
Bab 62
Malam ini Mala diundang makan malam oleh Bimo dan Felicia.
‘’Hmm masakanmu sangat enak sekali, Felicia. Dan aku berani bertaruh sebulan lagi berat badan Bimo akan bertambah.’’
Felicia dan dan Bimo terkekeh mendengar penuturan Mala.
‘’Kamu bisa aja Mala. Aku akan makan sebanyak yang aku mau. Akan tetapi tubuhku akan selalu seperti ini.’’
“Tubuhku yang menawan ini akan membuat Felicia akan selalu jatuh cinta padaku.’’
“Iya kan sayang?’’ Mata Bimo menatap genit pada Felicia yang membuat wanita itu menjadi tersipu malu.
Mereka bertiga menghabiskan makan malam mereka dengan penuh kebahagiaan. Sambil bertukar cerita Bimo dan Felicia yang masih belum mengenal satu sama lain. Namun dengan kedekatan ini membuat mereka saling mengenal lebih dekat lagi.
‘’Mala satu minggu lagi, HKG Company akan di resmikan. Kita akan mengadakan acara syukuran dan mengundang semua kolega bisnis kita.’’ Setelah makan malam mereka duduk sambil menonton televisi.
Mala menganggukkan kepala, tanda mengerti.
“Dan Hector bersama Jasmine akan hadir bersama kita.’’
“Benarkah, apa mereka juga akan ikut?’’
“Tentu saja ini adlah bentuk dukungan mereka untukmu.’’
“Apa kau kebeatan?’’
“Nggak Bimo akku malah senang jika mereka turut hadir bersama kita.’’
Bimo dan Felicia duduk di sofa yang sama dan saling menggenggam tangan.
“Bagaimana dengan pria dari Adiwijaya grup itu?’’
“Aku mengundangnya karena dia termasuk kolega bisnis kita juga.’’
“Nggak apa apa Bimo, aku akan bersikap profesional. Dan nggak ingin mencampur adukkan masalah pribadiku dengan pekerjaan.’’
“Baiklah, kami berdua akan terus berada bersama denganmu serta mendukungmu.’’ Mala tersenyum dan ,menganggukkan kepalanya.
‘’ Kalau begitu akan kembali ke kamarku.’’ Mala berjalan ke arah pintu dan kembali menoleh ke belakang.
‘’Bimo.’’
‘’Iya, ada apa Mala?’’
“Apa kau tahu, Cristian mengira kau adalah suamiku.’’
Hahahahhhahaha
Bimo tertawa .
“Kenapa dia berpikiran seperti itu?’’
”Entahlah, aku juga kurang mengerti dengan jalan pikirannya.’’
‘’Dan aku mohon padamu, biarkan dia berpikiran seperti itu.’’ Mala menngendikkan bahunya tanpa mau mendengar jawaban Bimo. Mala lalu keluar dari apartemennya menuju ke apartemennya yang masih berada tepat di depan pintu Bimo.
Mala masuk ke dalm kamarnya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menutup matanya. Ingin sekali dia tidur dan terlelap cepat, agar dia bisa melupakan kejadian sore tadi. Seberapa kuat dia membenci Cristian. Namun hatinya masih selau berdebar hebat jika berada di dekat pria itu.
“Tidak, aku nggak akan melupakan semua kejahatanmu pada Putraku, Cristian Adiwijaya.’’
Di kediaman keluarga Adiwijaya.
Cristian tak bisa menutup matanya. Tubuhnya terus berbolak balik di atas ranjang.Pikirannya masih tertuju pada ingatannya pada Mala hari ini. Matanya yang sayu, gejolak di dalam hatinya ingin sekali memeluknya melepas kerinduannya selama ini. Namun dia harus bisa menempatkan dirinya, Mala adalah istri orang.
“Tunggulah Mala, aku akan membongkar kedok suamimu itu. Aku akan membuatmu akan meminta untuk nggak akan hidup lagi di dunia ini .’’ Cristian terlihat geram dengan perilaku pria yang dia kira adalah suami Mala. Dan matanya kian mengantuk dan tertidur juga. Nyonya Elisabeth membuka pintu kamar Cristian dengan perlahan, .elihat cucunya yang sudah terbaring di atas ranjangnya.
