
Bab 29
Pagi harinya..
"Selamat pagi Crist,"dengan senyuman yang di buat semanis mungkin,Casandra sudah menyiapkan sarapan buat Crist.
Cristian duduk di meja makan.Rumah terasa sepi.Nenek dan kak Margareth berada di Jerman menemani kakek yang masih melakukan perawatan di sana.
Masih saja Cristian mengacuhkan Casandra.
Sarapan yang dibuat Casandra tak disentuhnya sedikit pun.
"Crist.."
Saat Cristian beranjak dari tempat duduknya.Dia menoleh ke arah Casandra yang memanggil namanya.
"Makanlah,walaupun sedikit."
"Aku akan sarapan di kantorku." Jawab Cristian dingin,lalu berlalu pergi.
Meninggalkan Casandra yang merasa hatinya tercabik-cabik sakit.
Di kantornya Cristian menghabiskan waktunya dengan bekerja.Setelah menyelesaikan pekerjaannya dia berniat untuk menjenguk kakeknya yang sudah melakukan perawatan di Jerman.
"Hallo,aku minta tolong siapkan jet sekarang,aku ingin berangkat menuju ke Jerman satu jam lagi."
Cristian menghubungi seseorang dan memerintahkannya untuk menyiapkan jet pribadinya.Agar dia bisa berangkat menuju ke Jerman secepatnya.
Dia ingin memberitahukan semua kelakuan Mala pada kakeknya dibelakangnya.
Semua persiapan telah siap,jet pribadi milik keluarga Cristian menunggu kedatangan tuannya.
Cristian masuk ke dalam jetnya dan duduk sendiri dengan rasa yang begitu penuh dengan kemarahan di dadanya. Jet yang ditumpangi oleh Cristian seorang diri dan bersama dua orang bodyguard nya mulai terbang ke angkasa. Cristian mulai mengingat kelakuan Mala yang begitu sangat menyakitinya.
Dalam hatinya Cristian masih sangat mencintai Mala.Akan tetapi perbuatan Mala sungguh sangat menyakiti hati Cristian.
"Apa yang di lakukan seorang pria dan wanita dewasa yang menginap bersama di sebuah resort,kalau bukan sesuatu perbuatan di luar batas,apalagi Mala baru saja bercerai denganku."
"Arrrggghhhhh,"pikiran Cristian semakin kacau.
Di rumah mewah milik keluarga Adiwijaya.
Ponsel Casandra berdering.
"Haloo..Apa katamu Cristian berangkat ke Jerman satu jam yang lalu?"
"Benar-benar keterlaluan kau Cristian,apa kurangnya aku hingga kau mengacuhkan aku sebagai istrimu."
Casandra benar-benar marah dengan perbuatan Cristian yang mengacuhkannya.Setidaknya ia bisa mengabari Casandra tentang perjalanannya supaya Casandra juga ikut bersama Cristian berangkat ke Jerman.
"Begitu besar pengaruh gadis kampungan itu untukmu sehingga kau berani melakukan ini untukku.Tunggu saja pembalasanku."
Casandra mengambil ponselnya dan segera menelpon seseorang.
"Hallo aku punya tugas baru untukmu.Datanglah ke cafe X,kita akan bertemu di sana satu jam lagi."
Di cafe X seorang pria ,sedang menunggu kedatangan Casandra.
"Apa kau sudah lama menungguku?"
"Nggak juga nyonya.Apa yang nyonya inginkan untuk aku lakukan."
Casandra lalu berbisik pada pria itu.Dan pria itu mengganggukan kepala tanda dia mengerti dengan perintah nyonya Casandra.
Setelah semuanya direncanakan dengan matang.Pria itu pun pergi meninggalkan Casandra.
Casandra masih duduk di mejanya,menghabiskan sisa minumnya.Membayangkan jika rencananya berhasil,dia akan memiliki Cristian seutuhnya tanpa gangguan dari gadis kampungan itu.
"Casandra."
Seorang pria bertato di seluruh lengannya kaget melihat Casandra duduk di sana.
Casandra tak kalah kaget melihat wajah pria itu,dan segera berlalu pergi dari cafe itu.
"Tunggu Casandra."pria itu mengejar Casandra yang sudah tiba di area parkir.
Pria itu meraih lengan Casandra.
"Lepaskan."
"Aku nggak akan lepaskan Casandra,aku ingin meminta penjelasannmu.Kemana kau pergi setelah kita menghabiskan waktu bersama di malam itu?"
"Nggak ada yang perlu di jelaskan."
Casandra menepis tangan pria itu,lalu masuk ke mobilnya.Dan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah.
__ADS_1
"Aku nggak akan melepaskanmu,Casandra.Sampai kapan pun aku akan mencari tahu dimana keberadaanmu."gumam pria itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sambil memandang mobil Casandara yang melaju dan hilang di keramaian jalan raya yang membelah kota ini.
"Sial,kenapa harus bertemu dengannya hari ini.?"Di dalam mobilnya Casandra mengumpat.Tak menyangka harus bertemu dengan pria tadi.
