
Menemui dokter
Bab 70
Cristian memandang wajah Mala yang sedang tertidur dalam dekapannya. Matanya yang sudah bengkak, menandakan tangisnya yang tak pernah berhenti. Wajah Mala penuh dengan keteduhan. Tak hentinya dia terus mencium kening Mala.
"Aku masih mencintaimu Mala. Sama seperti dulu, dan perasaan ini nggak akan pernah berubah."
Mala membuka kelopak matanya. Sepertinya dia menyadari kalau dia berada di tempat yang asing. Dia bangun dari atas ranjang dan mencoba mencari tahu di mana ini. Kamar ini cukup luas, dan terbilang sangat mewah. Namun dia harus tahu dimana ini.
"Kamu sudah bangun?"
Mala kaget dengan kedatangan Cristian di depan pintu kamar.
"Aku sudah memasak, ayo kita makan."
Mala melihat jam di dinding kamar itu pukul 19.00. Dia memilih masuk kamar mandi dan mencuci mukanya. Setelah itu dia pergi menuju ke dapur. Melihat Cristian sedang sibuk menata makanan dia atas meja.
"Kemari lah Mala, ayo kita makan malam."
Mala menghampiri meja makan dan duduk berhadapan dengan Cristian.
"Aku tahu kamu sangat lelah. Maafkan aku nggak membangunkan mu. Aku pikir biar kita beristirahat di sini dulu malam ini."
"Nggak bisa Crist, bagaimana dengan putri mu?"
"Sudah ada nenek yang menjaganya.
Aku sudah menghubunginya, dan meminta malam ini untuk menjaganya."
"Tapi Ellena butuh aku Crist."
"Tenanglah dan makan dulu. Setelah makan baru kita akan membahasnya."
Mereka berdua makan dalam diam. Hanya denting sendok dan garpu yang memecah keheningan di antara mereka. Rasa canggung di antara mereka sangat terlihat sekali dengan pandangan mata yang tak sengaja beradu. Namun cepat cepat keduanya mengalihkan lagi pandangan mereka ke tempat yang lain.
Setelah makan malam selesai. Mala membereskan piring sedang Cristian membersihkan meja. Keduanya lalu duduk lagi di meja makan setelah semuanya selesai. Mala sudah tak sabar menunggu penjelasan Cristian.
"Apa kamu nggak khawatir dengan keadaan putrimu?"
"Nggak, kan sudah ada nenek yang melihat keadaannya." Jawab Cristian santai.
Mala mencebik kan bibirnya, tanda dia tak mengerti dengan jalan pikiran Cristian.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu untuk jalan-jalan. Meski aku tahu waktunya sangat kurang tepat."
Cristian mulai serius dengan pembicaraannya.
"Selama ini aku merasa aku terus menekan kamu, dengan membuatmu terus mengingat masa lalu kamu. Dan aku ingin saat ini kamu bisa menjernihkan pikiranmu di tempat yang tenang seperti ini."
Di dalam hati memang Mala mengakui kalau tempat ini sungguh sangat tenang. Tempat yang paling cocok untuk mencari ketenangan. Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Dan pastinya jauh dari polusi udara.
Mala hanya diam, dia tak bisa menjawab Cristian dengan kata kata. Sebab di dalam hatinya dia juga sebenarnya butuh ketenangan. Menjauh dari semua beban berat pikiran, yang selama ini dipendamnya sendirian. Di tambah lagi beban merawat putri dari mantan suaminya. Miris tapi harus bisa dilewati pikirnya.
"Kita akan menginap selama tiga malam di sini," ujar Cristian mantap.
"Apa kamu nggak salah Crist?"
Mala membulatkan matanya, dia tak menyangka saja Cristian begitu berani seperti ini.
"Aku nggak pernah salah Mala."
"Tapi bagaimana dengan Ellena dan rencana awal kita untuk mencari psikolog untuk Ellena. Apa kamu lupa tadi pagi kamu mengajak aku keluar dengan tujuan apa."
Mala merasa tak terima dengan keinginan Cristian.
"Tenanglah Mala,"
"Tenang bagaimana Crist, kamu lupa sama putri kamu?"
"Aku nggak lupa, tapi aku ingin yang merawat Ellena juga mempunyai hati yang tenang serta pikiran yang jernih."
