
Bab 57
Lima tahun berlalu,peternakkan dan perkebunan yang dikelola Mala berkembang pesat.
"Terima kasih,Bimo tanpa bimbinganmu aku pasti nggak bisa sampai seperti ini."
"Jangan berterima kasih padaku Mala,tapi berterima kasihlah pada dirimu sendiri.Yang sudah mau bekerja keras,dan selalu berusaha mempelajari semua yang belum kamu ketahui."
Mala sangat senang dengan pencaoaiannya saat ini.
Semua yang dia lakukan selama ini akhirnya berbuah manis.
Mala meneteskan air mata bahagia,baginya semua yang dia lakukan karena semangatnya.
Karena cintanya kepada Devan dan perdulinya pada Kenny.
Mama Laurent sungguh mengasihi Mala,sehingga dia tak ingin berpisah dengan Mala.
Dan mama Laurent bisa dengan tenang menghabiskan masa tuanya bersama Mala.
Meskipun dua tahun yang lalu Hector sudah menikah dengan Jasmine.Namun mama Laurent menginginkan mereka tinggal di rumah mewah yang dibelinya di tempat yang agak jauh dari rumah mama Laurent sendiri.
Bukan tanpa alasan mama Laurent melakukannya,setelah dia mengetahuipenyebab kepala Mala terluka di hari pertamanya bekerja di peternakkan.
"Selamat ya sayang,kamu sudah berhasil dengan bisnismu.Mama bangga denganmu sayang."
Mama Laurent memeluk Mala di acara peresmian perusahaan baru milik Mala yang baru dibangunnya.
Hector juga turut membantu semua yang dibutuhkan Mala dalam merintis bisnis yang baru dia mulai.
Dalam hati Hector memuji keuletan Mala dalam bekerja.Hector juga mengikuti saran mama Laurent,agar mereka bisa tinggal terpisah.Agar Jasmine tak melakukan hal hal yang mungkin bisa mencelakai Mala.
Dan terbukti,setelah menikah Jasmine sudah tak pernah mengganggu Mala lagi.Karena tempat kerja Hector dan Mala berbeda dan berjauhan.
Dengan begitu Mala bis tenang dan fokus belajar bersama dengan Bimo.
Pesta peresmian yang sangat meriah.Di tengah tengah acara Jasmine masuk ke tempat acara mereka.
Wajah Mala menjadi sedikit tegang.Bimo menggenggam tangan Mala dan mereka saling memandang.Pandangan Bimo seakan menjelaskan bahwa aku disini jangan takut,semua akan baik baik saja.
Walau tak bersuara namun Mala mengerti arti pandangan Bimo.
Jasmine semakin mendekat,Mama Laurent sudah memasang wajah galaknya.Bersiap mungkin saja Jasmine akan melakukan tindakan bar barnya lagi.
Akan tetapi suatu keajaiban terjadi,di hari yang indah ini.
Jasmine sudah berada di hadapan Mala.
"Mala,maafkan aku yah.Selama ini aku sudah berburuk sangka denganmu.Kini aku sudah yakin bahwa cinta Hector hanya untukku."
Mala terkejut dengan permintaan maaf Jasmine,yang secara tiba tiba.Mala tak bisa menjawabnya namun dia hanya bisa memeluk Jasmine.
"Aku sudah memafkanmun sejak dulu,Jasmine."Mala memeluk jasmine dengan penuh kehangatan.
Mala tak pernah dendam dengan siapa pun.Jadi dia menerima permintaan maaf Jasmine tanpa syarat.
"Benarkah?apa kini aku bisa menjadi temanmu?"
"Tentu kita akan berteman."
Mala dan Jasmine saling berpelukkan.
Akhirnya mama Laurent dan Hector bisa bernapas lega.Jasmine kini telah berubah menjadi orang yang baik.
Semoga saja akan menjadi seperti itu selamanya.
Dan pesta pun berlanjut denagn kemeriahan yang membuat semuanya merasa bahagia.
Acara dilanjutkan dengan musik yang menggelegar di seluruh ruangan.Membuat semua undangan yang hadir larut dalam kemeriahan pesta yang sangat ramai malam ini.
Mama Laurent menatap mereka semuanya dengan penuh cinta.
"Tuhan,semoga seumur hidupku akan selalu melihat kebahagian dari anak anakku saat ini."doanya dalam hati.^_^
ππππ
Pukul 05.00 pagi mama Laurent sudah bangun dari tidurnya.Dia sangat bersemangat setiap hari menyiapkan sarapan untuk Mala jika dia ingin pergi bekerja.
Mata mama Laurent terasa berkunang kunang.Dia merasa bumi yang dipijaknya berputar putar tak henti.
Buukkkhhhh
Mama Laurent terjatuh terguling dari tangga saat dia ingin turun ke lantai bawah membuat sarapan.
