Cinta Gadis Buta Huruf

Cinta Gadis Buta Huruf
Mama telsenyumlah


__ADS_3

Di rumah sakit,


Mala berlari kencang melewati koridor rumah sakit,dia tak perduli orang orang yang dia lewati menatapnya.


Dengan napas yang tersenggal sengal Mala tiba di depan pintu ruangan Devan.


Devan masih merasakan sesak napas di atas ranjangnya.


Kenny pun tiba dan berdiri di belakang Mala.


Mala melangkah pelan mendekati ranjang Devan,Mala sudah tak perduli lagi air matanya tumpah di hadapan Devan.


Mala hanya ingin Devan tahu,betapa dia sangat mencintainya.


"Mama sudah berjuang nak,mama mencari,mama menemui papa mu tapi mama terus gagal.Mama nggak mendapatkan apa yang Devan butuhkan sekarang.Mama merasakan sakit di dalam hati.Sakit yang teramat sakit.Melihat Devan merasa kesakitan di atas ranjang ini,berjuang sendirian,mama sudah nggak sanggup melihat kesakitan Devan.Mama minta maaf nak.


Kalau saja bisa bertukar posisi biar mama aja yang menangung semua kesakitan Devan."


Mala terus berbicara di dalam isak tangisnya.


Devan sudah terlalu lelah dengan sakitnya saat ini.Dia tetap tersenyum kepada mama Mala.Walau pun senyuman itu hanya sedikit menghiasi bibir mungilnya.


Mala mendekati putra kesayangannya.


Memeluk erat putranya.Mala naik ke atas ranjang,dan memangku Devan dalam pelukkannya.


Dia ingin terus seperti ini,memeluk Devan entah kenapa rasanya dia tak ingin melepaskan pelukkannya.


"Mama.."


"Iya sayang"


"Sakit ma.."


Mala semakin menangis dengan suara yang tertahankan.


"Devan anak mama,maafkan mama hari ini mama gagal lagi untuk membawa papa Devan kemari."


"Nggak apa apa ma."


"Mama jangan menangis yah,Devan sayang sama mama.Devan nggak mau liat mama Mala belsedih."Devan mengusap air mata Mala yang masih terus mengalir deras di pipi Mala dengan tangan kecilnya.


"Iya nak,mama nggak nangis,mama hanya mengeluarkan air mata."


"Mama,jangan sedih ya.Kalau nanti Devan pelgi.Mama halus bahagia."


"Devan jangan ngomong seperti itu nak.Devan akan terus bersama dengan mama selamanya."


Devan mengelus pipi Mala lembut dengan tenaganya yang lemah.


Mala hanya bisa menangis air matanya terus saja membanjiri pipinya. Kenny dan dokter Anastasia juga yang berada di sana turut merasakan kepedihan Mala,mereka juga turut menangis sedih.Melihat Devan kecil yang sudah lemah tak bertenaga masih mau menghibur mamanya agar tak bersedih melihat kondisinya.


"Mama.."


"Iya sayang"


Devan tersenyum manis untuk mamanya."


"Ya Tuhan,kenapa sangat sakit sekali melihat senyuman di bibir kecil putraku ini."


"Bertahanlah ya sayang,putra mama.Anak kesayangan mama pasti bisa kuat untuk mama.Iya kan sayang?"


Lagi Devan hanya tersenyum padanya.


"Mama bisa beljanji sama Devan?"


"Janji apa sayang?"


"Kalau Devan pelgi jauh,mama nggak boleh sedih ya."


"Devan nggak boleh kemana mana.Devan harus selalu bersama mama ya sayang."


Mala mulai terisak lagi.Dia tak bisa menahan kesedihannya lagi.


"Pokokya Devan harus terus menemani mama sampai kapan pun."


"Devan harus bertahan ya sayang.Tunggu mama akan berusaha lagi agar mendapatkan donor buat Devan."


"Ma.."


"Iya sayang.."


"Katakan sama Devan,kalau mama nggak boleh belsedih,jika Devan pelgi ya."


"Nggak Devan,mama nggak mau.Devan harus temani mama selalu."


"Mama nggak bisa bahagia tanpa Devan.Bahagia mama adalah Devan."


"Ma.."


"Nanti kalau Devan pelgi nggak bisa kalau mama menahan Devan dengan kesedihan mama."


"Devan selalu akan menjadi anak kesayangan mama."Mala terisak dalam tangisnya.


