
“Kei....matamu kelihatan sembab?? kamu habis nangis?.” Tanya mama Winda ibu kandung Dewi, saat makan malam.
“Enggak kok ma.” Pemilik mata sembab menjawab dengan wajah tertunduk.
Mama Winda menyudahi rasa penasarannya, ketika anak perempuannya memberi isyarat dengan meletakan jari telunjuk di depan bibir.
“Oh ya....bagaiaman skripsi kalian?.” Tanya Mama Winda mengalihkan pembicaraan.
“Alkhamdulillah sudah beres ma, tinggal jilid.” Balas Dewi.
“Syukurlah...berarti kalian bisa bantu mama dong?!. ”
“Bantu apa ?.”
“Jadi waitress di acara pernikahan anak pejabat.Gimana Kei,kamu mau bantu mama?.” Tanya Bu Winda saat Keinara termenung.
“Kei....” Panggil Dewi sambil mencolek pinggang gadis disebelahnya, yang tak kunjung bersuara.
“Eh iya ma.....Saya bisa bantu apa ?.”
“Hahhh.....” Dewi mendesah begitu mendengar ucapan gadis yang sedang patah hati itu.
Lain dengan mama Winda yang malah tersenyum.
“Jadi waitress. Lusa. Kamu bisa kan?.”
“Iya ma, Kei bisa.”
“Alkhamdulillah...Makasih ya Kei”
“Sama-sama ma.”
Meja makan menjadi hening. Setelah satu persatu perempuan yang ada disana beranjak pergi.
Seorang waitress terlihat kekelahan, membuatnya berpamitan pada temannya untuk istirahat sejenak.
“Wi...aku istirahat sebentar ya.”
“Iya...” Balas Dewi yang sedang menata minuman di atas nampan.
Setelah menemukan sebuah kursi kosong yang letaknya agak jauh dari ruangan pesta, Keinara mengistirahatkan tubuhnya yang hampir dua jam bergerak nyaris tanpa berhenti.
Hampir setengah botol air mineral ia habiskan dalam beberapa kali tegukkan, saking hausnya. Bukan hanya haus, gadis itu juga merasa pegal di kedua kakinya. Sehingga beberapa kali, ia tampak memiijat bagian tubuh itu.
“Mau saya pijitin?.” Sebuah suara mengagetkan gadis yang tengah menunduk memijit punggung telapak kakinya.
“Kak Devan...!!!.” Keinara terkejut melihat sosok Devan sudah berada di depannya.
“Hemmm....ngapain sendirian di sini?.”
“Lagi istirahat kak...” . Jawab Keinara dengan senyum khasnya.
“Hadeh...mulai dehhh...”. Batin Devan yang sulit mengkondisikan jantungnya ketika melihat senyum gadis didepannya.
“Kak Devan sendirian?!”. Tanya Keinara dengan memiringkan kepalanya untuk melihat ruang di belakang Devan yang ternyata kosong.
“Yah beginilah nasib jomblo, kemana-kemana selalu sendiri. Mentok-mentoknya paling di temenin oma.”
“Kasian amat...he...he....” Ucap Keinara meledek.
“Jangan cuma kasian Kei..... ditolongin juga dong,,.!.”
“Gimana nolonginnya....??.”
__ADS_1
“ Ya.....gimana gituu....cariin pacar atau....” Balas Devan nggantung.
“Atau apa kak?....eh maaf kak, ngobrolnya di lanjut lain kali ya. Saya harus kembali bekerja.” Ucap Keinara seraya bangkit dari duduknya.
"Atau kamu jadi pacarku..." Gumam Devan melanjutkan kalimatnya.
“Padahal aku masih pengen ngobrol sama kamu. Tapi ya sudah lah......pergilah.....” Ucap Devan, merasa tak mungkin menahan Keinara yang sedang bekerja.
Dengan meninggalkan senyum yang tampak begitu manis di mata Devan, Keinara melangkah kembali ke pekerjaannya. Sementara Devan masih berdiri dengan berpegangan dinding, kakinya serasa tak bertulang saat melihat senyum manis Keinara.
Keinara langsung melakukan tugasnya, melayani tamu yang tak kunjung habis.
“Kei....lebih baik kamu istirahat lagi gih.....” Perintah Dewi dengan wajah cemas.
“Aku kan sudah istirahat tadi...” Balas Keinara heran melihat sahabatnya yang bertambah baik.
“Atau kamu pulang saja...nanti saya bilang ke mama.”
Keinara semakin heran dengan sahabatnya. Yang menurutnya aneh. Akhirnya dia merasa ada sesuatu di balik ucapan Dewi.
“Ada apa si Wi, kamu semangat banget nyuruh aku pulang?.”
“Tidak ada apa-apa, aku takut kamu capek aja.”
Keinara tak percaya begitu saja, karena wajah cemas Dewi begitu kentara. Keinara mencari sebab kecamasan sahabatnya itu. Dan akhirnya dia tau alasan Dewi menyuruhnya pulang.
Di pelaminan Tampak Fakhri dan Bela sedang memberi ucapan selamat pada pasangan pengantin. Hati Keinara seketika terasa perih, luka di hatinya kembali berdarah. Mendorong air mata untuk membasahi matanya. Tapi sepertinya Keinara akan menepati janji pada dirinya sendiri. Dia tidak akan menangis lagi untuk Fakhri. Dan dia akan berusaha tegar meski apa yang ia lihat menyakitkan.
