seseorang, kalau di peternakan tadi ada terjadi sebuah insiden kecil.


"Ohh ini, nyonya emm nggak apa-apa kok. Cuma luka kecil."


"Bagaimana kamu bisa bilang kalau itu cuma luka kecil." Kalau seseorang tidak menelpon kami tadi, mungkin kami pun nggak tahu apa yang sedang terjadi di sana."


"Ceritakan pada kami, apa yang terjadi?"


"Aku mohon Mala, ceritakan yang sejujur-jujurnya." Nyonya menekan kata sejujur-jujurnya padaku, seakan ingin menekankan agar mau menceritakan hal yang sebenarnya dan tidak ditutup-tutupi.


Ditambah tuan besar pun juga sepertinya sangat menanti untuk mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi padaku.


"Ku harap kamu tidak memiliki musuh, Mala."


"Tidak, tuan. Saya tidak merasa memiliki musuh."


"Lantas mengapa seseorang datang untuk melukaimu tanpa alasan ?"


Tuan tidak sabar untuk mendengar cerita yang telah terjadi padaku.


"Maafkan saya tuan, saya juga tidak mengenal wanita tadi. Dia sungguh sangat berbeda. Dari penampilannya saja sudah terlihat kalau dia berasal dari kalangan orang kaya, tuan. Tidak mungkin dia pernah mempunyai hubungan dekat dengan saya, tuan."


"Jika kamu tidak mengenalnya, apa alasannya wanita itu datang hanya untuk melukaimu."


"Maaf tuan. Saya sungguh bersalah dalam hal ini. Sepertinya wanita itu tidak menyukai perihal pertunangan saya dengan tuan Cristian."


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Mala?"


"Dia mengakui kalau dia membenci saya, karena saya telah merebut tuan Cristian darinya."


"Apa sebaiknya pertunangan ini dibatalkan saja tuan? Saya tidak ingin mencuri kebahagiaan orang lain."


"Belum tentu juga tuan Cristian mau menerima saya sebagai jodohnya."


BRAAAAKKKK


Tuan besar menggebrak meja kaca yang ada di depannya. Seluruh orang yang berada di ruangan ini serentak kaget.


"Mala, dengarkan saya baik-baik. Sekali saya memberi keputusan akan menjodohkan cucu saya denganmu. Maka, lakukan seperti apa keinginanku. Jangan pernah berpikir untuk tidak melakukannya. Hanya untuk seseorang yang belum kita kenal."


"Apa kamu mengenali wajahnya, Mala?"


"Iya nyonya. Kalau nggak salah ingat katanya dia bernama Casandra."

__ADS_1


"Cukup Mala !" Jangan sebut nama itu di hadapanku lagi."


Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti. Tuan besar sepertinya benar -benar murka saat aku menyebutkan nama Casandra di hadapannya.


"Dan kamu Mala, aku minta jangan pernah mau menyerah begitu saja. Apalagi sampai menyerahkan cucu kesayanganku pada wanita yang bernama Casandra itu."


"Apa pun yang akan kamu hadapi bersama cucuku nanti, aku minta kamu bersabar sampai cucuku mampu melupakan wanita itu."


"Sampai kapan pun saya dan istri saya nggak akan menyerahkan cucu saya kepada keluarga itu."


Aku hanya terdiam melihat sorot mata tuan yang berkaca-kaca menahan amarahnya. Aku juga tidak mengerti kenapa begitu besar kebencian tuan dan nyonya kepada wanita yang bernama Casandra itu.


"Sekarang, masuklah ke kamarmu dan istirahatlah. Nggak usah dulu mengurus peternakan hingga lukamu benar-benar pulih."


"Baik tuan."Aku menundukkan kepalaku di hadapan kedua majikan ku dan meninggalkan mereka dalam ruangan ini.


Bapak dan ibu mengikuti langkahku dari belakang menuju kamarku.


"Kamu nggak apa-apa nak?" ibu dan bapak tidak kalah cemas melihat kondisiku.


"Nggak apa-apa kok bu, cuma luka kecil juga. Nanti juga akan sembuh," ucapku pelan.


Sepertinya mulai dari sekarang aku harus menyiapkan hatiku untuk bisa menerima segala resiko yang akan terjadi dengan perjodohan ini.


Aku lebih memilih diam, agar bapak dan ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku.


"Nak Mala, dipanggil sama tuan muda ke kamarnya," ujar bik Inah. Yang muncul di hadapan kami menyuruhku menemui tuan muda.


