
Bab 61
Antara rasa marah dan frustrasi Cristian mendengar kabar orang suruhannya.
‘’Arrrrgggghhhh.’’
“Apa kamu yang menikah lagi Mala,apa kamu sudah melupakan aku?’’
“Aku mengira ini kesempatan bagiku untuk berjumpa dan memperbaiki hubunganku denganmu.’’
“Tuhan tolong beri kesempatan kembali untukku aku mohon.’’
Cristian merasa hidupnya begitu sangat tak beruntung.
‘’Baiklah, untuk terakhir kalinya aku akan menyelesaikannya.’’
Cristian mengaambil ponselnya dan menghubungi orang suruhannya lagi.’’
“Kirimkan padaku alamat mereka.”
‘’[Baik tuan, sepertinya hari ini mereka kembali ke apartemen mereka.]’’
“Baiklah kalau begitu.’’
Cristian menutup sambungan teleponnya.
Tinggg
Sebuah pesan singkat masuk di ponsel Cristian, alamat lengkap Mala sudah dia kantongi.
“Tunggu sampai aku bertemu denganmu, Mala.’’
‘’Aku pastikan akan menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalanku.’’
Menunggu kedatangan mereka sungguh sangat melelahkan. Cristian berusaha sabar menanti di sebuah cafe di sekitar apartemen Mala.
Tekadnya sudah kuat apa pun yang terjadi dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Mala.
Tepat pukul 20.00, mobil Bimo masuk di pelataran parkir apartemen mereka.
Cristian melihat Mala dan Bimo turun dari mobil. Cristian pergi hendak mendekati mereka.
“Mala,”
Mala menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya.
Mala sebenarnya malas untuk menanggapi panggilan Cristian.Bimo yang sudah melihat wajah Mala sepertinya tak menyukai kedatangan Cristian. Dia berdiri tepat di samping Mala.
“Bisakah aku berbicara sebentar dengan istri anda tuan Bimo?’’
“Tunggu kenapa tuan Cristian menganggapku suami Mala. Ada kesalahpahaman disini.” Gumam Bimo dalam hatinya.
Mala mengedipkan matanya ke arah Bimo dan sepertinya Bimo mengerti maksud Mala dan memilih diam.
Bimo memilih kembali masuk ke dalam mobil dan mempersilahkan Felicia untuk diantar masuk ke apartemennya.
Cristian tak memperhatikan Bimo dan Felicia masuk ke dalam gedung apartemen mereka.
“Mala ayo ikutlah pulang denganku, aku sangat merindukanmu.’’ Cristian mengiba pada Mala, dengan menatap lekat wajah Mala tak berkedip.
Wajah Mala yang sudah berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik, dengan tampilan lebih modis dan berkelas.
‘’Sepertinya selama ini hidupmu sangat berkecukupan, namun aku yang lebih bisa membahagiakanmu, Mala.’’
‘’Aku yang lebih berhak untukmu. Kumohon Mala kembalilah padaku.’’
Plakkkk
Mala menampar pipi Cristian dengan keras.
“Aku nggak ingin melihat wajahmu di hadapanku lagi tuan Cristian.’’ Ucap Mala dengan Hati yang masih terluka.
__ADS_1
“Dan ingat satu hal, aku nggak akan pernah melupakan perbuatanmu, untuk putraku.’’
‘’Mala, dia juga putraku, beri aku kesempatan untuk kembali lagi denganmu.’’
‘’Jangan sebut dia putramu !’’ Dengan berteriak emosi Mala tak sudi putranya diakui menjadi putra Cristian.
‘’Kaulah penyebab putraku pergi meninggalkan aku.’’ Ucapnya lagi penuh amarah.
‘’Tapi saat itu aku nggak tahu kalau Devan adalah putraku.’’
Mala mendekati wajah Cristian, dan tangan Cristian mencoba untuk memeluk Mala.
Mala menggelengkan kepalanya, dan menepis kasar tangan Cristian.
“Tuan Cristian, ingatlah berapa kali aku datang menemuimu saat itu. Sebanyak itu aku memiliki kesempatan untuk menjelaskan padamu.’’
‘’Namun apa yangn kau lakukan padaku saat itu.’’
Masih di hadapan wajah Cristian , Mala mengusap kasar air mata di wajahnya. Dan berbalik menuju ke gedung apartemennya.
