
Selamat Membaca
🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️
Mobil Fakhri terus melaju, makin jauh dari rumah Keinara. Tetapi pikiran dan hati pria itu masih tertinggal disana. Senyum Fakhri tak kunjung memudar mengingat bagaimana lembutnya tangan Keinara yang berhasil mendarat di bibirnya.Jika bisa diulang, maka ia pasti akan mengulangnya. Berkali kali dia tersenyum, dia merasa dibuat gila oleh Keinara.Kebersamaan dengan Keinara yang meski hanya sebentar cukup membuat kebucinan Fakhri naik level. Keinginan untuk memiliki gadis itu makin menggebu. Namun sepertinya Fakhri harus berjuang keras untuk meyakinkan Keinara, bahwa ia benar-benar mencintai gadis itu.
Emagenya sebagai play boy pastinya akan menjadi hal yang dipertimbangkan oleh Keinara untuk bisa membalas perasaan Fakhri, apa lagi beberapa kali Keinara melihat Fakhri menggandeng mesra beberapa wanita.Gadis itu tidak akan mudah percaya dengan ungkapan cinta dari Fakhri yang sebenarnya tulus. Memikirkan hal itu, Fakhri menjadi resah. Cintanya yang sudah terlanjur dalam, takutnya tak berbalas. Namun bukan Fakhri namanya jika menyerah sebelum berperang. Ia akan terus mencoba mengambil hati Keinara.Dimulai dari menghapus status pacarannya dengan si A, si B dan Si C. Dan Diana menjadi yang pertama dibuat patah hati.
Tak terasa Pemuda berbadan kekar itu telah sampai di rumahnya. Ternyata kedua orang tua Fakhri masih berbincang di ruang keluarga.
“Ayah kapan pulang?” tanya Fakhri sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
“Tadi jam sembilan. Kamu lembur?. Jam segini baru pulang?.” Jawab pak Surya, ayah Fakhri yang baru sepuluh menit yang lalu tiba dirumah, Setelah melakukan perjalanan bisnis keluar kota.
“Habis ketemu temen yah.”
“Temen apa pacar?. Kelihatannya lagi happy banget nih anak bunda."
Sang bunda menimpali, sembari memperhatikan wajah anak bungsunya yang kelihatan bahagia.
“Paling-paling baru dapet gebetan baru, nambah koleksi cewek.“ Seloroh sang ayah.
Fakhri hanya menanggapi dengan senyuman.
“Ri, umur kamu hampir kepala tiga, dah stop gonta ganti pacar. Sekarang saatnya cari yang serius, jadikan istri. Bunda juga pengen gendong cucu dari kamu.”
"Iya bunda....Fakhri lagi nyari kok. Doain aj, semoga Fakhri cepet dapat istri yang bisa ngasih banyak cucu buat bunda." Balas Fakhri dengan mimik serius.
“Cari yang selevel Ri.” Tambah ayah.
“Ayah...sudah deh, jangan memberi standar begitu, harus yang selevel. Enggak selvel juga gak papa, yang penting baik, taat pada agama, bisa ngurus keluarga.” Ucap buTalia mengingatkan suaminya.
Bu Talia adalah wanita sederhana, meski bergelimang harta. Kemewahan yang diberikan oleh sang suami tak membuat wanita itu membatasi diri dalam bergaul. Kesdehanaannya ternyata ditiru oleh kedua anaknya. Fakhri dan Fahira. Sementara anak pertamnaya, lebih mewarisi sifat ayahnya. Yang suka mengukur sesuatu dengan materi.
“Tuh yah dengerin apa kata istrimu.”
“Dasar anak sama ibu sama saja.”
Bu Talia hanya geleng-geleng kepala.
“Ri..sudah malam sana pergi tidur, takut kesiangan besok.”
“Ya bun, aku tidur dulu. Ayah aku kekamar dulu.”
“Hem” Jawab ayah sambil mengangguk.
Fakhri berlalu bersama siulan dari mulutnya. Sang bunda melihat ada yang aneh dari anak bungsunya. Wanita paruh baya itu tau kalau anak bungsunya sering bergonta ganti pacar, tapi tak pernah menunjukan ekspresi seperti yang baru saja dilihatnya. Baru kali ini dia melihat anaknya sebahagia ini. Tapi benarkah putranya itu sedang jatuh cinta?. Gadis mana yang telah membuat anaknya jatuh cinta sampai sebegitunya.? Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benak bu Talia.
