Cinta Keinara

Cinta Keinara
Temani Aku


__ADS_3

Selamat membaca


🧚‍♂️🧚‍♂️🧚‍♂️


Jam dinding diruangan Fakhri berdetak, menujuk pukul setengah tiga sore. Saat pria itu mulai fokus lagi dengan pekerjaanya, tiba tiba terdengar pintu ruangannya diketuk. Fakhripun mempersilahkan si pengetuk pintu untuk masuk.


”Masuk...!!."


“Assalamu’alaikum pak Fakhri."


Menyadari siapa yang datang, konsentrasi Fakhri seketika buyar.


“Wa.....waalaikumsalam...Keinara?!." Jawab Fakhri gugup bercampur senang.


Sungguh jika dadanya tembus pandang , maka akan tampak hati dan jantungnya sedang menari-nari.


Dengan senyum mengembang, Keinara melangkah masuk ke dalam ruang kerja Fakhri. Hati Fakhri terasa begitu adem melihat pemandangan indah yang terpampang nyata di hadapannya. Gadis yang begitu dirindunya datang dengan sendirinya. Untuk kedua kalinya, Fakhri merasakan mencintai seseorang dengan segenap jiwanya. Cinta Fakhri pada gadis itu tumbuh dengan cepat sebelum berbalas.


Jilbab dan baju Keinara tampak sedikit basah karena terkena air hujan. Diluar hujan tiba-tiba datang saat Keinara sedang memarkir motornya di sebrang jalan depan kantor Fakhri . Sehingga dia harus berjalan agak jauh menerobos hujan. Fakhri tanpa sadar bangkit dari duduknya dan mendekati Keinara.


“ Apa kabar pak Fakhri, ini saya mengantarkan pesanan bapak. Semoga tidak terlambat ” Ucap Keinara.


Fakhri terdiam, tetapi matanya begitu intens menatap Keinara. Tetapi kemudian ia tersadar.


“Tidak ,kamu tidak terlambat. Alkhamdulillah kabarku baik, kamu sendiri apa kabar. Lama sekali kita tidak bertemu."


“ Alkhamdulillah baik juga pak. Ini pesanannya." Keinara meyerahkan bungkusan isi makanan ke Fakhri.


Fakhri segera menerima bungkusan makanan dari tangan keinara. Meski sebenarnya dia heran karena dia tak merasa memesan makanan. Tapi yah sudahlah, yang penting dia bisa bertemu dengan pujaan hatinya.


“Duduk dulu Kei.” perintah Fakhri.


“Tidak pak terima kasih, saya harus kembali kerestoran."


“Diluar sedang hujan kan, itu bajumu basah. Tunggulaah sampai hujannya reda."


“Saya akan menunggu di bawah saja pak.”


“Memangnya kalau menunggu disini kenapa?."


“ Ya nggak pantas pak, masa kurir seperti saya duduk di ruang CEO. Apa kata orang nanti. Juga bapak pastinya kan sedang sibuk, nanti malah mengganggu.”


“Ya pantas-pantas aja, siapapun boleh berada diruangan ini. Yang penting tujuannya baik. Jadi kamu nggak usah merasa nggak pantas karena profesi kamu. Dan pekerjaanku juga sudah selesai. Jadi tunggulah disini sampai hujan benar-benar reda. Sekalian nemenin aku makan.” Ucap Fakhri dengan hati yang berharap Keinara mengiyakan ucapannya.


Keinara terdiam "ehmmm....tapi maaf pak, saya tetap tidak bisa, pekerjaan saya masih banyak. Saya mohon pamit, ***.....” Belum selesai Kei bicara, Fakhri sudah menimpalinya.


“Please Kei...sekali ini saja temenin aku makan ya.....” Fakhri menangkupkan kedua tangannya didepan dada pertanda memohon.


Melihat keseriusan Fakhri, Kei merasa tak enak hati. Akhirnya ia memutuskan untuk memenuhi Keinginan Fakhri.


”Baik pak...tapi saya tak bisa lama-lama, maaf.”


“Iya....paling tidak sampai hujannya reda. Hujannya gede banget lho Kei...”


Ucap Fakhri sambil melihat kearah dinding kaca transparan yang menampakan suasana diluar gedung.


”Silahkan duduk Kei...”

__ADS_1


“Iya pak makasih."


Kei akhirnya duduk di salah satu kursi yang berada di depan sofa yang diduduki Fakhri.


“Kamu sudah makan?."


“Sudah pak, tadi di resto.”


“Oh....ya udah aku makan dulu ya.” Ucap Fakhri sambil tersenyum.


“Selama sebulan ini kamu kemana, kok gak pernah kesini “ Tanya Fakhri saat memulai menyantap makannnya.


“Ada rolingan kurir pak, jadi saya pindah kearea lain, tapi masih dikota ini. Kemarin sempet juga pulang kampung dua minggu karena ayah sakit."


“Oh ... Sakit apa?."


“Asam lambung kronis, jadi sempet dirawat di rumah sakit."


“Sekarang sudah sembuh?."


“Alkhamdulillah sudah pak.”


“Oh....Syukur lah.”