‘’Tenanglah cucuku, apa pun yang terjadi nenek akan membawa Mala untuk kembali lagi di sisimu.’’
Nyonya Elisabeth kembali menutup pintu kamar cucunya dengan pelan. Agar sang pemilik kamar tak terbangun lagi. Dia kembali ke kamarnya. Serta memikirkan cara, bagaimana membuat Mala akan kembali lagi ke rumah ini. Nyonya Elisabeth duduk di atas ranjangnya, mengambil sebuah pigura di atas nakas, memandang dan mengusap wajah pria tua yang ada di dalam foto.
“Suamiku, bantulah aku untuk kembali menyatukan kembali hubungan Mala dan cucu kita. Meskipun cucu kita telah melakukan kesalahan yang begitu fatal. Semoga saja Mala mau memaafkannya.’’
Nyonya Elisabeth mengusap sudut matanya, berharap hubungan cucunya bisa kembali bahagia seperti rencana mereka sebelumnya. Banyak harapan yang mereka buat selama tuan Victorio masih hidup. Tapi semuanya di patahkan oleh rencana licik Casandra. Untuk kali ini aku nggak akan biarkan siapa pun untuk menghalangi kebahagiaan cucunya. Walau pun dia sudah mendengar dari cucunya, jika Mala telah menikah. Entah kenapa dalam hatinya nyonya Elisabeth yakin kalau Mala dan Cristian akan kembali lagi bersama.
Mata nyonya Elisabeth mulai terpejam, hingga akhirnya napasnya mulai berhembus teratur. Dia sudah terlelap dalam tidurnya. Sayup sayup dari kejauhan suara seorang wanita sedang menangis. Isakanya semakin lama semakin terdengar jelas. Nyonya Elisabeth perlahan mencari sumber suara tangisan yang sangat menyayat hati itu.
Suaranya terdengar dari balkon kamar tidurnya. Nyonya Elisabeth membuka gorden pintu kaca yang menjadi penyekat antara kamarnya dan balkon
__ADS_1
‘’Siapa ?’’
Nyonya Elisabeth berhati hati mendekati wanita yang sedang menangis di sudut balkon, yang masih tergugu menangis membelakangi dirinya. Perlahan dia mendekati wanita itu dan meraih pundaknya.
Betapa terkejutnya dia melihat wanita yang berad di hadapannya ini.
‘’Nenek.’’ Dia merangkul tubuh nyonya Elisabeth dengan erat. Rasa iba bercampur pilu menyelimuti hati nyonya Elisabeth.
Dan tiba tiba mata nyonya Elisabeth terbuka. Ternyata hanya mimpi, wajah gadis yang begitu sangat dikenali olehnya. Begitu terasa sangat nyata dalam pikirannya, pelukan gadis itu dalam mimpi membuat hati nyonya Elisabeth merindukan sosoknya yang begitu sangat dikasihinya sejak awal. Nyonya Elisabeth bangun dan turun dari atas ranjang, mengambil air minum di atas nakas lalu meminum segelas air dingin hingga habis.
Mata nyonya Elisabeth sudah tak bisa terpejam lagi, dia hanya duduk dan terus memikirkan arti mimpinya.
‘’Apa kamu sakit Mala?’’
Pikirannya terus menghantuinya. Bagaimana tidak, sejak lima tahun yang lalu Mala menghilang dia tak pernah berjumpa dengannya lagi. Kini tiba tiba dia hadir dalam mimpi nyonya Elisabeth. Bayangan senyum dan kepolosan Mala terus mambayanginya. Dan rasa bersalah mulai menjalar di dalam hati.
“Mala sayang, dimanakah kamu berada sekarang. Nenek sangat merindukannmu saat ini, nak.’’
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 namun mata nyonya Elisabeth belum juga bisa terpejam. Meski dia sudah berusaha untuk menutup matanya, namun sia sia saja usahanya. Kepalanya kini semakin menjadi sakit. Nyonya Elisabeth tak berniat turun dari atas ranjangnya. Dia hanya memilih untuk terus berbaring di atas ranjang mewahnya.
Cristian dan Ellena sudah duduk bersama di meja makan. Namun nenek belum juga turyun dari kamarnya.
