
"Casandra apa yang kamu lakukan terhadap nenek?"Cristian mengulangi kembali pertanyaannya.
"Crist ini bukan seperti yang kamu pikirkan."
"JAWAB CASANDRA.!"
Suara Cristian terdengar keras..
Casandra memutar otaknya,kedatangan Cristian yang terlalu mendadak, membuat dia tak bisa memikirkan alasan yang tepat untukknya.
"Pa ..papa.."
Ellena yang sudah berusia tiga tahun datang menghampiri Cristian.
Dia meminta Cristian menngendongnya dengan mengangkat kedua tangannya kepada Cristian.
Hati Cristian luluh saat melihat kedatangan Ellena dan langsung menggendongnya.
"Anak papa belum bobo?"
"Belum pa."
"Mau papa bacakan dongeng sebelum tidur?"
"Mau mau mau papa."
"Ellena sayang papa."
"Papa juga sayang Ellena,ayo kita ke kamar."
Cristian dan Ellena beranjak menuju ke kamar Ellena.
Cristian berbalik
"Casandra aku belum selesai denganmu."
Hati Casandra semakin kalut,dia harus memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Cristian nanti.Dia yakin Cristian akan kembali menanyakan pertanyaannya barusan.
Cristian membaringkan tubuh Ellena di ranjang,mengambil sebuah buku cerita di rak buku dan mulai memabacanya.
Bacaan cerita dongeng anak anak menjadi kesukaan Ellena.Setiap malam Cristian selalu membacakan satu cerita untuknya sebagai penghantar tidurnya.
Anehnya saat Cristian membacakan dongeng untuk Ellena,Cristian merasa ada wajah seorang anak laki laki yang bermain di dalam isi pikirannya,juga turut mendengar cerita bersama Ellena.
Belum saja bacaannya habis di baca,Ellena sudah terlelap dalam tidurnya.
Perlahan Cristian mengambil selimut dan menutup tubuh mungil Ellena dan mengecup keningnya lalu mematikan lampu yang di gantikan dengan cahaya lampu tidur di atas nakas.
Cristian keluar dari kamar Ellena dan mencari keberadaan Casandra.
Casandra sedang duduk di atas ranjangnya.Selama pernikahannya dengan Cristian,dia tak pernah menyentuh Casandra.
Hingga mereka memiliki kamar yang berbeda.
Cristian duduk di samping Casandra.Dia ingin mendengarkan jawaban Casandra tanpa harus bertanya lebih dahulu.
"Emm Crist,sebenarnya tadi aku sedang menceritakan hal yang sangat lucu kepada nenek.Hingga aku tertawa terbahak bahak,yang membuat nenek juga ingin ikut tertawa,kamu tahu sendiri kan suara nenek nggak bisa keluar."
Cristian menatap mata Casandra dalam dalam,dan dengan cepat dia mengalihkan pandangannya ke tempat yang lain.
"Hmmm,"Cristian menyeringai.
"Baiklah aku ingin ke kamarku dulu.,"
Cristian berdiri dan berjalan menuju pintu.
Sepertinya Casandra senang saat Cristian percaya begitu saja dengan alasan Casandra.
"Crist.,"
Casandra memanggil Cristian dengan lembut."
"Ya."
Cristian menoleh ke arah Casandra,
"Ada apa?"
"Apa kamu bisa menemaniku tidur disini malam ini?"Casandra memohon.
Cristian hanya menggelengkan kepalanya,dan berlalu meninggalkan kamar Casandra.
"Arrrrgggghhhhhh.."Casandra berteriak frustrasi .
"Tunggu saja Crist,suatu saat pasti kamu akan bertekuk lutut di hadapanku."gumam Casandra dalam hatinya.
Cristian masuk ke kamar neneknya,mengelus kepala nenek yang sedang tidur.Cristian menatap wajah nenek,yang terlihat sangat pucat.
Selama ini nenek dibawah pengawasan dokter spesialis, yang di sewanya secara khusus.Tapi kenapa nggak ada perubahan sama sekali.
Cristian berpikir banyak dalam pikirannya.
"Apa ada yang salah dalam pengobatan nenek?"
"Tapi nenek selama ini rutin meminum obat."
"Apa salahnya aku mencari tahu,"dalam hati Cristian bertekad mencari tahu kenapa nenek tak kunjung sembuh juga.Sudah tiga tahun nenek hanya terbaring lemah di atas tempat tidur.
