Cinta Gadis Buta Huruf

Cinta Gadis Buta Huruf
Aku Kembali


__ADS_3

Bab 58


Mala terlalu lelah untuk menerima kenyataan pahit dalam hidupnya.


Perlahan dia membuka matanya,dan melihat sekelilingnya.Dia masih berada di dalam kamarnya.


Rutinitas paginya untuk membuka jendela kamarnya,dan berbisik "Selamat pagi Kenny,selamat pagi Devan sayang."


Mala menghela napas panjang.


"Selamat pagi mama Laurent."


Dia tersenyum pada matahari yang baru muncul di ufuk timur.


Sedikit rasa kelegaan di dalam hatinya.Sepertinya dia sudah bisa menerima kenyataan yang sedang dia hadapi.


Meskipun terasa takut,benar kata Bimo tinggalkan masa lalu,dan mulai menata masa depan.


Mala tersenyum,tapi entah apa di dalam isi pikirannya.Senyumnya seperti menyiratkan ada sebuah rencana yang sedang ingin dia lakukan.


Mala masuk ke kamar mandi,membersihkan diri.Sesekali di bibirnya bersiul bersenandung lirih.


"Selamat pagi bibi."


Mala sudah cantik dengan dandanannya yang natural.Meski di wajahnya masih kelihatan lelah selama ini dihabiskan dengan menangis.


Namun pagi ini,dia berbeda.Dia Mala yang kembali menjadi wanita periang senyumnya yang meneduhkan hati setiap orang yang melihatnya.


"Oh sayangku,kemarilah..bibi sudah menyiapkan sarapan untukmu."


Bibi Fransisca terlihat senang dengan kedatangan Mala pagi ini,di ruang makan.


Bibi Magda juga mengambil kursi untuk Mala duduk.


Raut bahagia di wajah kedua wanita itu sungguh membuat Mala juga turut senang.


"Akhirnya,setelah pingsan selama tiga hari kamu sadar juga nak.Bimo tak pernah sedikit pun meninggalkanmu,dia selalu menjagamu pagi hingga malam.Hanya saja pagi tadi ada panggilan mendesak,dia harus membereskan sesuatu di perusahaannya."


Bibi Magda menjelaskan semuanya pada Mala,betapa Bimo sungguh sangat perduli padanya.


"Maafkan saya bibi,selama ini telah menyusahkan kalian."


Mala tertunduk sedih.


"Tidak nak,jangan berkata begitu.Kami semua tahu kamu sedang melewati masa masa terburukmu.Percayalah suatu saat kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu."


Bibi Magda menggenggam tangan Mala dengan penuh cinta.


Bibi Fransisca menata semua makanan di atas meja,dan mulai mempersilahkan Mala untuk menyantap sarapannya.


"Aku berangkat ke peternakkan sekarang bi,"pamit Mala pada kedua wanita tua yang masih mau menyanyanginya seperti mereka memperlakukan anak mereka sendiri pada Mala.


" Bibi rasa jangan dulu pergi bekerja nak,beristirahatlah dahulu.Hilangkan benar benar kesedihanmu,baru kau boleh pergi bekerja."


"Tidak bibi,jika aku terus mengurung diriku.Aku tak akan bisa keluar dari lingkaran kesedihanku."


Bibi Fransisca mengangguk, benar juga kata Mala.Jika mereka menahan Mala lebih lama di dalam rumah,akan membuat pikiran Mala semakin sedih.


"Fransisca,biarkan Mala pergi bekerja sekarang.",bibi Magda meminta bibi Fransisca agar tak menahan Mala untuk pergi.


"Baiklah sayang,jika terjadi sesuatu di sana atau jika kau kelelahan di sana cepatlah pulang."


"Tenanglah bibi,Mala akan selalu mengingat perkataan bibi."


Mala tersenyum dan mendekati kedua wanita di hadapannya dan mencium pipi mereka.


"Oh manisnya,"bibi Fransisca semakin merasa dia benar benar memiliki anak saat ini.


Cinta Mala pada keduanya sama seperti Mala mencintai mama Laurent.


