
Pertunangan yang tak diinginkan tuan muda
Pagi pagi sekali, aku bersama nona Margareth berangkat ke kota. Aku sebenarnya tidak tau apa tujuan kami ke kota. Hanya diberitahu kepadaku, ingin membeli keperluan pertunangan kami. Tuan Cristian tidak ikut bersama kami.
Syukurlah kalau tuan Cristian tidak ikut, kalau dia ikut semakin canggung jadinya dengan semua gerak gerik ku. Aku juga bingung dengan perasaanku, mau bertunangan tapi aku tak tahu perasaanku padanya. Begitu juga perasaannya padaku.
Jika saja memungkinkan aku bisa menolak keinginan tuan besar padaku. Tapi dengan bujukan nona Margareth aku bisa apa, dengan alasan kesehatan kakek dan neneknya. Semoga saja bisa berjalan sesuai rencana. Aku hanya bisa pasrah menerima perjodohan ini.
"Kita udah sampai." Senyum nona Margareth kepadaku.Seumur umur aku belum pernah datang kemari.
Sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar di tengah kota yang kami datangi ini.
"Ayo masuk " Nina Margareth menggenggam tanganku dan menggandengku masuk.
Ternyata di dalam sebuah toko kami sudah ditunggu. Nona Margareth langsung menyuruhku mencoba sebuah kebaya yang sudah dipesannya jauh jauh hari.
"Wahhh, luar biasa Mala. Aku nggak nyangka lho kamu secantik ini, apalagi kalau sudah didandani besok. Adikku pasti langsung jatuh cinta padamu." Tak ada habisnya nona Margareth menggodaku.
Dan setelah ini kami hanya tinggal mengambil keperluan kami yang ternyata sudah dipesan oleh nona Margareth di toko toko yang berbeda.
Mulai dari perhiasan, sepatu dan alat alat make up. Nona Margareth tak melewatkan sekecil apa pun keperluan yang sudah ada dalam daftarnya.
Tak terasa, waktu terus berlalu cepat. Hingga kami melewatkan jam makan siang kami.
"Ayok kita makan dulu." Aku diajaknya ke sebuah restoran mahal.
Setelah pelayan datang, nona Margareth bertanya , "Mala mau pesan apa?"
Aku yang masih bingung dan tak tau apa pun cara makan dalam restoran ini, cuma memandang nona Margareth. Apalagi daftar menu yang disodorkan kepadaku. Aku sama sekali tak mengenal satu pun makanan ini. Sepertinya nona Margareth tau kebingunganku.
"Ya udah aku pesannya samain ajak kayak aku ya mbak." Ujarnya pada pelayan tadi.
Pelayan tadi pun mengangguk dan berlalu mengambil pesanan kami.
"Kamu harus mulai membiasakan diri mulai sekarang yah, dengan kebiasaan kebiasaan kami. Jangan sungkan untuk bertanya padaku." Nona Margareth begitu sangat peduli padaku dia masih seperti mbak Ningsih bagiku.
"Nona, apa lebih baik perjodohan ini dibatalkan saja yah."
__ADS_1
"Kok kamu bilang begitu sih Mala?"
"Bukan aku ingin mengabaikan keinginan tuan dan nyonya besar non, tapi rasanya perjodohan ini sungguh membuat saya dan tuan Cristian menjadi canggung."
"Tuan Cristian adalah cucu pewaris tunggal perusahaan tuan dan nyonya mana mungkin dia mau dijodohkan dengan saya perempuan desa ini nona." Aku mencoba mengutarakan isi hatiku pada nona Margareth.
Sebenarnya aku merasa tidak enak dengan tuan Cristian, sepertinya dia keberatan dengan perjodohan ini. Aku pun terpaksa melakukan ini agar bisa membalas budi baik tuan dan nyonya besar padaku. Nona Margareth hanya tersenyum menanggapi semua keluhan ku.
"Mala sayang, aku kakek dan nenek sudah merencanakan ini sejak lama."
"Ada alasan kuat, yang begitu mendasari kami untuk menjodohkan Cristian denganmu, yang sekarang belum bisa kami beritahukan padamu." Suatu saat pasti kamu akan mengetahuinya, bukan sekarang."
"Dan kami pun menjodohkan kalian dengan banyak pertimbangan."
"Tolong jangan menolak perjodohan ini yah, kakek dan nenekku menaruh harapan besar dalam perjodohan ini padamu."
*****
Malam ini dalam kamar ku.
Aku di dandan sedemikian rupa oleh MUA yang sudah di panggil khusus oleh nona Margareth. Tak terasa air mataku membasahi pipi ini. Ada rasa sesak di dada, saat melakukan pertunangan yang terpaksa.
sejak pagi tadi aku sudah menghubungi ibu dan bapak di kampung, memberitahukan pada mereka kalau aku akan bertunangan malam ini. Namun sayang keduanya tak bisa hadir katanya.