Cristian mengambil botol botol obat milik nenek.Lalu mengambil foto botol obatnya dan mengambil beberapa butir obat yang akan diselisikinya nanti dan dimasukan kedalam kantong plastik yang sudah dia siapkan.
πππ
Pagi harinya
Cristian tak langsung ke kantornya namun dia memilih ingin mencari tahu sendiri obat obat yang sedang diminum sang nenek.
Di sebuah ruangan dokter,Cristian menunggu dokter yang sudah membuat janji dengannya semalam.
Dokter Abel,namanya.
Cristian menyodorkan beberapa butir obat yang sudah dia masukkan ke dalam sebuah kantong plastik dan menjelaskan penyakit nenek selama ini.
"Dok,saya mau tahu apakah benar ini adalah obat yang tepat untuk nenek saya?"
"Saya akan mengujinya nanti tuan,dan setelah hasilnya keluar saya akan menghubungi anda."
"Kalau begitu saya permisi dulu dok,saya menunggu kabar dari anda."
Dokter mengangguk dan membiarkan Cristian keluar dari ruangannya.
Cristian keluar dari rumah sakit dan menuju ke kantornya.
Saat Cristian masuk ke dalam kantornya papa dan mama Casandra baru saja keluar dari ruangan acounting.
"Selamat pagi menantuku." Tuan Ferdy Hermanto papanya Casandra menyapa.
"Enak yah,menjadi bos masuk kantor jam berapa aja bisa."
Nyonya Anisa Hermanto,mama Casandra lebih memilih menyindir Cristian.
"Apa yang om dan tante lakukan di kantorku?"
__ADS_1
"Sadarlah Crist,ini juga adalah kantor kami."
"Dan perlu kamu ingat bahwa kami juga pemilik saham terbesar di perusahaan ini."
"Ya pemilik saham terbesar,dengan cara merampok."balas Cristian tak kalah sinis dan berlalu meninggalkan kedua mertuanya.
Kedua mertuanya geram melihat tingkah sombong dari Cristian.
"Awas kamu ya,aku akan membuat kamu akan meratapi kemiskinanmu nanti."umpat sang mama mertua kepadanya,namun tak ditanggapi sama sekali oleh Cristian yang sudah membuka pintu lift dan masuk ke dalamnya.
"Pah anak mantumu itu sudah mulai mengelunjak pada kita.Bagaimana kalau kita
singkarkan dia sekarang?"
Mama Casandra sangat marah atas perlakuan Cristian barusan.
"Apa kamu nggak berpikir kalau kita melakukannya sekarang,bagaimana dengan Casandra mah."
"Uuhhh,menantu menyebalkan."
Keduanya pun berlalu meninggalkan perusaahan Cristian.
Drrttt drrtttt drttt ponsel Cristian berbunyi setelah seminggu menunggu akhirnya dokter yang dipercayakan Cristian menghubunginya.
"Hallo dok."
"Tuan apa tuan bisa kemari,aku ingin menunjukkan sesuatu pada anda."
"Baiklah dokter,aku akan segera ke sana."
Cristian mengambil kunci mobilnya dan beranjak menuju ke rumah sakit.
Perjalanan yang memakan waktu selana tiga puluh menit.
Cristian masuk ke ruangan dokter Abel dan duduk dia sudah nggak sabar menungggu hasilnya.
"Tuan Cristian sepertinya selama ini nenek anda sudah salah meminum obat.Semakin sering seseorang meminum obat ini,perlahan lahan dia akan merasa tubuhnya menjadi kaku,dan mulai kehilangan suara yang tercekat di tenggorokkannya.Dan syaraf syarafnya orang yang meminum obat ini menjadi lumpuh total."
"Meminum obat ini sama saja anda mempunyai rencana membunuh tapi dengan perlahan lahan.Sebab seseorang yang meminum ini akan diracuni setiap saat dia meminum obatnya."
"Anda harus segera bertindak agar sesuatu yang tak diingikan anda terhadap nenek anda tidak akan terjadi."
"Terima kasih dok."
"Bisakah saya meminta tolong pada dokter,untuk mencarikan saya seseorang yang bisa dipercaya untuk merawat nenek saya?"
"Baik tuan,saya akan mengurusnya nanti.Tuan fokuslah mengurusi pekerjaan anda dahulu."
Cristian pulang ke rumah,dan segera masuk ke ruangan kerjanya.
Pada seorang pelayan,dia meminta dokter yang selama ini mengurusi neneknya menemuinya.
Tok tok tok
"Masuk."
