
Bab 66
‘’Mama,’’
Huhhuhuhuhuhuuhu hiiikssshhhhh
Jangan tinggalkan Ellena lagi ya, Ellena kangen sama mama.’’
Huhhuuhuuuuhuuhuhuhuhu Ellena semakin memeluk erat tubuh Mala, seakan tak akan rela di lepaskan oleh wanita dewasa yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Pelukan hangat yang baru pertama kali Ellena rasakan dari seorang wanita cantik. Mala hanya bisa terdiam menerima pelukan gadis kecil di hadapannya. Rasa hangat ini, yang sudah lama dia tak merasakannya lagi dari Devan. Ya pelukan gadis kecil ini seakan menghipnotis Mala, rasa yang sama saat dia memeluk Devan, hangat.
Mala menutup matanya, dan membiarkan mereka berdua larut dalam kehangatan pelukan yang sama sama selama ini tak terasakan, Ellena yang merindukan pelukan seorang ibu, dan Mala yang sudah lama merindukan pelukan putranya yang telah pergi. Tak terasa air mata berderai lagi, kerinduan yang membuncah di dada seakan hilang sekejap, saat dia dipeluk erat gadis kecil ini.
Mala terdiam lama dan terlena dalam pelukan gadis kecil itu, yang sudah mulai diam dan tak menangis lagi. Bayangan masa lalu tentang Devan dan kepergiannya yang begitu cepat berkelebat kembali pada ingatan Mala.
Bayangan penolakan Cristian untuk sebuah donor pada Devan, terulang kembali. Terulang lagi dalam pikiran Mala. Segera Mala tersadar dan mendorong kasar tubuh gadis kecil yang ada di dalam pelukannya. Membuat gadis kecil itu yang sudah mulai tenang dan tertidur itu kaget bukan main.
‘’Mammmmma.’’ Gadis kecil itu berteriak dan sorot matanya saat memandang Mala seakan meminta belas kasihan Mala.
Dan Mala meloncat turun dari atas ranjang milik Ellena. Dia sadar bahwa yang baru saja dipeluknya bukan Devan, melainkan anak milik Cristian dan wanita penyebab kematian Kenny dan kehancuran rumah tangganya dahulu. Air mata Mala dan rasa takut yang begitu besar di dalam hati Mala membuat semua orang yang berdiri menyaksikan Mala dan Ellena berpelukan merasa ada sesuatu yang terjadi pada Mala.
‘’Mala.’’ Cristian mencoba mendekati Mala dan meraih tangannya. Mala hanya bisa terdiam dan jatuh luruh ke lantai, air matanya kembali deras mengalir di pipinya. Untuk sekedar menghindari tangan Cristian dia pun tak mampu lagi. Tubuhnya kaku dan susah untuk di gerakkan.
Mala tak bisa menahan dirinya , rasa sesak di dalam hatinya membuat dia kembali berteriak histeris. Cristian yang berdiri di hadapannya segera mendekap erat tubuh Mala. Hatinya hancur menyaksikan Mala yang terluka, dan dia sadar bahwa dia lah penyebab kesakitan Mala saat ini.
‘’Ssssttttt,’’ tenanglah Mala tenanglah, aku di sini dan aku janji nggak akan menyakitimu lagi. Cristian mengelus pelan punggung Mala, dalam pelukannya.
Mala semakin menangis keras, luka di dalam hatinya tercabik kembali. Mala menangis dan memukul mukul dada Cristian, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang, tapi Cristian hanya diam saja. Mala terus merutuki Cristian, jika saja Cristian mau mendengarkannya dahulu, Devan pasti masih bersama dengannya. Dalam hatinya berpikir kenapa bisa terjebak kembali dalam rumah ini.
Rasa bersalah kian besar masuk dalam hati Mala. Banyak sekali penyesalan di dalam hatinya saat ini. Kalau bisa memilih, sebenarnya dia sudah tak ingin menginjakkan kakinya di rumah ini lagi. Namun sayang, cinta dan perhatian dari nyonya Elisabeth selama ini tak bisa dia lupakan. Setiap perlakuan baik keluarga ini padanya membuat Mala tak bisa dengan mudah meninggalkan mereka.
