
Jangan paksa aku untuk melupakannya
Bab, 69
Plakkkk.
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Cristian, membuatnya kaget setengah mati.
"Apa kamu bilang, tolong lupakan masa laluku tentang Devan?"
Suara Mala kini mulai meninggi, dia sudah tak perduli lagi dengan keadaan Elena saat ini. Emosinya kini seperti tersulut api.
"Apa kamu pernah bertanya di dalam hatimu, sedikit saja tentangku. Mengapa aku menyembunyikan kehamilanku darimu. Bagaimana aku harus melalui masa kehamilanku tanpa kehadiran seorang suami. Dan bagaimana nyawaku terancam dan hampir mati sia sia, oleh karena mantan istrimu."
"Tidak kan, kamu tak pernah ingin tahu semua itu. Mudah bagimu untuk meminta melupakan semua itu Cristian. Tidak bagiku yang berjuang sendirian saat mengandung dan melahirkan putraku. Melewati masa masa sulit kami sendirian. Apa kamu tahu semuanya, tidak kan?" Mala akhirnya meledakkan semua kemarahannya sambil menangis di hadapan Cristian.
Suaranya terlampau keras, dan akhirnya membangunkan Elena yang sedang tidur terlelap.
"Mama,"
Huhuhuhuhu
"Elena takut, kenapa mama marah marah?"
"Aku lelah, urus putrimu sendiri aku ingin pulang." Mala berjalan ke arah pintu, berniat untuk meninggalkan kamar ini.
Namun tangan Cristian dengan cepat mencekal lengan Mala. Serta merta memeluknya dari belakang. Tapi sayang Mala tak mengindahkannya. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Cristian.
Cristian tak kehilangan akal, dia lalu berdiri di hadapan Mala. Dan segera berlutut di hadapan Mala. Lalu memeluk kakinya.
"Maaf maaf maaf maaf."
"Tolong jangan pergi."
Hanya itu ucapan yang bisa keluar dari mulut Cristian sekarang. Isak tangisnya dibarengi oleh suara tangis Ellena juga. Yang melihat Mala dan Cristian sedang bertengkar.
"Mama dan papa kenapa bertengkar, apa Ellena melakukan kesalahan? Maaf kalau Ellena nakal dan membuat papa dan mama menangis." Di sela sela tangisnya Ellena menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Mala dan Cristian.
Huhuhuhuhu
"Cup cup cup anak sayang tenanglah, udah diam ya sayang." Cristian membelai rambut Ellena dengan lembut.
Huhhuhuhi
"Tapi papa sama bertengkar, apa semuanya karena Ellena?"
"Nggak sayang, bukan begitu papa sama mama nggak bertengkar."
"Tapi mama menangis."
"Mata mama kelilipan sayang. Sehingga air matanya nggak sengaja keluar."
"Apa benar mata mama kelilipan?"
Ellena sudah bisa mulai tenang lagi.
"Iya sayang, nanti Ellena bisa bertanya sama mama."
"Benarkah, bukan karena Ellena nakal kan papa?"
"Nggak sayang, anak papa yang cantik sekarang istirahat lagi yah. Papa akan menemui mama dan membujuk mama untuk kembali menjaga Ellena di sini."
"Ya papa, Ellena mau bobo lagi."
Cristian tersenyum, dan kembali membaringkan Ellena di ranjang kecilnya.
Setelah Mala melepaskan kakinya dari pelukan Cristian.
Dia berlalu pergi dari kamar itu. Langkah Mala menuntunnya menuju taman belakang. Dia duduk di sana sendiri, memandang bunga bunga yang pernah ditanami olehnya. Kini bunga bunga itu tumbuh subur dan berbunga indah berwarna warni.
Mala membutuhkan menenangkan hatinya.
Cukup lama dia duduk di bangku panjang taman belakang kediaman Adiwijaya ini. Tempat yang paling di sukanya, dimana dia berusaha untuk meredakan emosinya. Ternyata tak semudah ini melupakan kesalahan orang lain. Mala menghela napas panjang, menetralkan suasana hatinya yang benar benar sangat buruk sekali.
Perlahan Cristian datang menghampiri Mala, dan duduk di sampingnya. Namun Mala bersikap seolah olah tak ada orang di sampingnya. Mala memandang taman bunga dengan tatapan yang kosong. Hatinya masih belum sepenuhnya merasa baik.
