Cinta Keinara

Cinta Keinara
Mohon Maaf dan Terima Kasih


__ADS_3

Selayaknya seorang pengawal, Devan membukakan pintu mobil dan menyilahkan Keinara masuk . Disambut tawa yang di sertai ucapan terima kasih dari gadis yang tampak begitu menggemaskan dalam pandangan Devan.


Devan melajukan kendaraannya pelan tapi pasti. Dan obrolan ringan mengisi waktu perjalanan keduanya.


Tiba-tiba Devan menepikan kendarannya, dengan wajah yang menegang.


“Ada apa Kei?” Tanya Devan bingung. Pria itu kembali menanyakan hal yang sama, tap tak kunjung ada jawaban.


Keinara masih saja menangis di balik telapak tangan yang menutupi wajahnya. Netra Devan melirik ke arah ponsel yang dijatuhkan begitu saja di atas paha gadis itu, dalam kondisi masih menyala.  Devan meyakini isi pesan yang tertera dalam


layar ponsel itulah penyebab Keinara menangis.


“Mas Fakhri kak...” Tiba-tiba Keinara bersuara .


“Fakhri kenapa?.” Wajah Devan makin menegang. Dia berpikir telah terjadi sesuatu yang buruk pada temannya.


Keinara menarik telapak tangannya dari wajah yang sudah basah oleh air mata, namun yang tampak bukan kesedihan tapi sebaliknya. Sebuah senyuman menyertai air mata bahagia yang masih mengalir dari sudut mata gadis itu.


“Mas Fakhri sudah sadar kak......”


Kebingungan Devan terobati sudah, seiring rasa bahagia yang hadir setelah mendengar ucapan Keinara.


“Benarkah itu Kei...?.”


“Iya kak, Mbak Fahira baru saja memberi tahu.”


Keinara mengambil ponselnya dan menunjukkan isi pesan dari Fahira pada Devan.


“Syukurlah....Akhirnya cowok play boy itu bangun juga.....”


Devan reflek menutup mulut dengan kelima jarinya. Ketika merasa ada kata dalam ucapannya yang mungkin dapat membuat pacar Fakhri itu tidak


nyaman. Tapi ternyata perasaanya itu salah, karena tidak ada yang berubah dari sikap gadis itu.


“Aku sedang tidak mimpi kan kak?.”


“Tidak Kei....kamu tidak mimpi dan saya yakin mbak Fahira tidak sedang membohongi kamu”


Sejak saat itu, senyum Keinara tak kunjung sirna dari wajahnya. Apalagi setelah foto Fakhri muncul dari pesan Fahira berikutnya. Air mata haru makin banyak menggenangi matanya. Hanya foto , tapi cukup membuat kebahagiaan Keinara seolah tak bertepi.  Kerinduan pada sang kekasih sedikit terobati dengan melihat foto  kekasihnya yang masih menggunakan penyangg leher dan perban di kepalanya.


Berkali-kali Keinara mengusap foto Fakhri dengan ibu jarinya. Tak menyadari ada mata yang sedang membagi perhatiannya pada jalanan dan dirinya. Perhatian dalam tatapan kekaguman karena rasa cinta yang dimiliki oleh gadis itu untuk seorang Fakhri, yang selama ini dia anggap tak pernah serius dalam mencintai wanita.


Devan kali ini di buat iri oleh Fakhri. Karena pria itu telah di beri cinta yang begitu besar oleh Keinara. Devan ingin di berada di


posisi Fakhri, namun sayangnya itu menjadi hal yang mustahil baginya.


Ia tak mungkin merebut apa yang sudah menjadi milik teman baiknya. Terlepas temannya itu benar-benar mencintai Keinara atau tidak.


Tak terasa perjalanan keduanya telah sampai di tujuan.

__ADS_1


“Makasih kak Devan...Maaf enggak nawarin mampir di rumah lagi enggak ada orang soalnya .”


“Iya Kei....Enggak apa-apa.  Aku juga mau balik kerumah sakit, khawatir kalau ninggalin oma lama-lama.”


Setelah berpamitan, Devan melajukan kembali kendaraannya,  meninggalkan gadis yang dicintai tetapi tak bisa di miliki. Terselip kecewa dalam hati Devan. Kecewa pada dirinya sendiri, karena membiarkan perasaan cinta pada Keinara tumbuh subur di hatinya.


Rasa kecewa juga di rasakan oleh Fahira, karena suaminya menunda rencana mereka untuk pergi mengunjungi Fakhri.  Baru seminggu kemudian, Fahira dan keluarga kecilnya akhirnya bisa terbang ke negara X.


“Om Fakhli.....” Panggil gadis kecil dalam gendongan Bagas, yang langsung minta duduk di ranjang bersebelahan dengan Fakhri. Baru saja turun, Cinta langsung mencim pipi omnya dan memeluk bahu pria itu. Fakhri tertawa geli, ketika ciuman cinta kembali mendarat dipipinya berkali-kali.


“Udah ih...om geli tau...!!."


Fakhri menutup pipinya dengan telapak tangannya. Tapi kemudian di singkirkan oleh cinta, yang masih belum puas menciuminya. Sontak tingkah Cinta menimbulkan tawa orang yang bersamanya. Cinta benar-benar  tak


memberi kesempatan ayah ibunya untuk bergantian menyapa pria yang salah satu


tangannya ia tahan dengan kedua tangannya.