“Sampai kapan pun aku nggak akan melupakannya, tuan Cristian.’’
Kata kata Mala pelan namun masih bisa terdengar oleh Cristian.
‘’Mala aku akan menjadikanmu sebagai milikku lagi.’’ Cristian berteriak ke arah Mala.
‘’Aku nggak akan perduli jika kamu sudah memiliki suami lagi. Namun aku akan terus berusaha agar bisa berdiri di sampingmu. Itu sumpahku malam ini !’’
Mala tak memperdulikan teriakkan Cristian, dan lebih memilih masuk ke gedung apartemennya. Dia masuk ke dalam lift dan menekan tombol 139. Setelah pintu lift terbuka Mala berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya. Dan ternyata Bimo dan Felilcia sudah menunggunya di apartemen miliknya.
‘’Mala.’’ Saat mala membuka pintu Bimo dan Felicia bersamaan memanggilnya.
Mala merasa kakinya sudah tak kuat berpijak di atas lantai. Tubuhnya luruh jatuh terduduk di atas lantai. Mala menangis sekeras kerasnya. Hatinya yang terasa sesak merasa perlu berteriak keras, menumpahkan rasa sakitnya dengan menangis. Bimo dan Felicia saling memandang dan mulai mendekati Mala berusaha untuk menenangkannya.
Tangisan Mala begitu menyayat hati Bimo dan juga Fellicia. Mereka membiarkan Mala menumpahkan semua rasa sakit di dalam hatinya. Karena dengan menangis semua beban akan terasa menjadi sedikit lebih ringan. Dalam hatinya Bimo merasa Mala sedang memendam rasa sakit yang begitu sangat dalam. Dan semuanya pasti ada hubungannya dengan tuan Cristian, yang sayangnya kini mereka telah menjadi rekan dalam bisnis otomotif yang baru saja akn mereka mulai di kota ini.
‘’Mala apa yang terjadi dengannmu?’’ Bimo mulai bertanya dengan hati hati setelah tangisan Mala mulai mereda.
Mala terdiam lama, matanya sayu dan mulai mengingat lagi kejadian lima tahun yang lalu. Air matanya mulai menetes kembali. Dalam diamnya Mala berusaha menenangkan hatinya. Ada rasa terluka yang belum sembuh di dalam hatinya, namun dia harus mencoba tegar. Bagaimana dia bisa mengatasi rasa sakitnya ini.
‘’Sebenarnya ada apa denganmu Mala?’’ Lagi Bimo hanya bergumam di dalam hatinya.
Bimo dan Felicia mencoba memapah tubuh Mala menuju ke kamarnya. Mala yang malang hanya bisa menuruti kedua sahabatnya kini membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya.
‘’Beristirahatlah Mala, kami akan kembali lagi kemari besok.’’ Ucap Bimo pada Mala sambil menyelimuti tubuh Mala dengan selimut. Mala hanya menganggukan kepala tanpa bersuara lalu menutup matanya.
Bimo dan Felicia memilih meninggalkan apartemen Mala dan menuju ke apartemen mereka.
‘’Biarkan Mala beristirahat dulu, mungkin dia masih membutuhkan waktu untuk sendiri dulu. Besok baru kita akan mencoba mengajaknya bicara.’’ Felicia dan Bimo mencoba mengerti dengan situasi Mala saat ini.
Malam ini adalah malam pertama bagi Bimo dan Felicia.
Bimo sudah membersihkan diri dan giliran Felicia keluar dari kamar mandi. Melihat Felicia yang hanya dililit dengan handuk sebatas lutut, membuat jantung Bimo berdegup kencang.
‘’Kemarilah.’’ Bimo menepuk ranjang disisinya tempat dia berbaring. Dengan senyum malu malu Felicia mendekati pria yang sudah bergelar suaminya itu di atas ranjang, dan berbaring di sebelahnya.
Bimo turun dari atas ranjang dan mematikan lampu. Digantikan dengan cahaya lampu temaraman, yang membuat suasana di dalam kamarnya menjadi sedikit gelap.Bimo kembali naik di atas ranjang, mendekati wanita yang sudah menjadi istrinya, memeluknya hangat. Dan menutup kedua tubuh mereka dengan selimut.
