
Bab 67
‘’Cukup Cristian, Bimo bukan suamiku,’’ teriak Mala dengan keras.
Dia tak ingin Bimo menjadi sasaran empuk lagi bagi Cristian saat ini. Mala sudah tak bisa mengendalikan emosinya. Teriakannya yang begitu keras mengagetkan seluruh keluarga Adiwijaya, termasuk nona Margareth yang baru saja tiba di halaman rumah mewah mereka saat ini.
Cristian masih belum mempercayai dengan pendengarannya barusan. Semuanya terdiam dengan pengakuan Mala yang begitu mengejutkan bagi mereka saat ini. Tak ada yang bisa berkata apa pun, selain menunggu Mala menjelaskan semua yang sebenarnya pada mereka. Sungguh ada perasaan senang bercampur sedih di dalam hati Cristian. Selama ini dia telah berburuk sangka pada Bimo, dan selalu mencoba menyakitinya.
‘’Kuharap pengakuan mu bukan untuk membela pria brengsek ini Mala,’’ sengaja Cristian memancing pembicaraannya pada Mala, agar dia mau menjelaskannya secara jelas statusnya dengan Bimo.
Mala enggan untuk menjawab Cristian, dia hanya memilih diam. Sebenarnya Mala menyesal dengan tanpa sengaja mengungkapkan kebenarannya saat ini. Dan akhirnya Mala lebih memilih masuk lagi ke dalam rumah keluarga Adiwijaya dengan perasaan yang dongkol.
‘’Kamu dan istrimu sekarang berhutang penjelasan padaku, dan kalian harus masuk dan ikuti aku,’’ perintah Cristian sambil menunjuk ke arah Bimo dan istrinya.
Semua orang di sana akhirnya ikut masuk mengikuti Cristian.
Cristian menunggu dengan gelisah di ruang tengah. Akhirnya Bimo dan istrinya masuk ke ruang tengah, dimana Cristian menunggu mereka. Diikuti oleh nyonya Elisabeth dan nona Margareth. Setelah mempersilahkan semuanya duduk, termasuk juga Mala . Mata Cristian tak berkedip menatap sepasang suami istri yang duduk di hadapannya saat ini.
‘’Aku harap, nggak ada yang harus kalian tutupi saat ini.’’
Bimo masih duduk dengan tenang, sambil menggenggam tangan Felicia erat. Kelihatannya Felicia sangat shock dengan perlakuan Cristian terhadap suaminya saat ini. Akan tetapi genggaman tangan Bimo seakan memberi penjelasan pada Felicia kalau dia baik baik saja.
Oleh karena itu Felicia tak ingin melepaskan genggaman tangannya dari Bimo. Setidaknya dengan genggaman tangan dia bisa lebih tenang menghadapi situasi sulit yang sedang mereka hadapi saat ini.
Bimo hanya diam dan memandang ke arah Mala. Dalam hatinya dia akan mengatakan semuanya, dan Mala mengerti itu. Sepertinya dia harus mengungkapkan kebenarannya saat ini. Sebab Mala tak ingin Bimo akan menjadi sasaran kemarahan Cristian lagi. Sudah cukup perbuatan Cristian pagi ini, itu sudah sangat melukai Felicia.
‘’Tunggu apa lagi,’’ gertak Cristian yang sudah tak sabar ingin mendengar pengakuan mereka.
‘’Aku dan Mala bukan pasangan suami istri. Felicia adalah istriku yanng sesungguhnya.’’
Dalam hati nyonya Elisabeth sedikit lega dengan pengakuan Bimo barusan. Begitu pula dengan nona Margareth, dia yang paling bahagia mendengar pengakuan Bimo. Nona Margareth langsung berdiri dan segera mendekati Mala dan memeluknya.
‘’Aku tahu Mala, dan aku selalu yakin kamu adalah jodoh yang di takdir kan Tuhan untuk adikku.’
‘’Kenapa takdir itu begitu pahit bagiku kak, orang yang harusnya menjadi pelindungku malah yang menjadi penyebab kepergian putraku.’’