“Siapapun gadis itu semoga bisa menjadi istri yang baik untuk Fakhri” gumam bu Talia yang kemudian mengajak suaminya untuk istirahat.
“Yah, sudah malam. Segera tidur, ayah pasti capek.” Perintah bu Talia pada suaminya.
“Ya bun, ayuk. Badanku juga terasa pegal-pegal”
Sang suamipun bangkit dan menggandeng istrinya menuju kamar mereka.
__ADS_1
Sementara Fakhri yang sedang berbaring dikasur empuknya, masih terjaga. Tatapannya masih tajam menatap langit-langit kamar, dengan bibir yang kerap menampakan senyum bahagia.
“Kei, kau benar-benar sudah membuat aku gila, bener-bener gila. Kau harus bertanggung jawab Kei. Ini semua karenamu.” Fakhri berbicara sendiri, disaksikan malam yang makin larut.
Bulan telah selesai melaksanakan tugasnya, dan digantikan sang mentari . Begitu juga Fakhri yang baru saja menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang hamba tuhan. Selesai beribadah, Fakhri menuju ruang fitnes yang berada di sebelah kamarnya. Ruang yang setiap satu minggu sekali ia kunjungi untuk menyegarkan badannya. Selama satu jam, pria yang berusia dua puluh delapan tahun itu berada diruang fitnes. Keringat membasahi tubuh Fakhri, yang hanya memakai celana pendek. Merasa cukup dengan kegiatan olah raganya, dan beristirahat sejenak diruang kerja, Fakhri bersiap untuk melanjutkan aktifitasnya.
Fakhri keluar kamar menuju meja makan di lantai bawah. Pria itu tampak gagah dengan stelan baju kantor berwarna abu muda. Dimeja makan kedua orang tuanya telah menunggu untuk sarapan. Dua buah sandwich dan segelas jus mangga jadi menu sarapannya pagi itu.
“Ri...kamu ingat teman ayah, yang namanya Rakhmat?.” Ucap sang ayah disela-sela sarapan Fakhri yang baru mulai.
“Ya ingat yah, yang orang bandung kan?.” Balas Fakhri.
“Iya, sekarang dia dan keluarganya pindah menetap di Jakarta."
Fakhri menjawab dengan kata “oh....”
“Kapan-kapan kamu mau kan ayah ajak main kerumahnya?.”
“Enggak bisa janji yah, pekerjaan Fakhri lagi banyak banget. Lagian mau ngapain kita kesana.?”
“Silaturakhmi aja, sekalian mau ngenalin kamu sama anak gadisnya.”
“Maksudnya ngenalin gimana?.”
Fakhri mulai menangkap arah pembicaraan ayahnya.
“ Begini Ri, kemarin om Rakhmat kekantor ayah. Selain bicara soal bisnis, om Rakhmat dan ayah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan anak gadisnya. Kalau tidak salah namanya Angle. Angle sepertinya cocok dengan kamu. Anaknya pinter, cantik, mandiri dan punya usaha sendiri. Kamu pasti tidak akan menyesal jika memperistrinya.”
Fakhri terdiam , karena wajah keinara tiba-tiba muncul di pelupuk matanya. Hatinya sudah tertambat pada gadis itu, hatinya langsung menolak perjodohan yang disampaikan ayahnya.
“Gimana Ri, kamu mau kan?.”
“Kenapa?.“
“Fakhri, jangan langsung menolak. Apa salahnya kamu kenalan dulu sama anaknya om Rakhmat itu. Siapa tau nanti setelah kalian kenal, kalian akan merasa cocok." ibu Talia akhirnya bersuara, setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar.
“Benar kata bundamu itu.” Sambung sang ayah.
“Saya tidak mau memberikan harapan yah.”
“Fakhri...kamu mau sampai kapan main-mainnya. Sudah saatnya kamu serius dalam menjalin hubungan dengan wanita. Umurmu tak muda lagi. Bunda ingin kamu segera menikah, dan punya anak. Selama ini bunda khawatir dengan kebiasaan kamu itu. Bunda takut kamu melakukan hal-hal di luar batas. Jadi biar bunda tenang bunda minta kamu segera menikah.”
“Iya bunda, saya usahain secepatnya bawa mantu kerumah. Tapi biarkan saya memilih sendiri calon pasangan hidup saya. Dan bunda enggak usah khawatir, aku tau batas dalam bergaul kok."
“Syukurlah...tapi bunda tetap ingin kamu cepat menikah.”
“Sabar bunda, Fakhri usahain secepatnya bawa mantu kerumah.”