Hanya karena kesalahan di masa lalu, salah satu anggota keluarga mereka ini padanya.
Cukup lama Mala menangis dalam pelukan Cristian dan akhirnya dia bisa tenang kembali. Segera Mala tersadar, dan mengurai pelukan dari Cristian yang sejak tadi tak dilepaskannya. Dan Cristian bisa bernapas lega saat Mala berusaha untuk menguasai keadaan dalam hatinya. Nyonya Elisabeth yang dari tadi hanya bisa menyaksikan kenyataan pahit di hadapannya juga tak sadar meneteskan air matanya.
Jika berada di posisi Mala dia pasti tak akan sanggup juga.
Perlahan Mala mulai tenang, dan memandang sekeliling kamar. Tampak wajah pucat gadis kecil yang bru saja dikasari olehnya, menatap Mala penuh ketakutan. Mala melihat ke arah nyonya Elisabeth, dan berdiri menghampirinya.
‘’ Maafkan Mala, nek. Mala hanya belum bisa melupakan Devan sepenuhnya,’’ ucap Mala dengan wajahnya yang sendu. Nyonya Elisabeth tersenyum hangat pada Mala, lalu merangkulnya.
‘’Maafkan nenek juga Mala, selama ada Devan nenek nggak pernah menyadarinya. Hingga kepergiannya yang begitu cepat nenek pun nggak tahu.’’ Nyonya Elisabeth begitu menyesali segala yang sudah terjadi menimpa Mala selama ini. Dia pun tak menyalahkan Mala karena tak pernah mengabari mereka atas kehamilannya saat itu. Sebab nyonya Elisabeth yakin pasti ada suatu alasan bagi Mala untuk memilih tak mengabari mereka atas kehamilannya saat itu.
‘’Maafkan Mala juga nek, ini juga kesalahan Mala. Seharusnya Mala dari awal memberitahukan pada nenek tentang kehamilan Mala. Kalau saja nenek bisa lebih awal mengetahuinya, mungkin sekarang Devan masih berdiri bersama Mala,’’ ucap Mala penuh penyesalan.
Ya penyesalan yang datang belakangan tak akan berguna. Nasi sudah menjadi bubur semua yang terjadi tak bisa kembali di ulang lagi. Hanya ada penyesalan tapi tak bisa memperbaikinya lagi.
Mala dan nyonya Elisabeth kembali berpelukkan lama. Hati Mala tersentuh sat matanya dan mata gadis kecil yang duduk di atas ranjang beradu pandang.
Rasa iba yang pertama kali menelusup di dalam dada Mala. Gadis kecil yang cantik dan manis, raut ketakutan dan wajahnya yang pucat masih bisa terbaca oleh Mala .
‘’Ya Tuhan kenapa aku begitu tega pada gadis kecil ini. Seharusnya aku nggak melakukan sesuatu yang begitu menyakiti hatinya saat ini,’’ gumam Mala dalam hatinya saat dia kembali tersadar apa yang sudah dia lakukan barusan memang benar benar salah. Mala bergegas mengurai pelukan nyonya Elisabeth dan langsung menghampiri gadis kecil di atas ranjang.
‘’Maafkan tante sayang, tadi tante nggak sengaja melakukan itu pada kamu,’’ sambil memeluk tubuh kecil gadis kecil itu yang sudah mulai menggigil kedinginan.
‘’Mmama ma, Ellena kangen.’’ Dengan terbata gadis itu mengucapkan kata kata itu dari bibirnya yang mulai membiru dan matanya mulai tertutup. Badan Ellena terasa panas dalam pelukan Mala.
‘’Sepertinya Ellena terkena demam, kita harus segera memeriksakannya ke dokter. Mala berbicara pada nyonya Elisabeth. "
‘’Kenapa bisa panas?’’ Nyonya Elisabeth ikut merasakan kepanikan lalu menghampiri Mala yang sedang memangku tubuh Ellena, dan meraba suhu tubuh Ellena di dahinya.
Mala hanya menggeleng, dan sebenarnya dia juga tak tahu apa penyebab Ellena mengalami demam saat ini. Mungkin karena demamnya terlalu tinggi hingga tadi Ellena berteriak menyebut mamanya dan akhirnya kehangatan pelukan Mala saat ini yang menjadi penenang bagi gadis kecil itu yang sudah terbaring lemah dalam pangkuan Mala.