Diselimuti oleh selimut kedua tubuh pasangan pengantin baru ini bergumul dalam panasnya hasrat dan meraih kenikmatan yang direngkuh dengan perasaan yang sudah mulai tumbuh dalam hati masing masing. Malam yang panjang untuk kedua anak manusia yang kini tubuhnya menjadi polos seperti bayi. Rasa bahagia dan kemenangan sebab dalam hati mereka saling mempersembahkan sesuatu yang pertama bagi pasangannya.
Tak perduli dengan peluh yang memenuhi seluruh tubuh, hingga erangan kesakitan sang pengantin wanita membuat keduanya pun kelelahan dan akhirnya mereka tertidur dengan senyum yang tersungging di bibir masing masing. Senyum kebahagiaan dan kepuasan yang baru saja mereka dapatkan.
Hari berganti pagi,
Mala membuka matanya perlahan matahari pagi masuk melalui celah jendela. Mala turun dari ranjangnya. Rutinitas paginya menyapa orang orang yang dikasihinya. Mala yakin di balik cahaya mentari pagi ketiga orang yang di kasihinya sedang bersembunyi dan memperhatikan aktifitasnya setiap hari.
Mala tersenyum lalu masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Lalu bergegas menuju dapur hendak menyiapkan sarapan pagi untuk pasangan pengantin baru pikirnya.
“Selamat pagi, Mala.Apa tidurmu lelap semalam?’’ Felicia menyapa Mala yang terkejut melihat sepagi ini dia telah berkutat di dalam dapurnya.
“Katanya Bimo aku di suruh masak di dapurmu ini.’’ Felicia tersenyum melihat reaksi Mala.
__ADS_1
‘’Karena di dapurnya Bimo bahannya belum lengkap, jadi aku datang kemari menyiapkan sarapan di sini.
‘’Bukan begitu, maksudku kalian adalah pengantin baru, biarkan aku yang menyiapkan sarapan untuk kalian.’’ Mala menjadi tak enak dengan Felicia.
‘’Sudahlah Mala aku sudah terbiasa untuk melakukan ini setiap hari.’’
“Selamat pagi semuanya.’’ Bimo muncul dari balik pintu.
Mereka bertiga duduk bersama di meja makan dan makan menu sarapan yang dibuat oleh Felicia.
‘’Bimo kamu beruntung mendapat istri yang cantik dan pandai memasak. Nggak salah ibu kamu memilih jodoh buat putranya.’’ Felicia tertunduk dan tersipu malu. Membuat Bimo semakin gemas melihatnya.
‘’Untuk yang semalam, aku minta maaf pada kalian.’’ Mala tertunduk sedih.
‘’Kalau kamu masih keberatan untuk bercerita, kami mengerti kok.’’ Bimo tak tega melihat Mala yang terus saja bersedih. Mala menghela napas panjang.
Dia mulai bercerita, menceritakan kisah perjalanannya. Kisah seorang gadis buta huruf yang dijodohkan dengan cucu majikannya sendiri. Bagaimana mereka menikah, lalu berpisah dengan cara yang begitu licik dari Casandra. Dan kemudian Kenny yang menjadi penyemangat hidup Mala. Meski perasaannya di tolak berkali kali, namun Kenny selalu setia menemaninya, hingga Devan hadir di dunia serta perjuangannya melewati bersama dengan Kenny penyakit Leukimia yang di derita oleh Devan.
Bagaimana perjuangan Mala dan Kenny untuk mendapatkan donor sum sum tulang belakang yang hanya bisa di dapatkan dari Cristian. Namun penolakkan Cristian dan keegoisan hatinya membuat Devan tak bisa bertahan.Tepat di hari ulang tahunnya Devan menghembuskan napas terakhirnya. Dengan sebuah permintaan terakhir ingin bertemu dengan ayah kandungnya.
Devan tak mendapatkan kesempatan itu. Lalu bagaimana dia melewati harinya tanpa Devan membuat dia hampir stres. Lalu diculik seseorang dan hampir saja diperkosa beramai ramai. Dan Kenny datang tepat pada waktunya,
Mala menjeda ceritanya sedikit,lalu menghapus air mata yang masih mengallir di pipinya.
Felicia yang duduk di sampingnya mengelus elus punggung Mala berusaha menguatkannya.
Sampai akhirnya Kenny di tembak salah satu tersangka penculikannya dan Kenny tak bisa bertahan setelah beberapa hari koma di rumah sakit. Mala menangis lagi, air matanya tak bisa berhenti mengalir. Mala menangis sesegukkan mengingat kembali kenangan terburuknya di saat itu.
