Cinta Keinara

Cinta Keinara
POV Fakhri


__ADS_3

Apa yang Fakhri alami saat Keinara datang menjenguknya, menjadi alasannya untuk tidak menemui gadis itu. Rasa cinta ataupun rasa sayang untuk Keinara yang hampir tak ia rasakan, membuat  dirinya tak harus menanggung rindu pada gadis itu, meski berhari hari ia tak bertemu dengannya. Berbeda dengan Keinara, yang kadang memintanya untuk bertemu dengan alasan rindu.


Hubungannya dengan Keinara seolah tenggelam. Ia semakin jauh dari gadis yang dulu sempat membuatnya menjadi budak cinta. Apalagi Keinara juga sepertinya bosan menghubungi Fakhri karena sikap Fakhri yang berubah. Nama Keinara yang seolah hilang dari hati Fakhri, membuat pria itu memberikan ruang hatinya untuk wanita  lain.


Wanita itu bernama Bela. Wanita yang merupakan pengusaha muda, yang menjalin kerjasama dengan perusahannya. Bela yang kerap menggoda dengan kecantikan dan penampilannya, berhasil  memikat Fakhri.


Hubungan Fakhri dan Bela tak luput dari penglihatan Rangga. Sahabat sekaligus asisten Fakhri.


“Benar kamu sudah menjalin hubungan dengan Bela, partner bisnis kamu itu?.” Tanya Rangga saat mengetahui kedekatan keduanya.


“Iya....” Jawab Pria yang sudah dua bulan kembali kemeja kerjanya sebagi CEO.


“Terus bagaimana dengan Keinara?.”


“Entahlah....sampai sekarang aku belum bisa mengingatnya sebagai kekasihku. Gara-gara amnesia sialan ini.”


“Apa sampai saat ini dia belum tau hal ini.”


“Belum.”


“Kenapa?.”


“Aku kasihan saja, takutnya dia akan sedih kalau tau aku tidak bisa mengingatnya.”


“Kalau kamu punya rasa kasihan pada Keinara, kenapa sekarang kamu menghianatinya?.Gadis itu akan lebih sakit hati jika tau kamu menghianatinya, daripada dia tau kamu melupakannya karena amnesia. Seandainya dia tau kamu amnesia, saya yakin ia akan tetap bertahan di sampingmu, dan mungkin saja ia akan membantu kamu untuk sembuh. Keinara gadis yang baik Ri. Tak seharusnya kamu meyakitinya.”


Fakhri terhenyak mendengar ucapan asistennya. Apa yang Rangga ucapkan tak pernah terpikirkan olehnya selama ini. Berawal dari rasa kasihan, kini dirinya harus menyakiti wanita yang tulus mencintainya.


“Ucapanmu benar Ngga. Seharusnya aku memberitahunya sejak awal. Dan sekarang semuanya sudah terlambat.”


“Kamu memang sudah terlambat, karena sekarang ada Bela di antara kalian. Jika kamu inginkan Bela, temui Keinara. Akhiri hubungan kalian secara baik-baik. Begitu juga sebaliknya. ”


Fakhri tampak berpikir keras setelah mendengar saran dari Rangga. Dia dilema antara memilih Bela atau Keinara.


“Tok...tok....”


Lamunan Fakhri buyar saat mendengar pintu di ketuk dari luar.


“Masuk...”


“Selamat siang pak, diluar ada nona Bela.” Ucap Fani pada atasannya


“Suruh masuk...”


“Baik pak”


Fani bergegas keluar, tak lama Bela muncul dengan pakaian yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.


“Hey sayang.....eh ada Pak Rangga, apa kabar pak Rangga?.”


“Kabarku baik nona. Silahkan masuk. Saya akan melanjutkan pekerjaan saya.”


Pria yang merasa risih dengan cara berpakaian Bela memilih kembali ke ruang kerjanya.


Bela langsung mendekati Fakhri setelah Rangga menutup pintu. dengan manjanya Bela duduk di atas dua paha Fakhri dan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.


