
Sedih bercampur kecewa Mala hanya duduk diam dan memandang keluar kaca jendela mobil yang mereka tumpangi.
Kenny menggenggam kedua tangan Mala,agar Mala bisa lebih kuat menerima setiap cobaan yang datang silih berganti dalam hidupnya.
Air mata Mala menetes lagi,rasa sakit dan sesak bercampur menjadi satu.
"Begitu tega hati Cristian,jika saja dia mau memberi sedikit waktunya untuk mendengarkanku.Saat ini pasti Devan sudah bisa dioperasi."Mala tak ada habisnya berpikir bagaimana bisa Cristian tak punya hati,sedikit pun dia tak bertanya alasan Mala ke kantornya.
Mobil mewah mereka berhenti tepat di depan rumah sakit.
Mala keluar dari dalam mobil dengan melangkah gontai menuju ruangan Devan.
Devan ditempatkan dalam sebuah ruangan anak khusus untuk penderita leukimia.
Kenny melangkahkan kakinya dan berjalan sejajar dengan Mala.
"Kenny kamu memang sangat baik.Namun aku nggak berdaya.Hatiku kenapa masih terpaut kepada Cristian."dalam hatinya Mala bergumam.
Mala memandang Kenny yang ada di sebelahnya.Lelaki tampan yang selalu setia menemaninya.Meski berkali kali Mala menolak saat dia menyatakan cintanya.
Tetapi lelaki ini,tak meninggalkannya.Jika dia mau,pasti Mala sudah didepaknya sejak dulu.
Mala bersyukur,di saat dia mengalami keterpurukan seperti ini, lelaki tampan ini masih setia menemaninya sebagai teman.
Yah sebagai teman sebab itu sudah menjadi janjinya Kenny untuk menjadi teman untuk selamanya.
Flashback on
Di suatu senja, Kenny mengajak Mala ke sebuah tempat,yang mana semua orang pasti ingin merasakan suasana romantis di tempat ini.Mereka duduk berdua menikmati matahari senja dengan pemandangan sungai Siena yang begitu indah di hadapan mereka.
"Kenapa kita berada di sini Kenny,"
"Mala,apa kamu suka dengan tempat ini?"
"Ya tempat ini sangat bagus,Kenny.
Kenny memberikan setangkai mawar pada Mala.
Mala menerimanya,dengan perasaan bingung.
"Ada apa ini Kenny?"
Kenny menggeserkan tempat duduknya ke samping dan berlutut di hadapan Mala.
"Mala,maukah kamu menerima perasaan cintaku untukmu.Aku akan berjanji selalu menjagamu bersama Devan dengan segenap hatiku.Aku berjanji aku akan selalu membahagiakanmu sepanjang hidupmu.Dan tak akan membiarkanmu menangis akan tetapi aku akan mengisi hari harimu bersama Devan dengan kebahagiaan selamanya."
Mala tak menyangka Kenny akan mengungkapkan perasaannya .Tanpa disadari setangkai bunga mawar merah di tangan Mala terjatuh.
Mala berdiri dari tempat duduknya lalu membalikkan tubuhnya dan berlari pergi meninggalkan Kenny.Tak perduli dengan orang orang di sepanjang jalan yang dilaluinya menatap aneh ke arahnya.
Dalam pikirannya dia hanya ingin berlari menjauhi kenyataan yang barusan di terima olehnya.
Dia berlari sekencang kencangnya dia tak menyangka Kenny akan melakukan hal itu lagi.Air mata Mala semakin deras mengalir dari matanya.
Saat berlari menyebrangi jalan,sebuah mobil dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi tak disadari oleh Mala.
Tepat saat di tengah tengah jalan,Mala sudah tak bisa menghindari lagi mobil itu yang menabrak tubuhnya,hingga tubuh Mala terpental jatuh sejarak beberapa meter dari sana.
"MALAAAA..!"
Kenny berteriak,namun sudah terlambat.
Kenny berlari ke arah Mala yang sudah dikerumuni oleh banyak orang.
"Mala,tolong sadarlah Mala."
Kenny berteriak sekuat tenaga.Dia takut Mala tak akan bisa membuka matanya lagi.
Mobil ambulance datang dan membawa Mala menuju ke rumah sakit.
Mala tak sadarkan diri.
Kenny sangat khawatir.
Saat mama Laurent datang melihat kondisi Mala di rumah sakit,
Kenny memeluk mama nya dan menangis terisak isak dan menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami.