Di Rumah Sakit ternama di Jerman,
Cristian tiba dan segera masuk ke ruangan kakeknya.
Di sana nenek dan nona Margareth sedang menyuapi kakek yang ternyata sudah sadar.
"Kakek.."
"Cristian..kemarilah nak.Kakek sangat merindukanmu."
Cristian datang mendekati kakeknya dan merangkul kakeknya.
"Dimana Mala,apa dia nggak ikut bersama denganmu?"kakek melihat ke arah pintu dan tak melihat keberadaan Mala.
Nona Margareth,mengedipkan mata agar Cristian jangan dulu menceritakan pada kakek tentang perceraiannya.
"Nggak kek,Mala sibuk dngan pekerjaannya di peternakan." Ucap Cristian berbohong pada kakek.
"Baguslah kalau begitu,nanti saat kau kembali ke Indonesia sampaikan salam kakek padanya."
"Kalau begitu,cepatlah kamu sembuh suamiku.Agar kita bisa pulang ke Indonesia dan mengunjungi Mala di peternakkan.Aku yakin pasti Mala sudah berhasil mengolah peternakkan kita dengan baik.Apa kau nggak ingin melihatnya?"
Nenek menahan air matanya agar tak tumpah di hadapan suaminya.
"Ya,tenanglah istriku.,Aku akan segera sembuh dan kita akan kembali berkumpul bersama kembali."ujar kakek dengan yakin.Karena di dalam hatinya dia tak ingin istrinya larut dalam kesedihan.
Sementara di peternakkan.
Mala duduk di meja makan bersama bik Inah dan pak Eko.
"Nak Mala,bolehkah saya dan istri saya meminta ijin malam ini kami ingin mengunjungi kerabat kami yang masuk rumah sakit di desa sebelah."ucap pak Eko ragu.Mengingat Mala akan sendirian di rumah jika mereka berdua pergi bersama.
"Berapa hari pak Eko dan bik Inah pergi?"
Nggak lama nak,besok pagi kami sudah kembali lagi ke mari."Sebenarnya sangat berat meningglkan nak Mala sendirian di rumah.Tapi apa boleh buat,kerabat kami yang sakit kami baru bisa pergi menjenguknyaa."
"Baiklah,pak Eko dan bik Inah jangan memikirkan Mala."
Sudah larut malam,setelah kepergian bik Inah dan pak Eko aku langsung mengunci semua pintu dan jendela rumah ini.Aku lalu beranjak ke kamarku di lantai atas.
Membersihkan diri dan naik ke atas ranjang.
Lelah setelah seharian bekerja membuatku kini ingin terlelap dan menemukan mimpi indah dalam tidurku.
Sementara di luar halaman peternakkan sebuah mobil hitam sedang menunggu sang pemilik rumah tertidur lelap.
Hingga akhirnya seorang pria turun dari mobilnya,dan mendekati rumah Mala.
Dengan cekatan pria itu menyiramkan cairan dari sebuah jerigen mengelilingi rumah itu.
Dan kembali ke mobil hitam tadi.Seorang wanita keluar dari mobil itu dan menyalakan korek api,lalu menyulut rumah itu dengan korek yang dia lemparlan ke arah rumah Mala.
Sampai tiga puluh menit tak ada tanda-tanda penghuni rumah itu menyadari rumahnya sudah dilalap api.Butuh waktu satu jam,orang-orang yang tinggal di sekitar peternakkan menyadari rumah itu sudah terbakar.
Para penduduk desa beramai-ramai datang dan berniat membantu memadamkan api yang melalap habis rumah peternakkan ini.
"Ayo kita pergi,"ucap wanita itu dengan senyum kepuasan di bibirnya memerintahkan bawahannya .
Mobil pun meluncur pergi meninggalkan peternakkan itu .
"Seseorang tolong katakn apa kah ada orang di dalam rumah.?"
Para penduduk beramai-ramai membawa air untuk memdamkan nyala api yamg masih berkobar tanpa mengenal ampun.Semua bagian bagunan rumah ini,habis dilalap api.
Hingga pagi pun api masih belum padam sepenuhnya.
Bik Inah dan pak Eko yang baru saja kembali dari menjeguk kerabatnya terlihat kaget melihat rumah majikannya sudah hampir habis di lalap api.
Tanpa berpikir panjang,pak Eko yang terlihat panik mengambil ponsel kecilnya dari dalam saku bajunya.Menekan tombol memanggil.Sialnya dia tak perhatikan nomor majikan yang sedang di hubunginya.
Tut tut tut
Panggilannya diangkat seseorang dari seberang.
"Hallo... nyonya tolong,,tolong kami nyonya,rumah di peternakkan terbakar.Kami belum memastikan keberadaan nona Mala yang masih belum di temukan saat ini.Semalam dia tertidur di kamarnya."
"Apa kamu bilang,apa yang terjadi pada Mala?"tuan besar yang baru saja sedikit pulih dari sakitnya melihat panggilan dari ponselnya.
