Cinta Keinara

Cinta Keinara
Penantian Lima Belas Hari


__ADS_3

Dua minggu sudah Fakhri terbaring tanpa ada pergerakan.  Matanya terpejam dengan alat bantu pernafasan yang masih menempel di mulutnya.  Sementara keluarganya yang harap-harap cemas  setia menunggunya bangun. Penantianterasa begitu panjang, dengan akhir yang tak pasti.  Fakhri pulih atau Fakhri pergi untuk selamanya, dua pilihan yang salah satunya akan keluarga itu dapatkan.


Bu Talia, wanita yang mengandung


dan melahirkan Fakhri adalah orang yang paling tersakiti dengan kondisi Fakhri.  Sedetikpun ia tak mau jauh dari


anaknya. Ia habiskan waktunya untuk menemani sang buah hati yang tetap diam


saat ia mengajaknya bicara. Jelas, rasa lelah itu ada. Tapi sepertinya tak ia


rasakan. Jangankan rasa lelah, jika nyawanya bisa ditukar dengan kesembuhan Fakhri, maka ia akan dengan senang hati menukarnya. Baginya saat ini,


kesembuhan Fakhri adalah segalanya.


Bagas, anak sulung bu Talia baru


saja masuk ke ruangan VVIP dimana Fakhri di rawat, Saat perempuan itu tak kuasa lagi menahan kantuknya. Matanya terpejam dengan posisi duduk di kursi yang ada di samping tubuh Fakhri. Sementara tangannya masih memegang  sebuah  tasbih yang hampir terlepas.  Entah karena lelah  atau karena suasana kamar yang sejuk, membuat wanita itu tertidur di jam sepuluh pagi.


Ada rasa iba yang menyentuh hati


Bagas, saat netranya menatap wajah wanita yang telah melahirkannya.  Gurat kesedihan, kekhawatiran dan juga lelah


terpampang jelas di sana.


Bagas mendekati tubuh ibunya.


Dengan pelan pria tampan itu mengangkat tubuh ibunya dengan kedua tangannya


yang kekar berotot.


Bu Talia membuka matanya saat


merasa tubuhnya melayang. Mengerjapkan matanya beberapa kali.


“Bagas....”


Bu Talia menatap wajah putranya


yang begitu dekat dengan wajahnya. Tubuhnya yang semula duduk sekarang dalam gendongan putranya, yang ingin ia tidur dengan posisi yang benar dan di tempat yang nyaman.


“Bunda...sekarang bunda istirahat


ya. Biar bagas yang jagain Fakhri.”


Bagas merebahkan tubuh ibunya


diatas ranjang yang  memang disiapkan


untuk keluarga pasien.


“Jam segini kamu di sini. Apakamu tidak ada pekerjaan?.”


“Tidak bunda, semua pekerjaan kantor ada yang menghandle. Apa bunda lupa kalau anak bunda ini seorang bos?.”


Bu Talia hanya tersenyum.


“Memang seorang bos itu tidak bekerja?...... Ya sudahlah.”


Tanpa minta jawaban dari putranya, bu Talia mengistirahatkan matanya.


Bagas menyelimuti tubuh wanita


hebatnya dan membiarkan wanita itu tertidur.


Ketika di kantor tidak ada pekerjaan  penting, Bagas pasti akan datang ke rumah sakit. Menggantikan ibunya menjaga Fakhri. Tujuannya agar sang


bunda bisa istirahat. Pria itu sangat memperhatikan kesehatan ibunya. Karena ia tak ingin ibunya jatuh sakit.


Bagas bisa seharian menemani


ibunya di rumah sakit, ketika ayahnya harus pulang ke Indonesia untuk mengurus perusaahaan.  Jika sedang banyak yang harus ia kerjakan, maka  kamar perawatanFakhri berubah menjadi ruang kerjanya.  Sementara istrinya yang juga bekerja, hanya datang sesekali saat pekerjaannya longgar.


Seperti hari itu, Bagas meninggalkan pekerjaannya untuk pergi ke rumah sakit. Dan sampai malam dia berada disana. Tak berniat untuk pulang meski hanya sekedar untuk menemui istrinya. Ia hanya akan keluar dari ruangan itu, untuk membeli makanan.