‘’Aku akan segera menelpon dokter dulu, agar dia datang kemari seger memeriksa keadaan Ellena.’’ Ucap Cristian yang mulai keluar dari kamar mencari ponselnya yang seingatnya ada di atas meja kerjanya. Karena tadi pada saat Ellena berteriak Cristian sedang mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
Saat dokter Surya datang memeriksa keadaan Ellena, lalu memandang Cristian, ‘’ tidak ada yang perlu di khawatirkan, tuan. Ellena baik baik saja, ini hanya demam biasa,’’ ucap dokter Surya dengan tenang. Dokter tua yang sudah lama menjadi bagian dari dokter keluarga Adiwijaya itu dengan tenang.
‘’ Ellena hanya membutuhkan beberapa obat penurun panas, dan dalam beberapa hari demamnya akan turun,’’ucapnya lagi.
‘’Terima kasih dokter,’’ ucap Cristian lega. Lalu mengantarkan dokter Surya ke mobilnya.
Sedangkan Mala tak bisa lagi turun dari ranjang Ellena. Tangannya terus menggenggam erat jemari Mala, seakan tak ingin melepaskannya sedikit pun. Ellena terlelap dalam tidurnya, membuat Mala tak tega meninggalkannya sendirian. Hingga malam tiba pun, genggaman tangan Ellena tak ingin melepaskan Mala. Dan dengan hati yang penuh iba, sepanjang Malam akhirnya Mala tidur menjaga Ellena dalam pelukannya.
Tengah malam Cristian pelan pelan masuk ke kamar Ellena. Di atas ranjang tampak Mala yang telah tertidur pulas. Sepertinya dia tidur dalam kelelahannya. Cristian lalu mengambil selimut lalu menyelimuti keduanya.
‘’Seandainya saja, jika kamu belum menjadi milik orang lain Mala.’’
Debaran di hati Cristian semakin membuncah. Namun dia harus bisa menahan diri, karena Mala adalah milik orang lain saat ini. Tapi jauh di lubuk hatinya , Cristian merasa kalau Mala masih miliknya. Semakin hati Cristian terasa sakit, ingin rasanya dia memeluk erat tubuh Mala saat ini. Tapi sayang dia masih memikirkan batasannya.
Hari sudah pagi, saat mata Mala terbuka dan melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.00. Sepertinya sudah dua hari Mala tak kembali ke apartemennya. Dengan hati hati Mala turun dari ranjang Ellena, takut membangunkannya. Perlahan Mala melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ini sudah sangat kesiangan umpatnya dalam hati.
Di dalam kamar mandi, Mala melihat sebuah bungkusan. Ada peralatan mandi yang masih baru dan juga sepasang baju yang pasti ini untuknya. Juga satu set alat make up yang pasti nyonya Elisabeth yang menyiapkan semua ini untuknya.
Tanpa berpikir lama Mala langsung membersihkan dirinya, lalu memakai pakaian yang sudah di siapkan tadi . Pakaian yang sangat cocok untuknya, dress floral berwarna hijau warna kesukaannya.
Di apartemen Bimo.
Bimo bersama istrinya masih terus berusaha mencari Mala.
‘’Kemana Mala, kenapa begitu sulit sekali dia dihubungi saat ini. Sudah dua hari Mala tak memberi kabar di mana keberadaannya,’’ ucap Bimo. Dia masih mencemaskan Mala, bersama istrinya. Jika sampai Hector mengetahui pasti dia akan marah besar. Sebab Bimo tahu betul sifat Hector.
‘’Bagaimana kalau kita pergi mendatangi kediaman Adiwijaya, setelah kemarin kita gagal untuk ke sana,’’ ucap Felicia.
Karena dia tahu kecemasan suaminya. Sudah menjadi tanggung jawab suaminya untuk keselamatan Mala.
‘’Baiklah, ayo kita bersiap,’’ ujar Bimo yang mengiyakan ide istrinya.
Di dalam mobil keduanya hanya diam. Bimo fokus menyetir, sedangkan Felicia larut dalam pikirannya sendiri. Semoga tidak terjadi apa apa pada Mala. Kalau saja memberi kabar tentu mereka berdua tidak khawatir seperti ini.
