
Bab 59
"Siapa pria itu?"
"Begitu cepatnya kamu memiliki pasangan baru.Selama ini waktuku habis untuk mencarimu.Namun apa yang aku lihat barusan sungguh menyakiti hatiku,Mala."
Tatapan nanar dari sudut mata Cristian,melihat sosok Mala yang dia rindukan selama ini
Sangat dekat sekali,namun tak bisa tersentuh.
Cristian tak memperdulikan gadis yang baru saja memeluknya penuh kerinduan.Dia berjalan dengan hati yang menjadi beku kembali.
"Cristiannn.."
Gadis bertubuh kecil, anggun dan seksi itu mengejar Cristian yang sudah mendekati mobilnya.
Cristian naik ke mobilnya,diikuti oleh gadis yang baru saja tiba dari London itu.Cristian enggan membuka pintu mobil untuknya.
Dia melajukan mobilnya tiga puluh menit kemudian tiba di depan rumah mewah milik keluarga gadis cantik di sebelahnya.
"Turunlah."
"Tapi,Crist aku masih ingin melepas kerinduanku denganmu."
Gadis itu merengek meminta perhatian dari Cristian.Duda tampan yang sungguh mampu membuat dia jatuh cinta.
Pertemuan mereka beberapa tahun lalu,gadis itu diminta ayahnya untuk bertemu dengan Cristian dan membicarakan soal kerja sama.
Sejak itu gadis itu menaruh hati pada Cristian,dan keberuntungan ada di pihaknya.
Laura,gadis yang selama ini menjadi kekasih dari Cristian.
Kekasih dalam perjanjian tepatnya.
Saat perusahaan Cristian diambang kebangkrutan,ayah Laura datang mengulurkan bantuan.Dengan syarat Laura menjadi kekasih Cristian.
Oleh karena permintaan Laura kepada ayahnya.Sebab Laura sudah jatuh cinta untuk pertama kalinya saat dia dicium oleh Cristian di hadapan seorang wanita yang Laura tak mengetahui siapa itu.
"Hanya kekasih,bukan untuk dijadikan istri." Saat itu dalam benak Cristian menyetujuinya,sambil mencari kembali investor yang mau untuk menanamkan modalnya pada perusahaan otomotifnya.
Ayahnya memberi bantuan dana pada perusahaan Cristian,dan sebagai gantinya Laura menjadi kekasih Cristian.
"Apa kamu nggak mau masuk ke dalam rumahku dulu sebentar?"
"Aku masih memiliki urusan yang sanagt penting,Laura."Jawab Cristian tanpa menoleh.
Laura keluar dari mobil Cristian dan mencebikkan bibirnya.
Seharusnya hari ini mereka saling melepas rindu.Sebab mereka berhubungan jarak jauh selama empat tahun belakangan.
Ini pertemuan kedua kalinya bagi mereka.
Laura mencoba untuk mengerti kesibukkan Cristian dan memilih untuk masuk ke dalam rumahnya.
Saking kesalnya,Laura sampai lupa untuk mengucapkan terima kasih pada Cristian.
Sepanjang perjalanan dalam mobil,tak hentinya Cristian mengingat kejadian di bandara tadi.
"Mala."
Hati Cristian begitu sakit melihat Mala,dan yang lebih parahnya lagi dia tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun untuk memanggil Mala saat itu.
"Arrrrgggghhhh."
"Siapa tadi itu,yang bersama dengan Mala?",
"Apa itu kekasihnya,atau suaminya?"
Pertanyaan pertanyaan konyol di dalam hati Cristian semakin membuat pikirannya kacau.
"Kalau saja tadi,sedikit saja aku punya keberanian untuk memanggil Mala.Dan memastikan siapa tadi yang sedang bersama dengannya."
"Aahhh,bodoh!"
Cristian memukul kepalanya sendiri.Dia merutuki kebodohannya,yang sama sekali tak bisa bereaksi di depan mala.
