
Cristian hanya menerima setiap pukulan Kenny.Dia sadar akan kesalahannya.Apa pun yang akan dia jelaskan pasti tidak dapat merubah apa pun dalam situasi yang dihadapi oleh Mala.Oleh sebab itu dia biarkan rasa sakit pukulan Kenny,menghantam tubuhnya.
Kenny terus menghujaninya dengan pukulan yang bertubi tubi.
Hingga darah mengucur dari wajahnya.Setelah Kenny lelah memukuli tubuh Cristian dia berhenti.Lalu duduk di samping Cristian dengan bersandar di pintu apartemennya
"Pulanglah Crist,Mala nggak ada disini.Kau pun sia sia jika mencarinya."
"Tolonglah Kenny,aku mohon pertemukan aku dengan Mala.Saat ini aku benar benar ingin meminta maaf padanya."
"Saat ini Mala sedang menenangkan dirinya di suatu tempat,jangan mengganggu ketenangannya hingga dia kembali lagi kemari."
"Nggak Kenny,aku butuh Mala pada saat ini."Cristian sudah tak sabar ingin bertemu dengan Mala.
"Katakan Kenny,dimana Mala."Cristian mendesak Kenny terus.
"Aku udah bilang,Mala.sedang menenangkan dirinya di suatu tempat.Jangan gangu dia dulu."Kenny berdiri dari duduknya serta membuka pintu apartemenya lalu masuk ke dalam tanpa mengajak Cristian masuk.Dia lalu menutup pintunya dengan keras.
Ada rasa sakit di dalam hati Kenny,setelah menempuh perjalanan jauh selama sebelas jam.Dia harus berjumpa dengan orang yang menjadi penyebab kesakitan Mala dalam hatinya.
"Aku nggak akan membiarkanmu untuk bertemu dengan Mala,Crist.Sama seperti kamu nggak ingin bertemu dengan Mala,saat dia sangat membutuhkan pertolonganmu."Kenny bergumam dalam hatinya dengan amarah kebencian yang begitu besar pada Cristian.
Cristian berdiri dan jalan sempoyongan,memasuki lift dan keluar dari gedung apartemen Kenny.
Cristian mengemudikan mobilnya,dia tak ingin nenek melihat luka luka di wajahnya.
Cristian melajukan mobilnya menuju rumah Margareth kakaknya.
"Crist,apa yang terjadi padamu.?"Margareth terpekik kaget melihat wajah Cristian penuh dengan luka luka dan berdarah.
Saat Cristian masuk ke dalam kediaman keluarga Alex suami Margareth.
Cristian terduduk lemas di sofa,lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Cristian menangis lagi,penyesalan dalam hatinya melemahkan jiwanya.Dia sangat ingin bertemu dengan Mala saat ini,dan meminta maaf padanya.Hatinya terasa sesak memikirkannya.
"Aku harus bertemu dengan Mala kak.Aku telah melukai hatinya.Aku ingin memperbaiki kesalahanku."
Margareth datang dan memeluk adiknya.Baru kali ini dia melihat adiknya menjadi rapuh seperti ini.Adiknya adalah pria kuat dan tak pernah menunjukkan sisi kelemahannua pada siapa pun.
Tapi tidak kali ini,dia benar benar menjadi pria lemah penuh dengan kesedihan.
Margareth memgambil kotak p3k lalu mulai membersihkan lukan luka Cristian dan membalut lukanya dengan perban.
"Apa kau sudah bertemu dengan Mala?"tanya Margareth hati hati.Dia tak ingin melukai hati adiknya dengan pertanyaannya.Meski pun dalam hatinya Margareth sangat rindu pada Mala,dan ingin sekali berjumpa dengannya.
Cristian menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Hanya ada air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Akulah penyebab kematian putraku kak,aku yang egois sehingga aku tak pernah memikirkan kalau aku memikliki putra dari wanita yang paling kucintai."Cristian terisak isak dalam tangisnya,seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Tenanglah Crist,tenanglah.Masalahmu nggak akan habis jika kamu terus menangis."ujar Margareth lembut.
"Aku harus bagaimana kak,aku telah kehilangan cintaku.Aku menginginkannya kembali menjadi istriku."