"Aku pergi dulu bibi.,"


Mala naik ke sebuah mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir yang siap mengantar Mala kemana saja.Semua sudah diatur oleh Hector seperti itu.


"Hari ini kita pergi ke peternakkan pak."Mala meminta supirnya mengantarnya sampai ke peternakkan.


"Baik nona."


Sepanjang perjalannan Mala hanya diam sambil melihat pemandangan di luar jendela yang mereka lalui.


"Banyak orang yang mengasihiku,kenapa aku harus larut dalam keterpurukkanku.Aku harus bangkit."


"Mama,harus bahagia untuk Devan,Oma Laurent dan juga uncle Kenny."


Mala kembali mengingat mimpinya semalam,Devan datang menemuinya.


Wajahnya yang bersinar cerah dan bahagia memintanya untuk kembali bangkit menjadi Mala yang kuat dan tangguh menghadapi cobaan dalam hidup.


"Mama berjanji padamu sayang,mama akan selalu bahgia untukmu,untuk uncle Kenny dan juga untuk oma Laurent."


Bisik Mala lirih hampir tak terdengar.


🍁🍁🍁🍁


"MALA..?"


Mata Bimo melihat sosok Mala di hadapanya.Bimo begitu terkejut,dia tak menyangka Mala sudah mau untuk datang ke peternakkan lagi.


Mala tersenyum ke arah Bimo,dan langsung duduk di kursinya.


Bimo mendekatinya dan mencoba meraba kening Mala.


Dia menyeritkan dahinya.


"Kamu udah sembuh?"


"Tentu Bimo,semua berkat kebaikanmu."


"Kalau begitu aku senang mendengarnya.Tapi jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja.Lakukan apa yang bisa kau lakukan,selebihnya serahkan padaku "ujar Bimo yang masih khawatir dengan kesehatan Mala.


"Bimo,aku sudah sembuh."


Mala tersenyum menanggapi kekhawatiran Bimo padanya.


Mala mulai melakukan aktifitasnya dalam peternakkan.Setelah itu menyelesaikan beberapa laporan keuangan.Kini Mala semakin bisa melakukan semua pekerjaan di bawah bimbingan Bimo.


"Udah mau istirahat makan siang,ayo kita makan."Bimo mengajak Mala untuk makan siang bersama.


Mala mengikuti ajakkan Bimo dan bersama sama duduk di ruang makan.


"Bim,"


"Ya."


"Aku berencana kembali ke Indonesia."


Bimo menyeritkan dahinya.


"Kenapa?"


"Maksudku,tak bisakah kau menetap di sini saja?"


Mala tersenyum menanggapi pertanyaan Bimo.


"Aku sudah terlalu lama meninggalkan kedua orang tuaku Bimo."


"Tapi kan disini adalah rumahmu juga."


Mala menggeleng,


"Sudah cukup Bimo,aku sudah kehilangan Devan.Dan karena aku pula Kenny juga meregang nyawanya."


"Rasa bersalah itu akan kubawa seumur hidupku.Tadinya aku berpikir dengan mengikuti kemauan mama Laurent kemari,aku bisa terbebas dari rasa bersalahku pada mama Laurent."

__ADS_1


Bimo menggelengkan kepalanya.


"Jadi kau kemari karena kau berpikir bisa menebus kesalahanmu oada mama Laurent?"


Mala menganggukkan kepala.


"Tapi kurasa,mama Laurent tak berpikir seperti itu untukmu mama Laurent sangat menyanyangimu,seperti putrinya sendiri."


"Ya aku tahu itu."


"Kalau begitu tetaplah disini."


"Aku tak bisa Bimo."


Mala menudukkan kepalanya dan matanya hanya bisa memandang sepasang kakinya yang sudah begitu lelah terus melangkah tanpa ada arah dan tujuan.


Bimo menggelengkan kepalanya.Dia sadar dia bukanlah siapa siapa yang bisa menghalangi jalan Mala.


Mereka berdua melanjutkan makan siang dalam diam.


Hingga jam pulang pun tak ada satu pun yang mau berbicara satu sama lain.


Di kediaman Gerardo seperti biasa bibi Magda dan Fransisca yang menyiapkan makan malam.