"Mama.."


"Iya sayang.."


"Devan lelah ma,"


"Bertahanlah sayang,buat mama."


"Mama udah janji kan ama Devan,kalau mama nggak boleh belsedih bial Devan juga bahagia melihat mama nanti."


Mala semakin terisak dalam tangisnya.


"Ma.."


"Iya sayang,"Mala semakin mengeratkan pelukkannya.


"Liat Devan."Suara Devan masih terdengar lemah.


Mala memandang wajah pucat Devan,mata sayu karena terlalu kelelahan.Karena dia masih ingin mengucapkan sesuatu pada mama Mala.


"Liat dan ikuti Devan senyum ma."


Devan memberikan senyuman terbaiknya,wajah pucatnya mamancarkan kebahagiaan untuk Mala.


"Senyum mah."


Mala tersenyum kepada Devan,walau air matanya terus membasahi pipinya.


"Kalau senyum,jangan menangis ma,"Devan mengusap lembut air mata Mala dengan tangan kecilnya.


"Maafkan Devan,kalena nggak bisa beltahan buat mama ya.."


"Nggak sayang,nggak .Devan adalah kesayangan mama.Nggak boleh Devan nggak boleh kemana mana.Tetap bersama mama ya nak."Mala bicara dalam isak tangisnya.


"Devan sayang mama,dan selalu ada buat mama.Mama jangan belsedih ya."


"Iya mama nggak akan sedih nak.Asal Devan mau sembuh sayang."


Mala membelai rambut putranya,Devan menatap wajah Mala dengan senyuman manisnya.Bibir mungilnya yang berwana kebiruan,menampakkan senyum terbaiknya."


"Ma,Devan sayang sama mama.Telima kasih buat semuanya,"suaranya semakin melemah,dan perlahan mata Devan mulai tertutup.


Devan tak bergerak lagi,Mala nggak merasakan lagi denyut jantungnya.Napasnya sudah tak bisa Mala rasakan dari hidungnya.


"DEVANNNNNNNNN"


"Bangun sayang,ini mama."


"Bukalah matamu sayang,"


"Kenny tolong bangunkan Devan Kenny,"


Mala memanggil kenny,


"Devan jangan nakal nak,ayo bangun.Ikuti kata mama nak."


"Bangun sayang,liat mama sayang.Buat mama tersenyum lagi sayang."


Mala menangis tersedu sedu,sambil memeluk tubuh putranya.


"Devan,bangun sayang.."

__ADS_1


"DEVANNNN."


Tubuh Mala ambruk,dan jatuh pingsan.


Para dokter mulai mendekati ranjang Devan.


melepaskan pelukkan Mala dari tubuh Devan.


Lalu mengurus jasad Devan sesuai prosedur rumah sakit.


🥀🥀🥀🥀🥀


Mala terbangun di atas ranjang Devan.


"Kenny."


"Iya Mala,"


"Mana Devan."


Kenny nggak bisa menjawab,hanya ada air mata di pipinya.Dokter Anastasia hanya bisa menguatkan Kenny,dengan menepuk pundaknya.


"KENNY...."


Mala berteriak lagi,dia turun dari ranjangnya berlari keluar ruangannya,dan mencari keberadaan putranya.


"DEVAN.."


"KAMU dimana nak?"


Mala berlarian sepanjang koridor tanpa alas kaki."


Kenny menyusul Mala dan merangkulnya.


"Kenny mana Devan Kenny?"


Air mata Mala masih terus membanjiri pipinya.


Mala terduduk lemah di dalam pelukkan Kenny.


"Ssstttt,tenanglah Mala tenang ya.Aku akan membawamu ke tempat Devan."


"Jangan nangis lagi,tenanglah."


Mala mengganggukkan kepalanya,Kenny memapah tubuh Mala menuju ruangan Devan dan merapikan ruangan itu.Membereskan semua barang barang milik Devan.


Mala hanya duduk,dan menunggu Kenny membereskan semuanya.Memandang satu per satu hiasan ulang tahun Devan yang masih menggantung di dinding dan mulai dilepaskan oleh Kenny.


Kenny menuntun Mala menuju tempat Devan di semayamkan.


Mala menangis lagi,


"Kenny tolong bangunkan Devan,dia nggak mau bangun Kenny.Maafkan mama nak,mama yang salah nggak bisa jagain Devan."Mala terus menyalahkan dirinya dalam sela sela isak tangisnya dia tak behenti meracau.