"Pikirkan caranya dengan pikiran yang baik Crist,saat kau menangis kau tak akan mendapatkan caranya."
"Apa kau sudah bertemu dengan Mala?"
"Belum kak,hanya Kenny yang kembali ke apartemennya."
"Lalu kemana Mala?"
"Aku nggak tahu,Kenny hanya bilang kalau Mala sedang menenangkan dirinya di suatu tempat."
"Kemana dia,apa kau tahu tempatnya?"
Lagi Cristian hanya menggelengkan kepalanya.
"Tebaklah Crist,kemana Mala pergi."Margareth mendesak adiknya.
"Pikirkan tempat yang akan di datangi oleh Mala."
"Mala nggak pernah kemana mana kak.Dia hanya menghabiskan waktunya di peternakkan kita."
"Keluarga Mala?"Margareth berteriak girang.
Cristian menatap kakaknya bingung.
"Apa kau sudah menghubungi keluarga Mala,siapa tahu bapak dan ibu Mala tahu dimana keberadaan Mala."ujar Margareth girang,dia merasa ada jalan keluar untuk adiknya.
Cristian masih terdiam melihat kakaknya.
"Crist jika kita hubungi orang tuanya,siapa tahu mungkin saja Mala berada di sana untuk menenangkan dirinya.Mala nggak ada keluarga lain selain bapak dan ibunya."ujar Margareth dengan yakin.
Seketika wajah Cristian berubah menjadi ceria kembali.
"Benar kak,aku akan pergi ke kampungnya sekarang."
"Pulanglah segera Crist,bawalah Mala besertamu.Nenek pasti akan bahagia bila dia tahu Mala masih hidup."
Cristian menganggukkan kepalanya.Dia yakin pasti neneknya akan segera sembuh bila melihat Mala kembali.
Cristian bergegas naik ke mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan tinggi.
πΌπΌπΌπΌ
"Nak,apa kamu yakin akan kembali ke Paris bersama Kenny nanti jika dia datang menjemputmu ."
"Entahlah bu,biarkan Mala beristirahat dulu di sini,hingga kesedihan Mala bisa mala atasi."
Mala masih meratapi kepergian Devan.Setiap kali bayangan Devan terus saja mengikutinya.Kesepian tanpa kehadiran Devan membuat hati Mala menjadi pedih.
Mala sudah terbiasa dengan aktivitas bersama Devan setiap harinya.Kehilangan putranya membuat hidupnya menjadi kosong.Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan,selain terus menangis.
Ibu dan bapak Mala khawatir,sebab mereka juga tak bisa menghentikan kesedihan putri mereka satu satunya.
"Kami hanya bisa membantumu dengan doa dan ketulusan nak.Jika kamu bisa merasa tenang dan damai di sini dan menenangkan dirimu,bapak dan ibu selalu akan mendukungmu."
"Sekarang istirahatlah Mala,sudah larut malam.Nggak baik tidur terlalu lama."
Mala mengganggukkan kepalanya,dan masuk ke kamarnya.Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya.
Tok tok tok
Bunyi pintu depan di ketuk dari luar.Mala mengerjapkan matanya berkali kali,memastikan itu benar bunyi pintu yang diketuk dari luar.
Saat Mala keluar dari kamarnya,bapak dan ibunya juga keluar dari kamar mereka.
Mala melihat jam di dinding ruangan tamu mereka, sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi.
"Siapa yamg mengetuk pintu rumah sepagi ini?"
Bapak perlahan membuka pintu,dan melihat siapa yang datang ke rumah sepagi ini.
"Crist..!?"
Mala terkejut,Cristian berdiri di hadapan mereka dengan wajah yang penuh luka dibalut oleh perban.
"Mari masuk nak,"
__ADS_1
Bapak mempersilahkan Cristian masuk ke dalam rumah.
Saat Crist ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah,
"Stop,jangan masuk Crist."
"Mala."suara Cristian memelas.
Mala menggelengkan kepalanya,matanya mulai meneteskan air mata.
"Nggak,kamu nggak boleh masuk ke ruamh ini.Gara gara kamu putra keaayanganku pergi meninggalkanku sendiri."Air mata Mala terus membanjiri pipinya.
Bayangan Devan yang lagi tersenyum,mengingatkannya pada putranya lagi.