Saat itu Devan masih berumur satu tahun,dan sedang dijaga oleh bibi Magda di rumah.Saat Mala dan Kenny pamit pada mereka untuk keluar sebentar.
"Tenanglah sayang,Mala pasti baik baik saja Masih ada Devan yang menunggunya di rumah.Mala pasti bisa melewati masa kritisnya.
Mala tak sadarkan diri selama dua hari.
Saat matanya perlahan terbuka Kenny merasa senang sekali.
"Kenny..,maafkan aku,"dengan terbata bata Mala meminta maaf pada Kenny.
"Aku yang harusnya meminta maaf padamu Mala.Aku janji aku nggak akan mengulanginya lagi."Kenny menangis tersedu sedu di samping ranjang Mala.
Dia menyesali perbuatannya,seharusnya dia sudah tahu reaksi Mala akan seperti ini jika dia mengungkapkan perasaannya seperti ini.
Kenny tak mau kejadian ini terulang kembali.Dia berjanji di dalam hatinya dia tak akan melakukannya lagi.Karena perbuatannya ini,Mala harus mengalami kecelakaan.Air mata Kenny tak berhenti mengalir di pipinya.
"Jan..ji?"
"Ya Mala,aku janji."
"Tapi biarkan aku selalu menjadi teman dalam hidupmu."
Mala mengangguk,sementara mama Laurent yang menyaksikannya turut bersedih.
Di satu sisi dia menyukai Mala,dan menginginkan Mala menjadi pasangan hidup Kenny.Namun di sisi lain dia tak bisa memaksa perasaan Mala untuk anaknya Kenny.
Flashback off
šššš
Mala dan Kenny masih berjalan menuju ruangan Devan.
"Kenny.."
Seorang wanita dengan seragam dokter terkejut melihat Kenny berjalan di koridor rumah sakit bersama Mala.
"Dokter Anastasia,apa kabar?"
Kenny menjabat tangan dokter cantik di hadapannya dan memeluknya sebentar,bergantian bersama Mala mereka saling berpelukkan.
Kenny dan Mala tak heran jika dokter Anastasia juga berada di rumah sakit ini.Selain membuka klinik persalinan sendiri di rumahnya,dokter Anastasia juga menerima pekerjaan di poli kandungan rumah sakit ini juga.
"Kabarku baik,kalian juga apa kabar,kenapa kalian berada di sini,siapa yang sakit?"
Dokter Anastasia bertanya dengan banyak sekali pertanyaannya.
__ADS_1
Karena setahu dirinya Kenny dan Mala sekarang berada di Paris.
Kenny dan Mala lalu mengajak Dokter Anastasia masuk ke ruangan Devan.
Di sudut ruangan ini,Devan terbaring lemah di atas ranjang.Tubuhnya semakin kurus,dan wajah yang pucat,Devan masih terlelap dalam tidurnya.
Mala mempersilahkan dokter Anastasia duduk di sebuah sofa di ruangan ini.
"Devan menderita leukimia,kemoterapi di Paris nggak ada perubahan buat kesehatannya.Lalu dokter menyarankan kami untuk mencari donor yang tepat untuk Devan.Kami berdua sudah mencoba apakah sum sum tulang belakang kami bisa di donorkan pada Devan.Namun sayang nggak ada yang cocok sama sekali.Satu satunya jalan terakhir adalah mencari ayah kandung Devan,meminta pertolongannya untuk mendonorkan sum sum tulang belakangnya kepada Devan."
"Apa kalian sudah mencoba menemui ayah kandung Devan?"tanya dokter Anastasia dengan antusias.
"Baru saja kami dari tempatnya,namun dia menolak bertemu dengannku."Mala masih bersedih dengan mendapatkan perlakuan Cristian kepadanya.
"Mungkin saja mantan suamimu cemburu melihatmu sudah menjadi pasangan Kenny,sehingga dia menolak menemuimu."ujar dokter Anastasia polos.
"Kami bukan pasangan dokter,saya dan Mala hanya berteman.Nggak ada ikatan pernikahan atau apa pun di antara kami."
"Oh,maafkan perkataan saya.Karena siapa pun yang melihat kalian pasti mereka berpikir kalian adalah pasangan yang serasi."
Mala dan Kenny tertawa kecil.