"Apa tuan memanggil saya?"
Cristian menyodorkan sebuah amplop coklat di hadapan dokter yang selama ini sudah merawat neneknya.
"Terimalah amplop ini dokter.Mulai besok dokter nggak usah datang lagi kemari."
"Tapi tuan apa salah saya?"
"Aku yakin kamu sudah tahu alasannya dok.Selama ini aku sudah mempercayakan kesehatan nenekku pada anda namun anda tidak melakukanya."
"Ampunilah saya tuan,saya berjanji tak akan mengulanginya lagi.Saya hanya menjalani perintah nyonya,tuan .Sungguh saya nggak berbohong."
"Besok dan seterusnya anda nggak usah lagi datang kemari."
"Sekarang dokter memilih untuk pergi dari rumah ini atau aku akan melapor pada polisi ."
"Jangan tuan saya akan pergi saja."
Dokter itu lalu meninggalkan ruangan Cristian,dan tak lupa mengambil amplop coklat yang sudah diberikan Cristian untuknya.
"Casandra satu bukti lagi yang menjadi tindakkan kejahatanmu.Aku akan lebih banyak mencari bukti untuk menjatuhkanmu."
πΌπΌπΌπΌ
Di Paris,
Mala masih setia menunggui Devan.
Setelah minum obat Devan tertidur dengan pulasnya.
Mala hanya memandangi wajah putranya dengan penuh kasih.
Ceklek
Pintu ruangan Devan dibuka,Kenny masuk ke dalam ruangan.
"Apa Devan sudah tertidur?"
"Hmmm."Mala menganggukkan kepalanya.
Malam semakin larut,akan tetapi Mala masih saja memandangi wajah putranya.
Ada perasaan aneh yang masuk ke dalam hatinya.
Dia merasa jauh sekali saat ini dengan putranya,padahal Devan berada tepat di hadapannya.
Mala menghampiri Devan,menggenggam tangannya dan mencium punggung tangan putranya.
"Ma mama mama..tungguin Devan ma."
Sepertinya Devan mengigau,Mala menenangkan putranya.
Kenny membawakan makanan untuk Mala.
"Ini makanlah Mala,sejak tadi siang kamu belum memakan apa apa."
"Nggak Kenny,aku nggak lapar."
"Tapi kamu harus makan Mala,kamu harus kuat agar bisa selalu menemani Devan."Kenny mendesak Mala agar mau makan.
"Baiklah,aku akan makan."jawab Mala dengan suara memelas.
"Mama."
"Iya sayang.."
"Sakit mah.."
Devan meringis kesakitan,Mala datang menghampirinya.
Darah segar dari hidung Devan mengalir begitu banyak.Mala menjadi panik sebab dia tak bisa menghentikan darah dari hidung Devan.
Keringat banyak bercucuran di tubuh mungil Devan,
"Mah mamah tolongin Devan nggak bisa belnapas."dengan terbata bata Devan bicara pada Mala.Dia pun menghirup nafas dalam dalam.Tubuhnya semakin banyak menampakkan seperti bekas lebam.
__ADS_1
"Sesak sekali lasanya mah,Devan nggak bisa belnapas dengan baik."
"Kenny,tolong panggilkan dokter sekarang." Mala semakin panik,melihat putranya yang sudah kesulitan bernapas.
Kenny berlari keluar dari ruangan dan memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan Devan.
Para dokter masuk ke ruangan Deevan.
Dan meminta Mala dan Kenny menunggu di luar ruangan.
Mala terduduk di sebuah bangku di depan kamar Devan.
Kenny menghampirinya dan memeluk Mala.Mala menyandarkan kepalanya di pundak Kenny.
"Kenny,.."
"Apa Devan bisa bertahan dengan sakitnya?"
Mala menatap lurus ke depan,mencoba tetap kuat menghadapi segala yang sedang menimpa putra kesayangannya.
"Tetaplah kuat seperti ini Mala,semuanya pasti akan berlalu.Kita hanya bisa terus bersabar menghadapi segala cobaan ini."
"Ini terlalu menyakitkan buatku Kenny,kenapa harus putraku.Dia masih sangat kecil untuk menderita sakit yang begitu luar biasa untuk tubuh kecilnya."
Hu hhu hu hu hhiiikkksshhh
Mala menangis lagi,dia sudah tak sanggup mendengar jeritan kesakitan Devan dari balik ruangannya.
Hampir satu jam para dokrer menangani Devan di dalam ruangannya.
