
Setelah kedatangan tuan muda dari luar negri, aku merasa tuan besar dan nyonya besar sedang merencanakan sesuatu padaku. Tapi aku tidak tahu apa itu.
"Mulai hari ini Mala akan bekerja mengelola peternakan ini. Semua peralatan dan bahan bahan yang dibutuhkan akan didatangkan dari luar." Tuan besar mempercayakan peternakan ini padaku.
"Tuan, tapi saya masih dalam proses belajar mana mungkin saya bisa terjun langsung pada saat ini."
"Mala, kami percaya padamu. Kamu pasti bisa." Nyonya besar meyakinkan aku.
Dari pada mengecewakan kedua majikan ku, aku memilih menuruti perkataan mereka. Walau aku masih ragu apakah aku bisa atau tidak melaksanakan pekerjaanku.
"Dan juga Mala, pekerjaanmu hanya di peternakan, sambil bekerja sambil belajar pada mereka yang sudah senior dalam mengurus peternakan.
Di Sana sudah ada enam orang pekerja yang akan membantumu, semua dari mereka sudah berpengalaman bekerja dalam bidang peternakan.
"Baik tuan, baik nyonya." Sambil menundukkan kepalaku aku permisi menuju peternakan yang masih berdekatan dengan rumah besar ini.
Dengan mengenakan celana jeans, dan t-shirt putih aku melangkahkan kaki menuju kandang-kandang sapi yang sebentar lagi akan di datangkan khusus dari Australia.
Peternakan sapi ini, pernah dikelola oleh tuan dan nyonya semasa mereka muda dulu. Susu yang dihasilkan dari peternakan ini berkualitas tinggi. Hingga bisnis dari tuan dan nyonya berkembang pesat.
Suatu waktu, tuan dan nyonya memutuskan pindah ke kota, dan memulai bisnis baru mereka. Dengan modal yang dihasilkan dari peternakan ini.
Sementara mereka meninggalkan peternakan ini, karena sejak mereka tinggal di kota bisnis yang mereka bangun pun berkembang. Hingga menghasilkan anak cabang perusahaan di berbagai kota besar di Indonesia.
Dan kini mereka merasa sudah waktunya mereka ingin beristirahat dan menikmati masa tua mereka kembali ke peternakan ini. Mereka merasa cucu mereka akan mengambil alih semua perusahaan dan melanjutkan kerajaan bisnis yang sudah mereka bangun bertahun tahun lalu.
Berharap cucu mereka mendapatkan pendamping hidup yang bisa menemani cucunya dengan gadis yang baik baik. Aku bertekad akan belajar sambil bekerja,dan tidak akan mengecewakan kedua majikan ku.
Mereka telah banyak memberiku kebaikan dan aku akan melakukan apa pun keinginan mereka sebagai rasa balas budiku. Ke enam orang pekerja disini sangat ramah. Masing-masing memperkenalkan nama mereka saat aku sudah tiba dan berada di hadapan mereka.
Perkenalkan nona, nama saya..
"Dani,..."
"Saya Firman,...
"Saya Teodorus.."
"Saya Indra,..."
"Saya Vitri, nona,.."
__ADS_1
"Dan saya Linda,.."
"Masing-masing menjabat tanganku sambil memperkenalkan diri mereka.
"Saya Mala, teman-teman."Aku berusaha akan menganggap mereka sebagai temanku.
"Dani, Firman, Teodorus dan Indra akan bertugas dengan segala yang berurusan dengan sapi dan pemeliharaan alat."
"Sementara saya dan Vitri, akan bertugas dalam urusan pemasaran dan keuangan." Terang Linda.
"Terima kasih ya teman-teman saya berharap kita akan menjadi tim yang bisa saling mengisi kelebihan dan kekurangan kita masing-masing.Sehingga kita dapat membangun peternakan ini lebih baik lagi."
Aku suka dengan pekerjaan baruku ini. Dan senang bisa bekerja dengan orang orang baru yang baru kutemui hari ini mau
berbagi ilmu mereka padaku. Saat akan mengurus beberapa sapi penghasil susu, keempat orang yang bertugas dalam segala urusan sapi mengajariku sedetail mungkin segala ilmu yang mereka miliki padaku.
Dan saat aku masuk ke dalam ruangan kantor tempat Vitri dan Linda, aku akan diajarkan tentang pemasaran produk dan menghitung untung dan ruginya.
Lalu kami fokus untuk menentukan membeli alat alat dan mesin pemerah susu berkualitas tinggi. Yang akan menghasilkan susu segar dan steril sehingga aman dikomsumsi segala kalangan. Sehingga kami dapat berjuang bersama-sama menjadi tim penghasil susu terbaik disini.
πΊπΊπΊ
Setahun sudah berjalan, peternakan yang aku kelola sangat berkembang pesat. Tawaran dari berbagai perusahaan mulai berdatangan untuk bekerja sama. Tuan dan nyonya sangat senang dengan pencapaianku. Aku juga sudah bisa merenovasi rumah kedua orang tuaku di kampung halamanku.
Hingga suatu hari, kembali tuan dan nyonya besar memanggilku.
Di ruangan kantor kedua majikan ku dalam rumah ini, ternyata kami juga di datangi dua orang tamu.