‘’Bik Inah, tolong panggilkan nenek ke kamarnya.’’ Cristian meminta seorang pelayan yang berdiri di belakangnya untuk memanggil sang nenek.
‘’Sudah tuan, tapi kata nyonya tuan dan nona Ellena silahkan untuk sarapan duluan.’’ Jawab sang pelayan menunduk dengan sopan.
‘’Ada apa ini, nggak seperti biasanya nenek seperti ini. Apa ada yang salah?’’ Cristian bergumam dalam hatinya. Dia lalu menghabiskan sarapannya dalam diam, berharap setelah selesai makan dia akan naik ke lantai atas ke kamar sang nenek.
‘’Habiskan makananmu, anak cantik. Setelah ini pak Parman yang akan mengantarmu ke sekolah.’’ Ucap Cristian pada Ellena. Gadis kecil yang sudah tumbuh menjadi cantik itu memandang ayahnya.
‘’Kenapa bukan papa yang mengantar Ellena ke sekolah?’’ Ellena memanyunkan bibirnya,tanda dia sedang kesal. Setiap hari dia hanya menginginkan papa Cristian yang mengantar jemput dirinya. Ada kebanggaan tersendiri di hatinya jika dia di antar atau pun di jemput oleh Cristian. Teman temannya di sekolah selalu memuji ketampanan papa Cristian.
‘’Ellena sayang, papa ingin melihat keadaan nenek dulu sebentar. Dan memastikkan kesehatannya dulu. Agar papa bisa melakukannya dan nggak membuat Ellena telat ke sekolah. Maka papa minta Ellena di antar oleh pak Parman dulu untuk hari ini.’’ Cristian tersenyum melihat wajah mungil putrinya yang sedang kesal dengan dirinya.
“Baiklah, kalau begitu Ellena pergi dulu yah. Tapi papa harus janji kalau nenek akan baik baik saja, papa yang akan menjemput Ellena nanti siang sepulang sekolah.’’
“Baiklah sayang, papa janji.’’ Sambil mencium pucuk kepala putrinya.
Setelah Ellena keluar dari ruang makan, dan berangkat ke sekolah. Cristian bergegas naik ke lantai atas dimana kamar neneknya.
“Nenek.’’
“Apa nenek sakit?” Cristian menghampiri neneknya dengan panik, lalu menaruh telapak tangannya ke atas kening neneknya. Tak ada demam di tubuh nenek, namun kenapa tubuhnya begitu lemah terbaring di atas ranjang. Wajahnya pucat, matanya sayu.
Cristian memandang wajah neneknya dengan tatapan sayang. Kasihnya yang begitu besar pada neneknya, membuat dia takut terjadi sesuatu pada wanita yang menjadi pengganti ibunya bertahun tahun yang lalu. Dia mengusap lembut tangan neneknya, dan mencium punggung tangan itu dengan penuh perasaan.
“Ada apa nek, apa terjadi sesuatu padamu?’’
Cristian begitu khawatir melihat neneknya hanya terdiam di atas ranjang miliknya. Nyonya Elisabeth mengelengkan kepalanya, lalu tersenyum pada cucu kesayangannya itu.
‘’Nggak ada apa apa nak, nenek baik baik saja.’’
“Lalu kalau nenek baik baik saja kenapa nenek terlihat lemas seperti ini?”
“Nenek hanya sedang memikirkan sesuatu, dan itu membuat nenek nggak bisa tidur semalam. Mungkin karena nggak bisa tidur, akhirnya badan nenek menjadi lemas seperti ini.’’
“Apa yang nenek pikirkan, sehingga nenek nggak bisa tidur?” Cristian menatap lekat mata sayu milik neneknya.
Neneknya menghela napas panjang.
‘’Semalam nenek bermimpi melihat Mala, dia menangis . Itu menyedihkan sekali bagi nenek. Mungkin saat ini dia sedang bersedih.’’ Cristian terdiam sesaat mendengar cerita neneknya.
“Apa ini ada hubungannya dengan perselingkuhann suami Mala yah. Nggak aku nggak akan biarkan Mala bersedih karena perselingkuhan suaminya.’’ Gumam Cristian dalam hatinya, dan dia bertekad akan membawa Mala keluar dari masalah rumah tangganya.
