Cinta Gadis Buta Huruf

Cinta Gadis Buta Huruf
Terjebak


__ADS_3

• Bab 65


Mala tak fokus melakukan pekerjaannya. Bimo bisa melihat itu dari gelagatnya sejak tadi. Tubuh Mala ada di hadapannya, namun Bimo yakin pikirannya entah kemana. Bimo hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.


‘’Jika kamu merasa nggak enak badan aku bisa mengantarmu pulang Mala.’’


‘’Aku nggak apa apa Bimo, aku hanya merasa sesuatu sedang mengganjal pikiranku.’’


‘’Apa itu tentang kamu akan bertemu dengan nenek dari mantan suami kamu?”


‘’Entahlah tapi aku merasa akan menjadi lemah di hadapan mereka nanti.’’


‘’Aku pikir lebih baik kamu mendengar kata hatimu, apa yang ada di dalam hatimu itulah yang kamu ikuti.’’


‘’ Ya Bimo aku pikir kamu benar.’’


Kedunya lalu melamjutkan pekerjaan mereka hingga akhirnya tak terasa jam di dinding menunjukkan waktu untuk kembali ke rumah.


‘’Apa kamu yakin kamu bisa sendiri Mala. Biarkan aku ikut mengantarkan kamu juga.’’


‘’Tak usah Bimo, aku bisa pergi sendiri. Jika terjadi sesuatu aku bisa segera menghubungimu.’’


‘’Baiklah, aku mempercayaimu. Segera menghubungi aku jika terjadi sesuatu padamu.’’


Mala hanya tersenyum melihat kekhawatiran Bimo. Sudah seperti perhatian seorang kakak yang tak pernah dia rasakan.


Mobil Bimo pun berlalu, dan Mala mengambil ponsel dari dalam tas yang sedang dia jinjing. Segera menghubungi nomor kak Margareth yang pagi tadi sudah menghubunginya.


‘’Halo kak, aku sudah selesai bekerja.’’


‘’Kami di rumah nenek saat ini Mala. Apa perlu aku menyuruh pak Parman untuk menjemputmu?”


“Nggak usah kak, aku bisa naik taksi.’’


‘’Baiklah kalau begitu, aku dan nenek menunggumu.’’


Mala menghela napas panjang dan mencoba menghentikan taksi menuju ke kediaman Adiwijaya.


Empat puluh lima menit perjalanan, taksi yang Mala tumpangi telah tiba di kediaman Adiwijaya. Rumah besar dan juga mewah ini terlihat sepi, seperti tak ada penghuninya. Sudah lima tahun lamanya dia tak datang kemari.


Bayangan Mala kembali ke lima tahun yang lalu. Tepat di depan pintu rumah mewah ini dia datang dengan segala penghrapannya. Beharap Cristian menaruh belas kasihan padanya, mau mendengar penjelasannya. Jika saja waktu itu Cristian mau lima menit saja memberi waktu padanya, untuk menjelaskan semuanya tetang Devan, mungkin saat ini Devan sudah tumbuh besar.


Dan bahagia bersama dengannya.


AAAAArrrggghhhhh


Batin Mala menjerit, ingin sekali dia berlari meninggalkan rumah ini. Tapi dalam hatinya dia sadar jika cinta nyonya Elisabeth dan nona Margareth padanya sungguh luar bisa. Mala tak ingin di cap sebagai orang yang tak mengenal budi baik orang lain terhadapnya. Meski rasa sesak di dalam hatinya semakin menusuk. Masih terngiang jelas di ingatannya, betapa penolakan Cristian sangat menyakitinya, bahkan hingga saat ini.


Mala menghapus sebulir air mata yang menetes di pipinya. Mencoba kuat dan berusaha menetralkan suasana hatinya. Bagaimana pun dia tak ingin terlihat rapuh di hadapan nenek dan nona Margareth nanti. Mala meraih bel di depan pintu rumah ini dan menekannya. Bunyi bel rumah ini yang akan memanggil penghuni rumah ini untuk segera membuka pintunya. Namun beberapa kali bel rumah ini ditekan, tak ada tanda seorang pun mau membuka pintu rumah ini.