"Aku harus mencari tahu semuanya.Mala aku ingin kembali padamu.Jika harus menyingkirkan pria yang ada di sampingmu tadi aku akan melakukannya."
Cristian melajukan mobilnya membelah jalanan kota,menuju ke kediaman Adiwijaya.
Nenek dan Kak Margareth harus tahu aku sudah menemukan Mala.
Rumah besar dan mewah ini terasa sangat sepi.Apa lagi Ellena yang sudah bersekolah.Hanya nenek sendiri yang berada di dalam rumah jika siang hari.
Cristian perlahan menaiki anak tangga menuju kamar nyonya Elisabeth Adiwijaya.
"Nek,."
Cristian memanggil neneknya yang sedang duduk di sofa dalam kamarnya.
"Kemarilah nak."
"Kenapa siang siang begini kamu pulang ke rumah.Apa di kantormu sudah tak ada pekerjaan lagi?"
Cristian menghampiri neneknya,dan duduk di atas ranjang.
"Ada apa sayang,kenapa wajahmu terlihat gusar seperti itu?"
"Apa kamu memiliki masalah?"
Cristian menggeleng.
"Lalu ada apa denganmu?"
Tak biasanya Cristian berperilaku aneh seperti ini.
"Mala nek."
Nyonya Elisabeth menyeritkan dahinya.
Dia diam dan menunggu kelanjutan kalimat cucu kesayangannya.
"Crist,bertemu dengan Mala hari ini nek."
"Benarkah?"
"Lalu kenapa kamu nggak ajak dia pulang bersama denganmu?"
Mata nyonya Elisabeth berbinar senang mendengar kabar yang Cristian bawa untuknya.
Cristian menggeleng lagi.
Nyonya Elisabeth kembali diam.
"Crist bertemu Mala di bandara.Entah dia kembali dari mana Crist nggak tahu.Dan yang lebih mengejutkan Mala bersama seorang pria."
Nyonya Elisabeth menghela napas panjang.
"Apa kamu bisa pastikan pria itu adalah suami Mala?"
Cristian menggeleng.
"Justru itu yang Crist sesali nek.Crist tak mampu mengucapkan sepatah kata pun di hadapannya.Bahkan untuk mengjar dan memanggil namanya Crist nggak sanggup."
"Apa lagi Mala melihat dengan jelas saat Laura datang dan langsung memeluk Crist di hadapannya.Tapi Mala tak bereaksi apa apa.Sekedar melihat wajah Crist pun dia enggan untuk melakukannya."
"Lalu kamu tahu dimana sekarang dia tinggal?"
"Crist nggak tahu nek."
"Ya sudah.Nanti nenek akan membantumu mencari Mala.Dan nenek nggak akan biarkan Mala menjadi milik orang lain."
"Kamu nggak usah terlalu memikirkannya yah."
Cristian hanya menganggukkan kepalanya namun pikirannya entah kemana.
__ADS_1
πΌπΌπΌπΌ
Supir yang mengemudikan mobil membawa Bimo dan Mala masuk ke sebuah area parkir sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Bimo dan Mala lalu turun dan masuk ke apartemen lantai 139.
"Apartemenku dan milikmu."
Bimo dan Mala masuk le dalam apartemen milik Mala.
"Semua perabotnya sudah lengkap."
"Dan bila kamu membutuhkan bantuan,aku berada tepat di hadapanmu."
"Apa maksudmu,Bimo?"
"Maksudku,jika kamu membutuhkan sesuatu aku berada tepat di depan apartemenmu."
"Apartemenku sengaja berada di dekatmu dan kita nggak perlu tinggal bersama."
"Oke,aku mengerti Bimo."Mala tersenyum lega.Di dalam benaknya sempat khawatir kalau dia sebenarnya keberatan jika tinggal berdua dengan Bimo.
Nyatanya Bimo sudah memikirkannya dan punya jalan keluarnya sendiri.Jadi Mala tak perlu sungkan lagi dengannya.
