
Gadis kecil bernama Cinta itu duduk santai di kursi, sambil menunggu Keinara dan omnya. Sesaat kemudian terdengar suara seorang pria memanggil namanya.
“Cinta...Cinta....Cinta!.” Suara omnya Cinta sepertinya sedang panik mencari-cari.
“Disini om....” Jawab Cinta berteriak sambil berlari ke pintu pagar agar omnya mengetahui keberadannya.
Setelah melihat keberadaan Cinta, pria yang tengah panik bergegas menghampiri gadis kecil itu.
”Cinta...Cinta...bikin om panik aja. Udah pulang yuk ” Ucap pria yang ternyata Fakhri.
Ajakan Fakhri tak di iyakan oleh Cinta. Karena gadis kecil itu memilih berlari kearah rumah, untuk kembali menemui teman yang umurnya terpaut jauh. Fakhri berusaha mengejar keponakannya.
“Cinta mau kemana, ayo pulang."
“Nanti om, Cinta mau main dulu."
Keinara keluar dari dalam rumah. Dia nampak terkejut setelah melihat pria yang berada di belakang Cinta. Begitupun sebaliknya.
“Keinara...!.” Panggil Fakhri.
“ Pak Fakhri....” Gumam Keinara dalam batinnya.
Jika raut bahagia ditunjukkan oleh Fakhri, maka raut wajahnya Keinara malah menunjukkan aura dingin. Mengguratkan rasa sebal pada pria didepannya.
“Om Fakhli udah kenal sama tante Keinala ya? " Tanya Cinta polos.
“Iya Cin, tante Keinala itu temennya om juga." Fakhri coba menjelaskan.
“Apa iya tant?.” Tanya Cinta pada keinara.
Jika temannya itu adalah gadis dewasa, mungkin Keinara akan menjawab bukan. Keinara menganggukan kepala sambil tersenyum, agar teman kecilnya tidak bingung.
__ADS_1
“Lebih baik bapak pulang saja, nanti Cinta saya antar pulang.“ Ucap Keinara seolah mengusir secara halus.
“Hmm....ceritanya ngusir nih."
"Tidak pak, Cinta biasanya kalau main itu lama.Kalau bapak nungguin nanti malah membuang waktu bapak yang notabene orang sibuk. Tapi kalau bapak mau nungguin ya silahkan....tapi maaf,tempatnya mungkin tindak nyaman." Balas Keinara yang sebenarnya malas bertemu dengan pria yang menurutnya menyebalkan.
“Saya akan menunggu Cinta sampai dia minta pulang. Kamu tidak keberatan kan?.” Ujar Fakhri yang akhirnya menemukan alasan untuk tetap berada di tempat itu.
"Tidak...silahkan saja." Jawab Keinara singkat.
“Om mau main disini juga?.” Cinta tiba-tiba menyela kegirangan.
Fakhri mengangguk
“Hore...aku seneng om ikutan main, jadikan Cinta banyak temen mainnya.” Ucap Cinta begitu gembira.
Membuat Keinara tak punya alasan untuk meminta Fakhri pergi.
Fakhri merasa Cinta adalah dewa penolongnya. Cinta telah mengajaknya bertemu dengan gadis yang akhi-akhir ini menggetarkan hatinya. Dan Cinta telah membuatnya bisa tetap berada ditempat itu .
Setelah merasa posisinya aman, Fakhri meminta ijin untuk duduk dikursi yang ada ditempat itu. Keinarapun tak bisa menolaknya.
“Om...somaynya Cinta mana?.” Fakhri kemudian menyerahkan bungkusan somay yang dipegangnya.
“Yante Kei, boleh pinjam sendok ama pilingnya nggak?.“
“Boleh...sebentar ya, tente ambilkan dulu.“
Tak berapa lama Keinara kembali membawa alat makan beserta air minum.
“Om...potongin somaynya." Pinta Cinta pada omnya.
__ADS_1
Fakhri segera menuang somay kedalam piring dan memotongnya menjadi bagian kecil-kecil agar Cinta mudah memakannya. Setelah siap, Fakhri menyodorkan piring somay ke Cinta.
“Nih udah, yuk dimakan. Abisin lho...”
“Makasih om.... aku mau makan somaynya sambil nonton tv aja.”
Ucap Cinta sambil masuk kedalam rumah meninggalkan Fakhri dan Keinara diteras.
“Makasih atas kerjasmanya Cinta.”
Batin Fakhri menganggap kalau keponakannya memberi kesempatan padanya untuk berbicara dengan Keinara berdua saja.
Namun Fakhri juga merasa heran melihat keponaknnya yang tampak sudah akrab dengan penghuni rumah kost itu.
“Sepertinya Cinta sudah sangat akrab dngan kalian?.” Tanya Fakhri membuka pembicaraan
“Kami sudah kenal lama. Ehm....maaf saya tinggal kedalam dulu.” Ucap Keinara dengan nada yang masih dingin.
Saat hendak melangkah masuk tiba-tiba tangan Fakhri menahan bahunya.
“Maaf Kei..bisa kita bicara sebentar?.” Ucap Fakhri dengan nada memohon.
“Mau bicara apa pak."
Tanya Keinara yang sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan di bicarakan oleh omnya Cinta itu.
“Duduklah Kei...” Perintah Fakhri.
Dengan malas Keinara menurutinya.
Akhirnya kedua manusia itu bisa duduk berdampingan di batasi meja kecil yang ada di antara kursi yang mereka duduki.
__ADS_1