Mala meneteskan air matanya, dan Nona Margareth memeluk erat tubuh Mala.
‘’Atas nama keluarga Adiwijaya, kami meminta maaf padamu Mala. Sungguh kami tak mengetahui kebenarannya saat itu, jika saja kami bisa mengetahuinya lebih awal mungkin kejadiannya tak akan seperti ini.’’ Nona Margareth semakin memeluk erat tubuh Mala.
‘’Jadi kedatangan kami pagi ini adalah untuk menjemput Mala untu kembali ke apartemennya bersama kami.’’
Dengan tegas Bimo menyatakan maksud kedatangannya saat ini pada keluarga Adiwijaya. Mala menganggukkan kepalanya dan mengurai pelukan dari nona Margareth.
‘’ Tidak, kamu nggak boleh pergi dari rumah ini Mala,’’ ucap Cristian. Nadanya yang keras seakan itu adalah perintahnya untuk Mala.
Namun Mala memandang tajam ke arah Cristian.
‘’Aku mempunyai tempat tinggal sendiri Cristian dan aku akan mengikuti Bimo dan Felicia untuk pulang ke apartemenku.’’
‘’Aku nggak mengijinkan mu keluar dari rumah ini.’’
‘’Aku akan tetap pergi dari sini.’’
‘’Sudah kubilang, aku nggak mengijinkan mu pergi dari sini.’’ Suara Cristian sedikit lebih keras dari sebelumnya. Sementara semua yang duduk di sana menantikan apa keputusan dari Mala.
‘’Nek, tolong bilang pada Mala, jangan pergi dari rumah ini.’’ Pinta Cristian.
Nyonya Elisabeth diam dan tak menanggapi perkataan cucunya.
‘’Kak,’’ Cristian meminta pada kakaknya agar mau membantunya untuk meyakinkan Mala. Namun semuanya hanya ikut diam. Sepertinya nona Margareth lebih memilih mengikuti tindakan neneknya nyonya Elisabeth. Membiarkan Mala memutuskan sendiri apa yang akan dia lakukan.
Dan ternyata Mala lebih memilih ikut bersama Bimo dan Felicia untuk pulang ke apartemennya.
Cristian menggelengkan kepalanya, tanda tak setuju dengan keputusan Mala saat ini. Dia belum bisa meyakinkan Msla untuk jangan pergi. Mala berdiri bersama Bimo dan Felicia bersiap untuk keluar dari rumah mewah kediaman Adiwijaya ini.
‘’Tunggu Mala,’’
Nenek menghentikan langkah Mala.
‘’Ada apa nek, ‘’ saat Mala menoleh pada nyonya Elisabeth, dia tersenyum.
‘’Bi Ratih, tolong ambilkan tas Mala di kamarku.’’ Perintah nyonya Elisabeth pada pelayannya yang masih setia berdiri di balik pintu, menantikan perintah dari tuannya.
Ternyata nenek yang sudah menyimpan tas milik Mala dua hari ini. Bi Ratih dengan patuh naik ke lantai atas menuju kamar utama, mengambil tas milik Mala berserta ponselnya. Setelah bi Ratih turun, nyonya Elisabeth memintanya untuk menyerahkan tas Mala . Lalu Mala menerimanya, dan enggan untuk memeriksa kembali isi tasnya. Dia percaya, kalau nyonya Elisabeth tak mungkin untuk melakukan sesuatu yang tak pantas pada barang pribadi miliknya.
‘’Kalau begitu kami pamit pulang dulu, nek.’’
Mala memeluk nenek dan nona Margareth bergantian.
‘’Terima kasih nak, lain kali jika kamu punya waktu sering seringlah main kemari,’’ tampak nyonya Elisabeth menahan air matanya.
Bimo dan Felicia menunduk hormat pada nyonya Elisabeth dan nona Margareth, tanda mereka juga menghormati si empunya pemilik kediaman mewah Adiwijaya ini. Mereka berdua turut berpamitan pada nyonya Elisabeth dan keluarganya.
