
Casandra kekasih tuan muda
Semalaman aku tidak bisa tidur, memikirkan kelakuan tuan Cristian. Apakah dia membenciku?Tapi, dalam hal ini aku merasa tidak bersalah. Bagaimana pun aku hanya menjalankan keinginan tuan dan nyonya padaku.
Aku juga tidak menghendaki perjodohan ini. Dan lagi majikanku tidak menanyakan tentang perasaanku saat ini.
"Nak, kamu sedang memikirkan apa?" Aku yang sedang termenung di dekat jendela, kaget dengan suara ibu. Aku membalikkan badan ku dan segera memeluknya.
Sungguh aku sangat merindukan pelukan hangat ibuku. Sejak aku kecil hanya dengan memeluk ibuku, aku merasakan ketenangan dalam hati. Segala kegundahan pun akan turut sirna dengan memeluknya.
"Tidak ada yang kupikirkan, bu."
"Mala, kamu itu anak ibu, ibu tahu segala tingkah laku anak ibu. Kapan dia merasa bahagia dan kapan ia merasa sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu."
"Ceritakan pada ibu, mungkin dengan bercerita beban mu sedikit menjadi ringan."
"Sudahlah bu, jangan dipikirkan. Mala nggak apa-apa kok. Mala sangat senang ibu dan bapak bisa berada disini."
Bapak pun datang dan duduk di bersebelahan dengan ibu. Sepertinya kedua orang tuaku merasakan kegundahan dalam hatiku.
"Tuan dan nyonya sudah menceritakan pada kami tentang perjodohan ini, dan segala situasi yang sedang kamu hadapi."
"Ibu dan bapak berharap kamu bisa menjaga kepercayaan majikan mu, kalau kamu bisa lakukan yang terbaik untuk semuanya. Lakukanlah nak."
"Jangan mengeluh, dan menyalahkan apapun yang terjadi, mungkin ini sudah menjadi takdirmu."
"Iya pak, bu. Mala berjanji akan menjadi anak yang kuat bagi ibu dan bapak." Aku pun merangkul keduanya agar bisa menenangkan hati mereka. Dan menyatakan aku baik-baik saja.
Walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan perjodohan ini.
"Kalau begitu, bapak dan ibu beristirahat dulu, Mala pamit sebentar, mau ke peternakan."
"Ibu dan bapak, kalau membutuhkan sesuatu carilah bik Inah. Pasti dia akan membantu."
Ibu dan bapak hanya mengiyakan perkataan ku dengan tersenyum. Aku segera berlalu meninggalkan mereka dan menuju ke peternakan.
Di depan peternakan sepertinya Linda sudah menunggu lama. Dengan wajah pucat dia terlihat cemas dan menyongsong kedatanganku.
"Ibu Mala, ada tamu dari kota yang mencari ibu."
"Siapa yang mencari ku?"
"Nggak tahu bu,sudah dari tadi pagi dia menunggu ibu. Kayaknya dia sedang marah."
"Tapi saya nggak tau apa alasan kemarahannya, bu."
__ADS_1
"Saya juga sudah berusaha menghubungi ibu Mala tadi, tapi tak di angkat."
"Oh iya, ponsel saya ketinggalan, tadi saya letakkan di kamar."
"Kalau begitu, kamu kembalilah mengerjakan pekerjaanmu. Saya akan menemui tamu kita."
Saat kubuka pintu ruanganku. Terlihat seorang wanita cantik dan penampilannya yang glamor membuatku sedikit risih. Aku merasa tidak mengenalnya.
"Mengapa anda duduk di kursi saya, nona?"
"Harusnya akulah pemilik ruangan dan kursi ini," Wanita itu menyunggingkan senyuman sinisnya padaku yang berdiri di hadapannya.
"Jadi, kamu yang bernama Mala?"
"Cih....menjijikkan. Dari penampilanmu saja tidak pantas kamu menyaingi aku."
Wanita itu berdiri dan menghampiriku, memandang wajahku dengan tatapan sinisnya dari ujung kepala hinga kaki. Aku tidak tahu apa maksud perkataan wanita ini.
"Iya benar nama saya Mala, nona."
"Apa saya mengenal nona?"
"Apakah kamu tidak mengenalku huuh?"Dengan nada pongahnya wanita ini sedikit mendorong pundak ku dengan jari telunjuknya.