“Ngapain kesini....kan semalam baru ketemu.”  Ucap Fakhri sembari membelai pipi Bela.


“Nggak suka aku kesini?.”


“Siapa bilang.....aku suka kok.”


Selanjutnya ruangan itu menjadi hening. Karena sang penghuni tengah larut dengan hasrat mereka. Hanya sesekali terdengar suara decak bibir yang menyesap sesuatu.

__ADS_1


Kegiatan dua insan itu terhenti. Ketika terdengar ketukan dibalik pintu. Fakhri membenarkan letak baju Bela yang bergeser dari tempatnya semula, sebelum ia menyuruh masuk orang di balik pintu.


“Keinara...!!!”  Panggil Fakhri yang tampak terkejut melihat kehadiran gadis itu. Sampai ia harus menyingkirkan perempuan yang sedang duduk di pangkuannya. Dan langsung berdiri dengan wajah menegang.


“Siapa gadis ini Yang?”. Tanya Bela yang menggelayut manja di lengan Fakhri.


“D...di....dia....” Fakhri gugup. Mulutnya seolah tak bisa berbicara. Pria itu masih tidak percaya Keinara akan datang ke kantornya.


Tanpa Fakhri sangka, Keinara menjawab pertanyaan Bela dengan tenang. Fakhri juga di buat bingung ketka keinara memperkenalkan dirinya sebagi sepupunya.  Belum usai dengan rasa bingungnya, Fakhri di buat resah oleh Bela yang menyambut Keinara.


Keinara mendekati Fakhri dengan tatapan penuh rasa kecewa dan amarah.


“Ini makan siangnya mas Fakhri.” Jantung Fakhri berdetak kencang, saat merasakan sentuhan jari Keinara.  Gdis itu meraih telapak tangannya dan meletakkan makanan yang gadis itu bawa diatasnya.


Fakhri merasa bersalah ketika melihat tatapan Keinara. Ia sadar , dia telah melukai hati gadis itu.


“Maafkan aku Kei...”  Gumam Fakhri dalam hatinya.


“Aku ke toilet sebentar.” Jawab Fakhri saat Bela memintanya untuk duduk bersama dirinya dan Keinara.


Fakhri berlalu dan masuk kedalam toliet.


“Kenapa aku sesedih ini melihat gadis itu....dan air mata ini....???.” Ucap Fakhri yang bingung dengan air mata yang menggenangi matanya.


Fakhri terus mematung menatap pantulan wajahnya di cermin.  Membiarkan hati dan pikirannya berperang. Sementara airmatanya terus menyembul dan mengalir dari sudut matanya. Disertai bayangan Keinara yang muncul di pelupuk mata pria itu. Bukan hanya bayangan Keinara saat gadis itu berdiri didepan pintu beberapa saat lalu yang muncul di pikiran Fakhri, tetapi juga bayangan gadis itu yang tengah tertidur di ranjang yang ada di ruang pribadinya.  Membuat Fakhri tersentak. Sayanganya bayangan itu hanya muncul sekilas.


Fakhri menyandarkan tubuhnya ke dinding, dengan menyedekapkan kedua tangannya. Ia kembali teringat ucapan Rangga.


“Jika aku memberitahunya sejak awal tentang kondisiku, mungkin kondisinya tidak akan seperti ini.”  Pikir Fakhri.


“Keinara.....”   Nama Keinara keluar begitu saja dari mulut Fakhri yang tengah memejamkan mata. Pikirannya melayang pada gadis itu. Wajah sedih Keinara menari-nari di pelupuk matanya. Menyisakan sesak didada Fakhri.


Fakhri masih terus berdiri diam, dengan posisi tubuh yang tak berubah. Hingga akhirnya ia menyadari  bahwa dirinya sudah terlalu lama di dalam ruangan itu.  Dan dia juga menyadari jika dia tak merasakn sakit dikepalanya lagi, meski waktunya tadi lebih banyak untuk memikirkan keinara . Hal itu melegakan hati Fakhri dan berharap sakit kapalanya benar-benar telah sembuh. Itu artinya saalh satu masalahnya telah selesai.