Kenny menenangkan hati Mala,dia juga terpukul atas kepergian Devan.


"Tenanglah Mala,jika kau terus menangis,Devan juga nggak akan tenang di alamnya.Ingat kamu sudah berjanji padanya,agar kamu nggak boleh bersedih saat dia pergi kan."


Suara tangisan Mala semakin menjadi jadi.Dia terus menjerit dan memanggil manggil Devan,yang sudah dibaringakn di dalam peti.


"Seperti mimpinya,dia udah dijemput Tuhan dan membebaskannya dari sakit yang menyakitkan tubuh kecilnya selama ini."


"Mimpi apa Kenny?"


Tangis Mala mulai mereda.


Kenny lalu menceritakkan mimpi Devan yang dia ceritakan saat kemarin Mala pergi mencari Cristian.


Mala sangat terpukul dengan kehilangan putranya.Dia selalu menyalahkan dirinya atas kepergian putranya


Kenny sudah mengganggap Devan sebagai putranya sendiri.


Devan juga sangat sayang kepadanya.Banyak waktu yang mereka habiskan bersama sama sebelum Devan sakit.


Di Paris bukan hanya Kenny dan Mala yang menyayangi Devan .Mama Laurent ,Bibi Magda dan bibi Fransisca juga sangat sayang kepada Devan.


Drrttt drrttt drrttt


"Hallo ma."


Karena dengan kehadiran Devan di tengah tengah mereka suasana rumah selalu ramai oleh Devan yang selalu berlari lari kesana kemari.Tawa dan bahagianya memenuhi seiisi rumah mewah mereka.


Sehingga mama Laurent benar benar merasa Devan adalah cucunya sendiri.


"Maafkan Kenny ma,"Kenny mulai menangis dan terisak.


"Ada apa Kenny.Kenapa kamu menangis?"


"Maafkan Kenny Ma,Mala sama Kenny sudah berusaha mencari papa kandung Devan.Namun dia selalu menolak Mala,sehingga Devan nggak mendapatkan donor sum sum tulang belakang,keburu kondisinya semakin kritis dan.."


Kenny menggantung pembicaraannya,


"Dan apa Kenny?"mama Laurent tak sabar ingin medengarkan Kenny meneruskan ceritanya.


"Devan udah pergi ma."


"Pergi ke mana Kenny,kamu ngomongnya yang jelas dong sayang."


"Devan udah pergi ke surga ma."Kenny menangis lagi tak kuasa membendung rasa sedih di dalam hatinya.


"Bohong kamu Kenny,jangan bercanda pada mama."


"Benaran ma,Kenny nggak bohong."


Mama Laurent menangis juga,sehingga bibi Magda dan bibi Fransisca mendekati dan bertanya apa yang terjadi.


Mama Laurent menceritakan pada kedua iparnya kejadian yang menimpa Devan,hingga akhirnya mereka bertiga menangis bersama sama.


Mama Laurent ingin terbang ke Indonesia,namun Kenny mencegahnya.


Kenny merasa mama Laurent akan kelelahan dan penyakitnya akan kambuh lagi.


"Sudah ma,biar Kenny yang akan mengurus semuanya di sini .Mama tenang tenang di sana ya.jaga kesehatan mama juga."


Mama Laurent akhirnya lebih memiilih menurutin perkataan putranya.


Hanya dokter Anastasia yang menemani mereka dalam proses pemakaman.


Mala tak berhenti menangisi putranya.


Upacara pemakaman dijalani dengan proses yang sakral.


Hingga pemakaman selesai Mala terus memeluk nisan Devan.


Dia terus meratapi kepergian putra tercintanya.Selama ini Mala kuat oleh karena ada Devan bersama dengannya.


Dan sekarang Devan telah pergi meninggalkannya selamanya,


🥀🥀🥀🥀🥀


Drrtt drrrtt drtttt


Ponsel dokter Anastasia bedering.


(Alex memanggil)


"Hallo Alex ada apa,tumben kamu menelpon."


"Hallo dek,bisakah kamu kemari sebentar,Margareth kayaknya aneh deh sekarang."


"Aneh bagaimana?"


"Pokoknya kamu datang aja nanti yah,aku nggak tahu menjelaskannya bagaimana sama kamu."