"Kamu beristirahatlah,aku akan membereskan barang barang bawaanku di apartemenku."
Bimo menggeret kopernya menuju ke kamar apartemen yang berada di depan apartemen Mala.
πΌπΌπΌπΌ
Malam harinya,
Mala sudah menyiapkan makan malam.
Sementara Bimo datang ke apartemennya.
"Hmmmm,harum sekali."
Bimo tergoda dengan harum bumbu masakan Mala.
Semuanya sudah tertata rapi di atas meja makan.
"Ayo kita makan."Ajak mala pada Bimo.
Dan bimo matanya berbinar melihat aneka masakan Indonesia yamg sudah lama tak dicicipinya.
Bimo duduk di kursi meja makan dan mulai menyendokkan nasi ke piringnya.Semua menu yang Mala sajikan dia tambahkan ke piringnya.
Mala hanya menggelengkan kepalanya melihat Bimo yang begitu lahap menikmati makanannya.
"Jangan menatapku seperti itu Mala.Kamu kan tahu baru hari ini aku mencicipi masakan Indonesia lagi.Kalau begini aku jadi merindukan masakan ibuku."Bimo terus berceloteh dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Iya,teruskan makannya lagi.Jangan banyak berbicara saat sedang makan,Bimo."
Bimo hanya menganggukkan kepala sambil terus menguyah makanan di mulutnya.
"Sebelum aku memulai kerja,aku ingin mengunjungi kedua orang tuaku dulu."
Mala memulai bicara lagi,setelah mereka berdua menyelesaikan makan malam mereka.
"Apa tempat tinggal orang tuamu jauh dari sini?"
"Cukup jauh,bisa ditempuh dengan kereta api dari sini.Dan perjalanannya sangat melelahkan."
"Kalau begitu,aku akan ikut denganmu."Bimo berniat ikut bersama dengan Mala.
Dia ingat pesan Hector akan selalu menjaga Mala,kemana pun dia pergi.
"Nggak usah Bimo,aku nggak ingin merepotkanmu.Dan juga kamu harus mengunjungi ibumu kan?"
Mala menolak Bimo dengan halus.
"Itu gampang Mala,aku bisa pergi ke sana setelah kita mengunjungi kedua orang tuamu."
"Baiklah,kalau itu maumu."
Bimo pun kembali ke kamarnya.Setelah mengunci pintuya kembali,Mala membereskan piring piring kotor dan beristirahat ke kamarnya.
Sebenarnya kamar apartemen ini cukup luas.Ada dua kamar besar,dan satu kamar yang berukuran kecil di dekat dapur.Khusus untuk asisten rumah tangga.
Tapi Bimo malah memilih mendapatkan apartemen yang lain.Karena masing masing manusia ingin memiliki privasi pikirnya.
Pagi ini,Mala sudah bersiap siap.
"Bagaimana apa kamu sudah siap?"
"Tentu,ayok kita berangkat."
Karena Bimo belum mengenal situasi jalan yang akan mereka lalui,dia memilih diantar oleh supir pribadinya saja.
Mobil mewah berwarna hitam itu meluncur menuju desa orang tua Mala.
Perjalanan jauh dan melelahkan membuat Bimo tertidur sepanjang jalan.
Sedangkan Mala dengan hati yang penuh kebahagian menikmati perjalanannya dengan memandang pemandangan persawahan dan setelah itu mereka melewati hutan pinus.Udara pegunungan yang sejuk membuat Mala membuka kaca mobilnya dan menghirup dalam dalam udara yang begitu menyejukkan baginya.
Banyak hal yang sudah dilalui oleh Mala selama ini.Dan sebentar lagi dia akan menemui orang yang paling dia kasihi.
Dia ingin berbagi semua cerita dengan kedua orang tuanya.
Mobil yang Mala dan Bimo tumpangi kini telah tiba dan berhenti tepat di depan pekarangan rumah Mala.