Fakhri mengedarkan matanya, saat tak melihat Keinara diruang kerjanya.


“Hey...kamu lama banget di toiletnya. Ngapain aja si...??.” Ujar Bela kesal.


“Maaf....” Jawab Fakhri singkat.


“Mata kamu kenapa, kok merah ...?.”


“Kena sabun tadi. Yuk aku antar kamu pulang ke kantormu. Aku juga mau pulang, aku merasa nggak enak badan.”


“Ayuk....tapi aku nggak mau balik ke kantor, aku ikut kamu kerumah .”


“Lain waktu saja. Aku mau istirahat. Yuk....” Tanpa melihat wajah Bela yang manyun, Fakhri keluar dari ruangannya.


Keduanya melangkah keluar dari gedung tujuh lantai itu. Sebuah mobil telah menunggu mereka di lobi.


“Jadi benar nih, kamu nggak ngijinin aku main kerumah kamu sekarang?.” Tanya Bela saat sudah berada di dalam mobil.


“Bela...tadi aku sudah bilang, aku ingin istirahat. Aku lagi enggak enak badan...Lagian di rumah hanya ada ART. Nanti kamu nggak ada yang nemenin.”


“Kan ada kamu....”  Jawab Bela menggoda.


“Hemmmm.......lain kali saja, jangan sekarang.” Jawab Fakhri datar.


Fakhri tiba-tiba menginjak rem sampai menimbulkan bunyi berdecit pada roda mobil  yang bergesekan dengan aspal. Bukan tanpa alasan, jika ia tak melakukan hal itu maka mobilnya akan menabrak mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya.  Seperti sengaja ingin menghentikan Fakhri.


“Aw.....” Teriak Bela ketika tubuhnya menyentuh dasbor mobil. “ Yang.... kenapa si berhenti mendadak?”. Tambah Bela,  kesal.


Fakhri juga sempat merasa kesal namun rasa itu tiba-tiba raib, ketika melihat Keinara turun dari mobil seperti  sedang berteriak memanggil  gadis yang tengah berjalan kearah mobilnya.

__ADS_1


“Tok...tok...” Gadis yang  bersama Keinara tadi, mengetuk kaca mobil Fakhri dan berteriak meminta pria itu keluar.


Fakhri dengan tenang keluar dari mobilnya. Tanpa pria itu sangka, dua tamparan melayang ke pipinya dengan tiba-tiba.  Sampai tubuhnya terhuyung. Fakhri  tampak tak bereaksi atas perlakuan yang dia terima dari wanita asing di depannya, yang ia yakini sebagai teman Keinara. Dan ia juga yakin amarah gadis itu disebabkan olehnya. Sehingga pria itu membiarkan gadis itu menumpahkan amarahnya.


“Dewi cukup....!!!.” Teriak Keinara yang berdiri tidak jauh dari Fakhri.


Fakhri menoleh kearah Keinara yang terlihat cemas.


“Tamparan ini tak seberapa sakitnya di banding sakit yang kamu buat untuk wanita itu. Sebenarnya aku ingin melakukan lebih dari ini, tapi wanita yang kamu hianati itu pasti tidak akan rela. Karena dia sangat mencintaimu.”


Fakhri kembali memandang wajah Keinara yang juga sedang memandangnya dengan tatapan khawatir.


“Kau masih mencemaskanku Kei?, meski aku telah menyakitimu.”  Gumam Fakhri haru.


Tatapan pria itu terlepas dari keinara, saat bela menuju kearahnya dan Dewi.


“Hei siapa kamu, berani-beraninya kamu menampar kekasihku.” Teriak Bela. Hampir saja tangannya melayang ke pipi Dewi, jika Fakhri tak menahannya. Membuat Bela kesal.