"Cepatan non, tuan muda orangnya nggak sabaran," ucap bik Inah mengingatkan.


"Baik bik, saya mengerti."


Aku menaiki tangga menuju ke kamar atas, dimana tuan muda berada. Kebetulan pintu kamarnya tidak tertutup.


"Boleh saya masuk tuan?"


Tuan muda yang sedang sibuk dengan laptobnya. Hanya memandangku sekilas lalu menganggukkan kepalanya.


"Apa tuan memanggil saya?" Jujur aku sangat gugup berada di kamar tuan hanya berdua.


Perasaan ini, jantungku yang berdetak kencang saat berada di hadapannya. Aku merasa ingin pergi saja. Sungguh aku merasa tidak nyaman dengan perasaanku sendiri.


Tuan muda segera berdiri dari tempat duduknya. Melangkah menuju ke arahku. Sekarang dia berada tepat di hadapanku. Jantungku semakin berdetak kencang.


Aroma tubuhnya begitu sangat harum, membuatku sedikit terlena dengan menghirup aromanya. Sambil memejamkan mataku.


"Saat kubuka mataku, wajah tuan sudah berada tepat di depan mataku. Aku terlonjak kaget. Dan sedikit melompat mundur. Namun sayang kakiku malah tidak kuat berpijak, hingga aku akan terjungkal ke belakang.


Sedetik kemudian kukira aku akan mendaratkan bokongku ke lantai dengan keras. Dengan menutup mata aku sungguh tak sanggup bila harus terjatuh tepat di hadapan tuan muda.


Lengan kekar tuan muda kurasa sedang menopang tubuhku. Agar aku tidak terjatuh. Sesaat mata kami saling beradu pandang. Tuan muda memiliki mata hitam yang meneduhkan hati.


Untuk sesaat aku membiarkan tuan muda, menarik aku dan mengembalikan aku ke posisi semula.

__ADS_1


"Maaf tuan, saya tidak bermaksud.."


"Sudahlah nggak apa-apa. Tidak perlu di bahas."


"Emmm apa tadi tuan memanggil saya?"


"Ya, aku ingin memastikan sesuatu denganmu." Tuan muda mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Dan menunjukkan sesuatu dari ponselnya kepadaku.


"Apakah wanita ini yang melukai kepalamu?"


Aku hanya bisa diam di hadapannya. Pikiranku kembali kepada kejadian di peternakan beberapa jam yang lalu.


"Mala...."


Tuan menyebut namaku, lembut tapi masih terkesan tegas bagiku.


"I..i ..iya,tuan..."


"Jawab aku dengan jujur."


"Iya tuan, sepertinya wanita yang di dalam foto itu yang melakukannya." Suara tuan muda lebih pelan akan tetapi nadanya terkesan menekankan perkataannya.


"Apa kamu yakin?"


"Iya tuan, saya yakin. Wajah dan penampilannya masih saya ingat betul."


"Apa dia mengatakan sesuatu, saat dia melukaimu?"


"Emmm...."


"Jawab Mala.."


"Iya tuan,"


"Apa katanya."


"Dia akan menyakiti saya lebih dari ini, jika saya berani merebut tuan muda darinya."


Tuan muda terdiam sejenak.


"Apa kamu pikir aku akan mempercayaimu, Mala ? Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu berani berkata bohong padaku?"


"Punya nyali juga kamu, berani menyakiti dirimu sendiri. Demi untuk mengambil hati kakek dan nenekku."


Tatapan mata yang meneduhkan hati tadi berubah menjadi tatapan tajam mematikan seakan ingin melahapku hidup-hidup."


Tak aku sadari tiba-tiba air mataku menetes dengan sendirinya. Bagaimana mungkin tuan bisa menganggap aku sedang berbohong.


"Saya tidak perlu menjelaskan apa pun pada tuan saat ini. Apa pun yang saya katakan pada tuan adalah kejujuran dari saya. Tuan berhak tidak mempercayai saya." Tak kalah darinya aku juga menegaskan apa yang kurasakan saat ini pada tuan muda.


Sesak terasa dalam hatiku, aku sudah berkata jujur. Namun tak dianggap olehnya. Sambil menghapus air mataku yang sedari tadi tidak berhenti mengalir di pipiku. Aku berniat keluar dari kamar ini.


Saat kuingin melangkahkan kaki ku, menuju pintu. Ternyata tuan dan nyonya sudah berada di sana. Sejak kapan, aku tidak tahu. Aku lebih memilih meninggalkan mereka. Menuju ke kamarku.

__ADS_1


__ADS_2