Tanpa di duga ternyata pak Eko sudah mengabarkan kabar buruk pada tuan besar.
__ADS_1
Di dalam pikiran tuan besar keselamatan Mala yang lebih penting.
"Pokoknya aku nggak mau tahu pak Eko,segera telpon polisi dan cari keberadaan cucu menantuku."Ucap tuan besar dengan keras.Membuat pak Eko semakin gugup .
"Baik tuan.,"
Kakek yamg mendengar berita yang mengagetkan ini,kembali memegang dadanya.
Tubuhnya tiba-tiba mengejang dan sulit bernafas.
Nenek yang menemani berteriak histeris manggil-manggil dokter.Cristian dan nona Margareth juga kaget dengan teriakan nenek segera masuk ke ruangan kakek.
Setelah sepuluh henit memeriksa,dokter menggelengkan kepalanya.
"Maaf,kami tak bisa menyelamatkan nyawa pasien.Dengan berat hati kami umumkan pasien yang bernama Victorio
Adiwijaya telah meninggal dunia pukul 16.00.
Nenek dan nona Margareth berteriak histeris,menangis memanggil nama kakek.
Esoknya..
Proses pemakaman kakek di lakukan di pemakaman Jerman.Setelah upacara pemakaman selesai,Cristian dan nenek memilih mengkremasi tubuh kakek agar dapat dibawa pulang ke Indonesia.
Setelahitu Cristian lalu mengajak nenek dan nona Margareth kembali ke rumah.
"Ayo kita pulang nek,"ajak Cristian.
Nenek terisak menangis lagi.
"Mau pulang kemana nak,pulang ke rumah nenek nggak suka dengan Casandra dan kelakuannya."
"Lalu mau pulang kemana?"
"Bagaimana kalau nenek kembali ke Imdonesia,dan menetap di peternakkan saja.Agar nenek bisa menenangkan diri disana."Cristian berusaha menghibur nenek.
Dia tahu kalau rumah peternakkan adalah tempat yang memiliki kenangan indah nenek bersama kakek.
"Hiks..hikkks..bagaimana nenek akan pulang ke peternakkan Crist,kalau peternakkan kita sudah hangus terbakar di lalap api.Kakekmu shock mendengar berita mengerikan itu sehingga membuat kakek kehilangan nyawanya."
"Nenek sudah kehilangan kakek,apa nenek harus pulang dan merasakan kehilangan yang kedua kalinya di sana?"
"Apa maksud kata nenek?"Cristian mendesak nenek agar menjawab pertanyaannya.
"Nenek telah kehilangan kakek,juga kehilangan Mala,Crist,"
Hikks hikkss
Cristian semakin tak mengerti dengan ucapan nenek.
"Nek,coba jelaskan pelan-pelan apa maksudnya nek?"
"Kemarin pagi kakek mendengar kabar dari pak Eko kalau rumah peternakkan kita terbakar,hanya ada Mala seorang diri di dalam rumah,sampai sekarang mereka belum menemukan jasad Mala yang hangus terbakar di sana."
Bagai tersambar petir,hati Cristian seperti tercabik-cabik.
Kembali di ingatannya beberapa hari lalu dia baru saja bertemu Mala,dan mencaci makinya.
"Nggak mungkin nek,baru beberapa hari lalu Crist bertemu dengan Mala,dan dia baik-baik saja."
Tanpa sadar Cristian menangis meraung-raung .Dia belum sepenuhnya ingin melepaskan Mala,sebab dia masih mencintai gadis itu.
"Crist akan kembali ke Indonesia sekarang nek,"
"Mala pasti sedang menunggu Crist di sana,Mala nggak mungkin meninggalkan Crist sendirian di sini."
Cristian lalu memerintahkan seseorang untuk mengatur perjalannannya kembali ke Indonesia.
Sementara nenek dan nona Margareth terhalang urusan pemakaman kakek yang belum selesai.Akhirnya Cristian kembali sendiri ke tanah air.
Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu membuat Cristian tak bisa memejamkan matanya.Sekedar untuk beristirahat.
Dalam pikirannya dia masih sungguh mencintai Mala.Dia belum bisa menerima kenyataan kalau Mala akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Baru kali ini Cristian meneteskan air mata untuk seorang wanita.Dalam hati Cristian berdoa."Tuhan tolong selamatkan Mala,aku janji Tuhan aku akan memaafkan kesalahannya."
Pukul 23.00,saat tiba di bandara Cristian memerintahkan sopirnya untuk segera mengantarkannya ke peternakkan.
Saat tiba di peternakkan hari mulai pagi dan menampakkan sinarnya.
Cristian melihat pemandangan di hadapannya.Rumah yang menjadi tempat kenangan kakek dan nenek,dan tempat dia pertama kali berjumpa dengan Mala,telah rata dengan tanah.
Tanpa sadar Cristian jatuh tersungkur di tanah.
"MALA...."
__ADS_1