Mereka menyambut Mala yang baru saja pulang kerja masih dengan keramahan dengan cinta yang begitu besar.Mereka sama seperti mama Laurent.


Ada rasa tak tega di hati Mala kepada mereka jika satu saat nanti dia akan meninggalkan rumah ini.


Namun dia harus bisa melakukannya dan memutuskan malam ini akan mengutarakannya pada kedua wanita yang selama ini dipanggilnya bibi.Karena mereka berdua juga adalah bibi dari Kenny.


"Makan malam yang sangat enak."


Mala memuji masakan kedua wanita di hadapannya.Saat mereka sudah selesai menghabiskan makanan di piring masing masing.


"Tentu sayang,bibi selalu memberikan yang spesial untukmu.Tanpa kamu meminta bibi akan selalu membuatnya."bibi Magda memandang Mala dengan penuh cinta.


"Sayang sekali,aku nggak akan bisa lagi merasakannya nanti."


"Kenapa tidak sayang,bibi selalu tahu apa yang kamu sukai.Dan bibi akan selalu membuatnya."


"Maafkan saya bibi,tapi sepertinya saya berencana untuk pulang ke Indonesia."wajah Mala tertunduk sedih.Dia tak sanggup memandang kedua wanita yang ada di hadapannya.


"Jangan sayang,jangan pergi kemana mana.Tetaplah tinggal bersama dengan kami..bibi pasti akan merasa kehilanganmu jika kau benar benar pergi." Wajah bibi Magda berubah menjadi sedih.Begitu pun bibi Fransisca yang mengiyakan perkataan saudaranya.


Hector dan Jasmine serta Bimo masuk ke ruang makan.


"Mala kami ingin bicara denganmu."


Hector dan Jasmine lalu menuju ke ruang keluarga.Diikuti oleh Mala dan bibi Magda serta bibi Fransisca.


Setelah semuanya duduk,


"Bimo,berikan itu padaku."


Hector menunjuk map yang sedang dipegang oleh Bimo.


Setelah menerimanya,Hector lalu membukanya dan menyodorkannya pada Mala.


"Kamu tanda tanganilah dokumen ini."Nada Hector sedikit memerintah.Pesona Hector yang tampan dan pembawaannya yang dingin dan cuek namun berkharisma tinggi .Menampilkan kesan kepemimpinan yang lekat padanya,membuat tak ada satu orang pun yang tak bisa tunduk di hadapannya.


"Apa ini?"


Mala meraih map itu tak tahu apa isinya.


"Bacalah dan pahamilah isinya."


Mala mulai membaca lembar demi lembar dokumen di tangannya dengan pelan pelan.Menciba memahami isi dari dokumen tersebut.


Sepuluh menit waktu yang cukup lama membaca lima lembar kertas yang harus dia tanda tangani.


Mala memandang Hector,Jasmine dan Bimo bergantian.Raut wajah bingung dan tak percaya dengan apa yang barusan dia baca isi dokumen di tangannya.


Mala lalu menggelengkan kepala.


"Ini ngggak benar,Hector."


"Aku tak memintamu untuk menolaknya.Aku memintamu untuk menanda tanganinya Mala!"


Nada Hector sedikit ditekan tanda dia tak ingin dibantah.


Mala masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang barusan dia baca.


Bagaimana tidak,dokumen berisi wasiat warisan mama Laurent pada anak anaknya.


Pembagian saham perusahaan milik keluarga Gerardo.Kepada Hector Gerardo sebesar 50%,istrinya Jasmine 15%,dan kepada Mala sebesar 35%.


Mala merasa ini tak benar,dia tak mengharapkan ini dan tak ada di benaknya untuk mendapatkan sebuah kehormatan dari keluarga Gerardo untuknya.


Mala kembali meneteskan air matanya.


"Ini nggak benar Hector,aku nggak bisa menerimanya.Ini bukan keinginanku,dan aku tak memiliki hak untuk ini."


Mala berusaha untuk menolaknya dengan cara yang halus.


"Mala,kau pikir Hector akan membiarkanmu kembali ke Indonesia dengan tangan kosong?