Cristian mengambil tangan Mala, dan menggenggam lembut jemari Mala. Tanpa di duga Cristian lalu mencium punggung tangan itu lama. Mala merasa kaget, dengan apa yang Cristian lakukan. Dia mencoba melepaskan tangan itu tapi Cristian malah semakin menggenggam erat tangan Mala.
"Aku tahu Mala, aku sudah sangat melukai hatimu. Dan kamu masih belum bisa memaafkan aku. Tapi aku mohon tetaplah di sini bersama denganku."
Mala tak bisa menjawab Cristian. Mulutnya terasa sangat kelu, bahkan untuk mengeluarkan sepatah kata saja dari bibirnya. Mala hanya memilih diam dalam rasa sesak di dalam dadanya. Bagaimana caranya menghindar, hatinya ingin sekali pergi meninggalkan Cristian sendiri di sini. Namun tubuhnya seakan menguncinya dan memintanya untuk tetap duduk di sana.
"Jangan memaksaku untuk melupakan masa laluku, Cristian."
"Setiap momen momen yang ku lewati bersama putraku entah bahagia mau pun kesedihan masih terekam jelas dalam ingatanku. Aku tak bisa menerima jika kau menyuruhku untuk melupakannya."
Akhirnya dengan suara yang lirih Mala mengeluarkan isi hatinya. Cristian menoleh dan melihat wajah Mala. Pipinya sudah dipenuhi dengan air mata lagi. Tangan Cristian mulai menghapus bulir bulir bening yang menetes di pipi Mala. Dia tak kuasa berbicara lagi, hanya tangannya yang bergerak terus mengusap pipi Mala yang basah.
Langit sore yang indah dengan matahari senja yang berwarna jingga menemani kedua insan ini. Terasa hening dan menenangkan seakan langit dan semesta tahu kepedihan yang dirasakan oleh mereka yang sedang bernaung dibawahnya saat ini. Hingga gelap malam menjemput, keduanya hanya duduk memandang ke depan dengan tangan Mala yang terus di genggam oleh Cristian.
Makan malam di meja makan terasa hambar oleh Cristian. Mala tidak sedikit pun menyuapkan sesuap nasi di mulutnya. Hanya mengaduk aduknya saja. Nyonya Elisabeth bingung melihat tingkah kedua orang di hadapannya. Namun dia memilih diam dan tak ingin bertanya. Memberikan mereka ruang untuk berpikir pada jalannya masing masing.
Hingga pada saat Ellena tertidur Mala sudah mengunci pintu kamarnya. Cristian berusaha untuk mengetuk pintu kamar beberapa kali, tapi Mala tak mau membuka pintunya. Cristian memilih mengalah. Sudah seharusnya dia jangan dulu mengganggu Mala.
Matahari pagi datang dan menyinari celah celah jendela kamar Ellena.
Mala tersenyum melihat gadis kecil di sampingnya masih tertidur lelap. Sepanjang malam mereka tidur berpelukkan dan tak membiarkan Mala melepaskan pelukannya. Tangannya mulai meraba kening Ellena, mencoba merasakan suhu tubuhnya. Dan pagi ini suhu tubuhnya sudah agak turun. Mala bernapas lega, dan segera turun dari atas ranjang.
Setelah selesai mandi, dan berdandan pintu kamarnya diketok dari luar.
"Siapa?"
"Saya nyonya, bi Ratih."
Mala membuka pintu terlihat bi Ratih di hadapannya membawa semangkok bubur untuk Ellena.
"Biar saya yang menyuapinya, nyonya sudah di tunggu di bawah untuk sarapan bersama."
"Nggak usah bi, biar saya saja yang menyuapi Ellena."
"Tapi nyonya,"
"Nggak apa bi, saya bisa sarapan setelah selesai mengurus Ellena."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih nyonya."
"Iya sama sama bi."
Mala menerima nampan dari tangan bi Ratih.
Sementara itu bi Ratih kembali ke lantai bawah.
"Di mana Mala bi?"
Nyonya Elisabeth melihat kedatangan bi Ratih dari lantai atas.
"Maaf nyonya, nyonya Mala yang ingin menyuapi sarapan nona Ellena. Katanya dia yang akan mengurusnya. Setelah itu baru dia akan turun untuk sarapan."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih bi."
Nyonya Elisabeth melanjutkan sarapannya,dan Cristian berdiri dari duduknya.
