Cinta Keinara

Cinta Keinara
Keinara...Obat lelahku.


__ADS_3

“Derrt..derttt...”


Keinara yang baru keluar kamar mandi bergegas meraih ponselnya. Pria yang sudah hampir dua bulan menjadi


kekasihnya, berada di balik panggilan vidio itu. Seperti biasa, Keinara akan langsung tersenyum bahagia, jika sang kekasih menghubunginya.


“Assalamu’alaikum sayang....”


Sapa Fakhri membuka percakapan.


“Wa’alaikumsalam mas...” Jawab Keinara.


“Habis mandi yang?, Seger banget kelihatannya. Segarnya menggoda.....”


“Iya mas...eh...” Jawab Keinara yang kemudian menutupi bagian lehernya yang terbuka, karena dia hanya


memakai handuk yang dililitkan keatas membungkus rambutnya yang basah. Buru-buru ia mengubah arah kamera pnselnya. Sehingga wajah Keinara menghilang dari layar ponsel Fakhri.


“Lho yang, kok kameranya dipindahin”


“Sebentar mas...makai jilbab dulu. Ada yang suka khilaf kalau lihat yang terbuka”


“Siapa memangnya?.”


“Siapa lagi kalau bukan pak CEO.”


“Ha...ha...makanya jangan suka menggoda.”


“Iiihh...siapa juga yang sedang menggoda?!.”


“Yang.....!!.” Panggil Fakhri yang merasa suara kekasihnya menjauh.


“Sebentar sayang...mau ngeringin rambut dulu. Diem aja dulu disitu ya. Atau matiin dulu telfonnya.” Jawab Keinara membuat Fakhri melayang diapanggil sayang. Fakhri dengan setia menunggu wajah kekasihnya muncul kembali.


Mata Fakhri di buat tak berkedip melihat wajah Keinara yang tampak begitu cantik mengenakan pasmina berwarna


biru muda, muncul kembali di layar ponselnya. Satu pujian meluncur begitu saja, membuat Keinara tersipu.


“Kamu kan gak ada jadwal kuliah. Tapi kok rapi gitu. Mau kemana?”


“Aku mau jalan sama Dewi.”


“Jalan kemana?.”


“Mau ke mall mas, nyari beberapa perlengkapan buat di bawa KKN”.


“Kamu mau KKN? Kapan berangkatnya?.”


“Lusa.......”


“Kok baru cerita yang...”


“Lupa.....he...he....”


“Ya udah, sekarang kamu bilang ke Dewi kalau kamu gak jadi pergi sama dia. Aku yang akan temani kamu.” Ucap


Fakhri.


Tampak di layar, Fakhri sedang berjalan keluar ruangan.


“Tapi mas.....!!”


“Aku jemput kamu sekarang. Jangan kemana-mana.”  Setelah berucap,


Fakhri mamatikan ponselnya tak peduli dengan kekasihnya yang masih ingin bicara.


Keinara di buat kesal oleh Fakhri. Terpaksa  Keinara menghubungi Dewi,untuk mambatalkan rencana meraka. Untungnya sang sahabat tidak protes.


Sepuluh menit kemudian mobil Fakhri telah terpakir di depan rumah kos Keinara. Keinara yang sudah menunggu


di teras rumah, segera menghampiri dan langsung masuk kedalam mobil.


“Mas, bukannya ini jalan menuju kantor kamu? kenapa kita kesini?.“ Keinara dibuat penasaran karena


Fakhri hendak membawanya ke tempat kerjanya, bukan ke mall.


“Kita kekantorku sebentar.Ada beberapa berkas yang harus segera aku tanda tangani, karena sudah ditunggu. Nggak apa-apa kan?.”


“Ya enggak apa-apa si,.....cuma seharusnya mas enggak usah maksain ngaanter aku, kalau pekerjaan mas sendiri


masih banyak.”

__ADS_1


“Enggak apa-apa Kei. Sebenernya aku juga lagi pengen kerja ditemenin sama kamu hari ini!.Kangen banget


soalnya.......” Ujar Fakhri dengan kebucinan tingkat dewa.