Bagas mendekati Fakhri yang masih


enggan membuka mata.


“Fakhri....Fakhri.....betah banget kamu bikin bunda capek. Kamu tidak kasian apa sama bunda?!.  Bunda sudah semakin tua. Tubuhnya tak sekuat dulu. Kamu masih saja merepotkannya.”  Gerutu Bagas pada adiknya.

__ADS_1


Bagas terus mengajak Fakhri berbicara, sambil sesekali menggerak-gerakan tubuh Fakhri pelan. Tapi tetap  tak ada respon. Fakhri tetap diam. Pria itu menarik nafas dalam-dalam, tidak tau harus bagaimana lagi agar adiknya bangun.


Perawatan dan obat-obatan yang terbaik sudah di berikan untuk kesembuhan


adiknya. Tak peduli dengan biaya yang harus dikeluarkan.  Dia berharap segera ada keajaiban dari tuhan untuk adiknya.


Mata bagas menatap nanar ke wajah


adiknya, kemudian ke arah ibunya yang terbaring tidak jauh darinya. Kini


kesedihannya bukan hanya untuk Fakhri, tapi juga untuk kedua orang tuanya . Yang


pastinya sangat lelah secara fisik maupun batinnya, dengan kecemasan dan


kesedihan mereka.


Malam makin larut, Bagas masih


terduduk di kursi dekat ranjang Fakhri ditemani ponsel pintarnya. Sesekali pria


itu menguap karena kantuk yang mulai menyerang. Tak lama pria itu bangkit dari


duduknya menuju sebuah sofa panjang dan membaringkan tubuhnya di sana. Matanya terpejam dan tak terbuka lagi. Pria itu tertidur.


Seperti malam-malam sebelumnya,


Bu Talia terbangun saat dini hari. Mendapati kedua putranya yang sama-sama sedang terpejam. Setelah membasuh sebagian tubuhnya dengan air wudlu, Bu Talia menggelar sajadah  untuk melaksanakan serangkaian ibadah diatasnya. Tak lupa menyelipkan doa dalam sujudnya untuk  sang buah hati.


“Bb......uun......ndaaaa.....”  Suara serak dan pelan tiba-tiba terdengar dari Arah Fakhri. Bu Talia yang baru selesai berdoa, menoleh. Memastikan apa


yang didengarnya. Wanita itu bangkit dan melangkah ke arah Fakhri. Kepala


Fakhri bergerak kearah ibunya yang kini sedang menatapnya, seolah sedang


meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya.


“Bbbb....uunndaaaaa....”


Lagi, suara itu terdengar, dan


itu benar berasal dari mulut Fakhri. Sementara mata pria itu terbuka, dan


“Nak...kamu sudah bangun.....?.”


Perempuan tua itu langsung memeluk


tubuh anaknya dengan tangis bahagia.


“Alkhamdulillah nak......”


Bibir wanita itu terus mengucapkan rasa syukurnya. Karena doanya telah didengar dan di kabulkan oleh tuhan. Kening Fakhri dibasahi oleh air mata ibunya, yang berkali-kali mencium keningnya.


“Bunda bahagia nak....akhirnya


kamu bangun. Bunda sangat bahagia.......terima kasih sayang....”


Kini pipi Fakhri menjadi sasaran


ungkapan kebahagiaan bu Talia. Penantian lima belas hari telah berakhir.


Putranya telah kembali. Tak ada yang lebih membahagiakan wanita tua itu, selain


melihat sang putra tersadar dari komanya.


Suara bahagia Bu Talia,


membangunkan pria yang terlelap di sofa. Bagas membuka matanya dan langsung tertuju pada ranjang Fakhri. Disana terlihat sang bunda tengah memeluk Fakhri dan


terisak. Bagas panik, dia mengira telah terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya. Dengan wajah tegang bagas menghampiri ibunya.


“Bunda.....Fakhri kenapa?.”


Bu Talia melepas pelukannya. Dan


nampaklah Fakhri yang menggerakkan kepalanya.