‘’Cristian merindukkan Mala nek.Ingin sekali Cristian membawanya kembali ke rumah ini lagi. Namun apa daya Cristian, Mala lebih memilih pria asing itu sebagai suaminya.’’ Cristian tak berniat menceritakan tentan perselingkuhan pria itu di hadapan neneknya. Dia takut itu akan menambah pikiran untuk neneknya.
‘’Biarlah aku akan menyimpan rahasia ini rapat rapat, tunggu sampai aku akan membeberkannya di depan Mala.’’ Cristian tersenyum dengan rencanaanya.
‘’ Nenek akan berusaha untuk membawa Mala kembali ke rumah ini nak. Dan nenek sangat yakin kalau pria asing yang kamu ceritakan sebagai suaminya nggak cocok untuk berdampingan dengan Mala.’’
Cristian memeluk neneknya, dia meneteskan air matanya. Sungguh penantiannya selama ini tak membuat hatinya bahagia. Kemunculan Mala di hadapannya dengan seorang pria asing itu membuat hatinya terasa sangat sakit. Cristian tak mau perdulikan lagi, dalam hatinya dia harus merebut Mala kembali ke sisinya dengan mengantongi bukti perselingkuhan pria itu lebih banyak lagi. Cristian memastikkan akan daapt membawa Mala ke kediaman Adiwijaya.
‘’Apa hari ini kamu nggak kerja nak?’’
“Cristian khawatir dengan keadaan nenek, biarlah hari ini Crist akan mengerjakan pekerjaan di rumah aja nek.’’
“Nenek nggak apa apa nak, kamu pergilah bekerja.’’
‘’Nggak nenek, sampai Cristian pastikan keadaan nenek baik baik saja. Crist sudah ,memanggil dokter untuk memeriksakan keadaan nenek.’’ Nenek hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, melihat ke khawatiran di dalam hati cuunya membuat dia bahagia. Bahagia begitu cucunya sangat menyayanginya, dan nenek tak ingin membantah keinginan cucu kesayangan satu satunya ini.
__ADS_1
Sebenarnya Cristian sudah menghubungi dokter pribadi nenek. Saat dia tiba, Cristian berdiri agak jauh dari ranjang nenek dan memperhatikan sang dokter menggunakkan alat mengukur tekanan darah nenek.
‘’Bagaimana dok, keadaan nenek saya?’’ Tanya Cristian dengan nada sedikit khawatir.
‘’Nyonya Elisabeth nggak apa apa tuan, tekanan drahnya juga normal. Mungkin karena dia sedikit kelelahan makanya pagi ini tubuhnya sedikit melemah. Selebihnya semuanya baik baik saja.’’
Cristian menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Kalau begitu , saya pamit kembali pulang dulu tuan. Sudah saya buatkan resep untuk nyonya. Ini bukan obat, tetapi Vitamin yang akan membuat daya tahan tubuhnyas akan semakin baik. Dan tuan nggak perlu khawatir, satu atau dua hari lagi tubuh nyonya akan kembali vit kembali.’’
‘’Terima kasih dokter.” Cristian mengantar sang dokter sampai ke depan pintu keluar kediamannya.
‘’Kalau ada sesuatu yang terjadi pada nyonya, jangan sungkan untu segera menghubungi saya tuan.’’ Cristian mengangguk, dan melihat sang dokter masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan kediaman Adiwijaya.
Cristian menyuruh seorang pelayan menuju ke apotik terdekat, menebus vitamin yang di resepkan oleh dokter tadi. Setelah itu dia kembali ke lantai atas dan mengambil labtopnya menuju ke kamar neneknya. Dia berniat mengerjakan pekerjaan kantornya sambil menemani sang nenek beristirahat.
‘’Apa nggak lebih baik kamu ke kantormu saja nak?’’
‘’Nenek baik baik aja kok.’’ Nenek mencoba meyakinkan cucunya untuk kembali ke kantornya.
‘’ Sudahlah nek. Nenek beristirahat saja sekarang.’’ Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi bubur hangat untuk sang nenek, juga obat yang baru saja di resepkan untuknya.
