
Sakitnya panggilan mama
Bab 68
Akhirnya Felicia menceritakan situasi yang sedang dialami oleh Mala pada Hector.
Dan mereka sama sekali tak bisa menghentikan keinginan Mala tersebut. Cerita Felicia semakin membuat Hector naik pitam.
"Apa pun alasannya, aku tak ingin tahu. Kalian berdua harus membawa pulang Mala kembali kemari." Hector akhirnya berdiri dan meninggalkan Bimo dan Felicia sendiri.
Setelah kepergian Hector, akhirnya Bimo bisa bernapas lega.
"Untunglah dia telah pergi,"
"Tapi bagaimana kita akan membawa Mala kembali pulang kemari, sayang?"
"Entahlah, aku juga tak tahu bagaimana caranya. Yang jelas Hector tak akan bisa membiarkan aku untuk bernapas lega, jika aku tak melakukan perintahnya." Bimo sudah sangat tahu sifat dari tuannya itu.
"Terus apa rencana kita selanjutnya"
"Tenanglah sayang, besok kita akan kembali ke kediaman Adiwijaya. Bagaimana pun kita harus bisa membujuk Mala kembali pulang."
Felicia mengangguk tanda setuju akan keputusan suaminya.
Sedang di hotel tempat Hector menginap.
Seluruh isi kamar hotel itu telah berantakan oleh barang barang yang di lempar begitu saja oleh Hector.
"Kamu kenapa sayang,?" Dengan suara yang lembut Jasmine bertanya pada suaminya. Yang kini tengah duduk di salah satu pojokan kamar hotel mereka.
Sepertinya amarah Hector kini mulai mereda. Dan Jasmine mulai memberanikan diri untuk mendekati suaminya dan bertanya padanya.
"Bimo tak bisa menjaga kepercayaan ku. Dia membiarkan Mala kembali pada mantan suaminya yang pernah menyakitinya. Aku tak akan membiarkannya. Bagaimana pun Mala harus kembali ke apartemennya." Suara Hector berapi api, seperti ingin menerkam siapa saja yang telah membuatnya marah.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu di pikirkan. Pasti Mala memiliki alasannya sendiri," Jasmine masih mencoba untuk menenangkan suaminya. Karena dia tahu betul sifat suaminya, dia lebih memilih mengatasinya dengan kelembutan.
Setelah Hector tertidur, Jasmine meraih ponselnya dia atas meja rias. Dia mencoba untuk menghubungi Bimo.
"Halo nyonya," suara Bimo terdengar berat di ujung telpon.
"Tolong segera selesaikan masalah ini. Aku tak mau suamiku terus dirundung kemarahan. Sebelum kami kembali ke Meksiko." Segera dia memutuskan sambungan telpon, tak ingin mendengar jawaban dari seberang. Jasmine memberi perintah pada Bimo. Tanpa basa basi, tapi sangat berpengaruh pada Bimo. Ucapan nyonya Jasmine adalah perintah tuan Hector.
Di kediaman Adiwijaya
Mala duduk di jendela kamar Ellena, sambil menatap jauh keluar.
Dalam pikirannya yang kalut, dia tak tahu harus berpikir apa lagi.
"Bagaimana bisa aku ingin tinggal di sini, demi kesehatan putri wanita penjahat seperti Casandra."
"Oh Tuhan kenapa aku begitu sangat bodoh," Mala tak hentinya menyalahkan dirinya sendiri.
Tapi di satu sisi, saat dia memandang Ellena yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Hatinya tak berdaya, bagaimana pun ini bukan kesalahan anak anak. Hanya karena keegoisan orang tua di masa lalu,Mala taki ingin melukai perasaan gadis kecil itu.
Mala memandang sayu wajah Ellena yang masih terlelap tidur. Wajahnya yang tenang membuat Mala tersenyum kecil. Dalam hatinya dia berjanji akan melakukan hal hal yang baik. Hingga Ellena sembuh kembali.
"Mama."
Ellena menggeliat, dan membuka matanya. Melihat Mala ada di dalam kamarnya, dia tersenyum. Ada rasa kelegaan di dalam hatinya.
Namun Mala masih enggan bergerak dari tempatnya, dimana dua sedang duduk.
"Kenapa terasa sakit sekali Tuhan, saat gadis kecil ini memanggilku dengan sebutan Mama," dalam hatinya Mala bergumam.