"Apa kamu pikir aku kurang waras dalam merawat Ellena?" suara Mala sedikit meninggi. Sepertinya dia tak mau terima jika Cristian menganggapnya kurang waras.
Cristian tersenyum, melihat tingkah Mala dalam menanggapi perkataannya.
"Bukan begitu Mala, aku sangat sadar dengan kondisimu sekarang. Selama ini hanya ada air mata yang terus membasahi pipimu. Dan saat ini aku ingin kamu bahagia, dengan kedamaian yang di sajikan di tempat ini."
"Apa kamu pikir aku harus bahagia dan melupakan Devan?"
Mala sedikit emosional mendengar keinginan Cristian.
"Bukan begitu Mala, aku nggak memintamu untuk melupakan Devan. Tapi aku memintamu untuk bahagia melewati hari barumu. Dan aku yakin di alam sana Devan juga pasti bahagia melihat mommy nya bahagia. Jika kamu terus bersedih ,Devan pun ikut bersedih," ucap Cristian dengan lembut dan pastinya lebih hati hati.
"Benar juga apa yang dikatakan oleh Cristian, aku nggak boleh berlarut larut dalam kesedihanku. Aku harus bahagia untuk putraku," gumam hati Mala.
Sepertinya sekarang Mala mudah sekali sensitif. Dia mudah marah dan tersulut emosinya. Hanya dengan kelembutan yang bisa membuat hatinya luluh. Dan Cristian yakin, pelan pelan Mala bisa menerima kenyataan, dan mulai merasakan kebahagiaan.
"Aku berjanji Mala, akan selalu membahagiakan kamu," bisik Cristian pada dirinya sendiri.
Lama keduanya terdiam tanpa kata kata. Tapi jauh di dalam lubuk hati mereka sedang memikirkan jalannya masing masing.
"Crist,"
Suara Mala membuyarkan lamunan Cristian.
"Iya,"
"Bagaimana dengan Ellena, apa kamu nggak mengkhawatirkannya?"
"Maksudku kenapa kita nggak mencari psikolog dulu baru datang kemari."
Ada rasa tak enak hati di dalam hati Mala. Mengingat keadaan Ellena yang masih belum benar benar sembuh. Meski sebelum dia keluar bersama Cristian, suhu tubuh Ellena sudah agak mendingan. Mungkin besok atau lusa dia sudah bisa sembuh.
__ADS_1
"Tadi aku sudah menghubungi nenek, dan katanya Ellena baik baik saja. Siang tadi dia sudah bisa turun dari ranjang. Dan semoga beberapa hari ke depan demamnya benar benar hilang."
"Oh," hanya itu yang bisa keluarkan dari bibirnya.
Mereka berdua kembali berdiam diri.
"Crist,"
"Ya Mala,"
"Apa sebaiknya besok kita pulang saja. Kita carikan dulu psikolog untuk Elena."
Cristian tersenyum mendengar penuturan Mala. Dia benar benar merasa tak salah menunggu Mala selama ini. Hati Mala benar benar seputih kapas. Setelah semua kejadian yang terjadi pada dirinya, tapi dia tak menaruh dendam sama sekali. Bahkan pada Ellena, putri dari Casandra.
"Aku sudah mendapatkannya Mala, kamu jangan khawatir." Jawab Cristian dengan tenang.
"Bagaimana bisa?"
"Sejak tadi siang aku sudah mencarinya lewat internet. Dan nggak butuh waktu lama aku mendapatkannya."
"Berarti kamu sudah membohongi aku hari ini. Bisa saja kamu mencarinya di internet dari rumah aja kan?" Nada Mala sedikit kecewa, dia sangat merasa tertipu hari ini.
Kenapa sama sekali tak terpikirkan olehnya jika mencari dokter jaman sekarang sungguh sangat mudah sekali. Mala menepuk keningnya sendiri, lagi lagi Cristian tersenyum dengan tingkah Mala.
"Aku nggak menipu kamu, Mala. Tapi aku sedang berusaha untuk membuat kamu bahagia dengan caraku."
"Namanya dokter Anisa, tapi karena dia dokter terbaik di negri ini dan sangat sibuk. Terpaksa janji temu dengannya tiga hari lagi dari sekarang."
"Itu artinya, Tuhan sedang berbaik hati pada kita. Memberikan waktu tiga hari untuk menenangkan diri disini."