“Saya tidak punya urusan dengan anda nona. Tapi jika anda ingin tau kenapa saya menamparnya, anda bisa menanyakannya langsung pada laki-laki bre***sek ini!!.”


Setelah berkata seperti itu, Dewi melangkah pergi namun sebelum benar-benar pergi, gadis itu menggebrak bagian depan mobil Fakhri dengan keras. Membuat Beladan Fakhri kaget sampai tubuh gadis itu berjingkat.


Mata Dewi yang merah menatap tajam penuh ancaman ke arah Fakhri dan Bela. Sebelum akhirnya Keinara menariknya untuk masuk kedalam mobil.


Fakhri menatap nanar ke arah Keinara yang masuk kedalam mobil tanpa menoleh kearahnya, kemudian berlalu pergi bersama mobil Dewi yang melaju kencang.


“Aku butuh penjelasan dari kamu Ri.” Ucap Bela. Penjelasan tentang apa yang baru saja ia lihat.


“Fakhri....!!.” Bela terpaksa berteriak karena Fakhri tak menjawab pertanyaannya. Dan malah memilih masuk kedalam mobil.


“Fakhri...jelasin semuanya ke aku, siapa dua wanita tadi. Dan sebenarnya siapa Keinara itu.”


Bela belum menyerah untuk tau yang sebenarnya. Sehingga ia kembali  bertanya, begitu ia duduk di


samping Fakhri yang mulai melajukan mobilnya.


Bela kembali kecewa karena Fakhri lagi-lagi tak menjawab pertanyaannya.


“Fakhri....!!! Kamu tuli hah......!!!.”  Karena kesal, Bela menaikan nada suaranya.Tapi tetap tak merubah keadaan. Tanpa sadar Bela mendorong bahu Fakhri, sampai tubuh Fakhri terdesak  ke pintu mobil.


“ Bela !!! Jaga sikapmu!!!.”  Bentak Fakhri, karena sikap Bela yang menurutnya keterlaluan.


“Oke...kalau kamu tau siapa Keinara, dia Kekasihku...aku mencintainya.!!!.”  Lanjut Fakhri penuh amarah, dan sedetik kemudian dia terdiam setelah menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Ucapan pengakuan yang keluar begitu saja tanpa terencana.


“Fakhri apa maksudmu....?!!.” Tanya Bela yang terkejut mendengar pengakuan Fakhri.


“Lupakan kata-kataku tadi...aku salah ucap.”  Balas Fakhri agar Bela berhenti bertanya, karena dirinya juga tidak tau kenapa ia sampai berkata seperti itu.


“Kamu salah ucap?.....saya kira tidak....!.”


“Sudahlah Bela ....jangan bahas itu lagi. Aku minta kamu diam.” Perintah Fakhri yang seolah wajib dituruti.


“Baik kali ini aku tidak akan minta penjelasanmu lagi, tapi besok aku mau kamu menjelaskan semuanya.” Ujar Bela berharap pacarnya mengiyakan keiinginannya. Tapi sampai dirinya tiba di halaman kantornya , Fakhri tak berucap apapun lagi. Dan berlalu pergi begitu saja, begitu dirinya turun dari mobil.


Bela begitu kesal dengan pria yang baru dua mingguan ia pacari.


Fakhri masih memikirkan ucapannya. Ia merasa heran mengapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Dan ia yakin ia sedang tidak salah ucap.


Pria itu benar-benar di buat gusar. Sehingga tak sadar ia menerobos lampu rambu lalu lintas yang sedang menyala merah. Hampir saja mobilnya bertubrukan dengan kendaraan lain.


“Pritttt......pritttt.....” Suara peluit polisi lalu lintas mengharuskan ia menghentikan kendaraannya. Tak terhindarkan, sekarang ia juga harus berurusan dengan surat tilang dari polisi.


“Lengkaplah sudah penderitaanmu Fakhri,” Ucap outhor.

__ADS_1


__ADS_2