Rasa sakit itu terasa seperti tercabik ujung pedang. Mala berusaha menahan sakit itu. Akan tetapi semakin terasa sesak di dalam dadanya. Dia harus bisa menguasai perasaannya sendiri.
"Ellena sayang."
Akhirnya sekitar lima menit berlalu, Mala mampu untuk mengucapkan kata itu.
Sejak tadi Ellena hanya bisa memandang wajah Mala dengan tatapan sendu. Kini berubah menjadi ceria kembali. Entah apa yang ada di dalam hati gadis kecil itu. Sehingga dia sangat ingin meraih hati Mala menjadi miliknya saat ini.
"Mama, bisakah mama memeluk Ellena disini?" Permintaan sederhana seorang gadis polos padanya.
Mala terdiam kembali, sebab rasa sakit yang ada di dalam hatinya terus menusuk nusuk. Sungguh sangat susah sekali bagi dirinya untuk berdiri. Untuk sekedar menghampiri Ellena dan mengabulkan permintaan sederhananya.
Sebenarnya sungguh sangat mudah sekali untuk berdiri. Menghampiri ranjang dan memeluk gadis kecil itu. Tapi kenapa kaki Mala rasanya berat sekali. Untuk melangkah ke ranjang mungkin hanya dua atau tiga langkah saja.
"Mama."
"I ya sayang."
"Peluk Ellena sebentar saja," suara Ellena terdengar lirih sekali.
Mala jadi tak tega. Dia pun berusaha berdiri dan menghampiri ranjang Ellena. Namun lagi dia terpaku di sana. Hatinya bimbang, apa harus dia memeluk gadis itu lagi. Ingin sekali Mala berteriak, dan mengatakan kalau dia tak ingin dipanggil mama oleh Ellena. Ingin sekali dia marah dan meluapkan emosinya. Kalau dia sangat membenci mama Ellena yang sesungguhnya. Berteriak dan menangis sekencang mungkin, agar Ellena tahu ayahnya lah penyebab kematian Putra kesayangannya Devan.
Tapi semuanya tertahan di bibir Mala. Dia tak kuasa untuk melakukannya. Apa dia harus tega membalaskan kemarahanya pada gadis kecil ini. Air mata Mala sepertinya akan mengalir lagi. Segera di tepisnya dan mengusap air matanya.
"Aku tidak boleh seperti ini, gadis kecil ini tak bersalah. Bagaimana pun dia layak sembuh.," Hati Mala terus meyakinkan dirinya agar bisa melakukan yang terbaik pada Ellena.
Mala naik ke atas ranjang, memeluk tubuh mungil Ellena. Suhu tubuh Ellena masih panas seperti kemarin. Dan itulah yang membuat hati Mala tersentuh.
"Mama,"
"Iya sayang," Mala mengelus pucuk kepala Ellena dengan lembut.
"Jangan pernah tinggalkan Ellena sendiri lagi ya."
"Ya sayang,"
"Janji?"
Mala mengangguk pelan, namun dalam hatinya berkecamuk.
"Ya Tuhan, apa aku bisa menjaga janjiku pada gadis kecil tak berdosa ini?" Mala berbisik dalam hatinya sambil menarik napas dalam dalam.
Ellena merasa tenang dengan jawaban Mala.
Tok tok tok
Suara pintu kamar Ellena yang masih terbuka diketuk. Bi Ratih masuk membawa nampan berisi semangkok bubur untuk Ellena.
"Ini bubur non Ellena, nyonya."
__ADS_1
"Iya bi, terima kasih. Letakkan di atas meja, saya yang akan menyuapi Ellena."
"Iya nyonya. Kalau begitu saya permisi kembali ke dapur."
Mala mengangguk, dan membiarkan Bi Ratih kembali melakukan pekerjaanya di dapur.
"Ellena makan ya sayang. Setelah makan baru minum obat."
Ellena menggeleng.
"Kenapa nggak mau makan?"
"Ellena nggak mau."
"Kok nggak mau, sayang?"
Ellena terdiam, sepertinya dia enggan menjawab pertanyaan Mala.
"Kalau Ellena nggak makan, bagaimana Ellena bisa sembuh."
"Nggak, Ellena nggak mau sembuh."
Mala mengernyitkan dahinya, dia tak mengerti dengan jawaban Ellena.
"Kalau Ellena nggak sembuh, pasti semuanya akan sedih dong."