Keinara hanya menggelengkan kepala. Padahal semalam mereka sudah nonton bareng, dan  belum genap dua puluh empat jam Fakhri sudah mengungkapkan rasa rindunya.


Fakhri mengajak Keinara untuk masuk kedalam kantornya. Namun gadis itu menolak. Gadis itu butuh menata


mentalnya untuk menginjakkan kakinya kembali di tempat itu. Karena  ini adalah untuk pertama kalinya ia berada di


tempat itu, semenjak dirinya menjadi pacar Fakhri. Dan orang-orang di dalam sana banyak yang mengenalnya sebagai kurir. Apa kata mereka jika ia datang berdampingan dengan Fakhri yang merupakan pimpinan di tempat itu.


“ Mas, turunin aku di depan gerbang saja. dan mas Fakhri masuk dualuan. nanti aku menyusul.”


“Kenapa??.”


“Aku belum siap mas. Disini banyak yang mengenalku sebagai kurir. aku belum siap melihat tatapan mereka, mendengar ucapan mereka ketika melihatku bersamamu.. Takunya mereka memikirkan yang tidak-tidak tentang aku”


“Pikiran kamu terlalu jauh Kei, belum tentu mereka seperti yang kamu pikirkan.”


“Iya mas saya tau, tapi tetep ada kemungkinan kalau yang aku pikirkan itu benar kan mas...??. Sudah deh


mas...sana mas masuk duluan. atau aku pulang saja?.”


Fakhri akhirnya menurutti keinginan Keinara. Keinara turun di depan pintu masuk kantor yang kebetulan


tidak dijaga satpam. Kerika mobil Fakhri sudah masuk dan tak nampak lagi, Keinara melangkah masuk kearea kantor Fakhri dengan jantung yang berdebar. Sementara otaknya terus berpikir untuk mencari alasan yang tepat, jika nanti ada yang menanyakan alasan keberadaannya di kantor itu. Gadis itu berusaha tenang ketika


ia mulai memasuki lobi kantor, berharap tidak ada orang yang melihatnya. Namun itu tidak terjadi. Karena  baru beberapa langkah, sang satpam yang bernama  Pak Boim sudah menyapanya. Mau tidak mau Keinara harus membohongi satpam itu, ketika pria itu mencari tau tentang kepentingannya berada di kantor itu. Tak hanya pak


Boim, di langkah langkah selanjutnya banyak orang yang menyapanya termasuh Rendy dan Vera sang Resepsionis.


“Saya mau ketemu teman, di lantai lima.” Begitulah kira-kira jawaban Keinara ketika ada yang bertanya


padanya. Entah berapa orang yang harus ia bohongi demi sampai ke ruangan sang CEO. Satu kebohongan di ucapkan, maka satu doa memohon ampunan terucap setelahnya dari bibr Keinara.


Nafas Keinara terasa lega ketika masuk kedalam lift yang kosong. Namun itu hanya sebentar, karena beberapa


detik kemudian Fakhri dan beberapa orang juga masuk kedalam lift itu. Di balik wajah yang di buat tenang, Keinara merasa kesal karena Fakhri memilih berdiri di sampingnya.untungnya mereka berdiri di sisi paling belakang. Jadi tak ada yang melihat, saat Fakhri meraih tangan Kienara dan menyembunyikaya di balik pinggang. Keinara menggerak-gerakan tangannya agar Fakhri melepaskan tangannya. Namun Fakhri tak menggubrisnya hingga mereka sampai di lantai tujuh, dan hanya tinggal mereka berdua dalam lift itu. Keluar lift Fakhri masih menggenggam tangan Keinara dan membawanya keruang kerja. Fani sang sekertaris di buat melongo melihat sang kurir yang ia kenal, kini di gandeng mesra oleh bosnya. Keinara beusaha tersenyum saat bersitatap dengan Fani. Membiarkan perempuan itu dengan segala pemikirannya tentang dirinya dan Fakhri.