“Iya...tapi kapan?. Awas ya...kalau kelamaan, kamu bakalan ayah dan bunda jodohkan dengan anaknya om Rakhmat. Kamu tidak bisa menolak. Iya kan yah.”
“iya Fakhri...ini ultimatum buat kamu.”
“Aduh....ayah, bunda...pagi-pagi udah bikin aku pusing aja, pakai dincam lagi” gumam Fakhri.
Fakhri sudah tak semangat lagi untuk menghabiskan sarapannya. Dan akhirnya memilih pamit pergi kekantor.
__ADS_1
“Habiskan dulu sarapanmu nak.” Perintah buTalia.
“Sudah kenyang...” Balas Fakhri sambil berlalu.
“Sepertinya anak itu terlalu nyaman dengan hidupnya yang sekarang.” Ujar pak Surya.
“Entahlah yah...bunda capek lihat tingkah dia. Sering gonta ganti pacar, tapi nggak ada satupun yang serius.”
“Aku harus bilang apa sama Rakhmat kalau begini.”
“Ayah bilang aja terus terang, atau bilang saja kalau Fakhri sudah punya calon.”
Pak surya mengusap wajahnya. Mengingat kelakuan putranya yang entah diwarisi dari siapa.
“Ya udah bun, ayah berangkat kekantor dulu.”
Bu Talia melepas kepergian suaminya untuk bekerja dari teras rumah. Baru masuk setelah mobil sang suami tak nampak lagi.
Ancaman kedua orang tuanya, mengusik pikiran Fakhri yang mulai fokus dengan pekerjaannya.
Pemuda itu takut, kedua orang tuanya akan benar-benar membuktian ancamannya. Untuk mencegah hal itu terjadi, tentunya ia harus segera menikah. Tapi dengan siapa, sementara wanita yang ia cintai masih jauh dari jangkauannya.
“Aku harus bisa mengambil hati Keinara, karena hanya dia yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku.” Pikir fakhri.
“Eh aku kok jadi kangen ya sama dia.” Wajah Fakhri seketika berubah ketika teringat Keinara.
Sebuah idepun muncul. Ia menyuruh sekretarisnya untuk memesan makanan ke Restoran dimana Keinara bekerja. Berharap Keinaralah yang akan mengantarkan pesanannya.
Di tempat lain....
“Kei...tolong anterin makanan ini ke kantor Bintang Graha ( kantornya Fakhri).”
“Kan bagiannya Wahyu kak.”
“ Wahyu enggak berangkat, penyakitnya kambuh lagi.”
“Oh....ya udah sini." Keinara mengambil paper bag yang berisi makanan dari tangan Beno.
“Cuma satu kak?.” Tanya Keinara sebelum pergi.
“iya kei, katanya nanti langsung di antar keruangannya.”
“Emang pesenannya siapa.”
“Pak Fakhri”
Berdesir hati Keinara mendengar Nama Fakhri. Terlintas bayangan Fakhri yang semalam membuatnya baper setengah mati. Ada rasa bahagia, tapi ia juga tak siap jika nanti perasaannya di obok-obok lagi sama Fakhri.
“Kei kok bengong, ayo cepat berangkat.”
“Eh iya...iya....”
Dengan jantung yang mulai berdebar, Keinara maelajukan motornya ke arah kantor Fakhri. Berharap ia bisa menitipkan pesanan Fakhri ke sekretarisnya atau ke Rita.
Sesampainya ditujuan, Keinara langsung disambut oleh Rendi. Yang tampak begitu merindukannya.
__ADS_1
Keduanya kemudian berbincang . Mereka tak menyadari bahwa Fakhri sedang memperhatikan mereka dengan dada yang bergemuruh. Tangannya mengepal. Raut cemburu begitu kentara . Fakhri yang baru keluar dari ruang meeting bergegas ke ruangannya. Didalam lift ia menghubungi Rita, pura-pura menanyakan makanan pesanannya.
Dengan langkah terpaksa, Kei melangkah menuju ruangan Fakhri. Kerena Rita tak berkenan ketika Keinara hendak menitipkan pesanan Fakhri kepadanya. Tapi sebelumnya dia memastikan, bahwa Fakhri sudah naik kelantai atas. Pelan tapi pasti, dengan wajah yang tak bisa diartikan Keinara naik lift menuju ruangan Fakhri. Sepanjang langkahnya, Kei mencoba menenangkan dirinya, dan menyiapkan mental, jangan sampai dia di buat baper lagi oleh Fakhri.