‘’Mala, kami masih merindukanmu. Bisakah kamu akan kembali lagi nanti kemari?’’
Mala hanya menganggukkan kepalanya, mendengar permintaan nona Margareth padanya. Ketiganya melangkah menuju mobil milik Bimo yang masih terparkir di halaman rumah tadi.
‘’MAAAAAAAMMMMMMMAAAAA,’’
Suara Ellena ,menjerit dari balik pintu, memanggil Mala.
‘’Mamaa,’’
Ellena sudah berhasil menyentuh lengan Mala.
‘’Mama, jangan pergi tinggalin Ellena sendirian,’’
HUHUHHUUHUHUUHUHU
Elena kembali menangis, merengek meminta Mala agar tetap bersama dengannya.
‘’Ellena sayang, tante mau pulang ke apartemen tante dulu yah. Ellena jadi anak baik yah, dan semoga cepat sembuh.’’
__ADS_1
Mala berusaha memberi pengertian pada gadis kecil itu, yang sepertinya sudah mulai menyukai Mala.
‘’Ellena nggak mau, pokoknya Ellena hanya mau ditemani sama mama.’’ Lagi gadis kecil itu menangis sejadi jadinya, membuat hati Mala terhenyuh kembali.
Nyonya Elisabeth tak mampu berbuat apa apa melihat Ellena yang merasa sudah sangat dekat dengan Mala. Entah kenapa nyonya Elisabeth merasa iba di dalam hatinya, tak sampai hati melihat Ellena yang baru kali ini memanggil orang lain sebagai mamanya. Sebenarnya dalam hati Mala dia masih menginginkan melihat gadis kecil ini bisa sembuh. Tapi nyatanya dia harus pulang kembali ke apartemennya.
‘’Ellena sayang, tante janji. Tante akan sering datang kemari bermain bersama Ellena,’’ bujuknya kembali. Tapi gadis kecil itu tak bisa mengerti dengan keadaan orang dewasa. Yang ada dalam pikiran Ellena saat ini adalah kenyamanan yang dia dapatkan dari Mala.
Semakin Mala membujuk Ellena, semakin gadis itu tak ingin berhenti dari tangisnya. Itu semua membuat Mala semakin merasa luluh hatinya. Dia mendekap gadis kecil itu mencium keningnya dan mencoba menjelaskan keadaannya pada Ellena. Namun Ellena tak mengerti dengan keadaan yang sedang Mala hadapi.
‘’Mama, jangan tinggalkan Ellena lagi,’’ suara Elena semakin melemah, dan gadis kecil itu kembali memejamkan matanya, Mala berteriak meminta tolong.
‘’Nenek, tolong Ellena pingsan lagi.’’
Semakin Mala tak sampai hati meninggalkan gadis kecil bernama Ellena itu. Cristian yang sejak tadi berdiri di sana dengan sigap berlari ke arah Mala dan menggendong Ellena masuk ke dalam rumah, lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya. Cristian tak kehilangan akal. Setelah membaringkan tubuh Ellena di ranjangnya Cristian lalu mengambil ponsel dan segera menghubungi dokter Surya.
Dokter Surya sedang memeriksa kembali keadaan Ellena saat ini. Sementara semua orang menunggu di lantai bawah. Tampak akan lama pemeriksaanya, membuat Bimo tak sabar. Dia bermaksud mengajak Felicia dan Mala kembali saat itu juga.
‘’Ayo Mala, kita pulang sekarang.’’
Bimo menggenggam tangan Felicia dan bermaksud untuk mengajak mereka keluar dari kediaman Adiwijaya itu.
‘’Tunggu Mala,’’ Cristian turun dari lantai atas.
Setelah dia mendekati Mala dan Bimo serta istrinya.
‘’Apa kamu tega membiarkan Ellena sakit, sementara dia sangat membutuhkan kamu saat ini,’’ Cristian mencoba membujuk Mala.