"Alex,aku lagi di pemakaman menghadiri pemakaman anak temanku.Kalau masih sempat nanti aku akan segera ke sana yah."


"Baiklah,aku menunggumu."


Dokter Anastasia menutup panggilannya.


Kenny membujuk Mala agar mau pulang.Hari sudah sore,tapi Mala masih enggan untuk melepaskan nisan yang masih di peluknya.


"Mala ayo kita pulang."


Mala menggeleng.

__ADS_1


"Kalau kamu nggak mau pulang,apa kamu senang jika Devan bersedih melihatmu.Perjalanan Devan menuju surga akan tertahan olehmu."


Kenny membujuk Mala dengan kelembutan.


Akhirnya Mala pun luluh,Kenny lalu menggandeng tangannya dan berjalan menuju mobil diikuti oleh dokter Anastasia.


Kenny membawa Mala ke apartemennya.


Sengaja Kenny lebih memilih tinggal di apartemen,demi untuk bisa lebih mengawasi Mala.


Dokter Anastasia turut membantu Kenny,membawa barang barang Devan dari rumah sakit,yang sengaja dibawa pulang oleh Kenny.


Apartemen Kenny memiliki dua buah kamar.Cukup mewah dengan segala fasilitasnya.


Mala memilih masuk ke dalam kamar dan beristirahat,


Dokter Anastasia memilih pamit pulang kembali ke rumahnya.


"Terima kasih Anastasia,kamu sudah mau menemani kami beberapa hari ini.Maaf kami sudah merepotkanmu dan menyita banyak waktumu."


"Jangan berkata begitu Kenny,semua yang aku lakukan tanpa pamrih.Kita berteman tak boleh sungkan untuk meminta bantuan satu sama lain"


"Kalau begitu aku pergi dulu ya.Jika sempat aku akan kemari besok sepulang dari rumah sakit."


Kenny mengantar dokter Anastasia sampai di depan pintu.Dan melihat dokter Anastasia masuk ke dalam lift.


Saat Kenny masuk ke dalam kamar,Mala sudah tertidur dengan memeluk pakaian pakaian Devan.


Ada rasa iba di dalam hati Kenny melihat Mala yang sudah lelah dengan semua yang dia alami selama ini.


Kenny mengambil selimut,dan menutupi tubuh Mala.Lalu mematikan lampu,menggantikannya dengan lampu tidur .


Kenny keluar dari kamar Mala dan menutup pintunya.


Kennymenghela napas panjang,dan mendaratkan bokongnya di sebuah sofa di ruangan tengah apartemennya.


Dia berpikir keras bagaimana caranya untuk membuat Mala merasa terhibur.Dan akhirnya Kenny tertidur di atas sofa.Sebenarnya Kenny juga sama lelahnya dengan Mala.


Dia ingin Mala bahagia,namun sayang apa yang diharapkan Mala tidak terjadi.


Hancur rasa hatinya,bagaimana hari harinya selama ini dia jalani bersama Mala dan Devan.


Namun sekarang Mala juga turut hancur bersama kepergian putranya.


Selama satu minggu Mala menghabiskan waktunya dengan mengurung dirinya di dalam kamar.Sambil memeluk dan mencium aroma Devan yang masih tertinggal pada pakaian pakaian kecilnya yang sengaja Mala hamburkan di atas ranjangnya.


Dengan begitu dia masih merasa kalau Devan masih bersama sama dengannya.


Walau diajak makan atau pun minum Mala tak mau.Dia lebih suka mengurung dirinya di kamar.Sesekali dia berteriak histeris,hanya Kenny yang bisa menenangkannya.


"Mala."


Kenny masuk ke dalam kamar Mala.


Mala hanya mendonggakkan matanya ke arah Kenny.


"Ini makanlah,aku membawa makanan kesukaanmu."


"Aku sengaja memesannya di restoran ternama di kota ini untukmu.Kamu makan yah."


Mala menggeleng,dia tak ingin makan atau minum apa pun.


Rasa sakit dan putus asa memenuhi hatinya.


"Mala,apa kamu akan terus terusan seperti ini?"


"Kenapa kamu mau menyiksa dirimu sendiri."


Kenny sudah tak bisa menahan diri dengan sikap Mala selama ini.


"Aku ingin mati juga Kenny,rasanya sesak sekali di dadaku.Hidupku hampa tanpa Devan.Aku nggak akan bisa bahagia bila nggak bersama putraku."