Nafas Keinara benar-benar lega ketka sudah berada di ruangan Fakhri.


“Huh...” Terdengar Keinara membuang nafas sembari mengistirahatkan tubuhnya di sofa.


“Semua ini gara gara kamu mas, aku jadi olah raga jantung.”  Balas Keinara dengan bersungut.


Fakhri tertawa lepas melihat ekspresi wajah kekasihnya.


“Sebenarnya kamu tidak perlu bersikap seperti ini yang....”


“Udah ah, gak usah dibahas.....”


“He..he...kamu nggemesin banget sih!.”  Ucap Fakhri sambil mencubit kedua pipi kekasihnya itu.


“Massss....!!!.” Teriak Keinara sambil menyingkirkan tangan Fakhri.


Fakhri kembali  tertawa,  semakin gemas ia pada Keinara. Tapi dia tak ingin membuat kekasihnya semakin kesal. Segelas air putih yang ada dimejanya, Fakhri  berikan pada Keinara.


Keinara merasa lebih tenang setelah meminum air dari Fakhri. Namun wajah gadis itu kembali menegang saat


ada yang mengetuk pintu. Si pengetuk pintu muncul setelah Fakhri menyuruhnya masuk, Dan ternyata itu Rangga.


“Tumben ingat ketuk pintu, biasanya main nyelonong aja.” Sambut Fakhri yang tengah duduk di samping


Keinara.


“He...he....kan lagi ada tamu. Kalau nyelonong aja, takutnya bikin panik .” Balas Rangga sembari senyum-senyum


. Dan Fakhri tau maksud dari asistennya.


“Hei...Kei, apa kabar?”  Sapa Rangga. yang kemudian meletakan beberapa berkas di atas meja kerja Fakhri.


“Alkhamdulillah baik pak Rangga.”  Balas pacar Fakhri, dengan  sebuah senyuman manis.


 Melihat tatapan bosnya yang mengerikan , Rangga mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Keinara. Dan fokus dengan tujuannya masuk keruaangan itu.


“Itu bos , beberapa berkas yang harus bos periksa dan tanda tangani, sore ini harus selesai karena besok


akan di bawa ke pertemuan dengan klien baru kita.”


“Oh oke...sebanyak ini?.”

__ADS_1


“Iya...kenapa, kok kaget gitu?.”


“Enggak apa-apa, cuma jadi ada acara yang tertunda.” Ucap Fakhri sambil melirik ke Keinara . Dan Rangga tau


maksudnya


“Tenang bos, nyonya pasti setia menunggu.”  Ujar Ranggadengan ekor mata tertuju pada Keinara.


“Iya mas, selesaiin saja pekerjaannya, saya enggak apa-apa kok.” Tutur Keinara yang memahami  maksud perkataan dari bos dan asistennya itu.


“Ya sudah, saya keruangan saya dulu!!.” Pamit Rangga. Fakhri hanya mengangguk mengiayakan.


“Ehm..mbak Keinara, tolong temenin bos saya. Cuma agak jaga jarak, kadang suka menggigit kalau lagi bucin.”  Ucap Rangga sebelum keluar ruangan, Disusul suara “ pletak” saat sebuah plupen yang melayang mengenai daun pintu. Keinara tertawa pelan. Melihat kelakuan dua pria itu.


Setelah tinggal berdua, Fakhri membuka leptopnya dan membiarkan Keinara duduk sendiri disofa.


‘Yang...kamu enggak apa-apa kan kalau nemenin aku?.”


“Iya mas, tidak apa-apa. Mas selesaiin aja pekerjannya.”


“Makasih ya sayang.....Kalau kamu mau minum ambil aja di sana.”  Ucap Fakhri  sembari menunjukkan sebuah ruang di belakang meja kerjanya.


Keinara mengangguk dan kemudian mengambil ponselnya. Setengah jam keduanya sibuk dengan apa yang ada


didepannya. Memasuki menit berikutnya, Fakhri bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di sebelah Keinara. Menjatuhkan kepalanya di paha gadis itu.