"Tapi bagaimana jika sesuatu terjadi pada Ellena?"
"Sudahlah jangan dipikirkan. Elena aman bersama nenek."
Mala diam lagi, dan memilih masuk ke kamarnya.
Vila ini cukup luas, dan hanya memiliki dua kamar. Satu ruangan luas yang langsung di sambungkan ke dapur. Serta kolam renang di halaman belakang, yang menyajikan pemandangan pegunungan yang hijau membentang sejauh mata memandang.
Mala mengunci pintu kamarnya. Biar bagaimana pun Mala sadar jika dia dan Cristian bukan siapa siapa. Bukan lagi pasangan suami istri. Melainkan hanya orang asing yang kebetulan berada di bawah atap yang sama. Setidaknya itulah yang melintas pada pikiran Mala. Cristian hanya bisa tersenyum menyeringai di balik pintu kamar Mala.
πΌπΌπΌ
Hari berganti pagi,
Mala terbangun dari tidurnya. Pukul 06.00 jam di dinding menunjukkan waktu. Setelah membersihkan diri, Mala mengganti pakaiannya. Di dalam lemari sudah ada beberapa lembar pakaian wanita. Terlihat seperti pakaian baru. Terbukti saat Mala akan mengenakannya, label harganya yang fantastis terpampang jelas pada merk pakaiannya.
"Sepertinya kamu sudah merencanakan ini jauh jauh hari, tuan Cristian. Mari kita lihat apa rencana kamu hari ini." Mala tersenyum kecil dan segera keluar dari kamarnya. Tentu dengan dandanan yang sangat natural, dengan peralatan skin care dan make up lengkap di meja rias.
"Luar biasa," Mala melihat usaha Cristian hingga sedetail ini.
Mala berkutat dengan peralatan masak di dapur. Aroma masakan Mala menguar ke segala penjuru sudut Vila yang mereka tempati. Hingga masuk ke dalam kamar Cristian , yang masih tertidur pulas. Menikmati mimpi indah.
"Hmmm aroma apa ini?"
Cristian menggeliat di atas ranjangnya. Dia sudah tak bisa menahan diri lagi dan segera bangun. Ingin sekali melihat dari mana asal aroma masakan yang begitu menggoda seleranya.
"Hmm kelihatannya enak sekali."
Cristian berhenti tepat di belakang punggung Mala yang masih asik memainkan sendok goreng di atas wajan.
Mendengar suara Cristian dari arah belakang Mala berputar menghadap Cristian.
"Cristian, apa yang kamu lakukan?"
Mata Mala terbelalak melihat pandangan indah di hadapannya
Tubuh Cristian yang kekar dan hanya memakai boxer saja berada tepat di hadapannya. Membuat jantungnya terasa akan copot dari tempatnya. Mendengar teriakkan Mala yang histeris, Cristian terperanjat dan segera sadar dan membuka matanya lebar lebar
"Ada apa Mala, kenapa kamu berteriak begitu kencang sekali. Apa ada perampok?"
Mata Cristian mula melihat semua sudut ruangan Vila ini. Namun tak menemukan apa pun.
"Cristian cepat pakai bajumu !" Perintah Mala dengan suara yang sangat keras.
Seketika Cristian sadar dan tersentak kaget ternyata dia hanya menggunakan pakaian dalamnya. Segera dia berlari menuju ke kamarnya. Sementara Mala hanya bisa memegang dadanya. Degup jantungnya sangat cepat. Dan segera dia menggelengkan kepalanya.
Pikirannya di penuhi dengan pikiran yang kurang baik saat ini. Bagaimana bisa debaran jantung ini semakin kencang. Mala terlihat gugup dan pucat. Dia lebih memilih duduk di kursi meja makan.
"Perasaan apa ini, kenapa debaran di jantung terasa aneh melihat Cristian seperti itu."
"Oh Tuhan sadarlah Mala. Apa kamu lupa dialah yang menjadi penyebab kematian putramu." Bisikan dan godaan setan sempat menggoyahkannya.
Namun dia bisa segera menepisnya segera.
Lima belas menit kemudian Cristian sudah rapi dengan pakaiannya. Baju kemeja berlengan pendek warna putih dan celana Levis biru pendek selutut menjadi pilihannya saat ini.
Mala sudah menata meja makan dengan semua masakan yang dibuatnya.