Di kediaman Adiwijaya, semua penghuni rumah sedang sarapan pagi. Nyonya Elisabeth sudah duduk di tempatnya, menyusul cucu kesayangannya Cristian. Tapi Mala belum juga turun dari lantai atas, sepertinya dia enggan untuk keluar dari kamarnya.
Mala hanya malas untuk sarapan pagi. Sebenarnya hatinya sudah tak tenang, sudah dua hari dia belum memberi kabar pada Bimo dan Felicia. Tentu saja mereka pasti sangat khawatir dengan keadaannya, apalagi sejak Mala berada di rumah ini, ponselnya tak ditemukan entah dimana tas dan ponselnya . Dia kesulitan menghubungi Bimo atau pun Felicia.
‘’Bibi, bisa tolong panggilkan Mala untuk turun kemari?’’ Ucap nyonya Elisabeth pada seorang pelayan yang sedang berdiri di belakangnya.
‘’Baik nyonya,’’jawab singkat sang pelayan yang menunduk hormat padanya, lalu pergi menuju ke lantai atas dimana kamar Mala berada.
Mala sedang berpikir keras, bagaimana untuk mencari alasan agar dia bisa keluar dari rumah ini. Sebenarnya Mala merasa tak nyaman berada di dalam rumah ini.Dua hari sudah dia tinggalkan apartemennya, tanpa kabar. Mala tak ingin membuat Bimo dan Felicia khawatir. Apa lagi jika Hector tahu Mala tak ada di apartemennya, pasti dia akan melakukan sesuatu di luar dugaan, dan Mala tak ingin itu terjadi.
Tok tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar mengagetkan lamunan Mala. Dia segera berjalan mendekati pintu kamarnya yang sudah dikuncinya rapat rapat. Sebenarnya Mala tak ingin tiba tiba Cristian berbuat nekat dan menerobos masuk ke dalam kamarnya.
‘’Siapa?’’ Mala bertanya hati hati, dia tak berharap jika Cristian ingin masuk ke kamarnya saat ini.
‘’Saya non, Ratih,’’ jawab pelayan di balik pintu.
Mala akhirnya bisa bernapas lega dan segera membuka pintu kamarnya.
‘’Ada apa bik?’’
‘’ Nyonya Elisabeth meminta nona untuk turun ke lantai bawah, untuk menyantap sarapan bersama mereka di meja makan,’’ jawab bik Ratih pada Mala.
‘’Nggak usah bik, saya belum lapar.’’ Jawab Mala asal, sebenarnya dia malas untuk turun dan duduk satu meja yang sama bersama dengan Cristian.
‘’Tapi nona, semua orang di bawah sedang menunggu anda turun. Mereka belum akan makan, jika nona tak duduk bersama mereka.’’ Pelayan tadi mencoba meyakinkan Mala, agar mau turun ke lantai bawah bersamanya.
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Mala mau juga diajak turun oleh sang pelayan. Di meja makan, Cristian dan nenek masih setia menunggu kedatangannya. Nyonya Elisabeth tersenyum kecil ke arah Mala saat dia sudah berada di hadapan mereka. Akan tetapi Mala enggan membalas senyuman nenek, karena ada Cristian di meja yang sama bersama nyonya Elisabeth.
__ADS_1
‘’Kemarilah nak, duduk bersama kami. Kita sarapan bersama di sini.,’’ucap nyonya Elisabeth. Dia meminta Mala untuk duduk di sebelahnya, sedangkan Cristian duduk di hadapannya. Kondisi ini membuat Mala sedikit tak nyaman, dia hanya bisa makan dalam diam sambil menundukkan kepalanya.
Butuh waktu hampir satu jam dalam perjalanan, mobil sport berwarna hitam milik Bimo masuk ke dalam halaman rumah besar milik kediaman Adiwijaya. Saat Bimo dan Felicia turun dari mobilnya, mereka berdua di sambut seorang Security.
‘’Selamat pagi tuan dan nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?’’ tanya pria bertubuh tinggi di hadapan mereka dengan sopan.
‘’ Apa benar ini kediaman Adiwijaya grup?’’