"Mbak Ningsih." Setengah berlari aku merangkulnya. Setelah melepas rinduku aku memandang penampilan mbak Ningsih.
Stelan baju mewah, menambah kesan keanggunan baginya.
Dengan sedikit heran aku melihat mbak Ningsih yang menahan tawanya.
"Udah jangan bengong gitu liatinnya Mala, nanti malah kesambet lagi."
Mbak Ningsih yang kulihat saat ini sangat berbeda, dia tampak sangat cantik dengan polesan make up tipis pada wajahnya. Sementara pria yang kulihat di depanku hanya berekspresi datar melihat kami berdua.
"Mala, kenalkan ini juga cucu saya kakak dari Cristian, namanya Margareth." Aku semakin bingung dibuatnya. Nyonya mengenalkan teman kerjaku sebagai cucunya.
"Sebenarnya Ningsih adalah Margareth, ia aku tugaskan untuk memperhatikan pekerjaan para pekerja di rumah kita di kota."
__ADS_1
"Dan ternyata pilihannya adalah kamu, dan benar kamu memang pilihan tepat bagi rencana kami."
Aku semakin bingung dengan penjelasan nyonya.Pantas saja ketika aku bekerja di rumah utama dulu, mbak Ningsih berbeda dengan pekerja lainnya.
Wajah cantik walaupun tidak berdandan, dan lebih menonjol kulitnya yang halus dan sehat. Seperti kulit yang selalu dalam perawatan kecantikan.
Dan tuan pun menambah penjelasannya.
"Baiklah Mala, mungkin kamu masih bingung dengan apa yang kami bicarakan tentang rencana."
"Dari awal kami mencari gadis,yang akan kami jodohkan kepada cucu pewaris tunggal bisnis keluarga kami."
"Kami menginginkan mendapat seorang gadis yang jujur dan tidak silau dengan harta duniawi. Melihat kesungguhan kamu dalam bekerja, kami pun mengetes kejujuran kamu, dan ternyata tidak disangka kamu benar benar gadis yang jujur."
"Kamu tahu dalam pencarian kami, sudah ada dua belas peserta pengujian yang kami uji." Dan semuanya membawa kabur barang barang berharga yang mereka temukan.
"Terakhir, kami sudah putus asa, dan Margareth yang meyakinkan kami bahwa kamu berbeda dengan pekerja-pekerja sebelumnya."
Dan kami pun memilihmu, bagaimana pun caranya kami akan mengubah kamu menjadi gadis yang akan membawa kebaikan dalam keluarga kami."
Dan ternyata terbukti sudah, kami mempercayakan kamu untuk mengelola peternakan ini, sehingga peternakan ini kembali mendulang sukses seperti dulu saat kami mengelolanya. Aku masih belum percaya dengan segala cerita tuan dan nyonya saat ini.
"Untuk itu, malam ini kami akan jodohkan kamu Mala dengan cucu kami satu-satunya. Dan besok malam kami akan adakan pesta pertunangan kamu dengan cucu kami.
"Tolong jangan ditolak, ini keinginan terakhirku, aku ingin melihat cucuku berbahagia bersama denganmu."
Sontak saja aku kaget dengan keinginan tuan besar saat ini. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
Belum selesai keterkejutanku dan belum sempat aku menjawab kalimat tuan besar. Pria tampan cucu kedua majikanku yang sedari tadi duduk dalam diam di sofa sudut ruangan ini tiba tiba beranjak berdiri dan berlalu, membuka pintu dan membantingnya dengan keras. Hingga kami yang ada dalam ruangan ini tersentak kaget.
"Mala, jangan diambil hati adikku memang begitu orangnya, keliatan kasar dari luar tapi sebenarnya hatinya sangat baik." Mbak Ningsih mencoba menenangkan aku.
"Besok kita akan ke kota, kita akan mempersiapkan acara pertunanganmu dari sekarang yah.
"Tapi mbak Ningsih, eh Nona Margareth ..." Aku mencoba memperbaiki panggilanku pada mbak Ningsih yang ternyata adalah cucu dari majikan ku.
"Udah, jangan dipikirkan tentang Cristian aku akan mengurusnya."
Bagaimana ini, aku dijodohkan dengan cucu pewaris tunggal dari kedua majikan ku yang adalah salah satu orang terkaya di negri ini. Ingin sekali menolaknya, selain aku tahu kalau tuan muda itu tidak menginginkan aku, aku bisa apa tidak bisa menolak keinginan kedua majikan yang sudah begitu banyak berbuat baik padaku. Hingga aku menjadi orang yang sukses seperti sekarang ini..
"Jangan panggil aku Ningsih lagi, sekarang namaku Margareth." Sambil memelukku nona Margareth ternyata masih ingin melepas rindu denganku.
__ADS_1
Sebab semenjak kami pindah dan tinggal di peternakan ini, nona Margareth dan tuan Cristian lah yang menggantikan posisi tuan besar dalam perusahaannya di kota.
Sehingga kami tidak pernah bertemu. Hanya beberapa kali bertukar kabar dengan saling menelpon. Itu pun tak lama. Aku tak menyangka sama sekali. Jika mbak Ningsih yang selama ini selalu mendukung aku adalah cucu majikan ku sendiri.