‘’Dimana mereka, kenapa lama sekali membuka pintunya.’’ Mala sudah tak sabar dan terus menekan bel rumah ini . Tapi tetap saja pintu rumah ini tak kunjung dibuka oleh pemiliknya.


‘’Non Mala.’’ Seseorang memanggil namanya, dan Mala lalu menoleh ke arah sumber suara.


‘’Eh Pak Parman.’’


‘’Nyonya besar meminta saya menjemput nona, saat ini mereka sedang menunggu di sebuah tempat yang sudah mereka siapkan.’’


Pak Parman masih sama seperti dulu, masih sangat sopan bila berbicara dengan siapa pun.


‘’Tapi pak, tadi nenek bilang mereka sedang menungguku di rumah.’’


‘’Maaf non, sepertinya mereka mengubah rencana mereka. Dan meminta saya untuk menjemput nona kemari.’’


‘’Baiklah kalau begitu.’’ Akhirnya Mala memutuskan mengikuti pak Parman, lalu naik mobil bersamanya.


Mala hanya mengikuti kemana tujuan mobil pak Parman akan membawanya. Tiga puluh menit perjalanan, mobil mereka berhenti di area parkir sebuah retoran mewah. Mala masuk ke dalam restoran, melihat ke sekeliling tempat itu, tak ada tanda tanda jika nyonya Elisabeth dan nona Margareth berada di sana.


Saat Mala ingin membalikkan tubuhnya menuju ke tempat parkir, mencari pak Parman. Mungkin saja Pak Parman mengantarnya ke tempat yang salah.


BUUUKKHHH...


Tanpa sengaja Mala menubruk tubuh seseorang. ‘’Maaf, tuan saya ..’’ Mala menengadahkan kepalanya ke atas, ingin melihat wajah orang yang baru saja di tubruknya , dan berniat meminta maaf padanya.


Wajah Mala seketika berubah menjadi merah, melihat siapa pria yang baru saja ditubruknya tanpa sengaja. Mala memalingkan wajahnya saat pria di hadapannya menatap matanya dengan penuh rasa bersalah. Mala benci itu, dia tak ingin menatap wajah itu terlalu lama.


‘’Mala.’’


Mala memalingkan wajahnya, dan memilih meninggalkan restoran itu. Dia ingin segera menghampiri pak Parman dan menanyakan keberadaan nyonya Elisabeth dan nona Margareth.


‘’ Apa kamu sedang mencari nenek?’’ Mala masih tak ingin menanggapi perkataan Cristian yang sudah mencekal lengannya.


‘’Lepaskan tanganku, Crist.’’


‘’ Aku nggak akan lepaskan, sebelum kamu masuk dan duduk bersamaku di dalam.’’


‘’Aku nggak mau.’’ Mala berusaha untuk menghindari Cristian yang sudah menggenggam tangannya dengan erat. Cristian menuntun Mala menuju sebuah ruangan privat. Begitu masuk ke ruangan itu, sepertinya seseorang menutup pintu ruangan itu dari luar. Mungkin Cristian mengatur tempat ini agar bisa mengobrol hanya berdua dengan Mala tanpa ada gangguan orang lain.


Sebenarnya Cristian dan nona Margareth sudah merencanakan ini. Karena nyonya Elisabeth ingin memberi kesempatan pada Cristian untuk meminta maaf pada Mala. Dan mencoba untuk mendekatkan mereka kembali, seperti yang dulu lagi.


“Apa yang ingin kamu lakukan Crist?’’


Cristian lalu menuntun Mala menuju meja yang berada di tengah ruangan ini. Meja yang sudah ditata dengan mewah, sepertinya ini sudah di rencanakan oleh Cristian pikir Mala dalam hatinya. Karena sejak tadi dia tak melihat keberadaan nenek dan nona Margareth di sini.


Cristian mengambil sebuket mawar merah, dan memberikannya pada Mala.


