
Fakhri dan Rangga baru saja selesai meninjau proyek yang sedang mereka kerjakan, saat melihat kerumunan orang di pinggir jalan yang mereka lewati.
“Sepertinya baru terjadi kecelakaan.” Ujar Rangga yang sedang pegang kemudi.
Fakhri sekilas melihat kearah kerumunan, namun kembali fokus ke ponselnya saat ada panggilan masuk.
“ciittttt......”
Rangga tiba-tiba menghentikan mobil setelah melewati kerumunan. Membuat tubuh kedua pria itu hampir menyentuh dasbor mobil.
“Itu seperti motor Keinara.” Ucap Rangga terkejut.
Rangga segera keluar dari mobil, diikuti oleh Fakhri. Dan benar apa yang dilihat Rangga. Motor Keinara tergeletak dipinggir jalan dengan beberapa bagian bodinya rusak.
“Keinara....!!”Teriak Fakhri saat melihat sesosok tubuh perempuan tergeletak di tengah kerumunan orang. Beberapa orang sedang berusaha menyadarkan wanita itu, dan yang lain ada yang sedang berusaha menghubungi ambulan.
Fakhri dan Rangga berlari mendekati kerumunan.Tampak dimatanya gadis yang sangat dirindukannya ,dalam kondisi pingsan dengan darah mengalir di sela-sela jari tangan kanannya.
“Keinara....!!.” Teriak Fakhri lagi, membuat orang yanag berada disekitar Keinara menoleh.
“Dia teman saya, saya akan membawanya kerumah sakit.”
Fakhri membopong tubuh Keinara, dan membawanya masuk kedalam mobil. Fakhri membaringkan tubuh Keinara di jok belakang, meletakan kepala gadis itu di pahanya. Sementara Rangga mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat. Fakhri menggenggam jari Keinara yang masih mengeluarkan darah. Menekan kuat-kuat agar darah berhenti mengalir. Tergambar jelas rasa khawatir di wajah pria itu. Berkali-kali ia meminta Rangga untuk
menambah kecepatan.
Fakhri berjalan mondar mandir di depan ruang IGD. Menunggu Keinara yang sedang di ditangani dokter. Setengah jam kemudian, dokter keluar dari ruang IGD.
“Dok...bagaimana kondisi teman saya.” Tanya Fakhri begitu melihat dokter keluar dari IGD.
“Teman anda baik-baik saja. Hanya saja salah satu jari tangannya perlu dioprasi karena tulangnya patah. Selain itu tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sekarang dia sudah sadar”
“Oh syukurlah....apa saya bisa menemuinya?.”
“Silahkan!.”
Setelah dokter pergi, Fakhri dan Rangga melangkah hendak masuk ke ruang IGD. Namun langkah Fakhri terhenti.
“Ngga...kamu saja yang masuk. Aku tunggu diluar.”
“Kenapa?.”
“Kamu pasti tau alasannya. Tidak usah tanya. Sudah sana masuk, dan jangan bilang kalau aku ada disini.”
Rangga akhirnya masuk menemui Keinara yang sedang terbaring. Jari tengah tangan kanan Keinara tampak terbungkus kain kasa tebal.
“Mbak Keinara...”
“Pak Rangga.....apa bapak yang menolong saya dan membawa saya kesini?.”
“Iya...tadi pas kebetulan aku lewat di tempat kamu kecelakaan. Jadi aku menolong kamu dan membawa kamu kesini. Gimana kondisi kamu sekarang?”
“Masih sedikit pusing pak.Dan kata dokter tulang jari tangan saya patah.”
“Iya.....tadi dokter juga mangatakan seperti itu”
“Terima kasih Pak Rangga, sudah menolong saya.”
“iya sama-sama. Tapi kok kamu bisa sampai kecelakaan?”
“Tadi motor saya di serempet mobil dari belakang. Saya oleng sehingga saya jatuh”
“Terus mobil yang menyerempet kamu gimana?.”