Sengaja dia melakukan ini, karena menurutnya inilah satu satunya cara untuk menghambat Mala pergi. Di satu sisi Cristian sebenarnya tak tega dengan keadaan Ellena, tapi di sisi lain dalam hatinya dia merasa senang. Dengan dalih kesehatan Ellena pasti Mala akan mau tinggal untuk beberapa saat di kediaman mereka. Walau harus melakukan segala macam cara, sepertinya Cristian sudah tak ingin kehilangan kesempatan.
‘’Nggak Cristian, aku harus pulang.’’ Ucap Mala dengan penuh ketegasan.
Sepertinya Mala juga kuat membuat benteng dalam hatinya agar tak luluh dengan keinginan seorang Cristian Adiwijaya. Mereka sudah bersiap untuk pergi, dan dokter Surya turun dari lantai atas. Ellena sepertinya sudah selesai di periksa oleh dokter yang sudah sepuh itu. Di umurnya yang sudah lanjut, pria tua itu masih bisa melakukan pekerjaannya sebagai dokter dengan baik.
‘’Bagaimana keadaan cucu saya dok?’’ nyonya Elisabeth bertanya dengan cemas.
‘’Sepertinya Ellena sedang mengalami trauma yang cukup dalam. Mungkin karena dia mengetahui situasi sulit yang di hadapi. Ibunya di penjara, dia nggak ingin menyusahkan orang lain. Dan memendam rasa sakitnya sendiri, sehingga tanpa sadar di bawah alam sadarnya dia merindukan sosok ibu baginya.’’
Semua orang di sana menyimak semua penjelasan dokter Surya. Tanpa ada satu pun dari mereka ingin menyela perkataannya. Berharap mungkin ada solusi yang terbaik untuk kesehatan Ellena. Dan apa pun bentu pengobatannya, agar Ellena bisa segera sembuh.
‘’Lalu apa yang harus kami lakukan, biar Ellena bisa segera sembuh dok?’’ Nona Margareth turut khawatir dengan kondisi Ellena. Walau sebenarnya mereka sudah tahu antara Cristian dan Ellena tak memiliki hubungan darah apa pun. Namun sejak bayi Ellena sudah menjadi bagian dari keluarga Adiwijaya.
‘’Hanya ada satu jalannya.’’
‘’Apa itu dokter,’’ semua yang ada di dalam ruangan itu berharap harap cemas dengan jawaban dokter Surya.
‘’Memberikan kenyamanan pada Ellena, dengan membiarkan orang orang terdekat yang dia butuhkan. Sehingga dengan perlahan dia akan merasa di dunia ini dia tak sendiri. Masih ada orang orang yang begitu sangat menyayanginya.’’
‘’Dengan begitu, perlahan traumanya akan hilang. Tapi tetap dengan pendampingan psikolog,’’ lanjut dokter Surya lagi.
‘’Hanya saja, kita membutuhkan seseorang yang bisa di dekati oleh Ellena agar mau di bujuk menemui psikolog untuknya.’’
Cristian memandang Mala dengan tatapan mengiba.
‘’Tolonglah Mala, untuk kali ini saja aku mohon padamu.’’
Pelan Mala menganggukkan kepalanya. Air matanya mengalir begitu deras. Jauh di dalam hatinya Mala mengutuki dirinya sendiri. Kenapa harus mengikuti keinginan Cristian dengan mudahnya. Tubuhnya mengiyakan namun hatinya tetap saja terasa sakit. Semudah inikah memberikan perhatian kepada orang lain. Sementara saat dia membutuhkan orang lain melakukan hal yang sama kepadanya, dia tak mendapatkan apa pun.
‘’Terima kasih Mala,’’ Cristian tampak lega dengan keputusan Mala saat ini.
‘’Aku melakukan ini bukan untukmu, Cristian tapi untuk putraku Devan. Bagaimana pun Devan harus tahu kalau aku mommy nya tidak akan pernah bisa menolak keinginan seorang yang membutuhkan pertolongan .’’