"Kamu nggak kami terima di rumah ini.Pergilah dan jangan kembali lagi kemari.Aku membencimu CRISTIAN ADIWIJAYA.!!!"
Mala berlalu pergi meningalkan mereka
Dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Mala mengunci pintunya,dari dalam.
"Mala.."
Mala tak menyahut lagi.
Bapak dan ibu hanya bisa menghela napas panjang.
Mereka tak bisa berbuat apa apa di hadapan Cristan.
"Ibu.."
"Bapak.."
"Tolong Cristian,"
Cristian menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Bapak nggak bisa membantumu nak,semuanya ada di tangan Mala."
"Aku ingin minta maaf pak,aku menyesal pak."
"Ya bapak tahu nak,minta maaflah pada Mala.Kamun telah melukai hatinya terlalu dalam nak."
"Baiklah pak,aku janji aku akan berusaha untuk meminta maaf pada Mala,"
Cristian pun pergi dan kembali masuk ke kamarnya.
Dia tak tahu ada sebuah mobil yang sejak tadi mengikutinya.
"Hallo nyonya,tuan berada di sebuah kampug,sepertinya kehadirannya tak diinginkan sehingga dia kembali masuk ke dalam mobilnya."
"Ikuti terus kemana dia pergi,dan segera laporkan padaku semua yang dia lakukan tanpa terkecuali."
"Baik nyonya akan kami laksanakan."
Cristian duduk dibelakang kemudi.
Dalam benaknya hanya ada penyesalan yang teramat besar dalam hatinya.Dia berpikir bagaimana caranya agar bisa mengembalikan kepercayaan Mala padanya lagi.
Mala menangis lagi,hatinya terasa perih sekali.
"Gara gara Cristian semuanya,jika saja dia memberi kesempatan padaku,pasti Devan sekarang masih bersama sama dengannku."dalam tangisnya dia membenci Ctistian.
"Tak akan ada maaf buatmu Cristian,aku akan membencimu sepanjang hidupku."
Mala menangis dan tak terasa dia pun terlelap dalam tidurnya.
πΌπΌπΌπΌ
Dia menyiapkan diri,dan pergi ke pasar.
Pasar di kampung ini masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Mala lebih memilih berjalan kaki,udara segar pedesaan di pagi hari masih terasa kesejukkannnya.
Pukul 05.00 kendaraan sudah mulai lalu lalang.Di pasar yang dituju Mala Jika sudah lewat dari pukul 07.00 pagi pasar sudah di tutup.
Pasar mulai di buka pada opukul 03.00.Mala sudah terbiasa berjalan kaki sendirian.Karena di kampungnya orang orangnya sangat ramah.
Lima belas menit berjalan kaki,Mala tiba di pasar.Hari ini dia ingin mencoba memasak,siapa tahu dengan memasak hatinya bisa lebih bahagia dan dapat melupakan kesedihannya saat ini.
Dia membeli semua bahan bahan yang akan diolahnya menjadi masakan istimewa hari ini spesial untuk bapak dan ibunya.
Mala menjinjing semua belanjaannya dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Di depan rumah,Cristian sudah menunggu lama.
Melihat kedatangan Mala yang bawa banyak belanjaan,Cristian segera membantunya membawakan belanjaannya.Namun tangan Cristian ditepis oleh Mala.
"Mala tolonglah,mari kita bicarakan ini dengan baik baik dahulu."
Mala sangat marah,dia berbalik menatap tajam wajah Cristian.
"Bukankah,penyakit putraku nggak penting untukmu.Masih ingatkah kamu saat aku datang memohon mohon padamu,namun kamu lebih mementingkan hasratmu pada wanita asing itu."
Mala masih mengingat dengan jelas saat Cristian mencumbu wanita yang menjadi kliennya di hadapan Mala dengan sengaja.
Bagi Mala tak masalah dengan siapa pun kamu bisa bercumbu mesra.Namun bisakah kau sedikit saja,menanyakan maksud kedatangannku ke kantormu saat itu.
Mala semakin membenci Cristian.Baginya Cristian hanyalah mantan suaminya,yang kini akan menjadi bagian masa lalu untuknya.Sebisa mungkin dia akan hapus rasa cintanya yang masih tersisa di dalam hatinya.