"Mau kemana nak?"
"Crist ingin melihat keadaan Ellena dulu nek."
__ADS_1
Nyonya Elisabeth menganggukkan kepalanya.
Cristian naik ke lantai atas, menuju ke kamar Ellena. Diam diam dia memperhatikan Mala yang sedang menyuapi Ellena. Setelah itu membersihkan tubuh Ellena dan mengganti pakaiannya. Hati Cristian menghangat melihat perlakuan lembut Mala pada Ellena. Meski Cristian tahu Mala belum tahu kebenarannya, kalau Ellena bukan putri kandungnya.
Tok tok tok
Mala melihat ke arah pintu, dan melihat Cristian di sana. Dia hanya diam tak menanggapi kedatangan Cristian.Tapi terus melanjutkan mengurus Ellena. Setelah pakaiannya di ganti, Mala menyisir rambutnya dengan pelan.
"Hari ini aku ingin mengajakmu pergi mencari psikolog untuk Ellena."
Mala hanya diam, dan terus menyisir rambut Ellena.
"Segeralah bersiap, kita akan berangkat sepuluh menit lagi."
Tapi sama saja tak ada jawaban dari Mala.
Cristian duduk di tepi ranjang Ellena yang sudah dibersihkan oleh Mala.
Kembali Ellena di baringkan di tempat tidur oleh Mala.
"Ellena sayang, sudah minum obatnya?"
"Sudah papa,"
"Sekarang Ellena bobo lagi yah."
Ellena menganggukkan kepalanya, matanya terasa berat setelah meminum obat barusan.
Mala terlihat kembali masuk ke kamar mandi dan mengambil tasnya.
Cristian memandangnya, dan melihat Mala telah bersiap.
"Ayo kita berangkat."
Mala mengikuti langkah Cristian, dan turun ke lantai bawah. Nyonya Elisabeth sedang berada di halaman depan sedang menggunting daun daun kering pada tanamannya. Melihat Cristian dan Mala sepertinya akan keluar, dia tersenyum.
"Mau kemana nak?"
"Nek, Crist akan mengajak Mala mencari psikolog untuk Ellena."
"Baiklah nak?"
Cristian dan Mala bergantian menyalami nyonya Elisabeth.
"Hati hati di jalan ya nak."
"Nek, Mala menitipkan Ellena sebentar. Kami nggak akan lama."
"Iya nak, pergilah. Lama juga nggak apa apa."
Ucap nyonya Elisabeth menahan tawanya.
Dia percaya suatu saat hati Mala akan luluh juga. Hanya saja butuh kesabaran untuk Cristian untuk menunggu dan berusaha sampai hati Mala kembali luluh padanya.
Cristian membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Mala untuk naik kedalam mobil. Cristian masuk dan mulai menyetir mobilnya. Saat mobil mereka keluar, terlihat mobil berwarna merah milik nona Margareth masuk ke halaman rumah keluarga Adiwijaya.
"Cristian kemana nek?"
Setelah menyalami neneknya, nona Margareth melihat ke arah gerbang. Dia tahu mobil adiknya barusan keluar.
"Cristian dan Mala sedang keluar, nenek menyuruh mereka mencari psikolog yang terbaik untuk Ellena."
"Tapi kan Cristian bisa saja mencari lewat internet, nek."
"Kamu ini, kenapa nggak bisa mendukung rencana nenek."
"Maksud nenek?"
"Ya seperti yang kamu lihat, Crist akan mempunyai banyak kesempatan untuk jalan berdua bersama Mala."
"Oh, ternyata nenek ku punya rencana hebat."
"Semoga mereka bisa bersatu kembali ya nek."
"Amin."
Mereka akhirnya memutuskan masuk ke dalam rumah.
Setengah jam perjalanan, Cristian mengemudikan mobilnya di depan sebuah cafe.
"Kok kita kemari?"
Mala terkejut, bukannya rencana mereka pergi ke rumah sakit. Tapi kenapa malah masuk ke dalam cafe.
"Sudah jangan banyak bicara, ayo kita masuk."
"Aku nggak mau."
"Tolonglah Mala, sebentar saja."
Mala menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.
"Aku belum sarapan pagi tadi, perutku akan terasa sakit bila belum terisi."
Cristian membujuk Mala dengan suara yang dibuat buat seolah dia benar akan sakit.
