
Mala membuka pintu ruangan perawatan Devan,dengan hati hati agar tak menimbulkan suara.
Namun ternyata Devan tak tidur,
"Mama.."
"Iya sayang.."Mala tak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir begitu saja di pipi.
"Maafkan Devan."
Mala mendekati ranjang putra kesayangannya.
"Kenapa Devan minta maaf sayang,memang Devan salah apa sama mama?"Mala berusaha menahan air matanya.
"Kalena Devan sakit,dan membuat mama menangis melihat Devan."Perkataan polos dari mulut Devan semakin menyesakkan dada Mala.
"Sayang,mama yang harusnya minta maaf karena mama nggak kuat melihat separuh hati mama sakit.Seandainya saja sakit Devan bisa ditukar,biar mama aja yang menggantikkannya buat Devan."
"Mama nggak boleh bilang kayak gitu.Kalau mama sakit siapa dong yang ngulusi Devan."
"Oh Anakku,bahkan saat kau sakit pun kau memikirkan mama,agar mama tak bersedih."dalam hati Mala menjerit tak kuasa melihat wajah putraku yang sangat pucat.
Mama Laurent,bibi Magda dan bibi Fransisca turut masuk ke ruangan Devan.
"Cucu sayang,cucuku manis ini nenek sayang."mama Laurent menghampiri Devan.
"Katakan pada nenek dimananya yang sakit sayang,"
Devan tersenyum pada neneknya
"Devan pasti sembuh nek."
Anak kecil berumur tiga tahun ini sudah bisa menyembunyikan sakitnya.
Membuat mama Laurent datang lalu memeluk putra Mala yang sudah sangat disayanginya.
"Mama,apa uncle Kenny nggak datang menjengukku?"mata Devan memandang sekeliling ruangan,tak menadapati sosok Kenny disana.
Tiba tiba pintu ruangan terbuka,Kenny masuk ke dalam ruangan.
"Uncle.."
Devan berteriak memanggil Kenny,ada raut kebahagiaan di wajahnya saat melihat wajah Kenny masuk ke dalam ruangan ini.
"Iya nak."
"Datang dan peluklah aku,aku melindukanmu."
Dengan suara manjanya,Devan menginginkan pelukan hangat Kenny.
Selama ini hanya Kennylah yang memberikan pelukkan hangat padanya sebagai ganti pelukan ayahnya.
Kenny menghampirinya dan memeluk erat putra Mala yang sungguh dia sudah mengganggap anak ini sebagai putranya sendiri.
"Uncle,aku nggak suka di sini.Ayolah bawa aku pulang ke lumah."Devan mulai merengek,mungkin dia sudah tak betah berlama lama berada di ranjang pesakitannya saat ini.
"Ssttt nggak boleh ngomong seperti itu nak.Kamu butuh perawatan dokter supaya bisa cepat sembuh."
"Kamu anak laki laki yang kuat,berusahalah sembuh.Kamu lihat mama Mala,apakah dia bisa tersenyum saat ini?."Bujuk Kenny pada Devan.
Devan menggelengkan kepalanya,memang benar saat dia melihat wajah mama Mala,mata mamanya sembab oleh karena terus menangis.Walau pun dia tahu mamanya tak menangis di hadapannya
"Ya uncle,aku akan sembuh.Agal mama nggak sedih melihatku."
"Anak pintar."Kenny mengusap kepala Devan lembut.Dan akhirnya Devan perlahan tertidur karena kelelahan.
Bibi Magda mendekati Mala,memeluknya dan menangis bersama.
"Kamu harus kuat nak,jangan lemah di hadapan Devan.Senyumu lah yang akan menguatkan anakmu.Jangan tampakkan kesedihanmu di hadapannya."
"Bibi,aku nggak kuat.Kenapa harus Devan bi.Dia masih kecil." Hu hu hu Hiiikkssshhh ...Mala tak hentinya menangis.
Bibi Fransisca mengusap air mata Mala,
"Kamu harus kuat nak."
"Bibi....."
Selama tiga malam Devan mendapatkan perawatan di rumah sakit.Selama itu pula Mala dan Kenny selalu menjaga Devan bersama sama.
"Selamat pagi Devan."
"Selamat pagi doktel."
"Hari ini kamu sudah di perbolehkan pulang yah."
"Benalkah doktel?"
"Ya..apa kamu senang?"
"Hmmm "dan Devan tersenyum bahagia.