Mala berlalu pergi dan masuk ke dalam rumahnya.Dia tak ingin berlama lama untuk berbicara pada Cristian.
Baginya sekarang hatinya mulai membeku,dia tak ingin lagi menaruh cinta pada mantan suaminya itu.
Mala nemasak dengan hati yang penuh kemarahan,Ibu juga membantunya.Mala ingin membuat makanan yang membuat kedua orang tuanya senang.
Makan siang kali ini terasa sangat menyesakkan. Mala tak ingin memanggil Cristian untuk bergabung bersama mereka di ruang makan.Setelah makan dan membereskan piring piring kotor,Mala lebih memilih masuk kamar dan mengurung diri.
Sementara Mala sudah masuk ke dalam kamarnya.Ibu Mala menyiapkan makanan dan dibawa ke luar mobil Cristian.Dimana Cristian masih terduduk di balik kemudi dengan menundukan kepalanya.
Duh dug dug
Kaca jendela Cristian diketuk dari luar,saat Cristian membuka kaca mobilnya.
"Ibu."
"Ini nak,makanlah dulu.Ibu tahu kamu juga lapar."
"Mala dimana bu?"
"Ada di dalam kamarnya,kamu makanlah dulu.Agar masih punya tenaga buat bertemu dengan Mala.Meski pun ibu tahu,perbuatannmu sangat melukai Mala tapi ibu tahu niat kamu tulus sama anak ibu.Berjuanglah terus,ibu yakin suatu saat Mala akan maafkanmu."
"Terima kasih bu,"
Benar kata ibu Mala,Cristian harus makan agar dia punya tenaga buat berusaha kembali mengambil hati Mala.
"Bu,maafkan Cristian telah mengecewakan Mala anak ibu."
"Sudahlah nak,jangan dipikirkan yang sudah lalu biarlah berlalu.Kamu hanya fokus untuk minta maaf pada Mala."
__ADS_1
"Terima kasih bu,"
Ibu Mala hanya menganggukkan kepala,ada rasa iba melihat Cristian saat ini.Dengan rasa penyesalan yang begitu besar di hatinya,ibu Mala yakin Mala akan memberi maaf pada Cristian.
"Bersabarlah nak,hanya waktu yang bisa menjawab semua beban beratmu saat ini."
"Iya bu,makasih."
Ibu Mala,kembali masuk ke dalam rumah,setelah Cristian telah menghabisan makanannya.
Drrt drrrtt drrttt
Bunyi pesan masuk di ponsel Mala.
Mala sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang,membaca pesan teks yang baru saja dibukanya.
"Mala,temui aku di danau,aku ingin bicara padamu sekarang."
Mala merasa bingung,siapa yang mengirimnya pesan teks ini.
"Kamu siapa,untuk apa aku harus mengikuti keinginanmu ke danau.?"
"Mala aku tahu kamu berpikir aku adalah Cristian.Bukan aku bukan Cristian,jika kamu nggak percaya kamu boleh melihat Cristian sedang berada di dalam mobilnya yang terparkir di halaman rumahmu."
Mala mengintip dari balik jendela,memang benar Cristian tak sedang bermain dengan ponselnya.
"Siapa kamu."
"Kamu akan tahu,saat kamu tiba di danau."
"Datanglah kemari tanpa memberitahukan siapa pun"
Karena penasaran Mala memutuskan untuk pergi menuju danau.Di kampung Mala ada sebuah danau di pinggiran hutan yang tak jauh dari kampungnya itu.
Mala menuju ke sana lewat pintu belakang,agar dapat menghindari Cristian.
Mala berjalan melewati setapak kecil di tengah tengah sawah.Karena hanya itulah jalan singkat menuju danau yamg dimaksud.
Mala melihat sekeliling danau tak ada satu pun orang yang ada di sana.
Lima menit dia menunggu namun tak ada seorang pun di sana.
"Aku sudah berada di danau,kamu dimana?"
Mala mengetikkan pesan teks ke nomor yang memintanya ke sana.
Lama dia menunggu,namun tak di balas juga oleh nomor tak dikenal itu.
Mala putus asa menunggu,
"Apa aku tertipu oleh seseorang,kenapa aku mudah sekali mempercayai nomor yang tak dikenal itu?"