‘’Tentu Mala, Devan pasti bangga memiliki mommy seperti dirimu,’’ Cristian tak kuasa menahan air matanya.
Dalam hatinya dia terus memaki maki dirinya sendiri. Begitu bodohnya dia melakukan hal yang sangat disesali olehnya saat ini.
‘’Mala apa yang kamu lakukan, Aku dan Felicia datang kemari untuk menjemputmu.’’
Bimo yang sejak tadi diam saja, angkat bicara.
‘’Apa apaan ini, kamu tidak memiliki tanggung jawab untuk kesembuhan putri pria yang sudah pernah menyakitimu,’’ Bimo terlihat emosi.
Bagaimana tidak, begitu mudahnya hati Mala luluh pada permintaan Cristian, yang dia sudah sangat tahu Cristian adalah masa lalu Mala yang sangat menyakiti hatinya.
Bimo mendekati Cristian dengan wajah kemerahan menahan amarah.
‘’Biarkan Mala pulang bersama kami,’’ tukasnya dengan tegas.
‘’Tidak bung, aku tak akan membiarkan Mala pergi.’’
‘’Kamu begitu egois Cristian, tidak pernahkah kamu rasakan betapa kamu sangat menyakiti hatinya.’’
‘’Justru karena itu, karena aku sadar aku pernah menyakiti hatinya. Sekarang adalah saat yang tepat untuk memperbaiki kesalahankku,’’ jawab Cristian dengan lantang.
Bimo memandang ke arah Mala, sepertinya dia tak tega dengan situasi sulit yang sedang dihadapinya saat ini.
‘’Nggak apa apa Bimo, kamu dan Felicia pulanglah. Jika semuanya sudah selesai aku akan pulang ke apartemen.’’
Bimo tak berdaya dengan keinginan Mala, menganggukkan kepala dan meraih tangan Felicia dan mengajaknya pulang.
Di dalam mobil, Felicia memandang wajah suaminya.
‘’Kenapa kamu mau membiarkan Mala tinggal di sana, jika kamu sendiri tahu itu sangat tak baik untuknya.’’
"Aku tak bisa dan tak kuasa melihat raut wajah Mala di sana. Membayangkan dia melakukan itu untuk orang orang yang pernah menjadi penyebab kematian putra kesayangannya. Sebenarnya dalam hatinya Bimo sangat ingin menentang keinginan Mala untuk tetap di sana. Namun apa daya, dengan melihat raut wajah Mala, Bimo sangat tahu Mala sangat terpaksa melakukannya. Kalau bukan karena Devan sebagai alasannya.
"Mala, bagaimana hatimu begitu sangat kuat menghadapi situasi ini sendirian?" Hati Bimo berkecamuk, merasakan sakit juga.
Setengah jam perjalanan menuju apartemen, tak terasa mobil Bimo sudah masuk ke area parkir. Keduanya keluar dari mobil, dan segera naik ke apartemen mereka. Keduanya hanya diam membisu, hingga tiba di pintu apartemen mereka.
Baru saja pintu tertutup, bel pintu mereka berbunyi
"Siapa yang datang sayang, apa Mala merubah pikirannya?"
Bimo tersenyum senang, akhirnya Mala mau untuk kembali kemari.
__ADS_1
Felicia membuka pintu, dan betapa terkejutnya dia.
"Kenapa wajah kamu kaget seperti itu?"
Sang tamu berjalan melewati Felicia yang masih terpaku berdiri di pintu.
Bimo tak kalah kaget melihat tamu yang baru saja masuk ke dalam apartemennya.
"Kenapa dengan kalian berdua, seperti baru saja melihat hantu." Dia duduk di sofa yang berada di ruangan itu dengan memangku kakinya.
Tidak ada jawaban dari pasangan suami istri itu. Membuat pria yang baru saja masuk ke dalam apartemen mereka semakin bingung.
"Aku tak harus lagi mengulang pertanyaanku pada kalian kan?"