"Mama ayo kita pulang ma."
"Kita pulang mama,Devan ingin pulang mama."
"Devan pulang ke lumah,Devan sudah sembuh ma."
Devan bersorak dan ingin segera cepat pulang ke rumah.
"Devan ingin segela sampai ke lumah,Devan ingin makan pie susu buatan nenek Flansisca."
Mala tersenyum melihat tingkah putranya.Dia bahagia putranya sudah bisa pulang.Namun penyaktnya masih bersarang di tubuh mungil putranya yang membuat Mala bersedih lagi.Dalam hati dia menangis.Dia mencoba menahan air matanya agar tak tumpah di hadapan Devan.
Mengingat kembali perkataan dokter kemarin di ruangannya.
"Anak nyonya benar terkena penyakit leukimia,untuk saat ini gejalanya tak terlalu menunjukkan keparahan pada penyakitnya.Walau pun besok sudah di perbolehkan pulang ke rumah Devan masih harus terus datang kemari tiga kali dalam seminggu untuk bisa mengontrol penyakitnya sejauh mana di dalam tubuhnya."
"Dok,apa Devan bisa sembuh?"
"Dengan perawatan yang baik dan berdoalah nyonya agar anak anda mendapatkan mujizat dan bisa pulih sepenuhnya."
"Dokter tolong putraku,sembuhkanlah dia,aku mohon."
__ADS_1
"Ya nyonya,kami berusaha semaksimal mungkin agar putra anda juga mendapatkan kesembuhan."
Mala hanya tertunduk lesu,perasaannya menjadi kalut tak bisa menahan sesak di dalam dada,dia hanya bisa mengeluarkan air matanya.
Bagaimana bisa dia akan bertahan melihat penderitaan putranya.
"Mama kenapa mama menangis,apa mama nggak suka kalau Devan akan pulang ke lumah?"Devan melihat air mata mama Mala,yang masih membanjiri pipinya.
"Nggak sayang,mama menangis karena mama bahagia,Devan sudah boleh pulang ke rumah."
"Apa kalau kita bahagia,kita juga akan menangis "
"Ya sayang,"Mala memeluk putranya erat.
"Mama bahagia,Devan sudah bisa pulang ke rumah."
"Uncle juga bahagia."Kenny datang menghampiri Devan.
"Ayo bersiaplah,hari ini nenek Fransisca sudah membuat pie susu untuk Devan di rumah."
"Benalkah,apakah Devan bisa makan semuanya sampai kenyang."Mata Devan berbinar,membayangkan pie susu buatan nenek Fransisca.
"Hehehhe iya nak,kamu boleh makan sepuas hatimu.Asal kamu janji kamu akan sembuh,oke?"
"Oke,uncle."Devan tertawa senang.
šššš
Di kediaman keluarga Kenny...
Nenek Magda dan nenek Fransisca sudah menunggu kedatangan mereka.
Mama Laurent tak kalah menyiapkan semua keperluan Devan hingga mennganti sprei di kamar Devan agar saat dia pulang Devan bisa langsung beristirahat di kamarnya.
"Selamat datang kembali di rumah cucuku sayang."Devan di gendong oleh Kenny memasuki rumah.
Kenny langsung membawa Devan di meja makan.
Segala kue kesukaan Devan tertata di atas meja makan.
"Woooww banyak sekali kuenya.Apa ini semua untuk Devan,nek?"
"Tentu sayang,apa pun yang Devan ingin makan."mama Laurent datang menghampiri Devan mencium keningnya.
Saat Devan mulai makan kue nya.
"Nak,bisakah kita berbicara sebentar?"Dengan hati hati Kenny mengajak Devan berbicara,agar Devan tak bersedih.
"Bicaralah uncle,aku mendengalkan."
"Nak,karena kamu sekarang baru keluar dari rumah sakit uncle dan mama Mala memutuskan kamu beristirahat dulu di rumah.Kegiatan belajarnya di sekolah jangan ikuti dulu."
"Tapi uncle,bagaimana calanya Devan bisa belajal dan menjadi pintal kalau Devan nggak sekolah."
"Uncle sama mama Mala udah sepakat,kalau ibu Veronika yang akan kemari.Mengajari Devan di rumah aja yah."
"Kalau Devan kesepian dan membutuhkan teman bagaimana?"