‘’Benar tuan.’’
‘’Nama saya Bimo dan ini istri saya Feliciia. Kami ingin bertemu dengan tuan Cristian Adiwijaya.’’
‘’Baiklah tuan, apa anda sudah membuat janji dengannya?’’
‘’Kami belum membuat janji dengan tuan Cristian. Tapi jika kau menyebut namaku, tuan Cristian pasti mengenalku.’’
‘’Baiklah tuan, aku mohon anda mau bersabar menunggu di sini. Aku akan memberitahukan kedatangan anda pada tuan di dalam.’’
‘’Tentu, kami akan menunggu.’’
Security yang bernama CARLOS itu segera masuk ke kediaman Adiwijaya yang begitu megah bagi siapa pun yang melihatnya. Dia berlalu dari hadapan Bimo dan Felicia dan masuk menuju ruangan makan, dimana keluarga Adiwijaya sedang sarapan pagi.
‘’Selamat pagi, tuan. Maaf mengganggu sarapan anda, di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan Cristian.’’ Ucap Carlos dengan sopan sambil menunduk ke arah majikannya.
Biasanya Cristian tak ingin di ganggu saat sedang sarapan bersama keluarganya. Sehingga membuat security yang bernama Carlos itu agak segan pada atasannya.
‘’Siapa yang masih sepagi ini sudah mencari saya?’’ tanya Cristian.
‘’Namanya tuan Bimo tuan, dia datang bersama istrinya.’’
Cristian sedikit tersentak kaget, Carlos menyebutkan nama Bimo akan tetapi dia datang bersama istrinya. Mata Cristian memandang tajam ke arah Mala, seakan meminta penjelasan darinya. Memastikan benar atau tidak apa yang beru saja di dengarnya.
Namun ekspresi Mala hanya datar saja. Seakan dia tak perduli kenyataan apa yang baru saja di dengar olehnya.
Dalam hati Cristian bertanya tanya, senekat inikah perselingkuhan Bimo. Dengan lantang menyebut wanita lain itu sebagai istrinya, sedang Mala jelas belum mengatakan kalau mereka sudah berpisah. Hati Cristian tersulut emosi, dia diam lalu berdiri dari tempat duduknya.
Segera keluar dari ruang makan, dan tak sabar ingin melakukan sesuatu pada pria brengsek itu di luar.
Dalam pikiran Cristian, walaupun Mala tak mengungkapkannya, hati Mala sudah pasti terluka. Tapi Mala pandai menyembunyikan kesaktiannya. Dan Cristian tidak ingin Mala terluka.
Mala yakin Cristian pasti melakukan sesuatu yang buruk pada Bimo. Dia segera mengejar Cristian dan menyusulnya ke halaman depan kediaman mewah ini. Diikuti oleh nyonya Elisabeth dengan rasa panik.
BBUKKKKHHH BUKKKHHHH
Dua pukulan mendarat di wajah Bimo.
Bimo yang sebenarnya tidak siap dengan kedatangan Cristian yang tiba tiba menyerangnya kaget setengah mati. Apa lagi Felicia yang tak kalah kaget dengan sambutan Cristian pagi ini untuk suaminya.
Sungguh Felicia tak menyangka, dia akan menyaksikan sendiri suaminya di sakiti.
‘’Pukulan itu pantas untuk pria brengsek sepertimu,’’ ucap Cristian yang masih belum mereda emosinya.
Bimo segera sadar, kalau pukulan Cristian adalah lantaran kecemburuannya pada Mala.
Bimo memilih tak ingin membalas pukulan Cristian. Tapi malah tersenyum padanya, membuat hati Cristian semakin diliputi kemarahan.
Bagaimana bisa Mala menginginkan bersama pria yang benar benar sangat tidak bisa menjaga perasaannya sendiri. Jelas jelas perbuatan pria ini pasti sangat melukai Mala. Cristian kembali menghampiri Bimo, dan ingin mendaratkan satu pukulan lagi pada wajahnya.
‘’Cukup Cristian, Bimo bukan suamiku.”
Mala berteriak keras, tak ingin Bimo akan selalu menjadi sasaran empuk bagi Cristian lagi.
Cristian menoleh ke arah Mala.
__ADS_1