“ Saya tidak tau pak. Karena saya tidak ingat apa-apa lagi setelah saya jatuh. Tau-tau saya sudah disini. Kata perawat, ada dua orang yang membawa saya kesini. Saya tidak menyangka jika orang itu adalah Pak Rangga. Tapi pak Rangga membawa saya kesini dengan siapa ?”
“Ehmmm.....” Rangga tampak bingung. Harus jujur atau bohong. Fakhri telah berpesan untuk tidak mengatakan keberadaannya.Tapi Rangga sepertinya memilih untuk berkata jujur.Berharap kejujurannya itu menjadi awal membaiknya hubungan antara Fakhri dan Keinara.
“Saya membawa kamu kesini dengan Pak Fakhri”
Keinara menelan salivanya saat mendengar nama Fakhri dengan wajah agak menegang.
“Pak Fakhri yang mengangkat tubuh kamu dari tempat kamu jatuh sampai di ranjang ini.”
Gadis itu terhenyak, tak menyangka kalau Fakhri yang telah menolongnya dan masih peduli pada dirinya. Dia bingung bagaimana dia harus bersikap pada Fakhri sekarang. Mengingat akhir-akhir ini hubungannya dengan Fakhri, sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu berpikir bagaimana caranya untuk mengucapkan terima
kasih pada Fakhri. Jika bertatap muka apa mungkin?, karena terakhir Fakhri membuang muka saat bertemu dengannya.
“Pak Fakhri dimana?.” Tanya Keinara setelah berhasil menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan Fakhri.
“Dia menunggu di luar.”
“Oh....kalau begitu tolong sampaikan ucapan terima kasih saya pada pak Fakhri, pak Rangga.”
“Kenapa tidak langsung ke orangnya saja?.”
Keinara tampak bingung dengan wajah memerah.
“Saya panggilkan ya, sekalian saya mau ke toilet.”
Rangga melangkah keluar tanpa menunggu persetujuan Keinara.
__ADS_1
Jantung Keinara berdetak lebih cepat dari biasanya. Karena Fakhri pasti akan masuk menemuinya.
Keinara memejamkan matanya dan beberapa kali megatur nafasnya. Sampai akhirnya suara Fakhri masuk ke indra pendengarannya.
“Keinara....” panggl Fakhri pelan.
Keinara membuka mata. Lelaki yang selama ini telah membuat hatinya kacau kini berada di depan matanya.
“Pak Fakhri...apa kabar?.”
“Alkhamdulillah baik Kei. Kata Rangga kamu ingin bertemu denganku?!.” Ucap Fakhri gugup.
“I..iya...mas.” Balas Keinara gugup dengan senyum yang kaku.
Mata keduanya bertemu. Mata yang penuh kerinduan. Kerinduan yang tak berani diungkapkan. Senyum keduanya kembali, setelah hampir sebulan raib saat mereka bertemu.Fakhri mendekat membuat jantung keduanya berdetak makin hebat.
“Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena mas Fakhri sudah menolong saya.”
“Oh iya sama-sama. Sekarang bagaimana keadaan kamu.?” Tanya Fakhri yang masih terdengar kaku.
“Seperti yang mas Fakhri lihat. Cuma masih sedikit pusing dan nyeri di jari saya” Jawab Keinara pelan. “Sekali lagi terima kasih mas, sudah menolong saya sampai baju mas Fakhri kotor terkena darah seperti ini.
Maaf kan saya karena sudah merepotkan” Lanjut Keinara.
Fakhri tersenyum. Senyum bahagia. Karena rindu dihatinya terobati. Meski melalui sebuah musibah yang menimpa Pujaan hatinya.
“Iya Kei sama-sama....dan tak perlu minta maaf. Karena saya tidak merasa direpotkan.Yang terpenting kamu tidak apa-apa.”
Keinara tersenyum . Senyum yang sangat dirundukan oleh Fakhri. Sesaat suasana menjadi hening karena kedua orang itu seperti kehabisan kata-kata. Sikap canggung begitu kentara diantara keduanya.
Tak lama keheningan teratasi, Karena Fakhri telah berhasil mengumpulkan kata-kata .
“Kamu kenapa sampai bisa jatuh ? kamu di tabrak atau gimana?”