"Dasar perempuan miskin, sudah itu bodoh pula. Nggak tahu malu, kamu berani ingin merebut Cristian dariku?"
"Nona tolong lepaskan, apa yang nona lakukan?"Aku tidak ingin membalas perlakuan nona ini padaku. Sepertinya dia sudah dikuasai kemarahan yang tak terkendali kan lagi.
"Aku ingin memperkenalkan namaku padamu perempuan bodoh."
"Namaku Casandra."
"Kekasih dari Cristian Adiwijaya. Kamu tidak berhak untuk merebut Cristian dariku. Aku akan melakukan apa pun demi untuk mengambil kembali milikku darimu."
"Aku dan Cristian adalah pasangan yang sepadan. Tidak denganmu perempuan nggak tahu diri."
Aku hanya bisa diam dan tidak ada alasan bagiku untuk bisa membela diri. Mungkin benar kata nona ini aku telah merebut kebahagian mereka.
"Maafkan aku nona, aku hanya menjalankan keinginan kedua majikanku."
"Bohong...! ! !"
"Kamu pikir aku nggak tahu, apa rencanamu.Perempuan miskin seperti kamu pasti sudah mengunakan guna-guna untuk memikat hati Cristian demi harta."
"Cukup nona...! ! !"
__ADS_1
"Sekali pun miskin, saya tidak pernah berpikir apalagi melakukan perbuatan kotor itu."
Dengan emosi yang meluap, sepertinya Casandra cukup terkejut aku membentaknya dengan nada keras."
"Berani sekali kamu padaku, perempuan bodoh." Sambil mengambil vas bunga di atas meja kerjaku. Dia menghantam kepalaku dengan keras .Vas bunga itu pun pecah berkeping-keping.
Puas melihat kepalaku berdarah.Casandra menghampiriku dengan senyum licik di bibirnya dan membisikkan sesuatu di telingaku.
"Aku tidak akan membiarkan, Cristian menjadi milikmu. Lihat saja nanti kalau sampai terjadi, aku akan melakukan yang lebih menyakitkan dari ini." Sambil mendorongku hingga aku terjatuh ke lantai. Lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan ku.
Mendengar keributan dari dalam ruangan ku Vitri dan Linda masuk ke dalam dan melihat kepalaku yang berlumuran darah .
Segera Vitri mengambil ponsel menghubungi seseorang yang bisa mengantarkan aku ke klinik terdekat. Agar segera mendapat pertolongan.
Aku masih shock dengan kejadian yang barusan ku alami. Teo dan Indra yang datang terlihat panik melihat darah segar masih mengalir dari kepalaku.Aku merasa lemah dan dan akhirnya aku kehilangan kesadaran ku.
Luka serius di atas kepalaku, membuat lukaku harus dijahit beberapa kali. Setelah selesai dokter yang menanganiku memberikan obat penghilang rasa sakit untukku.
"Makasih dokter."
"Iya bu, tolong usahakan lukanya jangan terkena air dulu. Perbanyaklah istirahat,dan jangan banyak bergerak dahulu."
"Setelah tiga hari, ibu datanglah kemari untuk mengontrol luka ibu."
Teo dan Indra berniat mengantarku pulang ke rumah. Dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
"Jangan dulu ke rumah, Ndra."
"Aku masih ingin menyelesaikan beberapa pekerjaanku yang tertunda hari ini di kantor."
"Tapi, pesan dokter tadi ibu Mala harus beristirahat di rumah dulu." Teo tidak setuju dengan keinginanku untuk kembali ke kantor.
"Antar kan saya kembali ke kantor.,!" Tegas ku pada kedua orang di depanku. Walaupun umur kami hampir sama akan tetapi mereka sungguh hormat padaku.
"Baiklah ibu Mala." Keduanya tidak lagi mau berdebat denganku. Aku pun tersenyum senang melihat mereka melakukan apa yang aku inginkan.
Pekerjaanku sudah hampir selesai. Sepertinya aku sudah melewatkan waktu makan siangku.
Kring kring kring
Telepon di mejaku berbunyi.
"Iya , saya dengan ibu Mala. Ada yang bisa saya bantu?"
"Mala ,kamu harus pulang ke rumah. sekarang !" Suara berat Tuan besar tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Apakah terjadi sesuatu di rumah?Aku bergegas pulang. Aku tidak ingin seseorang terluka karena aku.