"Sudah siap."Mbak yang merias aku dari tadi melihat hasilnya di cermin, dan tersenyum puas memandang wajahku yang sudah berhasil menjadi bukan diriku lagi.
"Cantik sekali." Gumamnya..
Nona Margareth yang baru masuk pun, sedikit terkejut melihat hasil riasan ku malam ini. Sambil menutup mulutnya, tak henti-hentinya dia memujiku.
Sampai bik Inah datang kemari, tak henti -hentinya juga memuji penampilanku malam ini. Bik Inah menyuruh kami segera keluar, menuju halaman peternakan yang disulap menjadi tempat pesta yang begitu mewah bagi kami malam ini.
Aku dituntun Nona Margareth dan bik Inah menuju pelaminan, di sana duduk seorang pria tampan, namun sayang tak ada senyum yang terpancar dari wajahnya.
Saat langkahku sudah mendekati tempat kami akan duduk tuan Cristian sama sekali tidak berhenti menatapku. Tatapan matanya begitu berbeda malam ini padaku. Sampai nona Margareth mencubit lengannya. Tersentak kaget, lalu mengalihkan pandangannya. Nona Margareth tersenyum senang melihat tingkah adiknya.
Aku hanya tertunduk, malu bercampur aduk dengan rasa takut. Para undangan dari kalangan keluarga tuan besar turut hadir. Tampak asing bagiku. Tuan besar dan nyonya duduk bersebelahan dengan tuan Cristian. Dibelakangnya ada nona Margareth dan pihak keluarga lainnya.
__ADS_1
Sementara aku duduk berhadapan dengan mereka. Gugup bercampur sedih kulihat keluarga tuan besar sangat lengkap. Sedangkan aku, kedua kursi di sebelahku terlihat kosong. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh dua sosok yang sangat kukenal, duduk di sisi kiri dan kananku. Aku tak bisa menahan haru,air mata yang sejak tadi ku tahan mengalir deras.
Tak kuasa aku menahan rindu pada kedua orang yang begitu ku sayangi di dunia ini. Aku memeluk mereka erat. Kulihat tuan dan nyonya besar tersenyum, nona Margareth mengacungkan jempolnya mengarah padaku. Aku hanya bisa berbisik terima kasih, telah membawa bapak dan ibu kemari.
Selanjutnya proses pertunangan dimulai. Saat tetua adat meminta menyematkan cincin di jariku. Nyonya besar datang kepadaku menyematkan cincinnya pada jari manis ku. Tapi reaksi tuan Cristian biasa saja. Kebencian yang terpancar di wajahnya kembali sungguh sangat jelas terlihat.
Bahkan saat para tamu di jamu makan malam, tuan Cristian meninggalkan tempat acara ini. Memilih masuk ke dalam rumah. Tak di perdulikanya para tamu undangan, sekedar menyapa mereka pun tidak ingin dia lakukan.
Ah sudahlah aku tak memperdulikannya, asalkan bapak dan ibu sekarang berada disini aku sungguh sangat senang. Dan mengajak mereka untuk mengambil makanan yang sudah tersedia bagi para tamu undangan.
"Gimana kejutannya Mala, apakah kamu suka?"
nona Margareth datang menghampiri kami bersama tuan dan nyonya besar.
"Terima kasih, nona aku sungguh sangat suka. Tak ku sangka nona tahu yang kurasa dalam hati ini."
"Berterima kasihlah pada kakek dan nenek, Mala. Karena mereka yang berinisiatif mendatangkan kedua orang tuamu kemari."
"Terima kasih tuan, dan nyonya."
"Cukup Mala, jangan panggil tuan atau pun nyonya lagi, tapi panggil kami dengan sebutan kakek dan nenek."
"Tapi tuan,,"
"Sudahlah jangan kamu pikirkan tentang kelakuan cucuku pada saat ini. Akan ada waktunya dia akan membuka hatinya untukmu."
"Kakek dan nenek meminta tolong, agar kamu mau bersabar menghadapi kelakuan cucu kami."
"Baik tuan, saya akan mengikuti apa keinginan tuan dan nyonya, tapi saya tidak bisa berjanji saya bisa melakukannya."
"Aku dan istriku percaya padamu Mala,.."
***
Malam semakin larut, satu persatu para undangan pun pulang ke kediaman mereka masing-masing.
"Mala, antar kan bapak dan ibumu ke kamar tamu. Biarkan mereka beristirahat dulu. Besok kamu bisa melepaskan kangen mu pada mereka. Sebab mereka akan berada disini selama seminggu ke depan."
__ADS_1
"Mari bapak,bu..Mala antar kan ke kamar kalian." Aku menggandeng kedua orang tuaku masuk menuju kamar mereka agar mereka bisa beristirahat."