‘’Mala, terimalah bunga ini untukmu. Aku ingin memintaa maaf padamu untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan untukmu. Aku sungguh sangat menyesal sekali dengan perlakuan buruk ku di masa lalu. Ijinkanlah aku mendapatkan maaf darimu, dan berusaha untuk memperbaiki keslahannku dengan berdiri di sampingmu untuk selamanya Mala.’’


Cristian berlutut di hadapan Mala dan mengungkapkan seluruh penyesalan di dalam hatinya. Benar benar merasa bersalah dengan segala perbuatanya di masa lalunya dulu.

__ADS_1


Mala menggelengkan kepalanya tak percaya apa yang baru saja di dengarnya. Sungguh dia tak menyangka bgaimana bisa Cristian baru berpikir meminta maaf padanya setelah selama ini berjumpa dengannya baik secara sengaja maupun tak sengaja. Mala mendorong keras tubuh Cristian hingga dia jatuh ke lantai.


‘’Apa yang kamu lakukan Mala?’’ Cristian begitu kaget dengan reaksi Mala , yang tak seperti apa yang dia pikirkan.


‘’Kamu pikir dengan permintaan maaf mu Devan akan kembali padaku? Kamu pikir dengan permintaan maaf mu, kamu bisa menghilangkan rasa sakit di dalam hatiku.


Setelah semua perlakuan burukmu terhadapku. Aku kehilangan putraku Cristian!’’ Mala berteriak keras di depan wajah Cristian dengan penuh emosi.


Air matanya kembali luruh membasahi pipinya. Rasa sesak dan kehilangan yang begitu mendalam di hatinya kini kembali menorehkan luka. Mala tak menyangka, butuh waktu selama ini Cristian datang padanya dan meminta maaf padanya.


Cristian tak dapat berbuat apa pun demi untuk menenangkan hati Mala. Mala begitu emosional saat menyebut nama Devan lagi. Itu yang membuat Cristian tersadar, kalau dia telah melakukan kesalahan besar pada Mala. Mala pasti tak semudah itu untuk memafkannya lagi. Cristian mencoba menggenggam tangan Mala, mencoba menenangkan hati Mala. Mencoba menghapus kesedihan di hatinya, tapi dia memilih menghindarinya.


“Mala, aku mohon aku sungguh sangat menyesali perbuatan ku. Sungguh aku tak bermaksud untuk melukai hatimu, ijinkanlah aku untuk memperbaiki kesalahan di masa laluku. Dan ayo kita mulai dari awal lagi.’’


“Nggak aku nggak akan memaafkanmu Cristian, luka di dalam hatiku belum bisa sembuh. Aku mohon padamu jangan memaksakan aku lagi.’’


‘’Mala aku mohon maafkan aku,’’ Cristian terus mendesak Mala dengan terus memohon maaf padanya. Semua perkataan Cristian membuat kepala Mala menjadi sakit, dan dia mulai memegang kepalanya. Mala berteriak histeris tak bisa menanggung beban yang selama ini dia pendam sendirian di dalam hatinya, dan kini luka itu kembali teringat kembali.


Tubuh Mala jatuh ke lantai, dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


‘’Mala.’’ Cristian tak menyangka bahwa dia sedang membuka kembali luka di hati Mala.


‘’Mala, ku mohon bangunlah.’’ Cristian mencoba mengangkat tubuh Mala, dan menyandarkannya di atas kursi.


Pintu ruangan mereka terbuka setelah mendengarkan keributan yang terjadi nyonya Elisabeth dan nona Margareth masuk ke dalam tempat Mala dan Cristian. Ternyata mereka berdua juga turut berada di restoran, dengan rencana jika Mala mau memberi maaf pada Cristian nyonya Elisabeth dan nona Margareth akan bergabung bersama mereka dan menghabiskan makan malam bersama. Nyatanya semuanya yang mereka rencanakan tidak berjalan sempurna.


‘’Crist apa yanng terjadi pada Mala,’’ nyonya Elisabeth terlihat panik melihat Mala yang sudah tak sadarkan diri.