Tidak Mala,kau berhak untuk warisan pemberian mama Laurent untukmu.Kau sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.Kau adalah Kenny untuk mama Laurent."


Bimo menerangkan pada Mala agar bisa mengerti maksud Hector mrnyerahkan warisan mama Laurent padanya.


Sementara Hector masih diam tak bersuara melihat reaksi dari Mala sendiri.


Dia tak menyangka seorang Mala yang benar benar tak mudah untuk menerima kepercayaan dari mama Laurent,sementara dia sudah cukup lama menjadi bagian dari keluarga mama Laurent.


"Apa maksud perkataanmu itu Bimo?"


"Maksudnya setelah kepergian Kenny,kaulah orang yang paling disayangi oleh Kenny.Dan apa pun yang menjadi miilik Kenny adalah hakmu juga."


"Tapi aku tetap nggak bisa menerimanya Bimo. Bagiku sayang dan keperdulianku pada Kenny dan mama Laurent tanpa pamrih."


"Aku tahu itu Mala.Tapi kau harus menerimanya."sangat sulit bagi Bimo untuk membujuk Mala.Sekeras apa pun usahanya tapi tetap saja Mala masih tak ingin menerimanya.


"Tanda tangani sekaranng atau aku tak akan membiarkanmu pulang ke Indonesia !"


Dengan suara yang lebih keras Hector memerintah Mala.Karena dia tahu Mala pasti akan terus menolaknya.


"Kau dengar itu Mala.Kau pilih tanda tangani atau kau akann selamanya terjebak di negara ini.Kau tahu kekuasaan tuan Hector Gerardo di tempat ini.Tidak masalah bagi kami kau tak mau.Bersiaplah kau menerima kenyataan akan tinggal di negara ini seumur hidupmu."perkataan Bimo yang sedikit mengancam dirinya membuat Mala menjadi ragu.


Bimo kembali menyodorkan dokumen itu di hadapan Mala.


Mala memandang bibi Magda dan Fransicsa dan mereka hanya menganggukan kepala tanda setuju Mala menanda tangani amanat mama Laurent.Jika dia bersikeras untuk tidak menanda tanganinya,berarti dia tak akan bisa lagi berjumpa denan kedua orang tuanya.


Mau tak ,akhirnya Mala pun menyerah.


Mala menerima pena dari tangan Bimo dan dengan pelan menanda tangani dokumen di hadapannya.


"Mala...Mala...apa kamu harus mendapat ancaman terlebih dahulu.Baru kamu mau menerima wasiat terakhir mama Laurent?"


Jasmine mendekati Mala lalu memeluk pundaknya.


"Mama Laurent sangat menyayangimu,terimalah ini sebagai tanda cintanya untukmu."


"Bimo memberi tahu pada kami rencanamu untuk kembali ke Indonesia.Kebetulan pengacara mama Laurent baru pagi tadi menyerahkan wasiat terakhir untuk anak anaknya."


Mala hanya diam,air matanya yang tak bisa berhenti mengalir.Dia tak mampu menjawab sepatah kata pun lagi untuk orang orang di hadapannya.Di dalam pikirannya hanya ada mama Laurent yang sangat mencintainya.Meskipun dia sudah melukai hati mama Laurent,dengan kepergian Kenny.


"Hapus air matamu Mala,rasakan kebahagiannmu mulai sekarang.Sudah cukup hidupmu penuh kesedihan."Jasmine menepuk nepuk pelan pundak Mala dan menghapus air matanya.


"Jika kau kembali ke Indonesia,Bimo akan ikut denganmu.Dia yang akan menjadi asistenmu nanti,dan membantumu mengurus perusahaan yang baru dibuka cabangnya di Indonesia."Hector lalu berdiri dan mengajak Jasmine pulang ke rumahnya.


Tanpa berpamitan pada kedua bibinya.


"Ada apa dengan anak itu,ini tak seperti biasanya."bibi Magda menggelengkan kepalanya melihat kepergian Hector dengan wajah datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Jadi,kapan aku bisa kembali ke tanah air Bimo?"


Suara Mala lemah bertanya pda Bimo.