Saat melihat penampilan Cristian, hatinya berdesir halus. Jantungnya terus berdegup kencang. Tapi dia terus menyangkalnya. Dan tak ingin mengakuinya. Mala lebih memilih tunduk dan memakan makanan yang ada di piringnya.
"Tidak Mala, kamu hanya merasa gugup," dalam hati Mala mencoba membuang jauh pikirannya.
Sedang Cristian menatap Mala tanpa berkedip. Pagi ini Mala memakai dress Sabrina berwarna putih juga. Sangat cocok pada tubuhnya yang ramping dan berkulit putih bersih. Rasa kagum dan terpesona terus menyelinap di dalam hati Cristian.
"Jangan terburu buru Crist, lakukan dengan kelembutan agar dia nggak melarikan diri." Hati Cristian terus berbisik, menenangkannya yang sungguh sangat ingin pergi mendekati Mala lalu merangkulnya.
Ingin sekali Cristian berteriak.
"Mala aku sungguh sangat mencintaimu." Namun kalimat itu seakan tercekat di kerongkongannya. Seakan menahannya agar tidak gegabah melakukan sesuatu.
Setelah sarapan pagi Cristian mengajak Mala untuk berjalan jalan mengelilingi area Villa ini. Pemandangannya yang sangat bagus banyak pepohonan serta tumbuhan bunga bunga terawat baik di sekitar Vila. Membuat setiap orang yang datang kari akan terlena dan sulit untuk melupakannya.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Cristian. Dia hanya diam dan mengikuti langkah kaki Mala. Saat ini dia sengaja untuk tak mengajak Mala untuk mengobrol. Cristian hanya ingin Mala merasakan kedamaian tanpa di ganggu. Tapi tetap dalam pengawasannya.
__ADS_1
Tiga hari mereka lewati dengan ketenangan. Kedamaian yang di dapat membuat hati Mala menjadi lega. Bagaimana pun dia harus menjalani hidupnya dengan bahagia. Berharap di alam sana Devan turut merasakan kebahagiaan bersamanya saat ini .
Saatnya kembali ke rumah. Cristian sudah menunggu Mala di area parkir. Mala keluar mengenakan gaun berwarna floral peach.
Gaun kesukaannya, Cristian sudah mengenal betul semua apa yang di sukai oleh Mala. Dan semuanya dia belikan yang terbaik untuknya.
Satu jam perjalanan mereka tiba di kediaman Adiwijaya. Nyonya Elisabeth dan nona Margareth telah menunggu mereka di ruang tamu. Mereke menyambut keduanya dengan saling berpelukan. Seolah sudah lama tak bertemu, padahal baru tiga hari mereka pergi.
"Bagaimana liburannya nak?" Nyonya Elisabeth menatap hangat wajah Mala.
Gadis sederhana yang begitu sangat memukau hatinya dan sang suami yang telah berpulang. Bertahun tahun dia selalu berdoa, meminta agar Tuhan kembali menyatukan cucu kesayangannya dengan gadis yang telah berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik ini. Semoga sang suami turut mendoakannya, agar cucunya bisa kembali berbahagia dengan pilihan suaminya.
"Semuanya baik nek."
"Syukurlah kamu suka nak."
Mala mengangguk kecil. Dalam hati dia juga bersyukur, begitu nyonya Elisabeth sangat memperhatikannya. Dan dia sebenarnya memang membutuhkan waktu untuk sekedar menenangkan diri. Dan liburan ini sangat bermanfaat bagi dirinya. Setidaknya dia merasa aman karena Cristian tak melakukan hal yang buruk kepadanya.
"Mala ke kamar atas dulu nek, ingin melihat keadaan Ellena dulu." Mala pamit pada nyonya Elisabeth dan nona Margareth yang masih duduk di sofa.
Nyonya Elisabeth mengangguk dan melihat Mala yang berlalu menuju lantai atas.
"Bagaimana liburanmu nak?"
Mata Nyonya Elisabeth berpaling menuju ke arah cucunya.
"Baik nek, Crist sangat menikmati liburannya. Terima kasih sudah mau memberi kesempatan pada Cristian untuk lebih dekat dengan Mala."
"Dan kakak minta, tolong lakukan dengan baik. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang sama lagi nanti."
"Apa Mala sudah memaafkan kamu nak?"