“Itu alasan kamu menyuruhku pulang?.” Tanya Keinara sambil menunjuk dengan matanya dimana Fakhri berada.
Dewi bertambah cemas “ Sudah kamu pulang saja ya....! “
“Pekerjaanku belum selesai Wi...” Ucap Keinara yang meninggalkan Dewi .
“Aduh .....bakal banjir air mata lagi nih....” Gumam Dewi.
Dewi cepat-cepat menyusul Keinara dengan membawa nampan berisi minuman.
“Mbak....boleh minta minumannya?.” Pinta seorang tamu pada Dewi.
“Oh ya nyonya, silahkan...” Dewi menyodorkan nampan yang ia pegang. Tatapannya tak lepas dari sahabatnya, yang sedang berbicara dengan seorang tamu. Sementara tak jauh darinya Fakhri sedang memperhatikan dirinya.
“Siapa namamu nak?”. Tanya seorang pria, Jika dilihat dari penampilannya menunjukan dia seorang pejabat.
“Nama saya Keinara pak.” Jawab Keinara sopan. Tak lupa menyertakan senyum manisnya.
“Hanya bekerja atau....” Tanya pria itu kembali, yang seolah penasaran dengan gadis cantik didepannya.
“Bekerja sambil kuliah pak.....”
“Oh ya...bagus...bagus.....semester berapa?.”
“Semester akhir....kemarin baru saja sidang skripsi.”
“Oh.....sebantar lagi lulus ya. Selamat ya......”
“Terima kasih pak.”
“Sudah punya pacar?.”
Keinara tampak bingung dan gugup.
“Be...belum pak....” Jawab Keinara.
__ADS_1
"Kamu sudah tidak mengakuiku sebagai pacarmu Kei". Gumam pria yang duduk di meja sebelah.
“Ah masa.?!...cewek secantik kamu belum punya pacar...!” Ucap pria itu lagi, seolah tak percaya.
“Belum ada yang pas pak..he...he....”
“Oh.....semoga nanti lulus langsung dapat ijazah sekaligus ijabsah ya...”
“Aamiin....terima kasih pak. Kalau begitu saya mohon diri, melanjutkan pekerjaan.”
“Oh....ya..ya....silahkan.....maaf ya jadi terganggu pekerjaannya.”
“Tidak apa-apa pak, Saya permisi...”
Pria itu mengangguk sembari tersenyum.
Keinara berlalu untuk kembali mengisi kembali nampannya yang kosong. Gadis itu tau jika ada Fakhri dan Bela yang duduk di sebelah meja pria yang tadi berbicara dengannya.
“Ternyata wanita itu hanya seorang pelayan. Bisa-bisanya kamu jatuh cinta sama gadis itu yang jelas tak selevel dengan kamu.” Ucap Bela.
“Kalau kamu masih ingin saya temani, diamlah jangan banyak bicara. Apa lagi menghina Keinara”. balas Fakhri sambil menahan emosinya. Ia bisa berada ditempat itu karena terpaksa menuruti keinginan Bela. Dan tak menyangka ia akan bertemu Keinara.
Di Kejauhan Fakhri melihat kembali wajah Keinara yang melangkah ketika dipanggil seseorang yang Fakhri kenal. Devan yang duduk bersama beberapa temannya sengaja memanggil Keinara untuk meminta minuman yang di bawanya.
“Kei....sini.....!” Panggil Devan, ketika meihat gadis pemilik senyum manis yang sangat ia gemari.
Keinara melangkah mendekat.
“Kak Devan....mau minum?.” tanya Keinara sembari menyodorkan minuman.
“Iya...turunkan semua minuman itu ke atas meja. Soalnya dia doyan minum Kei....” Ucap Devan, yang kemudian mendapat pukulan kecil di lengan dari temannya yang dia bilang doyan minum.
Keinara tersenyum, kemudian menurunkan semua minuman sampai nampannya kosong dan selanjutnya terisi
setangkai mawar dari salah satu teman Devan. Mawar segar yang di ambil dari vas bunga yang menghiasi meja.
Pria pemberi mawar berdiri dan menyodorkan tangannya, meminta berkenalan. Keinara menyambutnya dengan senyuman.
“Saya Keinara....temannya kak Devan.”
Pria itu akhirnya harus puas hanya tau nama gadis didepannya, tanpa menyentuh tangannya.
“Kalau begitu saya mohon undur diri....masih banyak pekerjaan. Makasih bunganya pak..???”.
“Farel...nama saya Farel.” Sahut pria pemberi bunga.
“O...... pak Farel.......makasih bunganya pak Farel.....” Ucap Keinara kembali, sembari tersenyum dan kemudian berlalu.
“Cantik....” Gumam Farel dan tatapannya teka kunjung lepas dari sosok Keinara yang melangkah pergi. Membuat Devan kesal.
Rasa kesal juga di rasakan Fakhri, melihat tatapan Devan dan Farel pada Keinara. Ingin rasanya ia membawa Keinara pergi dari tempat itu, tapi sayang ia tak mampu melakukanya, karena menyapanyapun ia tak berani. Meski ia masih berstatus sebagai pacar gadis itu.
Ia kembali menyesali kebodohannya. Mungkin Keinara saat ini duduk disampingnya, jika ia tak mengabaikannya.
❤❤❤❤❤
Yang penasaran sama visualnya Fakhri dan Keinara, nih othor pajang disini .....🥰
Fakhrizal Permana Putra
__ADS_1
Keinara Rahma Damayanti