Bimo terlihat gugup dengan pertanyaan pria yang berada di hadapannya. Inilah momen yang sangat di takuti olehnya. Pasti akan terbongkar rahasia yang sudah mereka sembunyikan beberapa hari ini.
Felicia perlahan menutup pintu apartemennya.
"Apa kau ingin aku buatkan kopi, Tuan Hector?" Tanya Felicia, akan tetapi nadanya terdengar sangat gugup. Sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu. Dan sebenarnya pertanyaan Felicia sekedar ingin mengulur waktu. Dia ingin memberi suaminya ruang untuk berpikir jawaban apa yang akan dia berikan pada tuannya.
"Terima kasih Felicia, tapi aku menginginkan kau membuatkan teh Chamomile buatku saat ini," pinta Hector.
"Baiklah, aku akan membuatkannya untukmu."
Namun Hector malah semakin curiga, tingkah pasangan suami istri di hadapannya sungguh tak biasa. Tapi dia tak ingin mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut. Dia berpikir mungkin pasangan suami istri ini sedang bertengkar barusan. Dengan kedatangannya membuat mereka menjadi canggung.
"Ah begitulah pasangan baru," gumamnya dalam hati sambil tersenyum kecil. Sambil menunggu kedatangan Felicia membawa teh yang diinginkannya. Kedua pria itu duduk tanpa berbicara banyak.
Bimo tak ingin memulai percakapan. Dia takut berbicara, dan mungkin akan salah serta menyinggung keberadaan Mala.
"Kenapa tidak ada yang membuka pintu, saat aku mengetuk di apartemen Mala?"
Deg, jantung Bimo berdegup kencang. Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Hector.
Bimo tak segera menjawabnya, membuat Hector menjadi penasaran.
"Bimo?"
"I iya tu an." Dengan terbata Bimo menjawabnya.
Hector semakin heran dengan reaksi Bimo. Tak biasanya dia seperti ini.
"Bimo, apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Bimo hanya menggeleng, tapi Hector sepertinya tak puas dengan reaksi Bimo. Dengan menggelengkan kepalanya, dan tak bisa menjawab pertanyaannya.
"Bimo, aku bertanya sekali lagi. Dan jawab aku bukan dengan menggelengkan kepalamu!" Suara Hector sedikit meninggi.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku!"
"Maafkan aku, tuan." Akhirnya Bimo menyerah. Dia harus mengatakan yang sejujur jujurnya pada Hector.
"Apa maksud permintaan maaf mu?"
"Sudah dua hari ini Mala belum pulang."
"Apa maksudmu Mala belum pulang. Apa Mala menghilang, apa kamu sudah mencari keberadaannya?"
"Sudah tuan,"
"Lalu dimana Mala sekarang?"
"Apa kamu belum mengetahui keberadaannya, apa yang kamu lakukan selama ini, Bimo?" Dengan suara keras Hector bertanya bertubi tubi pada Bimo. Wajahnya berubah menjadi kemerahan dengan kemarahan.Baru kali ini Felicia melihat Hector begitu murka.
Kemarahannya begitu membuatnya sangat ketakutan. Nampan yang berisi dua cangkir teh di tangannya tiba tiba terjatuh, dan pecah di lantai.
"Kami sudah mencarinya tuan, tapi.."
"Tapi apa Bimo?" Hector tak bisa menahan amarahnya, hingga suaranya terdengar sangat kasar.
"Mala berada di kediaman Adiwijaya."
"Terus kenapa kamu membiarkannya berada di sana." Hector sepertinya tak suka mendengar Mala berada di kediaman orang yang pernah menyakiti hati Mala.
"Kami baru saja dari sana, dan mengajak Mala kembali pulang. Namun sesuatu telah terjadi di sana yang membuat Mala tak berdaya, dan memilih tetap di sana." Felicia kini yang menjawab pertanyaan Hector. Karena dia tak ingin suaminya menjadi sasaran kemarahan tuan Hector.
__ADS_1