"Nggak dokter,nggak kami bukan pasangan.Saya adalah teman Mala.Dan akan selalu menjadi teman buatnya.Iya kan Mala?"Kenny memberi penegasan dengan statusnya hanya sebagai teman Mala.
Mala mengganggukan kepalanya.
Dokter Anastasia tersenyum mendengarnya.
Besok kami akan mencobanya kembali bertemu dengan ayah kandung Devan.
"Dokter,bisa kah aku meminta tolong?"
"Ya katakan Mala."
"Jika besok aku dan Kenny kembali menemui ayah kandung Devan,apakah boleh aku meminta dokter menjaga Devan untukku?"
"Tentu saja Mala,aku bersedia membantumu.Besok saat aku sudah selesai dengan tugasku di poli kandungan jam dua siang,aku akan segera kemari."
"Terima kasih dokter."Anastasia menggangguk.
"Kalau begitu,aku permisi dulu,aku ada janji temu dengan pasien lima belas menit lagi."Anastasia berdiri sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Kenny dan Mala mengantar dokter Anastasia sampai di depan pintu ruangan Devan.
Mala masuk kembali dan menuju ranjang Devan.
Mala menggenggam tangan kecil Devan yang masih terlelap dalam tidurnya.Wajah Devan semakin hari semakin pucat,tubuhnya dulu yang tambun dan pipinya yang gembul sudah berganti menjadi tubuh yang kurus seperti kekurangan gizi.
"Maafkan mama sayang,mama belum bisa membuat papanya Devan datang dan memberikan donornya kepada Devan."Mala mencium punggung tangan Devan yang sedang di genggamnya dan tertunduk pilu,hatinya diliputi rasa sakit.
"Mama berjanji mama akan berusaha lebih keras lagi besok,agar putra mama segera bisa di operasi."Mala mengusap air matanya yang terus tanpa diminta selalu mengalir deras.Jika melihat keadaan putra kesayangannya hatinya seperti teriiris sembilu.
Tak perduli Cristian berhubungan dengan siapa pun saat ini itu haknya.
Tapi kenapa tak ada rasa belas kasih dalam hatinya,untuk sekedar memberi sedikit waktunya kepada Mala,agar Mala bisa mengobrol dengannya.
Mala menghela napas panjang,dia berpikir bagaimana caranya dia dapat mencari Cristian dan mendapatkan waktu bersama Cristian.
Mala sadar Devan pada saat ini membutuhkan donor sesegera mungkin.
šššš
Sesuai dengan janjinya dokter Anastasia menuju ke ruangan Devan tepat pada jam dua siang.
"Doakan mama sayang,agar bisa bertemu dengan papa Devan,dan kita segera melakukan operasimu,."
"Iya ma,semoga mama belhasil ketemu sama papanya Devan yah." ujar Devan dengan suara lemahnya.Namun dia tetap tersenyum pada mama Mala.
Dokter Anastasia yang melihat semangat Devan,tak menyadari sebulir bening air mata jatuh di pipinya.
"Sungguh kamu anak yang kuat sayang."gumam dokter Anastasia dalam hatinya.
"Mala pergi dulu yah."Mala berpamitan dan mengecup pucuk kepala Devan sekali lagi.Dan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan Devan.
"Kamu nggak ikut Kenny?"
"Nggak dok,"
"Kenapa?"
"Sengaja aku nggak ingin ikut.Aku takut seperti apa dugaan yang kamu bilang kemarin.Mungkin saja mantan suami Mala akan cemburu jika melihatku bersama Mala nanti."
"Ya.,aku mengerti."
"Uncle.."Devan memanggil Kenny,tapi suaranya hampir tak terdengar.
"Iya nak,"
"Apa kamu butuh sesuatu?"
"Siapa yang sedang belsama uncle?"
Devan menunjuk ke arah dokter Anastasia.
"Hallo Devan,perkenalkan nama saya aunty Anastasia,teman dari uncle kenny dan mama Mala."
"Hallo aunty,salam kenal.Namaku Devan."
"Senang bisa belkenalan dengan aunty."
"Ya terima kasih Devan,aunty juga senang bisa berkenalan denganmu."ucap dokter Anastasia tulus.
Kenny menghampiri ranjang Devan dan dengan kelembutan dia mengusap kepala putra kesayangan Mala itu.
"Uncle,apa uncle tahu semalam Devan belmimpi."
"Mimpi?"