‘’Ayo kita bawa Mala ke rumah sakit aja,’’ ucap nyonya Elisabeth dengan kepanikan yang luar biasa di hatinya.


‘’Nggak usah nek, kita bawa Mala ke rumah aja,’’ Cristian menggendong tubuh Mala menuju ke mobil dan mereka semuanya turut serta pulang ke rumah kediaman keluarga Adiwijaya.


Nyonya Elisabeth mengambil ponsel dari daam tasnya.


‘’ Hallo bik tolong segera bersihkan kamar tamu sekarang juga ya. Kami sedang berada di perjalanan pulang. Dua puluh menit lagi kami tiba di rumah, kamar udah beres yah.’’ Nyonya Elisabeth memerintahkan pelayanya untuk segera menyiapkan kamar tamu untuk Mala, setelah Cristian memutuskan akan membawa Mala menuju ke rumah mereka.


Tak butuh waktu lama, mobil yang di kemudikan oleh pak Parman telah tiba di rumah mewah milik keluarga Adiwijaya. Cristian menggendong tubuh Mala turun dari mobilnya dan membopong tubuh Mala menuju lantai atas ke kamar tamu. Diikuti oleh nyonya Elisabeth dan nona Margareth.


Cristian membaringkan tubuh Mala di atas ranjang yang sudah dibersihkan oleh pelayan tadi. Nyonya Elisabeth mengambil minyak kayu putih dan mulai menggosok nya di tubuh Mala agar dia bisa segera siuman.


Dokter Surya yang sudah dihubungi nona Margareth tiba di depan rumah dan langsung di suruh mengikuti Cristian menuju kamar atas.


‘’Bagaimana dok, keadaan Mala?’’ dokter Surya mulai memeriksa keadaan Mala dengan stetoskopnya.


‘’Sepertinya dia hanya shock tuan, beban dalam hatinya terlalu berat dan sudah tidak mampu dia pendam sendiri sehingga menyebabakan dia berteriak histeris untuk menyalurkan rasa sakitnya. Dan itu nggak berpengaruh terlalu parah pada dirinya. Untuk saat ini biarkan nyonya Mala beristirahat dulu. Saya hanya perlu menyuntikan obat penenang padanya, sehingga jika dia bangun nyonya Mala bisa lebih tenang.’’


‘’Baiklah dokter terima kasih.’’


Cristian menyuruh seorang pelayan untuk mengantarkan sang dokter menuju mobilnya.


‘’Nenek dan kakak sekarang istirahat saja, biar Crist yang akan menjaga Mala malam ini.’’


Nona Margareth mengangguk setuju, dia sudah terlalu lama meninggalkan rumah sejak tadi. Mungkin suaminya sudah menunggunya lama.


‘’Kalau begitu aku pamit pulang dulu yah nek, jaga Mala baik baik Crist, kakak mau pulang dulu.’’ Cristian mengangguk dan membiarkan nyonya Elisabeth yang turun mengantar kakaknya nona Margareth ke lantai bawah.


Sedangkan Cristian mengambil sebuah kursi dan mendorongnya mendekat pada ranjang, lalu duduk di sana menunggu mungkin Mala akan segera sadarkan dirinya.


Di apartemen milik Bimo.


Sejak tadi Bimo dan istrinya berusaha untuk menghubungi Mala, namun tak ada jawaban darinya. Sudah larut malam begini Mala belum juga pulang apalagi memberikan kabar pada mereka.


‘’Kemana Mala, kenapa tak satu pun pesan singkatku di balas olehnya. Apalagi panggilan telponnya kenapa Mala mengabaikannya. Apakah begitu asyiknya Mala mengobrol bersama nenek dan kakak mantan suaminya sehingga panggilan kita di abaikan yah?” gerutu Bimo yang sejak tadi mencoba melakukan panggilan pada ponsel Mala tapi tak ada jawaban sedikit pun darinya.


‘’ Setidaknya berikan balasan kalau kamu baik baik saja Mala.’’ Felicia yang memahami kekhawatiran suaminya mencoba menenangkan hatinya.