Cristian menggeleng lemah, nyonya Elisabeth mengangguk tanda mengerti.
"Nggak apa apa cucuku. Kamu masih perlu terus bersabar. Nenek yakin suatu hari nanti pasti hati Mala akan luluh juga."
"Terima kasih atas dukungannya nek. Crist akan berusaha lebih baik lagi demi untuk Mala."
"Nenek percaya sama kamu nak."
Keduanya sama sama tersenyum. Dalam hatinya masing masing berharap akan sebuah doa yang sama. Semoga semuanya akan menjadi baik baik saja. Dan kelak Mala kembali menjadi bagian dari keluarga Adiwijaya ini.
Mala sudah tiba di kamar Ellena.
"Mama,"
Ellena tersenyum melihat kedatangan Mala.
Mala mendekati Ellena, dan tanpa diduga Ellena langsung berdiri dan merangkul tubuh Mala. Membuat Mala sedikit terperangah akan sikap gadis kecil ini. Di usapnya pucuk kepala Ellena dengan lembut dan kasih sayang.
"Mama Ellena kangen,"
Hanya itu yang diucapkan oleh Ellena.
"Ellena sudah sembuh, terima kasih mama masih menemani Ellena di sini."
"Ellena berpikir kalau mama sudah meninggalkan Ellena. Tapi kata nenek Mama sedang mencari dokter untuk kesembuhan Ellena ya?"
Mala hanya mengangguk dan menangkup kan kedua tangannya pada pipi Ellena.
"Ellena sayang, harus janji kalau Ellena harus segera sembuh ya."
Ellena menganggukkan kepalanya.
Nyonya Elisabeth masuk ke kamar dan menghampiri keduanya.
"Ellena hari ini kita kedatangan tamu."
Nyonya Elisabeth mempersilahkan seorang dokter wanita cantik masuk ke kamar Ellena.
"Kenalkan, ini dokter Anisa yang akan menemani Ellena agar bisa cepat sembuh."
Ellena kaget melihat wanita asing di hadapannya. Keringat dingin mulai mengucur tubuhnya. Sungguh dia merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita di hadapannya. Mala menggenggam tangan Ellena yang sudah dibasahi oleh keringat.
"Ellena sayang." Mala memandang wajah Ellena yang sudah mulai pucat pasi.
Ellena menggeleng pelan.
"Nggak apa apa sayang ada mama di sini." Mala sepertinya mengerti saat ini Ellena merasa ketakutan.
Dokter Anisa melihat reaksi Ellena tapi dia tetap tenang.
"Bisakah nyonya berdua meninggalkan kami sendiri di sini?"
Dokter Anisa meminta nyonya Elisabeth dan Mala untuk meninggalkan dia dan Ellena sendiri di kamar ini.
"Nggak mau, Ellena nggak mau."
Ellena menggenggam tangan Mala.
"Ellena sayang nggak boleh begitu. Ellena mau sembuh kan?" Tanya Mala lembut.
"Ellena nggak mau sama dokter."
Ellena semakin mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan Mala.
"Tenanglah sayang, nggak ada apa apa kok. Dokter datang untuk membuat kamu sembuh."
Dengan lembut dokter Anisa membujuk Ellena agar mau mendengarkan penjelasannya.
Membujuk Ellena bukan perkara yang mudah. Semakin dibujuk semakin dia mundur ketakutan. Baginya saat ini sangat terasa tak nyaman. Dalam hatinya dia hanya menginginkan Mala yang berada bersama dengannya saat ini.
Tapi tidak bagi orang orang dewasa di hadapannya ini. Suara suara mereka saat ini seperti bunyi kawanan ribuan lebah.Terasa seperti sangat mengganggunya. Akhirnya Ellena sudah tak tahan lagi.
__ADS_1
AaaaaaaaaaaaAaaaaaaaa
Ellena berteriak histeris, semua yang berada di kamarnya semakin panik. Apa yang terjadi dengannya. Saat tangan tangan orang dewasa ingin meraihnya dia tak bisa menerimanya. Hanya ada lengkingan suara jeritan keras yang keluar dari mulutnya. Membuat kedua bibirnya kini membiru, suara nya tak terdengar lagi dalam teriakannya. Membuat ketiga wanita di hadapannya menjadi sangat panik. Terlebih pada Mala.