“Kamu capek mas?.” Tanya Keinara karena melihat Fakhri memejamkan mata.


“Tidak begitu sih....pengin bermanja sebentar sama kamu.”  Balas Fakhri yang sebenarnya merasakan lelah dan otot di belakang kepalnya terasa sedikit kencang.  Posisi Fakhri bertahan hanya sebentar. Karena ia merasa ada yang bergejolak ketika melihat bibir Keinara. Jadi ia mencari aman, dengan memindahkan kepalanya di sandaran sofa. Pergerakan Fakhri melagakan Keinara, karena ia takut apa yang di ucapkan Rangga akan terjadi.


Fakhri kembali berkutat dengan pekerjaannya,tak menyadari kalau kekasihnya tertidur nyenyak di sofa. Sementara


waktu hampir menunjukkan waktu jam makan siang. Fakhri tak tega membangunkan Keinara, dia memilih memindahkan tubuh Keinara ke atas ranjang yang ada di ruang pribadinya yang terletak di belakang meja kerjanya. Lagi-lagi imannya hampir goyah melihat bibir Keinara yang terlihat begitu menantang di matanya.


“Seperinya aku harus secepatnya halalin kamu Kei...” Ucap Fakhri yang akhirnya berhasil mengalahkan


gejolak di hatinya dan kembali ke ruang kerja.


Jam dua siang Fakhri baru selesai menyelesaikan pekerjaannya. Bersamaan dengan Keinara yang keluar dari


ruang pribadi.


“Mas....kamu yang mindahin aku kesana?” Tanya Keinara dan menunjuk ke arah ruang yang tadi ia temati.


“Iya,  kenapa?.” Fakhri balik bertanya, karena Keinara seperti mencurigainya.


“Kamu enggak aneh-aneh kan?.”


“Aneh-aneh gimana?.”


“Ya sudah lah, enggak usah di bahas lagi. Aku mau solat ....”


Keinara merasa kesal karena pertanyaannya  selalu di jawab dengan pertanyaan lagi oleh Fakhri. Akhirnya gadis memutuskan  kembali ke ruangan tadi, untuk melaksanakan solat duhur di sana. Lima menit kemudian  Keinara yang selesai dengan solatnya, kembali keruang kerja Fakhri dan mengeluh lapar pada kekasihnya  yang juga lapar.


“Tunggu sebentar .....Fani lagi belikan kita makanan di kantin.”


Tak berselang lama Fani masuk keruangan Fakhri dan membawa makanan yang sudah tesaji di atas ptring lengkap


dengan minuman dan buah.. Selesai dengan tugasnya, Fani bergegas keluar dan menyempatkan melirik ke arah Keinara. Seperi meminta penjelasan.


Hanya butuh waktu lima menit, untuk kedua orang itu menghabiskan makanannya.


“Yang mau jalan sekarang?.”


“Nanti aja deh mas, nunggu karyawan pada pulang.” Ternyata Kienara masih bermasalah dengan rasa percaya


dirinya. Gadis itu belum sanggup berjalan berdampingan sebagai pacar Fakhri di depan orang-orang yang ada di gedung itu.


“Yakin??.”


Kenara mengangguk pelan.


“Kalau begitu aku lanjut kerja ya?.”


“Iya mas....aku mau istrahat


lagi aja di dalam”.


Keinara lalu masuk lagi keruang pribadi Fakhri. Mengistirahatkan tubuhnya di sana sembari menonton Drama Korea.


Jam lima tepat, Keinara dan Fakhri sudah berada di sebuah mall. Dan dua jam kemudian keduanya telah keluar

__ADS_1


dari mall setelah kebutuhan Keinara terbeli semua. Sepasng kekasih itu berhenti sejenak di sebuah musola untuk solat magrib, dan kemudian melanjutkan kebersamaan mereka di sebuah restoran dan bioskop. Rasa lelah setelah seharian bekerja, seperti tak di rasakan oleh Fakhri. Karena menurut Fakhri, Keinara adalah obat penghilang lelahnya.


__ADS_2