‘’Mungkin Mala membuat ponselnya menjadi mode diam, jadi dia tak mendengar bunyi ponselnya sayang.’’


‘’Biarkan dia untuk melepas kerinduan bersama dengan orang yang sudah baik padanya dulu, pasti dia akan mengabari kita jika terjadi sesuatu padanya.’’


‘’Tapi kenapa aku merasa sesuatu telah terjadi padanya yah sayang?’’


“Sudahlah sayang jangan berpikiran yang negatif, percaya deh Mala pasti bisa menjaga dirinya dengan baik.’’


Ya bisa jadi, akhirnya Bimo dan Felicia memutuskan untuk beristirahat .


Hingga pagi tiba Mala tak kunjung pulang ke apartemen, membuat Bimo dan Felicia semakin khawatir dengan keadaan Mala.


‘’Apa yang sudah terjadi denganmu Mala, kenapa belum ada kabar darimu?’’


Bimo sudah rapi dengan pakaian kerjanya, tapi hatinya masih belum tenang bagaimana kabar Mala, hingga semalaman dia tak pulang. Mala tak pernah melakukan ini sebelumnya.


‘’Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Mala?’’ Bimo semkin bingung dengan situasi sulit yang dihadapinya saat ini.


‘’Bagaimana kalau Hector tahu, kalau Mala tak pulang ke apartemen semalam, sampai saat ini nggak ada kabarnya lagi. Hector pasti akan memarahiku lagi.’’


‘’Aku akan dianggap tak bisa menjaga kepercayaannya.


Bimo semakin pusing memikirkannya, hingga Felicia datang menghampirinya.


‘’Sayang apa kamu nggak kerja hari ini?’’


tanya Felicia lembut pada suaminya.


‘’Kayaknya hari ini aku harus mencari Mala sampai ketemu dulu. Baru aku bisa tenang melakukan pekerjaanku.’’


‘’Kamu mau mencari Mala kemana?’’


“Tentu saja aku harus pergi menuju ke rumah Adiwijaya, sayang. Karena terakhir kali Mala berpamitan padaku untuk menemui nenek dan kakak Cristian. Siapa tahu mereka tahu keberadaan Mala sat ini. Apa salahnya jika kita mencobanya dahulu.’’

__ADS_1


‘’Kalau begitu aku ikut sayang, kita pergi mencarinya bersama sama. Agar kita bisa bertanggung jawab bersama jika Hector menanyakan Mala.’’


Bimo setuju dengan keinginan istrinya dn mereka pun bersama mengendarai mobil menuju ke kediaman Adiwijaya.


Drrt drttt drttt


Layar ponsel Bimo berdering


Hector memanggil.


‘’Bagaimana ini?"


‘’ Siapa yang menelpon sayang?''


‘’Hector.’’


‘’Kenapa nggak dijawab?’’


‘’Bagaimana kalau dia menanyakan Mala.’’


‘’Angkat saja dulu siapa tahu itu penting,’’ ujar Felicia pada suaminya.


‘’Halo.’’


(‘’Bimo, aku ingin kamu segera ke kantor sekarang, ada satu hal penting yang ingin aku sampaikan padamu.’’)


‘’Baik Hector, aku akan segera ke sana.’’


‘’ Bagaimana ini, Hector menyuruhku untuk segera ke kantor sekarang juga.’’ Bimo semakin merasa bersalah, namun Felicia istrinya hanya tersenyum melihatnya.


‘’Pergilah menemui Hector dahulu, kita bisa ke rumah tuan Adiwijaya setelah semua urusan di kantor kamu selesaikan. Aku akan pulang naik taksi.’’ Ucap felicia penuh pengertian.


‘’Terima kasih istriku, kamu baik sekali.’’ Bimo mengecup kening istrinya lalu bersama sama turun dari mobil setelah mereka tiba di depan perusahaan milik Mala saat ini.


Bimo memilih mencarikan taksi terlebih dahulu buat istri kesayangannya dan setelah itu barulah dia masuk ke kantor tempatnya bekerja.