"Sudahlah mungkin orang itu salah mengirim pesan padaku."Mala mencoba terus berpikiran positif.
Mala pun berbalik,dan berniat segera pulang.Saat dia melangkahkan kakinya,
Seorang pria,membungkam mulut Mala dengan sapu tangan hingga Mala jatuh pingsan karena akibat cairan obat bius yang berada di sapu tangan itu.
Hari mulai sore,matahari mulai terbenam di ufuk barat,dan para burung kembali ke sarangnya serta para petani yang bekerja di sawah pun kembali ke rumah mereka masing masing.
Seorang pria dalam keremangan senja,membopong tubuh Mala,menuju sebuah mobil hitam,dan membaringkannya di jok belakang.
Pria itu mengambil ponselnya,dan mulai mencari kontak yang akan dia hubungi.
"Halo nyonya.."
"Apa kamu sudah melakukannya untukku."
"Sudah nyonya."
"Bagus,sekarang bawa dia ke tempat yang sudah kuperintahkan."
"Siap nyonya,akan kami laksanakan !"
Pria itu bersama dua rekannya megemudikan mobil dan pergi,meninggalkan kampung halaman ibu dan bapak Mala.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Pukul 19.00 Mala belum juga keluar dari kamarnya.Seharusnya sejak tadi sudah keluar dari kamarnya,Ibu Mala sudah menyiapkan makan malam untuk mereka santap malam ini.
"Bu,coba lihat ke kamar Mala apakah dia ketiduran,sehingga jam begini belum keluar untuk makan bersama kita."
"Iya pak,kok Mala sejak tadi siang belum keluar juga dari kamarnya."
Ibu Mala lalu beranjak menuju kamar putrinya.Saat dia membuka pintu kamar,ibu Mala melihat sekeliling kamar putrinya kosong,
"Pak kamar Mala kosong,nggak ada orangnya."ibu Mala berteriak karena panik kepada suaminya.
"Cari dulu bu,mungkin di kamar mandi."
"Udah pak,udah ibu cari nggak ada."
"Kemana perginya anak kita pak."ibu Mala mulai menangis,dia takut akan terjadi sesuatu pada putrinya.
Ibu Mala keluar dari rumah,siapa tahu Mala sedang keluar dan bertamu di rumah tetangganya.
Melihat ibu Mala yang kebingungan keluar masuk ke dalam rumahnya,Cristian turun dari mobilnya.
"Bu,ada apa kenapa ibu terlihat sangat ketakutan bu."
"Mala nak Crist,nggak ada di kamarnya.Ibu udah mencarinya kemana mana tapi tak juga ditemukan."
"Emang tadi Mala nggak ngasih tahu ke ibu,kemana perginya?"
Ibu Mala menggeleng.
"Ini semua karena kamu,jika saja kamu nggak kemari putriku pasti nggak akan hilang."bapak menunjuk ke arah Cristian dan ibu Mala menengahinya
"Sabar pak,jangan begitu ke nak Cristian.Dia juga nggak tahu apa apa."ibu Mala memang mempunyai sifat yang lemah lembut.
"Kalau saja terjadi sesuatu pada putriku,akan kupastikan hidupmu tak akan aman seumur hidup."ancam bapak pada Cristian.
Cristian segera masuk ke mobil dan mulai meninggalkan bapak dan ibu, mencari keberadaan Mala.Siapa tahu jika Mala pergi,dia belum jauh dari sini.
πΌπΌπΌπΌ
Di sebuah ruangan gelap dan pengap,seorang pria menghempaskan kasar tubuh Mala ke lantai,dengan tangan dan kaki yang terikat,mulut di lakban.
Pria itu lalu mengambil ponsel dari saku jaketnya,mencari sebuah kontak dan menekan tombol dial di layar sentuh ponselnya. Sambungan telepon tersambung..
"Hallo nyonya.."
"Hmm.."
"Kami sudah melaksanakan perintah anda."
"Bagus,biarkan dia disana,aku akan menemuinya besok."
"Baik nyonya."
Sambungan telepon diputuskan,sedang sang nyonya yang di telpon tersenyum puas,awal rencananya berjalan lancar.
__ADS_1