Rumah yang dia tinggalkan bertahun tahun,dengan sebuah bangunan warung sembako di depannya membuat hati Mala semakin merasa bahagia.
Hari sudah sedikit gelap,ada beberapa mata tetangga yang melihat kedatangan Mala dengan mobil mewah.
Semua warga desa sudah tahu kalau Mala telah bercerai dengan suaminya.Dan sekarang Mala telah tiba di desanya,dengan penampilan yang begitu modis.Pakaian sepatu dan tas yang dikenakannya adalah barang barang branded dan berkelas.
Beberapa pasang mata ibu ibu memandangnya dengan takjub,melihat penampilannya semakin cantik.Tak seperti dulu,saat dia meninggalkan desa ini dan pergi merantau ke kota.
Masih teringat jelas di ingatan mereka jika Mala hanyalah seorang gadis lusuh dan tak berpendidikan.Sehingga Mala dijuluki gadis buta huruf.
Mala tersenyum ke arah ibu ibu yang sedang memandangnya.Dia turun dari mobilnya diikuti oleh Bimo.
"Siapa pria itu?"
"Tampan sekali,apa itu adalah suami baru Mala ya.Sudah lama dia meninggalkan keluarga Adiwijaya.Kini pria kaya mana yang sedang dia perdaya."
Terdengar sangat jelas perkataan para ibu ibu yang sedang memandang rendah padanya.Namun Mala tak perduli,dia lebih memilih masuk ke dalam rumahnya.
Bapak dan ibu menyambutnya dengan pelukan hangat.Tak menyangka kalau tiba tiba Mala datang mengunjungi mereka.
"Maafkan Mala,pak ,buk."
Ibu Mala meneteskan air matanya.
"Ibu bahagia kamu kembali lagi kepada kami nak.Setelah bertahun tahun kamu pergi meninggalkan kami."
Mala melepas kangen pada kedua orang tuanya.Rasa bahagia bercampur haru menyelimuti hati keluarga kecil ini.
Sampai mata bapak tertuju pada Bimo yang sejak tadi hanya duduk di hadapan mereka tanpa bersuara.
"Nak,ini siapa yang datang bersama denganmu?"kedua mata orang tua Mala menatap putrinya dengan tatapan menyelidik.
"Ini Bimo bu,dia adalah temanku saat ini.Yang akan membimbing Mala menjalani pekerjaan yang akan Mala kerjakan nanti di kota.
Bimo mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tua Mala.
Tiga hari sudah mereka di desa Mala.
Sesekali Mala menemani bapak melayani pembeli di warung sembako bapak.
Sepertinya warung ini sudah banyak sekali kemajuan.Terbukti beberapa tahun lalu warung ini hanya sedikit menyajikan barang barang jualan.Tapi kini warung ini penuh sesak dengan semua kelengkapan sembako yang dibutuhkan para pembeli.
"Eh ada mbak Mala,sejak kapan kemari."ibu Wati tetangga mereka yang terkenal sebagai biang gosip datang membeli beberapa kebutuhannya.
__ADS_1
"Baru tiga hari disini bu."
"Senang sekali jadi kamu yah,punya suami yang yang tampan dari kota pasti orang kaya."
"Iya ,kamu pakai pelet yah bisa menggaet pria pria kaya ."sahut seorang ibu lainnya.
"Aneh aja kan,banyak pria kaya yang mau denganmu.Meski mereka tahu kamu gadis buta huruf."
"Atau kamu bekerja,sebagai wanita malam yah?"
Semua ibu ibu di depan warungnya memojokkan Mala dengan semua tuduhan yang tak benar.
Mala tak bisa menjawab para ibu ibu tukang gosip itu.
Dia berlari meninggalkan warung dan hanya bisa menangis.
Bimo yang menyaksikan itu berniat mendekati Mala.
"Mas,"
Bimo menoleh,dan melihat sumber suara yang sedang memanggilnya.