"Mimpi apa nak?"dengan senyumannya Kenny ingin Devan juga tersenyum bersama dengannya.
"Semalam Devan belmimpi, di sebuah taman yang indahhh sekali ada seorang kakek tua dan pakaiannya belcahaya belkilau sepelti lampu.Sampai sampai Devan nggak bisa melihat dengan jelas wajah kakek tua itu kalena cahaya kakek tua itu telalu menyilaukan mata Devan."dengan suaranya yang lemah anak kecil polos itu menceritakan tentang mimpinya semalam.
"Telus kakek tua itu mengululkan tangannnya pada Devan,mengajak Devan ikut belsama dengannya."Devan melanjutkan cerita dalam mimpinya.
"Lalu,apa Devan mengikuti kakek tua itu?"hati Kenny bergemuruh,ada rasa sesak di dalam dadanya mendengar cerita mimpi itu.
"Ya uncle,Devan mengikuti kakek tua itu.Kalena saat Devan mengikuti kakek tua belcahaya itu,Devan menjadi sembuh."ucapnya dengan mata yang berbinar,seakan akan mimpi itu benar benar nyata bagi Devan.Namun wajah pucatnya masih menandakan penyakit ini benar benar telah menggerogoti tubuh anak kecil ini.
Kenny merangkul Devan.
"Devan.."
"Iya uncle."
"Maukah Devan berjanji satu hal kepada uncle?"
__ADS_1
"Janji?"
"Janji sepelti apa uncle?"Devan bertanya dengan wajah bingungnya.
" Devan berjanjilah pada uncle,kalau Devan akan segera sembuh.Sembuhlah Devan,untuk kebahagiaan mama Mala."
"Apa mama Mala bahagia kalau Devan sembuh uncle?"
"Tentu sayang.Kebahagiaan mama Mala adalah Devan satu satunya."
"Kalau begitu,Devan beljanji akan segela sembuh uncle."
"Anak pintar."Kenny mengusap pucuk kepala Devan ,dokter Anastasia yang sedari tadi berdiri dan mendengarkan perbincangan anak kecil berumur tiga tahun dengan Kenny tak sadar meneteskan air matanya.
Bagaimana bisa seorang anak kecil,begitu kuat menahan rasa sakitnya demi kebahagiaan sang Mama.
šššš
Sebuah taxi berhenti di depan gedung kantor Cristian yang menjulang tinggi.Mala turun dari taxi setelah membayar ongkos pada pak supirnya.
Mala menatap gedung kantor yang ada di hadapannya dan menghela napas panjang sejenak,setelah itu dia segera masuk ke dalam gedung kantor milik Cristian.
"Selamat siang nyonya ada yang bisa saya bantu?"seorang resepsionis wanita menyapa Mala dengan ramah.
"Selamat siang mbak,saya ingin bertemu dengan tuan Cristian Adiwijya."
"Maaf sebelumnya,apa nyonya sudah membuat janji dengan tuan Cristian."
Mala menggelengkan kepalanya.
"Saya mengenal tuan Cristian mbak,saya mempunyai perlu yang sangat penting dengannya.Bisakah saya bertemu dengannya saat ini.Karena waktu saya nggak banyak.Tolong mbak membantu ,saya mohon mbak."Mala memohon dengan wajah sendu.Dia tak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Cristian.
"Baiklah nyonya saya akan mencoba menghubungi sekertaris tuan Cristian,apakah tuan Cristian bersedia bertemu dengan anda."
Setelah beberapa menit menelpon sekertaris Cristian,
"Maafkan kami nyonya,tuan Cristian masih sibuk ada meeting penting yang sedang dia lakukan saat ini bersama kolega bisnisnya.Silahkan nyonya datang lagi di lain waktu."
Terlihat raut kecewa pada wajah Mala.
"Bisakah saya menunggunya saja disini mbak."Mala memohon.
"Maaf mbak,meeting tuan Cristian sepertinya akan berlangsung lama.Nyonya kembali saja lagi besok."
Mala sangat kecewa,lagi lagi dia kesulitan bertemu dengan Cristian.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan lagi.Aku harus menjawab apa nanti kalau Devan bertanya." Mala menutup mata dengan kedua tangannya.
Mala memilih keluar dari gedung kantor milik Cristian.Akan tetapi Mala tak langsung pulang.Saat tiba di area parkir,Mala melihat mobil Cristian,dia memutuskan untuk menunggu Cristian di dekat mobilnya.Siapa tahu saat Cristian keluar,pasti dia akan menuju ke mobilnya.