"Nggak, Ellena suka kalau lagi sakit."
"Emang Ellena suka kalau nenek dan papa sedih melihat Ellena sakit?"
Ellena menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa Ellena nggak mau sembuh?" Perlahan dan dengan lembut Mala bertanya pada Ellena.
"Kalau Ellena sembuh, nanti mama pergi lagi tinggalin Ellena sendirian. Ellena kan maunya sama mama. Semua teman teman Ellena di sekolah punya mama sama papa. Tapi Ellena hanya punya papa. Terus saat Ellena sakit, mama pulang ke rumah. Kan lebih baik Ellena sakit aja terus, biar Ellena bisa ngomong sama teman teman kalau Ellena juga punya mama dan papa seperti teman teman yang lainnya."
"Ya Tuhan, anak sekecil ini sudah memikirkan hal seberat ini."
Mala memeluk erat tubuh mungil Ellena, sepertinya selama ini anak ini tertekan oleh karena dia tak memiliki orang tua yang lengkap.
"Nggak sayang, kamu harus sembuh."
"Ellena mau sembuh, tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya sayang?"
"Tapi mama janji dulu, kalau mama akan menepatinya nanti."
"Baiklah, mama janji."
Meski berat buat Mala, tapi dengan kelemahan hatinya sebagai wanita dan seorang ibu dia menganggukkan kepalanya.
"Ellena mau minum obat, asal setelah Ellena sembuh mama jangan pergi lagi ya."
Bagai di sambar petir, keinginan Ellena seperti sebuah beban berat di dalam hati Mala.
"Bagaimana bisa, dan mana mungkin?" Pikir Mala dalam hatinya.
"Mama."
Senyum mengembang di wajah pucat gadis kecil ini berhasil meluluhkan hati Mala.
"Kalau begitu, ayo mama suapi bubur ini. Setelah itu Ellena minum obatnya yah."
Ellena mengangguk dan berusaha duduk dan bersandar di ranjangnya. Membuka mulutnya untuk suapan bubur yang Mala berikan untuknya. Kepolosan gadis kecil ini membuat hati Mala menghangat. Rasanya seperti menyuapi putranya Devan.
Tanpa disadari oleh keduanya, nyonya Elisabeth dan Cristian ternyata sedang memperhatikan mereka dari balik pintu kamar Ellena. Hati nyonya Elisabeth terhenyuh melihat kelembutan Mala pada Ellena.
Sedang Cristian tak habis berpikir, "terbuat dari apa hatimu Mala hingga kau begitu bisa menerima kenyataan pahit ini. Aku berjanji akan membahagiakanmu."
Setelah menyuapi bubur, Mala memberikan obat yang harus di minum oleh Ellena. Gadis kecil itu hanya menuruti semua yang dilakukan Mala untuknya. Ada beberapa macam obat yang dokter Surya berikan semalam. Dan itu semua harus dihabiskan oleh Ellena.
Karena efek obat obatan Ellena kembali tertidur pulas di atas ranjangnya. Mala tersenyum melihat wajah Ellena yang sedang tertidur dengan tenang. Dia mulai merapikan semua perlatan makan yang sudah terpakai oleh Ellena barusan. Dan berniat membawanya ke dapur.
Drrrttt drrrttt drrrttt
Bunyi ponsel Mala di atas nakas, mengalihkan pandangannya. Diletakkannya kembali perlatan makan milik Elena. Dan meraih ponselnya.
"Halo."
"Halo Mala, kapan kamu akan kembali kemari. Hector sangat marah, mengetahui kamu berada di kediaman Adiwijaya. Cepatlah kembali, agar dia bisa tenang pulang ke Meksiko."
"Ya Bimo, aku juga sangat ingin sekali untuk kembali ke apartemen secepatnya. Namun kamu tahu, kesehatan Ellena masih belum pulih. Aku akan menelpon Hector nanti."
Mala menutup sambungan telponnya.
Lalu menekan layar ponselnya mencari nomor kontak milik Hector.
Setelah sambungan telponya tersambung, Mala menghela napas sebentar.
"Halo, apa ini Mala?"
"Mala apa yang kamu lakukan di kediaman Adiwijaya, segera kembali ke apartemen mu. Kau tahu Hector sangat marah saat ini. Jika kau tak ingin mendapatkan kemarahan dari Hector segera kembali pulang." Ternyata Jasmine yang menerima panggilan telpon darinya. Suara Jasmine dari seberang membuat Mala tak bisa menjawab apa apa lagi.