"NYONYAAA..."
Teriakkan seorang pelayan mengagetkan orang seisi rumah.
Mereka semua segera melihat apa yang terjadi.
"Mama.."
Mala yang baru saja terbangun oleh karena suara gaduh dari arah lantai bawah melihat tubuh mama Laurent yang sudah tak sadarkan diri.Dan kepalanya mengeluarkan banyak darah.
"Seseorang cepat angkat mama sekarang,kita antarkan ke rumah sakit."
Mala masih memakai piama belum sempat berganti pakaian.
Seorang pelayan memanggil sopir dan mengangkat tubuh mama Laurent menuju mobil.Dan segera melarikan mama Laurent menuju ke rumah sakit ditemani oleh Mala.
"Mama,Mala mohon bangunlah ma,"
Mala menepuk nepuk pipi mama Laurent berharap dia cepat sadar dan baik baik saja.
Namun tubuh mama Laurent sudah tak bergerak sama sekali.
Mala semakin panik.
"Cepat pak,kita harus segera sampai di rumah sakit."pak sopirnya hanya menganggukkan kepalanya.
Mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di rumah sakit.
Para dokter segera mengurus mama Laurent dan memeberi tindakkan secepatnya.
Mala yang merasa khawatir hanya bisa menangis.
Sakit dan sesak di dalam dada melihat orang yang begitu dikasihinya menderita sakit.
Saking paniknya Mala malah lupa untuk membawa ponselnya.Yang ada di dalam pikirannya tadi hanya bisa secepatnya mengantar mama Laurent menuju rumah sakit .
Satu jam di tangani oleh para dokter,Mama Laurent belum juga dipindahkan ke ruangan lain.Mala tetap setia menunggu mama Laurent di tangani oleh para dokter.
__ADS_1
"Bagaimana kedaan mama saya dok?"
"Maafkan kami nona,kami akan berusaha semaksimal mungkin.Dan masih menunggu serta ingin memastikan luka nyonya Laurent tidak sampai fatal."
"Maksud dokter?"
"Kemungkinan besar luka nyonya Laurent,membuat pembuluh darah di otaknya pecah."
"Dan itu tidak bagus untuk nyonya Laurent,bisa saja saat dia sadar dia akan stroke.Dan kemungkinan terburuknya adalah dia kehilangan nyawanya.Namun kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menangani nyonya Laurent,agar bisa sembuh."
Mala hanya bisa menangis mendengar penjelasan dari dokter.Dia tak menyangka akan sefatal itu akibatnya.Apa lagi mama Laurent memiliki riwayat penyakit darah tinggi.
Selama ini Mala sudah berusaha menjaga pola makan mama Laurent,namun sialnya hari ini kenapa mama Laurent bisa terjatuh dari tangga?
"Tuhan selamatkan mama Laurent,dia orang baik."Mala tak hentinya berdoa dalam hati memohon semoga ada mujizat bagi mama Laurent.
Pukul 08.00,Hector dan Jasmine serta bibi Magda dan bibi Fransisca datang.
Mereka menghampiri Mala yang sejak tadi menunggu di luar ruang penanganan mama Laurent.
Mala memeluk kedua bibinya,
"Tenanglah nak,semuanya pasti akan baik baik saja."bibi Magda mengelus pundak Mala.
Tapi Mala malah semakin menangis,dia tak sanggup untuk berkata apa pun sekarang.
Tak ada tanda tanda dokter keluar untuk memberitahukan keadan mama Laurent,hingga mereka disana hampir saja melewatkan makan siang.
Jasmine berinisiatif untuk mengajak mereka untuk bergantian berjaga,sementara yang lainnya ikut dengannya untuk makan siang.
"Sebaiknya bibi pulanglah ke rumah,beristirahatlah dulu.Ini sangat melelahkan bagi fisik kalian yang sudah tua."
Setelah makan siang di kantin rumah sakit,Jasmine meminta bibi Magda dan Fransisca untuk kembali ke rumah dan beristirahat.
Mengingat fisik kedua orang tua dihadapannya juga lemah karena sering sakit sakitan.
Jasmine meminta Hector untuk mengantar mereka pulang.
"Tolong antarkan mereka kembali ke rumah,jangan sampai karena kelelahan mereka akan jatuh sakit lagi."
Hector mengiyakan usul Jasmine dan mengantar mereka kembali ke rumah.
Sementara Jasmine kembali menemani Mala yang masih duduk di koridor rumah sakit menunggu sampai mama Laurent bisa di jenguk oleh keluarganya .
"Kamu pergilah makan dulu,Mala."Jasmine duduk di samping Mala,dia memegang kedua tangan Mala.
Mala hanya menggelengkan kepala,dia tak punya selera makan di saat seperti ini.