Saat mereka keluar Mala segera menghampiri mereka.
"Bagaimana dok,keadaan putra saya?"
"Nyonya besok pagi kita akan memulai proses kemoterapi untuk putra anda."
"Apa dok?kemoterapi?"
Mala masih bingung dengan jawaban dokter,
"Iya nyonya kemoterapi."
"Apa proses kemoterapi itu menyakitkan buat putra saya dok?"
"Nyonya Kemoterapi merupakan salah satu jenis pengobatan yang digunakan untuk menghancurkan sel kanker yang berbahaya bagi tubuh. Cara kerjanya adalah dengan menghentikan atau menghambat pertumbuhan sel kanker yang berkembang dan membelah diri dengan cepat."
"Jadi kemoterapi adalah proses untuk penyembuhan untuk putra anda dan untuk kebaikkan dan proses kesembuhan juga untukknya."Dokter menjelaskan pada Mala,mungkin agar Mala tak berpikiran yang tidak tidak.
"Oh begitu ya dok,terima kasih."
"Kapan kita bisa memulai proses kemoterapinya dok?"
"Besok kita sudah bisa memulainya nyonya."
"Baiklah dokter terima kasih."
"Ya sama sama."dokter pun berlalu menuju ke ruangannya.
Mala masuk ke dalam kamar, Devan sudah terlelap.
Wajahnya sudah terlihat pucat dan kelelahan.
Air mata Mala kembali menetes,memandang wajah Devan dengan sendu.
"Bertahanlah nak,ada mama disini yang selalu menemanimu."
Keesokkan paginya para dokter mulai sibuk mengurus Devan dalam proses kemoterapi untukknya.
Mala dan Kenny hanya bisa menunggu di luar ruangan.Membiarkan para ddokter melakukan tugasnya.
Sesekali Mala menyeka air matanya,dia tak sanggup lagi menahan sesak di dadanya.Memikirkan kesakitan yang dijalani oleh putranya.
Proses kemoterapi Devan berjalan dengan lancar.Devan dipindahkan kembali ke ruangannya.
"Tuan dan nyonya proses kemoterapi Devan sudah selesai kita hanya bisa menunggu hasilnya dengan melihat perkembangan kesehatan Devan setiap harinya."
Mala dan Kenny masuk ke dalam ruangan Devan.
Anak itu terlelap dalam tidurnya,Mala enggan untuk mengganngunya dan lebih memilih duduk di sofa sambil menunggu Devan kembali bangun.
Kenny masih setia menemani Mala,meski pun Mala sudah tak mau banyak berbicara lagi padanya.Karena kelelahan Mala lebih memilih banyak diam.
ππππ
Rangkaian kemoterapi tidak membawa perubahan pada tubuh Devan.
Saat ini tubuh Devan semakin kurus,dan kehilangan selera makannya.
"Bagaimana ini Kenny,mengapa Devan nggak ingin makan?"
Kenny belum sempat menjawab,seorang perawat datang menghampiri mereka berdua.
"Nyonya Mala dan tuan Kenny?"
Seorang perawat datang menghampiri Kenny dan Mala yang masih duduk di sofa sambil menunggu Devan bangun dari tidurnya.
"Iya sus,ada apa?"
"Tuan dan nyonya diminta untuk menemui dokter di ruangannya."
"Baiklah sus,"
Kenny dan Mala. melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter.
Tok tok tok
"Masuk"
Dokter memanggil kami?" Kenny dan Mala masuk dan menghampiri dokter."
"Iya ,saya memanggil kalian,duduklah kemari."pinta sang dokter pada keduanya.
"Tuan,nyonya kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuahan putra anda."
"Apa maksudmu dokter?"
Mala semakin takut.
Namun Kenny menggenggam tangannya sebagai kekuatan untuk Mala.
"Kami para dokter ingin menyarankan proses operasi sum sum tulang belakang untuk putra anda.Apa anda setuju?"
"Asalkan proses itu untuk kesembuhan putraku aku menyetujuinya dok."ujar Mala mantap.Dia yakin akan ada kesembuhan untuk putranya.
"Namun di rumah sakit ini,belum ada pendonor yang cocok untuk putra anda."
"Lalu kami harus bagaimana dok?"
"Biasanya pendonor adalah dari hubungan keluarga,"
"Jika nggak berkeberatan tuan atau pun nyonya bisa diperiksa apakah cocok atau tidak."
__ADS_1
Mala dan Kenny saling memandang wajah mereka satu sama lain.