"Jasmine, aku mohon tolong katakan pada Hector kalau aku baik baik saja saat ini. Setelah semuanya selesai disini, aku akan kembali ke apartemenku."
"Tapi Hector menginginkan kamu kembali sekarang Mala. Dia tak ingin kamu tersakiti lagi di sana. Apa lagi kamu akan tinggal seatap bersama mantan suamimu itu."
"Tenanglah Jasmine, aku bisa mengatasinya."
"Baiklah, kalau itu mau kamu. Tapi akan lebih baik jika kamu segera kembali ke apartemen milikmu. Aku akan menyampaikan pesan kamu pada Hector."
"Terima kasih Jasmine, kamu baik sekali."
Mala menutup sambungan telponnya dengan bernapas lega.
Dalam hatinya dia sangat bersyukur, ternyata masih ada yang begitu sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini. Jasmine dan Hector, Bimo dan Felicia. Entah bagaimana jika dia tidak pernah bertemu dengan mereka. Mungkin sudah lama dia telah mengakhiri hidupnya.
"Siapa yang baru saja menelpon mu?"
Suara Cristian mengagetkan Mala. Dia sedang berdiri di depan pintu kamar Elena.
"Siapa pun yang aku hubungi, bukan urusanmu."
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu jutek padaku Mala. Aku hanya ingin mencoba berbicara denganmu secara baik baik."
"Aku tak perduli, dan aku tak membutuhkan kepedulian mu padaku." Mala melengos pergi meninggalkan Cristian.
Mala turun ke lantai bawah dan menuju ke dapur.
"Mala."
Suara lembut nyonya Elisabeth memanggil
Mala yang sedang melintasi ruang tengah.
"Iya nek."
"Kemari lah sebentar."
"Baik nek, tapi Mala ingin letakkan piring kotor ini di dapur terlebih dahulu." Mala meminta ijin pada nyonya Elisabeth. Setelah itu barulah dia menghampiri wanita separuh baya yang sedang duduk di ruang tengah.
"Duduklah nak." Nyonya Elisabeth meminta Mala duduk di hadapannya. Sementara Cristian berdiri di belakang tempat duduk neneknya.
"Nenek ingin meminta bantuan mu sayang."
Nyonya Elisabeth membuka pembicaraannya.
"Bantuan apa nek?"
"Nenek ingin kamu mencari psikolog untuk Ellena, apa kamu bisa melakukannya?" Tanya nyonya Elisabeth lembut.
"Nenek ingin kamu pergi bersama Cristian," lanjutnya lagi.
"Tapi nek," Mala sepertinya keberatan dengan permintaan nyonya Elisabeth.
"Tolonglah nak, nenek tak ingin dibantah. Lakukan ini untuk Ellena." Nyonya Elisabeth memohon pada Mala.
"Jika Ellena bisa segera mendapatkan psikolog yang terbaik, pasti dia akan cepat sembuh. Kamu mau kan melakukannya?"
Meski dengan berat hati Mala akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Namun tidak dengan raut wajahnya, saat matanya tak sengaja melihat senyuman kemenangan di bibir Cristian.
Sungguh ingin sekali Mala melemparnya dengan bantal yang ada di sampingnya. Tapi dia harus menahan diri sebab masih ada nyonya Elisabeth di hadapannya.
"Kalau begitu, nenek merasa lega. Dan nenek minta besok kalian sudah mulai mencari yang terbaik demi kesembuhan Elena."
Nyonya Elisabeth beranjak dari tempat duduknya, dan kembali ke kamarnya.
"Semoga dengan cara ini, kalian bisa kembali memulai hubungan yang baru dari awal lagi." Lirih nyonya Elisabeth dalam hatinya.
Dia ingin melihat cucunya bahagia. Selama ini sudah cukup penderitaan yang dialaminya, dan kini saatnya membuka lembaran yang baru. Meski nyonya Elisabeth sadar bahwa ini sungguh tak mudah bagi Mala.
Akan tetapi, jika dengan berusaha pasti ada jalan untuk mereka. Saat akan menaiki tangga, Nyonya Elisabeth tersenyum ke arah Cristian, dan mengacungkan jempol kepadanya. Beruntung posisi duduk Mala sedang membelakangi nyonya Elisabeth.