"Setelah pengacara keluarga Gerardo mengurus semua kepemilikan perusahaan barumu di Indonesia.Dan kita bisa bersama sama akan pergi."


Bimo menerangkan pada Mala,sebab menurut perkiraannya masih membutuhkam dua atau tiga hari lagi untuk mengurus surat surat yang dibutuhkan oleh Mala.


"Paling cepat satu minggu lagi kita sudah bisa berangkat."jelasnya lagi.


Setelah itu,Bimo pun memminta ijin untuk pulang ke rumahnya.


Sementara bibi Magda dan bibi Fransisca hanya bisa meneteskan air mata.Memikirkan Mala yang akan pergi meninggalkan mereka.


Bagi kedua wanita tua itu,Mala sudah seperti anak kandung mereka sendiri.


Mala beranjak dari duduknya menghampiri kedua wanita pengganti ibunya ini dan memeluk mereka erat.


"Bibi,sangat menyanyangimu nak."


"Iya Mala tahu itu bibi.Mala selalu bisa merasakannya."


"Sekarang beristirahatlah,sudah larut bibi harus tidur."Mala lalu mengantar mereka menuju ke kamarnya masing masing.


Dan dia sendiri kembali ke kamarnya.


Mala menutup pintu kamarnya.


Dia meraih bingkai foto di atas nakas dan memeluknya.


"Kenny,sebesar inikah cintamu untukku.Aku bukanlah siapa siapa bagimu.Aku selalu membuatmu terluka,namun walau kau telah pergi kau tak pernah meninggalkan rasa cintamu untukku.Bahkan sekarang ini juga,aku merasa tak pantas untuk mendapatkannya.Maafkan aku Kenny maafkan aku."


Mala terisak dalam tangisnya hingga dia tertidur di atas ranjang sambil memeluk foto Kenny.


🌞🌞🌞🌞


Semua urusan dokumen dokumen Mala telah siap.Bimo mengurusnya tidak kebih dari satu minggu,dan itu sesuai harapan Hector.


"Apa semuanya sudah siap?"


Hector bertanya pada Bimo semua kesiapan dokumen Mala,yang dibutuhkannya saat tiba di Indonesia nanti.


"Iya sudah semuanya."


"Kerja bagus Bimo.Pastikan Mala dijaga dengan baik di sana.Jangan pernah biarkan seseorang menyentuhnya."


"Tenang bos,aku akan selalu setia menjadi pengawal pribadi sekaligus asistennya."


"Bagus.Aku mau kau bisa menepati janjimu.Meski pun nanti kau akan menikahi anak orang."


"Hahahaha..."


Bimo hanya menanggapinya dengan tertawa.


Karena Hector sudah mengetahui,ternyata di Indonesia Bimo telah dijodohkan dengan seorang gadis pilihan keluarga ibunya.


Ayah Bimo berasal dari Meksiko,sedang ibunya berdarah Indonesia.


Ayah dan ibu Bimo telah lama berpisah,namun hubungan Bimo terhadap ayah dan ibunya masih baik baik saja.Walau pun mereka tinggal berpisah.


Hector sudah menyiapkan sebuah perusahaan untuk Mala di Indonesia.Perusahaan otomotif cabang untuk Indonesia.Sebab bisnis Hector juga salah satunya bergerak di bidang otomotif .


Ide Jasmine memberi kesempatan pada Mala untuk mengelola sesuatu yang baru untuknya,dan Hector menyetujuinya.


🍁🍁🍁


Keberangkatan Mala hari ini,dia diantar oleh bibi Magda dan bibi Fransisca.


Disana ada Hector dan juga Jasmine.


Mala memeluk kedua wanita yang selama ini telah menemani hidupnya,menyayanginya serta mencurahkan kasih sayang mereka padanya.


Terlihat air mata bibi Magda dan bibi Fransisca sudah membanjiri pipi mereka.


"Mala akan selalu mengingat kalian bibi.Terima kasih sudah mau menjadi bagian dari keluarga Mala selama ini.Mala juga meminta maaf jika Mala sudah berbuat kesalahan selama ini."Mala memeluk mereka satu per satu.