‘’Sekarang nenek makanlah, setelah itu minum obat. Agar hati Crist bisa lebih tenang menyelesaikan pekerjaan kantor Crist di rumah.’’
Nenek pun menuruti keinginan cucu kesayangannya, melahap habis buburnya dan segera menelan sebutir obat untukknya.
‘’Jangan lupa habiskan susunya juga nek.’’
‘’Iya nenek tahu.’’ Sahut neneknya kecut, hari ini dia benar benar merasa di perlakukan seperti anak kecil oleh cucnya sendiri. Cristian hanya tertawa kecil melihat tingkah neneknya.
‘’ Sekarang nenek tidur, Cristian akan menjaga nenek di sini sambil menyelesaikan pekerjaan kantor sedikit.’’
Nenek hanya mengangguk kecil, matanya yang sayu mulai meredup. Mungkin dalam vitamin yang diminumnya tadi mengandung obat tidur. Sehingga matanya tak bisa lagi di ajak kompromi, sekedar untuk menemani Cristian bekerja di sampingnya. Akhirnya dia benar benar tertidur pulas di atas ranjangnya.
Benar seperti yang di katakan oleh dokter, akhirnya setelah tiga hari nenek terbaring lemah di tempat tidur. Pagi ini kini mereka bertiga bersama sama menikmati sarapan pagi.
‘’Apakah nenek benar benar sudah sembuh?’’ Elena memandang wajah nenek buyutnya yang masih sedikit kelihatan pucat, namun tak mengurangi pancaran kecantikan pada wajah tuanya.
‘’ Sudah sayang, kini nenek sudah benar benar sembuh .’’
“Asyik dong.’’
“Kok asyik sayang?’’ Cristian menyeritkan dahinya melihat tingkah putri kesayangannya.
‘’Iya dong papa, kalau nenek sudah sembuh berarti papa udah bisa dong mengantar jemput Elena.’’ Jawab Elena dengan matanya yang berbinar binar membuat siapa pun yang melihatnya akan gemas.
Cristian dan nenek tertawa.
“Kok nenek dan papa tertawa.’’ Kini ekspresi bingung di wajah Elena yang membuat tawa nenek dan Cristian semakin keras.
‘’Nggak apa apa sayang, ternyata anak kesayangan papa yang satu ini merindukan di antar jemput sama papanya.’’
‘’Iya dong nek, soalnya papa Cristian selalu menjadi idola teman teman Ellena di sekolah. Dan itu membuat Ellena bangga memiliki papa Cristian.’’ Nenek hanya menggelengkan kepala mendengar pengakuan cucunya ini.
‘’ Ya sudah sekarang kalian berangkat, takutnya nanti kalian akan telat lagi. Apa lagi sudah tiga hari ini papamu nggak masuk kerja karena nenek.’’
“Ayo kita berangkat sayang.’’ Cristian mengajak Ellena keluar dari rumah dan bergegas mengantar ke sekolah putrinya.
Ruangan kerja Cristian sudah rapi pagi ini. Dia ,masuk diikuti oleh sekertarisnya yang kini telah merubah penampilannya menjadi sedikit sopan dan tertutup. Cristian tersenyum kecil melihat perubahan penampilan sekertaris pribadinya kini.
“Apa ada masalah selama aku nggak masuk kerja?’’
‘’Nggak ada tuan, semuanya baik baik saja. Hampir sempurna semuanya. Dan peluncuran produk baru kita akan di laksanakan satu minggu lagi.’’
‘’Kenapa seminggu lagi, apa nggak bisa di percepat?’’
‘’ Nggak bisa tuan, dalam minggu ini jadwal tuan sangat padat. Dan yang lebih penting tuan harus menghadiri peresmian perusahaan baru yang sudah menjadi kolega bisnis tuan.’’
‘’Maksudmu?’’
‘’ Anda mendapatkan undangan peresmian kantor HKG COMPANY, tuan.’’
“Tunggu apa HKG COMPANY tempat Mala bekerja bersama pria asing itu?” Cristian bergumam di dalam hatiya.
‘’Bagus ini kesempatan bagiku untuk mendapatkan lebih banyak bukti pria asing, suami Mala itu.’’
Cristian tersenyum miring dan mulai membuat rencana.
HHHHMMMM,
__ADS_1