‘’Setelah Kenny meninggal, mama Laurent memintaku untuk pergi bersamanya.’’
Mala menutup ceritanya. Bimo tak menyangka selama ini Mala menyimpan lukanya sendirian. Mala begitu pandai menyembunyikan kesedihannya, degan senyum kebahagiaanya selama di Meksiko Mala hampir tak pernah menampakkan kesedihannya di hadapan semua orang.
‘’Bagaimana bisa kamu sekuat ini Mala?’’ Bimo merasa iba dengan Mala.
“Kalau begitu, aku minta mulai hari ini kamu jangan bersedih lagi. Sudah ada aku dan Felicia yang akan menjadi penghiburmu. Kita akan menjadi keluarga yang saling mendukung dalam susah dan senang kita.’’ Bimo mengambil tangan Mala dan Felicia bersamaan dan meminta Mala untuk tak bersedih kembali.
Mala dan Felicia tertawa bersama sama.
‘’Bagaimana kalau hari ini kita berjalan jalan?’’ Ajak Bimo pada Mala dan Felicia. Dijawab dengan anggukkan tanda setuju dari Felicia.
“Ayolah Mala, kita akan melakukan keseruan hari ini. Perusahaan kita masih satu minggu lagi baru diresmikan. Jadi kita masih memiliki waktu untuk bersenang senang.’’
Mala menggelengkan kepalanya.
“Kenapa Mala?’’
“Harusnya kalian saat ini menghabiskan waktu untuk honney moon kalian.’’
“Aku nggak akan menganggu kalian, aku merasa nggak enak badan. Kalian nikmatilah waktu kebersamaan kalian.’’ Mala lebih memilih beristirahat di kamarnya.
‘’Apa perlu aku panggilkan dokter untukmu?’’
“Nggak usah Bimo, aku hanya butuh tidur saja. Kalian pergilah menikmati hari kalian, jangan memikirka aku.’’ Mala beranjak dan mulai membersihkan piring piring kotor sisa maknan mereka pagi ini.
Bimo dan Felicia mengerti keinginan Mala, akhirnya mereka berdua memilih kembali ke apartemen mereka.
“Bagaimana kalau kita lanjutkan permainan kita semalam sayang.’’ Bimo menggoda istrinya yang masih menahan sakit di bawah bagian sensitifnya. Setelah mereka masuk ke apartemen mereka dan mengunci pintunya, Bimo langsung dengan rakusnya memulai permainan panas mereka hingga berakhir di atas ranjang yang menjadi saksi bisu nikmatnya rasa percintaan yang tengah mereka lakukan.
Mala memilih berbaring malas di atas ranjangnya. Sebenarnya dia sangat ingin keluar dan berjalan jalan namun dia merasa tak enak dengan kedua sahabat yang sudah menjadi keluarga baginya. Karena kelelahan akhirnya Mala tertidur di atas ranjangnya.
Mata Mala mengerjap beberapa kali, dia melihat jam di atas nakasnya sudah menunjukkan pukul 16.00.
“Sudah sore rupanya.’’ Mala lalu turun dari ata ranjangnya dan masuk ke kamar mandi.
Tiga puluh menit dia habiskan di dalam kamar mandi, keluar dan membuka lemarinya. Memilah milah baju yang akan dikenakannya. Pilihannya jatuh pada sebuah dress berwarna biru, dan memakai flat shoes sebagai alas kakinya. Polesan make up natural, tak mengurangi kecantikannya.
Sore ini Mala memilih untuk berjalan santai berkeliling di sekitar apartemennya. Mala memakai tasnya dan berjalan menuju keluar dari apartemennya. Udara sore sudah sedikit menjadi sejuk,Mala memilih masuk ke sebuah cafe, dan memesan minuman dingin di sana. Dia memilih duduk di sebuah meja yang menghadap keluar dan bisa memandang orang orang yang berlalu lalang melewati tempat itu.
Sambil menikmati minuman dinginnya, dia ingin mencoba melupakkkan kenangan buruk di masa lalunya. Dan mencoba berpikir untuk memulai hari yang baru tanpa terikat dengan masa lalunya lagi.
‘’Kamu pasti bisa Mala.” Dia menyemangati dirinya sendiri dan tersenyum. Pahit terasa, namun kau harus bisa melewatinya Mala.
__ADS_1
.