Hector sudah duduk di ruangan mereka.


‘’Kenapa kamu lama sekali, Bimo?’’


‘’Maafkan aku Hector, tadi aku mengantarkan Felicia ke super market terlebih dahulu.’’ Ucap Bimo mencoba mencari alasan yang tepat untuk Hector.


‘’Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?’’


‘’Aku ingin memintamu untuk mencarikan rumah untuk Mala.’’


Bimo menyeritkan dahinya.


‘’Apa maksudmu?’’


“Aku ingin membelikan rumah untuk Mala, sebelum aku dan Jasmine kembali pulang ke Meksiko.’’


‘’Tapi untuk apa Hector, aku rasa Mala sudah merasa nyaman tinggal di apartemen. Selain itu apartemennya dekat dengan apartemen kami. Jadi aku pasti bisa selalu menjaganya.’’


‘’Nggak Bimo, aku dan Jasmine mau memberikan sesuatu pada Mala, sebelum kami pergi.’’


‘’ Baiklah, aku akan mengurusnya,’’ ucap Bimo.


‘’Dimana Mala, kenapa dia nggak masuk kerja hari ini.’’


‘’Kalau itu aku kurang tahu, sejak pagi belum mendapatkan kabar darinya,’’ ujar Bimo dengan sedikit gugup.


‘’Sejak pagi aku menghubunginya tapi belum ada jawaban darinya.’’ Hector mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Mala, sementara Bimo hanya diam , tak ingin lebih banyak bersuara dulu.


‘’Kemana Mala, kenapa saat ini dia susah sekali dihubungi?’’


Dan bimo hanya diam saja, dia masih belum ingin bicara pada Hector dulu.


‘’Biarlah jika Mala sudah pulang nanti, baru aku bicara pada Hector,’’ gumam Bimo dalam hatinya.


Sedang di kediaman mewah Adiwijaya.


Mata Mala perlahan terbuka. Dia melihat sekelilingnya, kamar yanng terlihat asing baginya dengan pencahayaan lampu yang redup.


‘’Dimana ini?’’ sambil memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.


Dilihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00.


‘’Kenapa aku berada di sini?’’ Mala segera bangun dan bergegas turun dari ranjangnya.


Sambil melihat lihat kamar milik siapa ini, sampai dia sadar dia berada di dalam kamar tamu milik keluarga Adiwijaya.


‘’Kenapa aku bisa berada disini?’’


Perlahan Mala membuka pintu kamarnya, lampu di rumah besar ini telah di padamkan.


Huhuhuuhhhu


Mmmmamamma....


‘’Suara siapa itu, seperti suara anak kecil yang sedang menangis.’’ Mala keluar dari kamarnya dan mendekati sebuah kamar yang lampunya masih menyala terang, dan pintunya tak tertutup.


Suara tangisan anak kecil itu semakin lama semakin besar , dan akhirnya membangunkan semua orang seisi rumah mewah ini. Mala lalu masuk ke dalam kamar dan mendapati seorang gadis kecil menangis sedih.


Huuhuhuhuuhuuhuhuhu mama mammma mmmammama tangis anak kecil itu seakan mengiris hati Mala, dia segera mendekati gadis kecil yang duduk ketakutan di atas ranjang dan segera memeluknya. Sepertinya gadis kecil itu kaget dengan kedatangan Mala, sedetik kemudian tangisnya berhenti lalu memandang Mala dan melonjak ke arahnya memeluk tubuh Mala dengan erat.


‘’Mama.’’


Hiikkkkksss jangan tinggalin Ellena lagi ya, Ellena kangen sama mama, huhhhuhuuhuuhu.

__ADS_1


Mala tak bisa berkata apa apa, matanya mulai berkaca kaca, sepertinya dia mengerti kesedihan gadis kecil yang sedang memeluk erat dirinya. Tanpa dia sadari semua mata penghuni rumah sedang memandang iba pada mereka. Mala yang masih berusaha untuk menenangkan tangisan Ellena.


__ADS_2