"Baiklah tapi jangan lama lama," ucap Mala ketus.
Cristian tersenyum, dan segera turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe, diikuti oleh Mala.
Meja mereka di penuhi oleh makanan.
"Apa kamu yakin akan menghabiskan semua makanan sebanyak ini?"
"Aku nggak makan sendirian di sini. Ayo makanlah aku tahu kamu juga belum sempat sarapan tadi kan?"
Cristian menyuruh Mala juga ikut makan. Memang kenyataannya Mala belum sarapan pagi.
"Aku nggak mau makan. Kamu makanlah sendiri."
Kruukkk kruukk
Cristian tertawa kecil, mendengar bunyi perut Mala.
"Sepertinya perut kamu nggak mau berkompromi. Dia juga sedang berteriak meminta diisi."
"Atau mau aku suapi?"
"Nggak, aku bisa makan sendiri."
"Ya udah, ayo makan. Makanlah yang banyak agar kamu semakin sehat."
Mala hanya diam dan tak mau berbicara. Dia mulai makan makanannya yang berada di atas meja. Berdua mereka habiskan makanan tanpa berbicara. Akhirnya Cristian merasa tenang, saat melihat Mala menghabiskan makanannya.
"Ayo kita pergi."
Mala sudah tak sabar untuk keluar. Sekitar dua puluh menit berlalu namun Cristian belum juga mau beranjak dari tempat duduknya. Dia hanya sibuk dengan ponselnya sejak tadi.
"Ehemm."
Mala berdehem, tapi Cristian seakan tak mendengarnya.
"Apa kita akan terus duduk di sini sepanjang hari?"
Mala sudah tak sabar lagi, melihat tingkah Cristian.
__ADS_1
"Sepertinya kau hanya ingin bersenang senang di sini, dan meninggalkan putrimu sendiri merasa sakit di rumah."
Cristian hanya diam dan terus bermain dengan ponselnya. Tingkahnya semakin membuat Mala marah. Dia menggelengkan kepalanya tanda mulai tak suka dengan tingkah Cristian. Mala mulai mengambil tasnya dan berdiri.
Saat Mala akan pergi, Cristian meraih pergelangan tangannya. Dan menariknya hingga Mala terduduk di paha Cristian.
Mala berusaha melepaskan diri. Tapi Cristian malah mengeratkan pelukannya pada pinggang Mala agar dia tak bisa berdiri.
"Apa yang kamu lakukan Crist?"
"Ini tempat umum, apa kamu nggak malu. Orang banyak melihat kita lepaskan aku sekarang."
Mala terus berusaha untuk berdiri.
"Aku nggak perduli jika semua orang melihat kita. Biarkan kita seperti ini."
"Lepaskan atau aku akan berteriak."
"Teriak saja, aku nggak takut."
"To .."
Cepat Cristian membungkam mulut Mala dengan tangannya
Hhhmmmptt
"Kamu sudah mulai berani ya."
"Apa kamu pikir aku takut?"
"Biarkan aku berdiri."
"Nggak, aku ingin kamu terus seperti ini di pangkuanku."
"Lepaskan Crist, aku malu dilihat orang banyak."
"Berarti kalau nggak dilihat orang banyak kamu nggak malu kan?"
Wajah Mala memerah dengan pertanyaan Cristian.
"Kamu nggak bisa menjawabnya, berarti benar kan pikiranku?"
"Ayo kita pergi."
"Kemana?" Tanya Mala dengan wajah kemerahan menahan malu.
"Ke tempat di mana kamu nggak akan malu berada di pangkuan ku."
Cristian terkekeh pelan.
"Crist, "
Mala membulatkan matanya dan memukul lengan Cristian dengan tasnya.
"Auww."
"Kenapa pukulan mu membuatku semakin yakin kalau kamu mau."
"Mau apa?"
Wajah Mala semakin memerah.
"Mau kalau ku ajak."
Jawab Crist dengan santai.
"Jangan bermimpi, ayo kita pergi."
"Baiklah."
Cristian tersenyum licik di belakang punggung Mala, yang sedang berjalan di depannya.
