
“tok....tok....tok.....”
Keinara yang baru selesai berdandan segera melangkah ke arah pintu depan. Tebakkannya benar, kalau yang datang adalah Fakhri. Pria itu berdiri di depan pintu, dengan senyum yang merekah . Dua pasang mata saling menatap, saling mengagumi dengan apa yang netra mereka lihat di depannya . Penampilan keduanya saat itu memang tampak mempesona.
“Sudah siap...?.” Tanya Fakhri yang di balas anggukan pelan.
Fakhri membukakan pintu belakang mobilnya untuk keinara. Sementara dirinya masuk melalui pintu di sisi yang lain. Kali ini Rangga yang akan mengantar mereka.
“Selamat malam pak Rangga.” Sapa Keinara.
“Selamat malam Keinara. Wah aku sampai pangling lho...Kamu cantik banget malam ini,” Jawab Rangga menyanjung Keinara . Bukan hanya untuk menyanjung tapi juga untuk menguji bosnya yang pecemburu.
“Biasa aja pak....Pak Rangga jangan berlebihan....” Balas Keinara dengan wajah tersipu.
Rangga memutar sedikit badannya dan melihat ke arah Keinara. Menatap dengan lekat wajah Keinara yang bersemu merah.
“Saya berbicara Fakta...kamu memang cantik banget malam ini. Benar begitu kan pak Fakhri?. Kalau aku belum punya istri mungkin kamu udah aku lamar...he....he....”
Keinara makin tersipu. Sementara pria di sebelahnya mengepalkan jemarinya.
“Terakahir kamu naik gaji kapan ya ngga?.” Tanya Fakhri datar.
“Dua bulan yang lalu. Kenapa? Mau dinaikkan lagi?.” Balas Rangga tak paham maksud pertanyaan bosnya
“Mungkin itu terakhir kamu naik gaji.” Ucap Fakhri yang merupakan ancaman untuk Rangga yang berani menatap Keinara seperti ingin memangsa. Dan Rangga akhirnya sadar, kalau umpannya kena sasaran.
“Ehhh.....jangan dong bos....!!.”
“Makanya laksanakan tugasmu dengan benar!!.”
“Siap pak Fakhri....!!” Balas Rangga sembari menahan tawa.
Meski Rangga tau ancaman Fakhri hanya ancaman kosong, tapi pria itu segera membetulkan posisi duduknya dan mulai melajukan mobil sesuai tugas yang di titahkan bosnya. Sementara hatinya bahagia, karena berhasil membuat
Fakhri meradang.
Rangga telah sampai membawa bosnya dan Keinara ke parkiran sebuah restoran mewah. Dan membukakan pintu mobil untuk keduanya.
Fakhri dan Keinara melangkah beriringan memasuki restoran. Di sambut oleh beberapa pelayan yang berdiri di depan pintu. Salah satu pelayan mengantar Fakhri dan Keinara ke sebuah ruang pribadi yang dipesan Fakhri sebelumnya. Namun belum sampai di ruang yang di tuju, mata Fakhri melihat Devan sedang duduk bersama beberapa orang pria dan wanita. Sialnya, pria itu melihat keberadaannya dan melambaikan tangan. Fakhri bergegas mengajak Keinara pergi dari tempat itu untuk menghindari Devan, si pria penggoda . Namun Devan telah
beranjak dari duduknya dan mendekati meraka berdua.
Fakhri akhirnya menghentikan langkahnya, meraih tangan Keinara dan menggengamnya erat. Namun gadis itu berusaha melepas tangannya.
“Sebentar saja Kei....ada orang aneh yang sedang mendekati kita.” Bisik Fakhri. Keinara akhirnya membiarkan jari tangan kanannya mengait di jari tangan kiri Fakhri, meski tubuhnya terasa panas dingin. Gadis itu tidak tau siapa yang dimaksud orang aneh oleh Fakhri, sebelum Devan tepat berada di depannya.
“Hai bro....hai Keinara....apa kabar kalian.” Sapa Devan,sambil menepuk bahu Fakhri yang terluka.