Mala melihat jam di pergelangan tangannya.Sudah pukul 17.00 waktunya karyawan pulang ke rumah selesai bekerja.Hampir tiga jam Mala menunggu di tempat parkir.Hingga jam menunjukkan pukul 19.00 Cristian baru keluar dari kantornya menuju area parkir.
Baru saja Cristian ingin membuka pintu mobilnya.
"Crist.."Mala memanggil Cristian,dan berlari menghampirinya.
"Crist,tolong dengarkan,aku ingin bicara denganmu.Tolong luangkan waktumu sedikit saja untukku."
Cristian memandang wajah Mala dengan tatapan tajam.Tatapan kebencian yang begitu banyak memenuhi hati dan pikirannya.
"Aku nggak punya waktu untuk mendengarkan penipu seperti dirimu,"suara berat Cristian namun menyakitkan buat Mala.
Cristian segera membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalamnya.Supirnya sudah menunguinya dan segera melajukan mobilnya.
"Crist."
"Tunggu.."
"Crist.."
Mala mengetuk ngetuk kaca mobil Cristian dan berlari mengikuti laju mobil itu,namun Cristian dengan dinginnya tak menghiraukan panggilan Mala.
Mobil pun melaju kencang menuju jalanan, tak menghiraukan teriakkan Mala yang terus memangil manggil nama Cristian.
"Ada apa denganmu Mala,kenapa kamu datang imgin melukai hatiku dengan mengungkapkan hubunganmu dengan Kenny?"Cristian semakin membenci Mala dalam hatinya dia sangat tak ingin bertemu kembali dengan Mala.
Mala menangis lagi,dia menangis tersedu sedu,merasakan sakit di dalam hatinya.
"Ya tuhan Devan maafkan mama sayang,mama gagal lagi kali ini."
ššš
Di rumah sakit,
Mala melangkah gontai menuju ruangan Devan.
Kenny dan Anastasia masih duduk menjaga Devan yang sudah terlelap tidur setelah meminum obat yamg diberikan oleh dokter tadi.
Keadaan Devan semakin parah,dia sempat mengeluarkan darah yang banyak dari mulut dan hidungnya lagi.Namun kenny memilih diam dan tak ingin menceritakannya pada Mala.
"Mala."
Kenny berdiri menghampiri Mala yang masih berdiri terpaku di depan pintu ruangan Devan sambil menatap sendu pada wajah putranya.
Kenny mengajak Mala masuk dan duduk di sofa bersma Anastasia
Mata Mala terlihat sembab,pasti Mala habis menangis lagi.
"Apa mantan suamimu,masih nggak ingin bertemu denganmu?"
Anasasia sudah bisa menebak,apa yang terjadi pada Mala.
Mala mengangguk tanpa bisa menjawab,mulutnya terasa kelu tak bisa bersuara lagi.
Kenny mengusap punggung Mala.Air mata Mala mengalir membasahi pipinya.Mala hanya bisa menangis menangis dan menangis.
"Jangan menangis Mala,tetaplah menjadi mama yang tangguh untuk Devan.Semangat Devan adalah kamu,jika kamu lemah Devan juga akan lemah.Pikirkan kondisi putramu.Saat ini kesedihan dan air matamu nggak akan mendapatkan jalan keluarnya.Jangan menyerah,kita bisa mencobanya lagi besok."
Kondisi Devan semakin lemah,Mala tak sanggup menatap lama putra kesayangannya.Dia merasa gagal menjadi mama bagi putranya.
Benar kata Kenny,masih ada hari esok untuk berusaha lagi menemui Cristian.
Dokter Anastasia menatap sedih melihat perjuangan Mala.Untuk menemui mantan suaminya.Seandainya saja mantan suaminya mau bertemu dengan Mala,dan mau mendonorkan sum sum tulang belakang untuk Devan.
Dokter Anastasia memeluk Mala,dia juga turut merasakan kepedihan yang dialami oleh Mala.
Dokter Anastasia
Hallo para pembaca setia,Kak Author mau dong minta jangan lupa like dan vote ceritanya yah.Agar dukungan dari para pembaca setia semakin membuat kak author lebih semangat lagi update ceritanya.
Salam sayang untuk semuanya
ā¤ļøā¤ļøā¤ļø
__ADS_1