Kecelakaan yang di alami Fakhri ternyata ada hikmahnya juga. Keluarga Fakhri bisa berkumpul dengan formasi lengkap meski bukan sedang Idul Fitri. Kesibukan menjadi alasan mereka jarang berkumpul, terutama Bagas dan istrinya yang notabene penggila kerja.


Ditengah obrolan keluarganya, Fahira teringat seseorang yang ada di negara asalnya. Dia adalah Keinara. Gadis yang ia gadang-gadang jadi calon adik iparnya.


Gadis yang sedang dipikirkan Fahira, saat itu sedang merasa nyeri dipunggungnya. Setelah hampir satu jam duduk didepan leptop. Keinara memilih bangkit dan meregangkan tubuhnya untuk melemaskan punggung yang terasa kaku. Merasa punggungnya membaik, Keinara mengambil dompet dan pergi keluar dengan motor untuk membeli nasi padang yang letaknya tidak begitu jauh.


Selesai dengan makan siangnya, Keinara kembali kedepan leptop. Namun belum sempat jarinya mengetik, ponselnya berdering. Ada panggilan video dari Fahira, dan itu tak biasa.


“Assalamu’alaikum Keinara....”


“Wa...wa’alaikumsalam mas Fakhri....”


Mata Keinara berbinar namun masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang yang di rindunya kini menyapanya.


“Apa kabar....” Ucap Fakhri lagi yang terdengar kaku.


“Baik mas, mas Fakhri gimana kabarnya, sudah lebih baik?.”


“Alkhamdulillah.... sudah labih baik.....”  Balas Fakhri seraya tersenyum.


“Aku minta maaf mas, gara-gara nengokin aku waktu itu mas jadi kena musibah.”


“Musibah itu takdir, bukan karena salah kamu. Jadi enggak perlu minta maaf.”


“Iya si mas....ya udah deh, aku bilang makasih aja deh sama mas.....”


“Makasih untuk??.”


“Makasih karena mas Fakhri sudah mampu melewati semuanya. Dan itu membuat aku lega.”


“Apa kau sangat mengkhawatirkanku?.”

__ADS_1


“Kok mas tanyanya gitu....ya pastilah aku mengkhawatirkan kamu mas. Wanita mana yang tidak akan khawatir, melihat orang yang di cintainya berada dalam kondisi antara hidup dan mati.”


“Makasih ya, sudah mengkhawatirkanku.”


“Aku bukan hanya mengkhawatirkanmu mas, tapi aku juga sangat merindukanmu!.”


Cairan bening yang sejak tadi hanya membayang, akhirnya berubah menjadi butiran bening yang meluncur di kedua pipi Keinara.


“Kenapa menangis..??.”


“Aku bahagia karena bisa melihat wajahmu lagi mas.”


“Oh.....Jangan menangis, aku nggak kuat melihat wanita menangis di depan mataku. Hapus air matanya.”


Keinara menyeka air matanya sesuai permintaan Fakhri.


“Nah begitu kan jadi kelihatan lebih cantik.”


Keinara tersenyum diiringi semburat warna merah jambu di pipinya.


“Mas Fakhri kapan pulang?.” Tanya Keinara penuh harap.


“Belum tau, mungkin tiga atau empat minggu lagi. Bahkan mungkin bisa lebih, kenapa?.”


“Enggak apa-apa mas. Tapi memang harus selama itu ya, masa pengobatannya?.”


Raut kecewa jelas nampak di wajah Keinara, yang sebenarnya ingin segara bertemu langsung dengan kekasihnya.


“Kata dokter si begitu.”


“Oh.....mas kenapa?.”


Keinara tiba-tiba panik melihat Fakhri memegangi kepalanya dengan wajah meringis kesakitan.


“Kepalaku sakit Kei....sudah dulu ya.”


“Ya mas....mas istirahat ya, biar lekas sembuh..”


Fakhri mengangguk dan kemudian wajahnya hilang dari layar.


Rasa khawatir kembali menguasai hati dan pikiran Keinara, melihat tambatan hatinya kesakitan seperti tadi.


Jauh di negara sebrang sana, Fakhri sedang memegangi kepalanya yang terasa sakit. Sampai rintihan sakitnya menggema di seluruh ruang, tempat dimana dia berada.


"Kenapa kepalaku sakit sekali ketika mencoba mengingat gadis itu. Dia nampak begitu mencintaiku dan merindukanku.Tak tega rasanya jika aku harus mengatakan yang sebenarnya. Ya Alloh sakit banget..."


Fakhri semakin erat memegangi kepalanya, mengaduh kesakitan. Fahira yang sejak tadi sendirian menemani adiknya, dibuat panik. Wanita itu teringat obat dari dokter yang bisa diberikan saat Fakhri megalami sakit kepala. Lantas ia mengambil obat itu dari atas nakas dan memberikannya pada Fakhri bersama segelas air putih.


Setelah minum obat, Fakhri tampak lebih baik. Tak lagi mengeluh sakit kepala. Berganti dengan rasa kantuk yang memaksanya untuk tidur. Dengan di bantu sang kakak, Fakhri merebahkan tubuhnya dan tak berapa lama pria itu terlelap.

__ADS_1


__ADS_2