Seketika Fakhri mengencangkan genggamannya saat sentuhan devan menimbulkan nyeri di bahu kanannya. Untungnya Devan segera menurunkan tangannya. Sesaat kemudian keduanya melakukan gerakan adu kepalan tangan.
“Kabar kami baik. Seperti yang kamu lihat.” Jawab Fakhri sembari menahan rasa nyeri yang masih terasa di bahu kanannya di balik senyuman.
__ADS_1
Fakhri menyembunyikan tangan Keinara yang berada dalam genggamannya di balik pinggang. Menandakan ia tak memberi ijin ketika Devan hendak menyalami Keinara.
“Gila !!.....aku cuma pengin salaman aja Ri !!” Protes Devan kesal. “Eh.....emang kalian sudah jadian? Sejak kapan?.” Ucap Devan karena melihat tangan kedua orang di depannya menyatu dengan sempurna.
“Baru beberapa hari yang lalu kami jadian, Iya kan Kei...”
Fakhri memberi tanda dengan jarinya, agar Keinara mengiyakan ucapannya.
“Ii...iya....benar.”
Meski gadis itu merasa kesal, tapi kemudian gadis itu memutuskan untuk mengikuti permainan Fakhri,mengingat Fakhri telah banyak membantunya. Keinara berusaha bersikap senatural mungkin dalam berpura-pura sebagai
pacar Fakhri di depan Devan.
“Gimana kabarnya oma Ratna kak...?.” Tanya Keinara tenang.
“Oma sehat. Kapan-kapan mainlah ke rumah. Pasti oma akan sangat senang !.” Balas Devan
“Inn Syaa Alloh..nanti kalau ada waktu aku pasti main ke rumah oma.”
“Ok....kalau mau main kerumah, kamu kasih kabar. Biar bisa aku jemput.”
“Terima kasih kak, tapi sepertinya tidak perlu...nanti biar masa Fakhri saja yang mengantarkan saya , jika saya ingin ketemu oma.”
Ucapan Keinara menghadirkan senyum di bibir Fakhri, Karena Keinara bisa memainkan perannya dengan baik.
“Kalau begitu kami pergi dulu kak, sepertinya mas Fakhri sudah lapar.” Lanjut Keinara.
Lgi-lagi ucapan Keinara membuat Fakhri tersenyum.
Kali ini Fakhri berhasil membuat Devan tak berulah. Teman Fakhri yang satu ini memang sering membuat Fakhri kesal, karena kejailannya yang kadang melampaui batas.
Fakhri dan Keinara melanjutkan langkah mereka menuju ke ruang peribadi yang di tunjukan pelayan. Keinara bermaksud melepaskan tangannya, karena merasa perannya sebagai pacar pura-pura Fakhri telah selesai. Namun tangan Fakhri menahannya.
“Biarkan seperti ini dulu Kei, aku sudah terlanjur nyaman. Dan biarkan aku menikmatinya sebentar lagi” Pinta Fakhri sambil teus melangkah.
Keinara tak mampu menggerakan tangannya lagi, karena tubuhnya seolah tak berpijak lagi ke bumi.
Fakhri melepaskan tangan Keinara saat keduanya sudah berada di ruang yang mereka tuju. Fakhri menarik kursi untuk Keinara. Meski setelahnya ia merasa nyeri di bagian lukanya. Fakhri kemudian duduk tepat di depan Keinara , di batasi meja berbentuk persegi panjang dengan enam buah kursi.
Pelayan datang menghampiri dan menyodorkan buku menu.
“Kamu mau makan apa Kei....?.” Tanya Fakhri sembari membuka buku menu.
“Terserah kamu aja mas...”
Fakhri akhirnya memesan beberapa menu yang ada. Setelah selesai mencatat pesanan Fakhri pelayan bergegas keluar.
“Mas....kenapa sih tadi kita harus pura-pura pacaran di depan kak Devan,?.” Keinara akhirnya mengeluarkan pertanyaan itu, karena ia masih merasa penasaran.