"Ibu memanggil saya?"Bimo bertanya pada seorang ibu bertubuh gemuk,dengan riasan lipstik yang sangat menor di bibirnya.
"Iya,mas,boleh saya bertanya?"
"Iya."
"Kenapa mas mau aja ditipu sama Mala,dia itu gadis yang dulunya miskin dan meraup keuntungan dengan menikah dengan pria kaya lalu mencampakkannya.Setelah dia bisa membangun rumah dan memberi modal usaha pada orang tuanya,makanya mereka sesukses ini di desa kami."
"Mas berhati hatilah,kalau nggak mas yang akan menjadi korban selanjutnya."
"Lebih baik mas,menikah aja dengan putri saya yang lebih cantik dan berpendidikan.Dia lulusan SMK dan sedang mencari pekerjaan di kota."
Bimo memandang ibu itu lalu mendekatinya.
"Lebih baik saya menikahi Mala yang mempunyai harga dirinya.Daripada dengan putri ibu yang jelas jelas sedang dijual oleh ibunya sendiri."
Pernyataan Bimo halus akan tetapi sangat tajam menusuk hati ibu itu yang mengerucutkan bibirnya ke arah Bimo.
Lalu dusertai oleh gelak tawa para ibu ibu yang lain yang mendengar jawaban Bimo,telak menusuk hati.
Bimo bergegas masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan Mala yang sedang ditenangkan oleh bapak dan ibunya.
"Ayo kita pulang ke kota sekarang,Mala."
"Iya nak,mungkin saran dari nak Bimo yang lebih baik untukmu."Ibu membenarkan keinginan Bimo.Bapak juga mengiyakan,meskipun sakit harus ditinggalkan putri kesayangan mereka satu satunya lagi.Baru tiga hari mereka saling melepas kerinduan kini putri mereka akan pergi lagi.
Mala ikut keputusan Bimo.Mungkin lebih baik merek pergi saja dari pada menjadi bahan gosip para tetangga dan berakibat kurang baik pada kedua orang tuanya.
Mereka kemudian membereskan semua pakaian mereka ke dalam koper.Dan berpamitan pada orang tua Mala.
"Mala pamit pulang bu.Jaga kesehatan bapak dan ibu di sini yah.Nanti kita pasti akan bertemu kembali."
Bapak dan ibu hanya bisa menangis merelakan kepergian putrinya.
Mobil yang mereka tumpangi kini berjalan jauh dan menghilang menuju ke kota.
πΌπΌπΌ
Di apartemen,pagi hari satu minggu kemudian.
"Aku sudah mempersiapkan berkas kerja samanya Mala."
"Hari ini kita akan mengadakan rapat dengan perusahaan otomotif di kota ini.Dan menanamkan saham kita juga di dalamnya."
Mala hanya menganggukkan kepala sambil terus memoleskan make up di wajahnya.
Baju blouse biru,dan rok hitam sebatas lutut dan rambut sebahu dibiarkan tergerai indah membuat penampilan Mala sangat sempurna di hari pertamanya bekerja.
"Ayo,mobil kita sudah menunggu di bawah."mereka lalu turun menuju tempat parkir dan menaiki mobil yang sudah ditunggu sejak tadi oleh supir pribadi yang Bimo pekerjakan,selama mereka tiba di Indonesia.Pak Dani namanya.
Mobil berhenti tepat di sebuah pintu masuk perusahaan otomotif yang akan menjalin kerja sama dengan mereka.
Mala sedikit kaget melihat di hadapannya berdiri menjulang tinggi,perusahan yang sungguh tak asing baginya.
Teringat lagi kenangan buruk di masa lalunya.Beberapa kali dia pernah datang ke tempat ini dan mendapatkan perlakuan buruk dari sang pemiliknya.
Ada rasa sakit yang menyeruak di hati Mala.Antara benci dan amarah yang belum dia hilangkan.