“Ada mobil yang menyerempet motorku dari belakang. Aku jatuh dan tau-tau sudah disini.”
“Oh....terus gimana, apa ada luka lain selain di jari?.”
“Ada tapi tak seberapa. Hanya lecet di dilutut dan lengan.”
“Oh syukurlah. Aku tadi sempet khawatir karena kamu pingsan.”
Hati Keinara langsung mengembang, mengetahui Fakhri mengkhawatirkannya. Setelah satu bulan seperti orang asing, Keinara mengira bahwa Fakhri sudah tak peduli dengannya.
“Selamat siang...”
Dua suster masuk untuk memindahkan Keinara ke ruang rawat.
“Mbak Keinara kami pindahkan ke ruang perawatan ya...dan besok pagi jari mbak Keinara akan di oprasi untuk dipasangi pen.” Ucap perawat memberitahu
Keinara merasa kaget karena tubuhnya di bawa masuk kedalam ruang rawat VVIP.
“Sus..kenapa saya dirawat diruang ini.”
“Iya mbak...sesuai dengan permintaan.”
“Permintaan? Saya tidak meinta dirawat di ruang ini. Karena saya belum mengurus
administrasinya.”
“Saya tidak tau mbak, saya hanya di tugasi untuk mengantarkan mbak ke ruang ini.” Jawab sang suster yang kemudian pamit pergi.
Sesaat kemudian Fakhri dan Rangga masuk.
“
Kei....dari tadi kamu belum minum. Minum dulu yah.” ucap Fakhri sembari mengambil sebotol minuman yang diambil dari dalam kulkas yang ada di ruangan itu. Setelah menuangnya kedalam gelas, Fakhri kemudian memberikannya pada Keinara.
“Terima kasih mas.”
Keinara meminum air mineral sampai habis. Gadis itu memang sedang kehausan.
“Lagi?.”
“Sudah cukup mas, makasih.” Ucap Keinara dengan senyum manisnya.
“dertt....dertt....dertt....”
Ponsel Keinara berdering. Keinara mengambil ponsel dari dalam tas dengan tangan
kirinya.
“Aku sudah di ruang perawatan. VVIP1” Jawab Keinara.
Sahabatnya Dewi ,menghubunginya setelah tak menemukan dirinya di ruang IGD.
“Siapa Kei?.” Tanya Rangga, ketika melihat bosnya seperti ingin tau tapi tak berani bertanya.
“Teman saya pak, Dewi”
“Oh....” Balas Rangga. Sementara Fakhri terlihat lega.
__ADS_1
“Dasar pecemburu.” Gumam Rangga setelah melihat ekpresi wajah bosnya.
“Tok...tok...tok...”
Pintu diketuk dari luar. Rangga bergegas membuka pintu. Tampak wajah kaget dari wajah gadis yang berdiri di depan pintu. Dia berpikir kalau dia salah kamar.
“Maaf....benar ini VVIP1?”
“Benar....mbak Dewi ya?”
Dewi lagi-lagi dibat kaget, karena pria yang membukakan pintu tau namanya.
“I.....iya benar. Saya mencari teman saya, yang tadi kecelakaan. Katanya dia di rawat di kamar ini.”
Rangga tersenyum dan menyilahkan Dewi masuk. Untuk kesekian kali Dewi dibuat kaget, karena dia melihat ada satu pria lagi diruangan itu, Dua-duanya tidak ia kenal, tapi seperti pernah melihatnya.
Dewi mengangguk tanda menyapa pada Fakhri.
“Keinara...kenapa kamu bisa begini.” Ucap Dewi penuh rasa khawatir.
“Enggak tau....lagi apaes aja kali Wi...he..he...”
“Makanya kalau lagi bawa motor itu jangan sambil bengong. Ini akibatnya!!.” Ucap Dewi dengan nada sewot sembari meletakkan barang bawaannya.
“Kamu itu, orang lagi apes malah disewotin.”
“Terus siapa yang nolongin kamu tadi?.”
“Beliau berdua.Pak Fakhri dan Pak Rangga.” Ucap Keinara sembari menunjuk dua pria yang ada di ruangan itu.