“Karena aku tidak mau dia menggoda kamu. Dia itu senang sekali menggoda gadis-gadis cantik seperti kamu Kei.”
__ADS_1
“Oh....apa dia juga play boy seperti kamu mas?.”
“He....he....jadi kamu masih mengira aku play boy Kei?.”
“Iya...! Saya ngomong berdasarkan fakta lho mas. Tentu mas masih ingat beberapa kali kita ketemu, mas selalu bersama wanita yang berbeda. Jadi tidak salah dong kalau aku bilang mas itu play boy.”
“Terserah kamu deh key...Tapi itu aku beberapa bulan yang lalu, sebelum aku menyadari bahwa aku sudah jatuh cinta sama kamu.........”
Pandangan mata Fakhri melekat pada wajah Keinara. Menatapnya dalam-dalam.
“Kei.....saat ini aku ingin mengatakan kembali bahwa aku mencintaimu, aku tulus mencintai kamu, aku ingin memilki kamu. Tak peduli siapa kamu. Tolong kamu jangan meragukan perasanku ini Kei. Apa yang kamu katakan pada Dewi, itu tidak akan pernah terjadi. Karena sungguh aku benar-benar mencintai kamu dengan tulus.” Lanjut
Fakhri meyakinkan Keinara yang ia ketahui tengah meragukan perasaannya.
“Mas...kamu mendengar obrolan ku dengan Dewi tadi sore?.” Tanya Keinara cemas.
“Iya...aku mendengar semuanya. Tanpa ada yang terlewat.”
“Hah....” Keinara menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena kaget. Wajahnya seketika merona .
“Itu artinya mas Fakhri tau kalau aku mencintainya?” Batin Keinara.
Netra Keinara tak mampu lagi menatap wajah pria didepannya, karena perasaan malu berkecamuk di benaknya. Keinara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan untuk menutupi rasa malunya itu. Gadis itu diam tak tau
harus bicara apa. Sebelum akhirnya dia menyadari kalau Fakhri sudah ada di sampingnya dan menarik kedua tangannya. Sehingga wajah malunya terlihat jelas .
“Terima kasih Kei, karena kamu sudah memiliki rasa yang sama denganku. Dan aku berharap kamu memilih mempertahankannya dari pada menguburnya hanya karena kamu takut aku akan menyakitimu. Apa yang kamu takutkan tidak akan pernah terjadi Kei....karena kamu adalah cinta terakhirku.”
Fakhri meraih dagu Keinara yang sejak tadi menundukkan wajahnya.
“Lihat aku Kei, lihat mataku. Apakah aku terlihat sedang berbohong....? .”
Sejenak mata Keinara tertuju pada mata coklat Fakhri. Mencoba mencari kejujuran disana, dan ternyata kejujuran itu ada.
“Gimana Kei....apa aku terlihat sedang berbohong?.”
Keinara terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian dia menggelangkan kepalanya.
“Jadi maukah kau menjadi cinta terakhirku, menjadi pendamping hidupku, menjadi calon istriku, dan menjadi calon ibu dari anak-anakku?.”
Keinara lagi-lagi terdiam. Batinnya berperang antara menerima dan menolak.
Sementara Fakhri membiarkan gadis itu sibuk dengan pikiran dan hatinya sejenak. Dan setia menunggu jawaban darinya .
Hingga akhrinya, Keinara membuat sebuah keputusan.
“Mas..aku mau menerima kamu, tapi kamu harus pegang janji kamu untuk tidak menyakitiku!.”
“Aku janji Kei...aku janji..... aku akan membuktikan janjiku itu dan kau boleh meninggalkan aku jika aku tak bisa menepatinya”
Keinara mengangguk pelan, dan kemudian membiarkan Fakhri memeluk tubuhnya.
__ADS_1
“Makasih Kei....makasih....kau mau menerimaku menjadi bagian dari hidupmu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Ucap Fakhri sembari memeperdalam pelukannya. Ia begitu bahagia sampai tak terasa matanya mengembun karena haru.
Pelukan mereka terlepas ketika pelayan mengetuk pintu sebelum masuk mengantarkan makanan.