Fakhri kembali menyantap makanannya, sementara Keinara membuka-buka ponselnya untuk menutupi rasa canggungnnya. Saat dirinya sibuk membalas pesan yang masuk di ponselnya, Fakhri ternyata tengah menatap wajahnya tanpa berkedip. Sampai akhirnya Keinara menyadarinya.


Keinara merasa salah tingkah, kemudian mengambil sebuah majalah yang ada di bawah meja untuk menutupi wajahnya. Gerakan Keinara ternyata menyadarkan Fakhri.


“Kok wajahnya ditutupi?." Tanya Fakhri.


“Jangan ngelihatin aku seperti itu pak.....!!." Jawab Keinara sembari menurunkan majalah dari wajahnya.


“Kok salah saya?." Tanya Keinara protes karena merasa tak berbuat salah.


“Iya salah kamu, kenapa kamu cantik” Ujar Fakhri sambil meneguk minumannya.


Sementara ujung matanya melirik ke arah Keinara yang tampak makin salah tingkah.


“Sepertinya hujan bakalan lama pak, jadi saya lebih baik pamit saja” Uap Keinara hendak bangkit dari duduknya.


Sungguh sikap Fakhri membuatnya tidak nyaman, dan ingin secepatnya pergi dari tempat itu.


“Kamu mau terobos hujan?.”


“Saya bawa mantel pak dibagasi motor.”


“Memang motor kamu diparkir dimana?."


“Di sebrang jalan, dekat bengkel."


“Kamu bawa payung?.”


Kei menggelang.


“Dari lobi kantor ke motor kamu jaraknya agak jauh, pasti kamu akan kehujanan jika maksain pulang. Udah tunggu sampai hujannya reda.” Ucap Fakhri sambil berlalu masuk kedalam ruangan dibelakang meja kerjanya. Tak lama ia keluar membawa dua kaleng minuman soda.


“Nih minum dulu.” Ucap Fakhri, sambil meletakkan minuman di atas meja.

__ADS_1


“Tidak usah pak “tolak Kei.


“Nggak papa, sambil nunggu hujannya reda” Ucap Fakhri sambil menyerahkan minuman dalam kaleng.


Akhirnya Kei mengambil minuman yang ditawarkan kepadanya. Hujan terus mengguyur, obrolan antara Keinara dan Fakhri terus mengalir. Namum terhenti ketika hujan berhenti. Keinara berpamitan untuk kembali keresto. Fakhri tak punya alasan lagi untuk menahannya. Akhirnya dia membiarkan Keinara pergi, tapi sebelum gadis itu pergi Fakhri meminta nomor Whatsappnya.


“Ehm Kei...aku boleh minta no WA kamu?."


“Buat apa pak?.”


“Aku ingin kita berteman, jadi boleh dong aku minta nomor WA kamu.”


“Bapak mau berteman dengan kurir seperti saya?.”


“Memangnya kenapa?.”


“Bapak nggak malu?.”


“Ya enggak lah....semua orang pasti senang berteman dengan kamu. Apalagi kamu cantik he..he...”


“Jangan berlebihan pak."


“Aku lagi bicara fakta kok. Gimana boleh minta nomor WAnya?.”


Keinara berpikir sejenak, namun kemudian mengambil ponsel Fakhri yang sejak tadi diulurkan kepadanya. Beberapa detik kemudian nomor posel gadis itu sudah tersimpan di ponsel mahal Fakhri.


“Makasih Kei, daan makasih juga dah mau nemenin aku makan."


“Iya pak sama-sama. Kalau begitu saya pamit pak. Terima kasih, selamat siang.”


Keinara ingin bergegas pergi, meninggalkan orang yang telah membuat perasaannya tak karuan.


“Ya Kei, hati-hati di jalan.”


Keinara mengangguk lalu pergi meninggalkan Fakhri yang seolah tak rela dirinya pergi.


Fakhri membaringkan tubuhnya disofa. Wajahnya berbinar bahagia. Senyum dibibirnya tak kunjung sirna. Rasa rindunya sudah terobati dan bonusnya dia dapat nomor ponsel Keinara langsung dari pemiliknya.


“Waduh..waduh...sepertinya ada yang sedang bahagia nih.” Ujar Rangga yang sejak tadi memperhatikan Fakhri, yang sedang senyum-senyum sendiri.


Fakhri hanya tersenyum mendengar ucapan asistennya. Dan kemudian bangkit dari rebahannya.


“Kamu yang pesenin aku makanan?."


Rangga mengangguk dan tersenyum.


“Makasih ya, sudah buat perutku kenyang dan hatiku riang ha...ha....”


“Hadeh dasar...bucin..bucinnn....”


Rangga benar-benar tidak menyangka kalau bosnya bisa bucin sama seorang gadis.


“Sudah tau siapa pria yang bersama Keinara?."


“Astaga....kenapa aku bisa lupa. Aku tadi tidak menanyakannya.”


Fakhri menepuk-nepuk dahinya. Ia meruntuki kebodohannya. Kenapa hal yang baginya sangat penting itu sampai ia lupakan. Pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya, akhirnya tak kunjung terjawab. Kesempatan bertanya yang baru saja ada ia sia-siakan begitu saja.

__ADS_1


Rangga hanya tertawa melihat tingkah bosnya, lalu keluar ruangan.


__ADS_2