“Oh....Terima kasih Pak Fakhri dan Rangga, telah menolong sahabat saya.” Ucap Dewi sembari mengingat-ingat sesuatu.
Fakhri mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban.
“Sepertinya saya pernah bertemu dengan bapak berdua, tapi saya lupa dimana.”
‘’Di kafe. Waktu itu saya sempat berkenalan dengan mbak Dewi.” Uacap Rangga.
Dewi akhirnya ingat bahwa dia pernah bertemu dengan Fakhri dan Rangga sebelumnya.
“Oh iya...iya bener pak, tapi waktu itu saya hanya berkenalan dengan pak Rangga.Karena Pak Fakhri waktu itu sedang sibuk kelihatannya, jadi tidak sempat berkenalan”
Fakhri tersenyum. Hatinya merasa malu, karena waktu ia hanya berpura-pura sibuk.
“Pak Fakhri, sepertinya kita harus segera kembali ke kantor.”
“Oh iya....kalau begitu saya pamit. Cepat sembuh ya Keinara.” Ucap Fakhri
“Iya pak, sekali lagi terima kasih.” Balas Keinara dengan senyum di bibirnya.
Bos dan asisten itu akhirnya melangkah keluar meninggalkan Keinara dan Dewi untuk kembali bekerja. Ada semangat baru dalam diri Fakhri. Setelah bertemu dan berbicara dengan Keinara.
“Kei...kamu yakin dirawat di kamar ini? Bukan lagi meragukan kamu, tapi biasanya kalau di rawat diraungan ini biayanya lumayan mahal.” Tanya Dewi tak mengira sahabatnya akan menempati ruang VVIP yang terhitung mahal biaya sewanya.
“Aku tidak tau kenapa saya di rawat di ruangan ini. Waktu saya tanya ke perawat, kamar ini sesuai permintaan aku. Padahal aku belum mengurus adminitrasinya”
“Kok bisa....Ya udah coba aku cek ke bagian administrasi.”
Dewi bergegas menuju kebagian administrasi. Lima belas menit kemudian gadis itu kembali kekamar rawat sahabatnya.
“Kei....ternyata administrasinya sudah diurus sama pak Fakhri. bahkan semua biaya perwatan dan oprasi kamu sudah di bayar lunas oleh beliau. Tapi petugasnya tidak mau menunjukan nominalnya”
Keinara
tercengang mendengar penjelasan sahabatnya. Ia tak percaya, Fakhri akan
melakukan hal itu setelah apa yang terjadi diantara mereka.
“Kei...siapa pak Fakhri itu. Dan ada hubungan apa kamu sama dia.”
Keinara terlihat bingung mendengar pertanyaan temannya. Selama ini ia memang tak pernah cerita dengan Dewi tentang Fakhri.
“Kei....malah bengong...”
“Pak Fakhri itu atasannya pak Rangga. Dia CEO di perusahaan Bintang Graha”
“Kok kamu bisa kenal sama pak Rangga dan Pak Fakhri?.”
“Mereka pelanggan restoran kita. Jadi aku sering bertemu mereka saat mengantar makanan”
“Kalau sekedar kenal kenapa dia mau mengeluarkan uang untuk membayar biaya perawatan kamu, yang saya yakin itu tidak sedikit.”
“Kalau itu saya tidak tau.”
“Jujur Kei...kalian pasti tidak hanya sekedar kenal. Kalian pasti punya hubungan khusus.”
“Hubungan khusus apa maksud kamu?. Aku dan dia hanya berteman kok.”
“Yakin...??.”
“Yakinlah....kalau kamu enggak percaya tanya aja ke Pak Fakhri” Jawab Keinara dengan nada sewot.
__ADS_1
“Iya...iya...aku percaya. Nggak usah sewot gitu dong.”
Dalam hati, Dewi tidak percaya begitu saja. Dia yakin kalau dugannya benar. Sekalipun mereka tak punya hubungan khusus, pasti ada sesuatu di antara Keinara dan Fakhri. Dewi akan cari tau sendiri tentang sesuatunya itu.