Hector sudah kembali lagi ke rumah sakit dan menghampiri Jasmine dan Mala.
Mereka bersama sama menunggu dengan perasaan yang berkelut di hati masing masing.
Pukul 18.00,seorang dokter keluar dari ruang penanganan mama Laurent.
Mala,Jasmine dan Hector serempak berdiri menghampiri dokter.
"DOKTER.."
Mereka berharap ada harapan yang dibawa oleh sang dokter.
Namun dokter itu hanya menatap ketiganya dengan wajah ditekuk.
"Maafkan kami tuan,nyonya.."
Dokter itu pun berlalu meninggalkan ketiganya yang masih diam,dan belum bisa mencerna arti kata kata dokter barusan.
Untuk sekian menit Mala hanya bisa terpaku dan tubuhnya luruh di atas lantai.
"MAMA..."
Mala berteriak histeris,dia tak menyangka mama Laurent akan pergi meninggalkannya juga.
"Kenapa kau juga pergi meninggalkan aku mama,sudah Devan juga Kenny.Lalu kenapa kau juga tega padaku mama.."
Disela tangisnya Mala terus menjerit memanggil nama mama Laurent.
Sementara para dokter mulai mengurus jenasah mama Laurent.
ππππ
Tiga minggu berlalu Mala hanya diam di dalam kamarnya.Dia tak bisa melakukan apa pun.Semangatnya sudah hilang entah kemana.
Satu per satu orang yang dia kasihi pergi meninggalkannya.
Rasa sedih yang mendalam di hatinya tidak ada yang mampu untuk menghiburnya
Mata Mala memandang jauh ke luar jendela.
Tok tok tok
"Boleh aku masuk?"
Tanpa menunggu jawaban Bimo langsung masuk ke dalam kamar Mala.
Bimo menggeleng kepala melihat Mala yang hanya uring uringan di dalam kamar selama ini.
"Apa kamu akan terus seperti ini?"
Kamu udah seperti mayat hidup kalau kamu terus terusan diam di dalam kamar Mala.
Hidup,tapi jiwamu entah pergi kemana."
Mala diam dan tak menanggapi perkataan Bimo.Meski dia mendengarnya namun dia enggan menjawabnya.
"Mala,jangan terlalu larut dalam kesedihanmu.Ingat masih banyak yang membutuhkanmu."
"Siapa yang membutuhkannku,Bimo?Jika mereka semua telah pergi meninggalkan aku sendiri.Nggak ada yang membutuhkan aku sekarang."
Mala akhirnya bersuara,sebab dia sudah tak bisa menahan rasa sesak di dalam hatinya.
Mala menangis lagi,bayangan Devan,Kenny dan mama Laurent yang ada di dalam pikirannya.
Membuat dia semakin merasa terpuruk sendirian.
"Aku telah kehilangan semuanya Bimo.Putraku satu satunya,lalu Kenny juga pergi karena ingin menyelamatkan aku,sekarang mama Laurent.Aku sendirian sekarang."
Mala menangis terisak isak dalam tangisnya dia menumpahkan semua kepedihan di dalam hatinya.
Dia tak bisa lagi menahan sakit ditinggalkan oleh orang orang yang dia sayangi.
"Sudahlah Mala,yang sudah lalu biarlah akan menjadi masa lalu untukmu.Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menata masa depanmu."
__ADS_1
Bimo menepuk pelan pundak Mala yang masih menangis sesegukkan.
"Nggak ada yang melaramgmu untuk melupakam masa lalumu.Tapi jangan hidup di dalam masa lalumu.Kamu harus meneruskan perjalananmu dengan lebih semangat lagi.Sambil mendoakan mereka yang sudah berpulang.
Di sana mereka juga sedang bersedih melihatmu yang masih belum bisa keluar dari kesedihanmu.Mereka menginginkan kamu bahagia,agar jalan mereka menuju ke surga dipermudahkan oleh doa darimu.Air mata nggak berguna bagi mereka,namun jika kamu mendoakan mereka,mereka akan mendapatkan kebahagiaan,dan kamu mendapatkan ketenangan di dalam hatimu.Dan kamu pasti bisa melewatinya kan demi mereka."
Dengan lembut perkataan Bimo menggugah hati Mala.
Mala menatap wajah Bimo,matanya masih sembab oleh air mata yang tak pernah berhenti mengalir.
"Percayalah padaku Mala,mereka menginginkan kamu untuk bahagia."
Sekali lagi Bimo meyakinkan Mala.
"Aku tahu dan juga turut merasakannya,ini memang nggak mudah bagimu.Tapi aku yakin kamu pasti bisa Mala."
Mala hanya memandang Bimo,
"Apa aku bisa berjalan tanpa pegangan lagi Bimo?"