"Hector terima kasih,kau sudah sangat baik terhadapku selama ini.Aku meminta maaf untuk semua kesalahanku selama ini,yang telah banyak merepotkanmu."


Mala tak bisa memandang mata Hector dan lebih memilih menundukkan kepalanya saat dia berbicara dengannya.


Terlalu canggung baginya untuk menatap wajah Hector yang begitu dingin tanpa ekspresi.


"Jangan meminta maaf Mala .Mulai sekarang aku adalah kakakmu,aku aalah saudaramu.Sebab kau adalah Kenny untukku."


Hector tak mampu lagi menyembunyikan kesedihan di matanya.Saat mengucapkan kata katanya barusan kepada Mala.Ada sebulir bening air mata yang jatuh di pipinya.


Tanpa diminta Mala langsung memeluk Hector.


"Maafkan aku Hector,karena aku kau telah kehilangan saudaramu."


Hector mengelus pucuk kepala Mala.


"Maafkan aku jika aku sudah lancang menganggapmu sebagai adikku."ucapnya datar.


Mala menggeleng,


"Tidak Hector,aku bersyukur jika kau mau menjadi kakaku.Aku berjanji akan menjadi adik yang baik untukmu."


"Kalau begitu,berjanjilah padaku.Jika kau tiba di Indonesia jangan lupa memberi kabar pada kami."


"Dan carilah kebahagiaanmu.Cukuplah sudah kesedihanmu."


"Tentu."


Mala mengurai pelukkannya dari Hector dan mengusap air mata di pipinya.


"Jasmine,terima kasih sudah mau berteman denganku."Mala mendekati dan memeluk Jasmine denagn erat.


"Kita sudah bukan berteman lagi sekarang Mala."


Mala rerkejut denagn perkataan Jasmine.Wajahnya menegang seketika.


"Namun kini kita adalah saudara.Jika kau adalah adik perempuan Hector aku adalah kakak iparmu mulai sekarang."


Raut wajah Mala kembali bahagia dan memeluk erat Jasmine.


"Terima kasih Jasmine,aku akan selalu merindukan kalian."


"Ayo,saatnya kita berangkat."ucap Bimo memotong pembicaraan di antara mereka.


Jet pribadi milik keluarga Gerardo kini telah siap terbang ke Indonesia.


Mala dan Bimo segera masuk ke dalam jet itu dan bersiap untuk terbang ke Indonesia.Yang menjadi impian Mala selama ini.Kembali ke pangkuan orang tuanya yang sangat dia rindukan.


🌼🌼🌼


Perjalanan yang sungguh sangat melelahkan bagi Mala dan Bimo.Jet pribadi mereka mendarat dengan selamat di bandara.


Mala dan Bimo turun dari jet pribadi mereka dan menuju ke area parkir dimana seseorang suruhan Bimo telah diminta untuk menjemput mereka.


Saat Mala dan Bimo berjalan berdampingan seorang pria berdiri berhadapan dengannya.Kira kira langkahnya sudah berjarak sepuluh meter.


Degup jantung Mala terasa sangat kencang.


Wajah yang begitu sangat familiar baginya.


Pria itu diam terpaku,memandang Mala yang sedang berjalan dengan seorang pria yang tak dikenalnya.Pria tinggi dan lumayan tampan dengan tubuh yang memiliki banyak tato.Langkah Mala dan Bimo semakin mendekati pria itu.


Tiga meter lagi langkah Mala sudah akan mendekati Pria itu.Tiba tiba seorang wanita dari arah belakang Mala mendahului mereka dan berlari kecil mendekati pria itu dan melompat kegirangan memeluk pria itu dengan penuh rasa kebahagiaan.


"Sayang.."Wanita cantik berpenampilan seksi manggil pria itu dengan sebutan sayang.


Mala diam tak bergeming,terus melangkah bersama Bimo lalu melewati kedua orang itu yang sepertinya sedang saling melepas kerinduan di sana.

__ADS_1


Mala melangkah mengikuti langkah Bimo menuju tempat parkir.


"*D*ia telah bahagia dengan pilihannya."


__ADS_2