"Ayo segera ke ruang meeting,kita sudah terlambat hampir sepuluh menit."
Bimo dan Mala masuk ke dalam lift,dan menekan angka lantai paling atas.Dimana ceo pemilik gedung ini sedang menunggu kedatangan mereka.
"Selamat pagi tuan,ada yang bisa saya bantu."seorang sekertaris wanita cantik dan berpenampilan seksi di mata Mala dengan pakaian kantornya menyapa Bimo dan Mala di lantai atas,tempat yang mereka tuju.
"Kami dari HKG Company."jawab Bimo singkat.
"Oh ,iya tuan.Kedatangan anda sudah ditunggu di ruang meeting."sambut sang sekertaris ramah dan berjalan menuntun Bimo dan Mala ke ruang meeting yang dimaksud.
Saat pintu dibuka,jajaran direksi pemegang saham di sana yang berjumlah kira kira dua belas orang menatap mereka yang baru saja tiba di ruang meeting.
Satu pasang mata,yang duduk di kursi pemegang saham terbanyak di perusaan ini menatap kedatangan Bimo dan Mala tanpa berkedip.
"Silahkan duduk tuan,nyonya."
Setelah mereka berdua duduk,akhirnya meeting dimulai.
Meeting lalu terasa berjalan sangat lambat bagi sang pemilik perusahann.Sedangkan Mala berusaha untuk tetap fokus memperhatikan meeting hingga selesai.
Meeting selesai dalam waktu dua jam.Akhirnya Mala dan Bimo mendapat kesempatan menanamkan saham sebesar 12% di perusahaan milik keluarga Adiwijaya ini.
Mala mendapatkan kesempatan menanam saham terbesar kedua setelah pemilik perusahaan itu. Saham milik keluarga Laura yang ketiga.
Diikuti oleh sepuluh pemegang saham yang lainnya.
Mala dan Bimo membereskan berkas mereka dan bersiap untuk pergi.
"Tunggu.Mala"suara berat Cristian memanggil.
Mala hanya berhenti dan Bimo memandangnya tak mengerti.
"Mala."
Mala tak menyahut,dia hanya membalikkan badannya dan memandang Cristian yang masih terpaku berdiri di tempatnya.
Dan yang lebih tak enak dipandang adalah saat Laura mendekati Cristian dan menggenggam tangannya.
"Cih,apa aku dipanggil hanya untuk menyaksikan kemesraan mereka."gumam Mala dalam hatinya kesal.
"Mala aku ingin kita bicara sebentar."
Mala hanya melihat wajah Cristian,lalu matanya tertuju pada tangan Cristian dan Laura yang saling menggenggam.
Menyadari itu,Cristian mengibaskan tangannya dari genggaman tangan Laura.
"Maaf tuan Cristian,aku nggak punya waktu untuk anda.Apalagi waktu untuk suami orang lagi."
Jawab Mala datar,lalu membalikkan tubuhnya kembali.
Mala melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan meeting,diikuti oleh tatapan bingung dari Bimo.
Sampai pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalamnya.Mala sedikit terhuyung ke belakang,untung saja dengan sigap Bimo menahannya.
"Mala,apa kamu mengenal pemilik Adiwijaya grup ini?"
Pertanyaan Bimo menusuk hati Mala,dan mulutnya terasa kelu untuk menjawabnya.
"Ya sudah,kalau kamu nggak bisa menjawabnya.Tenanglah kita akan segera pulang ke apartemen dan beristirahatlah nanti."
Mala hanya terdiam tak menanggapi perkataan Bimo.
Sedang masih di ruang meeting,Laura menghentak hentakkan kakinya dan cemberut.Tanda dia sungguh sangat mencemburui tingkah Cristian di hadapan wanita tadi.
Cristian mengambil ponselnya dan menekan layarnya lalu menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo,aku memmounyai pekerjaan untukmu."
"Nanti aku akan menghubungimu lagi."