"Kalau Devan membutuhkan teman teman,Devan bisa mengajak teman teman Devan datang dan bermain bersama disini,iya kan mama Mala?"
Mal hanya mengangguk menahan air mata yang sudah dari tadi ingin keluar dari pelupuk matanya.
"Baiklah,Devan setuju.Tapi uncle sama mama halus janji sama Devan,kalau Devan udah bosan di lumah uncle dan mama Mala ajakin Devan buat jalan jalan."
"Tentu sayang."Kenny mengusap lembut kepala Devan.
"Sekarang habiskan kuenya,setelah itu Devan istirahat ke kamarnya yah."nenek Laurent datang dan duduk di samping Devan.
"Baik nenek,Devan ingin habiskan kue kue ini dulu.Nenekku adalah yang telbaik sedunia kalena kue kue buatan nenek sangat enak sekali."
"Pintar cucu nenek,"nenek Laurent merasa bahagia sekali kue buatannya disukai oleh Devan dan dihabiskannya satu per satu.
šššš
Pagi yang cerah, cahaya matahari mulai masuk lewat celah jendela.
"Devan sayang,bangun nak.Sudah pagi,hari ini kamu punya jadwal dikunjungi oleh ibu Veronika."
"Hoooaaammm.."Devan kecil masih mengantuk dan menguap panjang.
"Ma sebental lagi,Devan masih ngantuk."
"Devan sayang,"Mala mendekati putranya.
"Bersiaplah tiga puluh menit lagi ibu Veronika akan tiba."
"Baiklah ma."
"Anak pintar."
"Devan turun dari ranjangnya dan segera membersihkan dirinya.Devan sudah bisa mandiri,oleh sebab itu Mala membiarkan putranya melakukan rutinitas paginya tanpa dibantu."
Tiga puluh menit berlalu,Devan sudah rapi dengan penampilannya.
"Ohh anak mama tampan sekali,"Mala mendekati Devan,yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ayo turun,"Mala menggandeng tangan Devan dan turun menuju lantai bawah."
"Selamat pagi Devan."
"Selamat lagi ibu velonika.Senang bisa beltemu kembali."
"Senang juga bisa bertemu denganmu kembali,nak."
"Sekarang duduklah,kita akan mulai belajar hari ini."
Devan mengganggukkan kepalanya.
Ibu Veronika mulai mengeluarkan alat alat tulisnya,dan memulai mengajari Devan dengan pola bermain sambil belajar.Belajar angka dan huruf semakin menyenangkan bagi Devan.
Devan dengan lincahnya melafalkan angka angka yang ditunjukkan oleh ibu Veronika.Devan anak yang pandai,dia menunjukkannya dengan sekali diajari,dia mampu untuk menghafal semua barisan huruf huruf yang diberikan ibu Veronika.
Saat Devan memulai menyebut angka angka yang ibu Veronika peeihatkan,darah segar mengalir dari hidungnya.
__ADS_1
"DEVAN.." teriak ibu Veronika terkejut dan membuat para penghuni rumah berhamburan berlari menuju Devan.
"Ada apa bu?"
"Hidung Devan berdarah lagi."ibu Veronika panik melihat Devan.
Semua mata memandang ke arah Devan yang sudah terlihat lemas.Darah segar mengalir begitu banyak dari hidungnya.
Mala segera berlari ke kamar mandi dan mengambil handuk basah,agar bisa dikompres di kepala devan.
Dan membersihkan darah yang mengotori tubuh dan baju Devan.
Tubuh Devan mulai lemas,dan di sekujur tubuhnya penuh dengan bekas bekas kebiruan,seperti lebam lebam yang semakin kehitamman
Melihat Devan yang sudah terlihat lemas,Kenny mengambil ponselnya dan menelpon dokter agar datang memeriksa keadaan Devan.
Tiga puluh menit dokter tiba di kediaman Kenny.
"Ayo cepat dok,lihat keadaan putraku."Mala sudah tak sanggup melihat putranya yang begitu banyak mengeluarkan darah dari hidung.
"Setelah ini,lebih baik putra anda dibawa ke rumah sakit lagi.Agar mendapatkan perawatan yang lebih intensif lagi."
"Tapi dok,baru kemarin kami keluar dari rumah sakit."
"Tuan putra anda mengalami penyakit,yang butuh perawatan pada medis yang sudah ahli di bidangnya."