"Semoga berhasil.," Bisik nya lagi.
Cristian menganggukkan kepalanya
"Terima kasih nek."
Mala tak menyadari, komplotan nenek dan cucunya sedang merencanakan sesuatu untuknya.
Mala ingin kembali naik ke lantai atas. Dia ingin memastikan keadaan Elena. Di kamarnya Ellena masih tertidur lelap. Mala meraba kening Ellena, panasnya masih belum turun juga. Meski dia sudah meminum obatnya.
Mala lalu duduk di sebuah kursi di dekat jendela. Memandang dan melihat pemandangan di luar. Langit biru yang cerah, awan awan putih yang seakan akan sedang menari. Menghibur kegundahan yang Mala rasakan saat ini.
"Mommy merindukanmu,sayang. Apa kamu baik baik di sana?"
Mala kembali meneteskan air matanya. Kembali mengenang putranya, yang begitu sangat dikasihinya. Bagaimana pun kamu tak kan bisa tergantikan oleh apa pun dalam hati mommy sayang.
Cristian masuk ke dalam kamar Ellena. Dia bermaksud melihat keadaan putrinya itu. Walau pun bukan putri kandungnya, Cristian sudah menganggap Elena adalah darah dagingnya sendiri. Dan sedikit lega, saat ini dia dirawat oleh orang yang paling dicintainya.
Mala tak menyadari kehadiran Cristian di dalam kamar Elena, sebab dia berdiri menghadap keluar jendela. Cristian mengamati Mala yang sejak tadi berdiri memandang keluar.
"Apa kau sedang merindukannya?"
Suara Cristian mengagetkan Mala.
"Apa pedulimu?" Tanpa menoleh Mala menjawab Cristian dengan acuh tak acuh.
"Maafkan aku Mala."
"Permintaan maaf mu tak bisa mengembalikannya kembali lagi ke pangkuanku."
"Setidaknya biarkan aku untuk mencoba memperbaiki kesalahanku di masa lalu, Mala."
"Apa gunanya kamu ingin memperbaikinya sekarang. Dulu saat aku datang meminta bantuan mu, apa kamu bisa merasakan betapa hancurnya aku. Kamu lebih memilih mencampakkan aku. Dan membiarkan darah daging mu meninggalkan aku sendiri." Terlihat tangan Mala mengusap pipinya.
Air matanya terus membasahi pipinya. Dia tak bisa menahan kesedihannya. Dan sekarang dia terjebak dengan pria yang menjadi penyebab dia kehilangan putranya.
"Seandainya saja dulu, lima menit saja kamu memberikan waktumu. Mendengarkan penjelasan ku, mungkin saat ini putra kesayangan ku masih bersama sama denganku."
"Mala, tolonglah. Aku merasa bersalah untuk itu. Tolong maafkan aku." Cristian meminta maaf dengan kelembutannya
"Aku belum bisa menerima kenyataan Crist, aku belum bisa menerima kepergian putraku."
"Aku tahu itu, untuk itu aku sungguh meminta maaf padamu. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu. Aku mohon Mala." Cristian memegang pundak Mala dari belakang dan membalikan tubuh Mala agar menghadap ke arahnya.
"Tatap mataku Mala, lihat aku sungguh bersungguh sungguh meminta maaf padamu. Aku sangat menyesalinya, tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku ."
Mala hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia masih menaruh rasa sakit di dalam hatinya. Segala perlakuan Cristian saat itu masih terekam jelas pada ingatannya.
"Tolonglah Mala, katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kalau aku benar benar menyesali semua perbuatan buruk ku pada putra kita."
"Putra kita katamu?" Mala mendonggak kan wajahnya menatap tajam mata Cristian.
"Setelah apa yang kau lakukan untuk kami, kenapa hari ini baru kau ucapkan bahwa dia adalah putra kita, huuh?" Mala menahan hatinya untuk tidak meluapkan kemarahannya saat ini.
Dia masih memikirkan Ellena yang sedang beristirahat di atas ranjangnya.
"Tolong lupakan semua kejadian di masa lalu itu, dan ayo kita mulai dari awal lagi."
Duaarrrr
Bagai di sambar petir hati Mala terasa panas. Cristian memintanya untuk melupakan masa lalunya tentang Devan.
Plaakkk.
__ADS_1
Sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi Cristian.