Air mata Mala semakin deras mengalir.
"Asalkan kau terus berjalan dan melangkah maju,Mala.Walau pun saat ini nggak ada yang memegang tanganmu.Tapi tetaplah percaya suatu saat Tuhan akan memberimu sepasang tangan yang bisa menuntunmu ke jalan kebahagiaan untukmu."
"Terima kasih,Bimo."
"Tentu Mala karena kita adalah teman maka kita wajib untuk saling menguatkan."
"Sekarang lihatlah keluarjendela."
Mala menuruti perkataan Bimo.
"Tutuplah matamu,"
Mala menutup matanya.
"Sekarang bayangkanlah mereka yang kini kau rindukan ada di hadapannmu."
"Tersenyumlah pada mereka,dan katakan kamu telah relakan mereka untuk bahagia di sana."Bimo berbisik pelan di belakang Mala.
Mala ragu,akan tetapi dia mau juga untuk melakukannya.
"Apa kau melihat mereka juga tersenyum untukmu bukan?"
Mala mengangguk,dia benar benar sedang melihat ketiga orang yang dikasihinya tersenyum bahagia ke arahnya dalam bayangannya.
"Dan sekarang katakan selamat tinggal pada mereka."
Tapi Mala menggeleng,dia masih menutup matanya.
Bimo memegang pundak Mala dengan kuat.
"Lakukan Mala,jika tidak mereka nggak akan bisa pergi."
Lama Mala terdiam dan akhirnya dia melakukannya.
Dalam bayanganya,akhirnya ketiga orang itu pun pergi dan melambaikan tangan padanya lalu menghilang bersama asap yang meliputi mereka.
Mala jatuh ke lantai,dan tak sadarkan diri.
Ternyata dari tadi Hector dan Jasmine mendengar percakapan mereka berdua.Tapi mereka hanya berdiri di balik pintu sambil mendengar Bimo berusaha membuat Mala kembali tersadar dari kerapuhannya.
Gegas mereka berdua langsung masuk dan membantu Mala,mengangkat tubunya lalu membaringkannya ke tempat tidur.
Jasmine menelpon dokter keluarga mereka,agar segera datang ke rumah sekarang juga.
Bibi Magda dan bibi Fransica tak kalah panik melihat kondisi Mala selama ini.
Selain Mala hanya duduk dan diam dalam kamarnya dia juga tak mau makan.
Bibi Magda lalu menelpon Hector ,agar Hector mencari bantuan seseorang untuk menghibur Mala.
Tapi yang Hector tahu,hanya Bimo yang selalu bisa membuat Mala tersenyum dan tertawa.Maka dari itulah hari ini Bimo datang menjenguk Mala.
Dokter yang ditunggu telah tiba.
Setelah memeriksa dan memberikan resep obat untuk Mala.
"Bagaimana keadaan Mala dok?"
"Sepertinya dia cuma kelelahan dan masih shock dengan kepergian nyonya Laurent.
Jadi tolong beri dia semangat setiap hari selain meminum obat dukungan orang orang terdekat yang bisa membantunya untuk sembuh."
"Baiklah kalau begitu dokter,terima kasih."
"Saya pamit dulu,jangan lupa obatnya nanti untuk diberikan padanya untuk diminum.
Dokter keluar dari kediaman Gerardo.
πΌπΌπΌ
"Bibi,aku dan Jasmine ingin pulang ke rumah."
Hector bersiap pulang bersama Jasmine,sementara Bimo masih menunggui Mala yang belum sadarkan diri sejak tadi.
"Tunggulah nak,sedikit lagi makan malam akan siap kalian makanlah dulu."
"Besok kami akan kembali lagi ke sini bibi.Tapi sekarang Hector masih mempunyai urusan dengan klien nya."
"Baiklah kalau begitu.Bibi akan bergantian menjaga Mala bersama bibi Fransisca."
Hector dan Jasmine meninggalkan kediaman Gerardo.
"Kasihan sekali nasib Mala."
Dalam mobil Jasmine membayangkan penderitaan Mala selama ini yang dipendamnya sendirian.
Kehilangan orang orang yang dikasihinya,namun dia pandai menyembunyikan kesedihan di dalam hatinya.
Hector hanya diam tak menanggapi kata kata Jasmine.Namun dalam hatinya ada rasa iba untuk Mala.
"Pak supir,antarkan kami menuju restoran tempat aku akan bertemu klienku."
"Baik tuan."
Sopir itu pun melajukkan mobil menuju tempat Tuan Hector melakukan perjamuan bisnis dengan para koleganya.
Tuan Hector turun dari mobil mewahnya.
"Antarkan nyonya langsung ke rumah."perintahnya lagi pada sang sopir.
__ADS_1
"Baik tuan."