“Ka.....ba..gasss.....”


Mulut Bagas seketika terbuka bersamaan dengan matanya yang melebar karena terkejut, mendengar adiknnya

__ADS_1


menyapa.


“Kau...kau..sudah sadar ....!!?.”


Bagas masih belum percaya dengan


apa yang dilihatnya. Ia lalu menatap ibunya.


“Adikmu sudah sadar gas...”


Mendengar ucapan ibunya di sela


tangis bahagianya, Bagas langsung memeluk tubuh adiknya yang masih terbaring lemah. Pelukan yang sudah sangat lama tidak ia berikan. Kapan terakhir ia memeluk adiknya, iapun tak ingat.


“Alkhamdulillah akhirnya kamu sadar juga Ri.....”


Fakhri mengangguk lemah yang di


sambut senyum bahagia dari ibu dan kakaknya.


“Bagas, sekarang kamu pergi


panggil dokter!.”


“Iya bunda....”


Dengan setengah berlari, Bagas keluar


kamar rawat untuk memanggil dokter. Tak lama ia kembali dengan seorang dokter


dan dua perawat.


Dokter memeriksa tubuh Fakhri dengan


teliti.  Tiga puluh menit lebih dokter melakukan pemeriksaan di bantu oleh dua perawat yang bersamanya. Sementara Bagas dan ibunya menunggu di luar kamar. Keduanya gelisah menunggu. Melihat dokter dan perawat keluar, Bagas segera menghampiri untuk menanyakan hasil pemeriksaan yang di lakukan dokter itu.


Dokter  mengatakan bahwa Fakhri dalam kondisi yang baik. Namun dokter mencurigai Fakhri mengalami amnesia, mengingat  cedera di kepalanya yang cukup serius.  Dan itu akan dapat dipastikan setelah Dokter melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan terhadap Fakhri. Bagas tidak yakin dengan kecurigaan dokter, karena Fakhri dapat mengenali dirinya dan ibunya.


Bagas dan bu Talia bergegas masuk


ke dalam kamar,  untuk melihat kondisi


Fakhri yang ternyata sudah tidak menggunakan alat bantu pernafasan dan beberapa alat medis lainnya. Tinggal selang impus dan kateter yang tertinggal di tubuh Fakhri. Dan itu sangat melegakan hati keduanya.


Bagas ingin sekali membuktikan


kecurigaan dokter, dengan menanyakan beberpa hal pada Fakhri. Tapi melihat


kondisi Fakhri yang baru sadar dan masih tampak sangat lemah, Bagas akhirnya


menunda niatnya.


“...nda.....aaa...us......”  Begitu pelan suara Fakhri, hampir tak terdengar.


Namun  bu Talia paham. Diambilnya segelas air putih. Dengan pelan dan telaten, bu Talia meminumkan  air putih itu menggunakan sendok sampai tak


bersisa.


Sementara bu Talia masih fokus


pada Fakhri, Bagas memilih mengabari ayah dan adik perempuannya yang tentu


sedang menunggu kabar baik tentang Fakhri. Begitu semangatnya untuk memberi tahu dua orang itu, membuat Bagas lupa tentang perbedaan waktu antara Indonesia dengan negara yang sekarang ia tempati.


Beberapa kali panggilan Bagas tak


terjawab. Setelah beberapa kali di coba akhirnya ia bisa menyampaikan kabar


bahagia itu pada ayah dan adiknya. Rasa bahagia seketika menghilangkan rasa


pusing di kepala pak Surya akibat terbangun karena kaget.  Rasa haru dan bahagia memaksa mata pria tua


itu menitikkan airmata. Meski tak terlihat oleh Bagas, tapi suara paraunya


cukup membuat anak sulungnya tau kalau dia menangis haru.  Begitu juga dengan Fahira. Anak perempuan satu-satunya di keluarga Fakhri tak dapat menahan air mata bahagianya, setelah berita bahagia yang ia nantikan datang dari mulut kakaknya.


Keluarga itu sekarang dapat


bernafas dengan lega. Dan berharap Fakhri dapat segera pulih seperti sedia

__ADS_1


kala.


__ADS_2