"Kalau dia di tahan di dalam rumah ini dan tak di bawa ke rumah sakit,resikonya terlalu tinggi dan bisa menyebabkan putra anda semakin drop."
"Baiklah dokter,terima kasih.Aku akan segera mengurusnya.
Kenny menelpon beberapa asistenya untuk mengurus keberangkatan mereka ke rumah sakit.
Setelah semuanya beres Kenny pun menggendong tubuh Devan menuju ke mobil.
Mala dan mama Laurent mengikuti dari belakang.Sementara bibi Magda dan bibi Fransisca lebih memilih tinggal di rumah saja.
Tiba di rumah sakit dokter langsung menangani Devan menuju ke UGD.
Mala terlihat gugup,dia takut terjadi sesuatu pada putranya.
Satu jam berlalu namun para dokter belum juga keluar menemui Mala dan Kenny.
Mala semakin kalut dia menangis dan terus menangis.
Kenny menghampirinya dan memeluk Mala.
"Kamu harus kuat Mala,.Jika kamu menangis terus Devan akan melihatnya dan dia akan semakin sedih."
"Aku nggak kuat Kenny,aku nggak kuat melihat putraku kesakitan.Kenapa Tuhan begitu tak adil padaku.Aku sudah nggak punya suami,lalu anakku kini disiksa dengan kesakitan ini.Sungguh aku sudah nggak kuat."Mala menangis dalam dekapan Kenny,
Kenny hanya bisa mengelus pundak mala dan menguatkannya.
"Tenanglah nak,Devan anak yang kuat.Dan kamu juga harus bisa lebih kuat menahan semuanya agar di depan Devan kamu terlihat baik baik saja.Hingga menjadi semangat buat Devan agar bisa berjuang untuk sembuh."mama Laurent juga ikut memeluk Mala dalam dekapannya.
Seorang dokter keluar dari ruang perawatan Devan.
"Bagaimana kondisi putra saya dok?"
Mala langsung menanyakan kondisi Devan .
"Maafkan kami nyonya,anak anda akan selalu dalam pantauan tim medis kami.Masih banyak yang harus kami lakukan.Dan kami akan berusaha yang terbaik demi untuk kesembuhan anak anda."
"Tolong anak saya dok,sembuhkan anak saya apa pun caranya"
"Tenanglah bu,kami sedang berusaha untuknya.
š·š·š·š·
Kediaman keluarga Adiwijaya..
"Cristian terlalu mencintau neneknya,apa yang harus aku lakukan untuk meraih hatinya kembali
padaku?"dalam hatu Casanfra mencari cara agar Cristian menginginkannya kembali
Casandra masuk ke dalam kamar nenek,dia melihat wanita tua itu terbaring lemah tak berdaya.Ya itu efek obat yang dia suntik beberapa waktu yang lalu,agar setiap persendian nenek tak bisa bergerak lagi.
"Nenek sayang,apa kamu betah di dalam kamarmu sekarang?"Casandra mengelus pipi nenek.
Sedang nenek menatap tajam ke arah Casandra dengan tatapan benci.Nenek tahu semuanya adalah ulah Casandra yang membuatnya menjadi sakit seperti ini.
Errrggghhhhh
Suara nenek menggeram kepada Casandra,Jika bisa berbicara nenek pasti sudah memarahinya.
"Hehehe kasian sekali kamu nek,apa kamu mau memarahiku saat ini?sudah simpan aja tenagamu,nenek udah nggak bisa melakukannya."
"Untung saja nenek sangat disanyangi oleh Cristian,maka dari itu aku masih akan membiarkan Cristian merasakan kasih sayang darimu dengan nggak membuat nenek cepat kehilangan nyawanya."
Haha ha ha ha ha
Tawa Casandra terdengar mengerikan di telinga nenek.
"Tunggu dan ada waktunya buatmu Casandra,kamu pasti akan mendapatkan balasan atas segaka perbuatanmu."
Dalam hati nenek sangat tersakiti dan ingin meluahkan kemarahannya pada Casandra.
Namun suara nenek hanya bisa tertahan di tenggorokkannya .
Ergghhh errrggghhh erggghhh
Nenek menggeram kepada Casandra namun Casandra hanya tertawa cekkikan ke arah nenek.
Ceklek
Pintu kamar terbuka lebar lebar..
"CASANDRA... ! "
"APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA NENEK?"
"Crist. ng ..a a aku..."
Cristian masuk ke kamar nenek..
__ADS_1