"Lalu apa yang kamu dapatkan,jika kamu berputus asa saat ini.Tidakkah kamu menyadari Devan pasti sangat sedih melihat kamu berlarut dalam kesedihanmu.Lalu siapa yang akan mendoakan Devan,jika kamu pun ingin pergi menyusulnya dengan keputus asaanmu."


"Sadarlah Mala,kamu harus keluar dari kesedihanmu.Ingat janjimu pada Devan.Dia ingin kamu bahagia.Jika dia melihat kesedihanmu,apa kamu pikir dia bahagia di alamnya?"


Mala menggeleng,


"Oleh karena itu,bangunlah Mala."


"Kita boleh bersedih,aku juga lebih sedih.Tapi waktu kita nggak berhenti.Waktu kita terus berjalan."


"Semangat dan kuatlah.Isilah waktumu dengan hal hal yang positif,agar kita bisa merelakan kepergian Devan,dan menemaninya dalam setiap doa kita untuknya."


Setiap hari Kenny selalu menghibur Mala,dia tak pernah bosan melakukannaa untuk Mala.


🌷🌷🌷🌷


Kenny terbamgun dari tidurnya,dia mencium aroma masakan saat ini.


Dia melirik jam pada wekernya,masih pukul 06.00 pagi.


"Siapa yang pagi pagi ini udah masak.Seperti aroma masakan Mala.Tapi siapa yang lagi masak?"Kenny bergumam sendiri di atas ranjangnya.


"Apa Dokter Anastasia yang datang pagi ini dan memasak untuk kami?"


Dari pada terus bertanya tanya dan penasaran Kenny pun turun dari ranjangnya.


Dia membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju ke dapur


Kenny terkejut melihat siapa gerangan yang lagi memasak di dapur.


"Selamat pagi Kenny,"Mala mengucapkan salam pada Kenny yang wajahnya baru bangun dan belum terkena air.


"Ada apa dengan wajahmu?"Mala melihat Kenny yang tak berkedip memandangnya.


Kenny mengucek matanya beberapa kali.


"Apa aku sedang bermimpi,melihat Mala sedang masak di dapurku,ya Tuhan."ucap Kenny masih tak percaya apa yang dia lihat di hadapannya.


"Kenny,apa kau sedang menggodaku?"Mala mengambil sebuah gelas berisi air,dan memercikkan airnya ke wajah Kenny.


"Sana masuk ke kamarmu,dan bersihkan dirimu,kita akan segera sarapan setelah aku selseai memasak."


"Ya tuhan,aku nggak bermimpi,percikan air ini sungguh nyata terasa di wajahku."


Mala tersenyum mendengan celotehan Kenny.


"Ayo bersiaplah,aku akan menyiapkan sarapan untukmu saat ini sebelum kau berangkat ke kantormu."ujar Mala,agar Kenny segera bersiap.


"Kenny."


Mala kesal Kenny masih berdiri ditempatnya.


"I i iya,aku segera bersiap."


Kenny berlalu ke kamarnya dan menuju kamar mandi.


Dalam hatinya dia bersyukur kalau Mala sudah mulai melakukan aktifitasnya kembali.


Namun Kenny tahu Nala masih menyimpan luka di hatinya.


"Ah sudahlah,nanti baru dipikirkan.Asal Mala sudah membuat sebuah kemajuan,aku harus bisa terus mendukungnya."


Selama di Indonesia,Kenny masih mengurus perusaahaannya di sini.


Sedang di Paris,Kenny percayakan asistennya di sama untuk mengurus semuanya.


Pagi ini Anastasia berkunjung ke apartemen mereka.Bersama Kenny menikmati sarapan bersama sama.


Keny memandang wajah Mala,dalam hatinya dia berjanji akan mengembalikan kebahagiaan di wajah Mala seperti dulu lagi.


"Apa kamu yakin,kamu bisa sendiri di sini?"


"Tenanglah Kenny,aku bisa menjaga diriku sendiri disini.Kamu fokuslah dengan pekerjaanmu yah."


Mala dan Kenny saling menatap dan tersenyum kecil.


Ada kelegaan di hati kenny.


"Semoga kamu selalu bahagia,Mala."


"Mala menundukkan kepalanya."


"Tetaplah kuat,demi kebahagiaan Devan di alam barunya."

__ADS_1


Mala mengangguk,dan meneteskan sebulir bening air mata di pipinya.


__ADS_2