Mala berjalan mendahului Cristian menuju ke tempat parkir. Di dalam pikirannya dia ingin segera menemukan psikolog yang terbaik untuk Ellena. Semakin cepat Elena sembuh, semakin cepat dia pergi dari rumah Adiwijaya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil. Namun lagi lagi Mala dibuat kesal oleh tingkah Cristian. Mobil Cristian tak melaju mencari rumah sakit. Cristian malah membawa Mala berjalan jalan semaunya. Hingga mereka tiba ke sebuah Vila di pinggiran kota.
"Kenapa kita kemari, bagaimana dengan mencari psikolog buat Ellena?"
Cristian hanya diam saja serta turun dari mobilnya. Dia menuju ke sisi kiri mobil dan membukakan pintu untuk Mala, lalu mempersilahkannya turun dari mobil.
Vila ini tempatnya lumayan sepi. Cristian lalu mengajaknya untuk mengikutinya.
"Aku nggak mau, biarkan aku di sini saja." Tegas Mala, yang sudah tak tahan dengan tingkah aneh Cristian sejak tadi.
"Kamu pikir aku akan melakukan sesuatu yang aneh padamu?"
Cristian tersenyum menyeringai ke arah Mala. Membuat Mala bergidik ngeri melihatnya.
Dalam pikiran Mala adalah bagaimana caranya untuk membujuk Cristian untuk kembali ke rumah.
"Ayolah ikuti aku, " Cristian mencoba mengajak Mala dengan lembut.
"Nggak."
"Ayolah Mala, aku nggak akan melakukan apa pun. Aku hanya ingin kamu mengikuti aku saja."
Dengan ragu Mala mengikuti Cristian dari belakang.
Ternyata Mala diajak ke sebuah danau. Di area Vila ini ada sebuah danau besar. Tempatnya begitu sejuk, ditambah lagi masih sepi pengunjungnya, karena biasanya Vila ini akan ramai di akhir pekan.
Mereka berdua sudah duduk di sebuah kursi panjang menghadap ke danau. Ada pohon besar yang rindang meneduhkan tempat mereka duduk. Sungguh duduk di sana sangat menentramkan hati.
Cristian menggenggam tangan Mala. Mala berusaha untuk melepasnya. Tapi tangan Cristian semakin erat menggenggam tangannya. Seolah tak ingin melepaskannya lagi.
"Mala, sebenarnya aku mengajakmu ke sini untuk meminta maaf padamu."
"Maaf katamu?"
Seru Mala terdengar emosi.
Ssstttt
"Aku mohon tenanglah, dan dengarkan apa yang ingin aku sampaikan padamu."
Cristian meminta Mala untuk diam saja.
"Aku minta maaf padamu. Untuk semua kecerobohan ku di masa lalu. Untuk semua kepedihan yang kamu lalui karena aku. Untuk semua air mata yang kau tumpahkan karena diriku. Aku nggak meminta banyak darimu saat ini Mala. Cukup untuk selalu bersamaku seperti ini setiap hari. Dan aku akan berusaha untuk memperbaiki semua dosa di masa laluku untukmu."
"Aku menyesal sungguh menyesal, karena kebodohan di masa laluku kamu kehilangan putra kesayanganmu. Aku memang nggak pantas untuk menjadi ayahnya. Mungkin karena itu Tuhan nggak mengijinkan aku tahu kebenarannya."
"Saat ini, aku minta padamu, tolong terimalah maaf ku. Dan aku sadar kamu belum bisa untuk memaafkan ku. Tapi aku akan selalu bersabar untuk menerima maaf darimu."
"Permintaan maaf kamu sudah nggak ada gunanya lagi, Crist. Aku membencimu dan akan selalu membencimu."
Mala memukul mukul dada Cristian, yang sudah merangkul tubuh Mala dalam pelukannya.
"Ya pukullah aku semau mu Mala. Jika dengan memukulku kebencian mu padaku akan hilang. Lakukanlah, sesuka hatimu."
"Sudah cukup janganlah menangis lagi. Aku berjanji akan mengubah air matamu menjadi kebahagiaan. Selalu kamu akan bahagia bersama denganku."
Tubuh Mala terlalu lelah untuk terus memukul mukul dada bidang Cristian sudah tak bisa dia lakukan lagi.
"Aku lelah Crist, aku lelah. Aku merindukan putraku dan kau menyakitiku."
"Ssttt tenanglah Mala."
__ADS_1
Cristian mendekap erat tubuh Mala dalam pelukannya, mencium pucuk kepalanya.
Hingga akhirnya Mala tertidur di dalam pelukan Cristian.