
Mentari telah bertengger diufuk timur.Menyentuh penghuni bumi dengan kehangatannya. Keinara sudah bangun dari subuh tadi. Seperti biasa dia selalu membersihkan kamarnya sebelum pergi kuliah. Rencananya nanti sepulang kuliah dia akan mengambil SIMnya yang kemarin dijadikan jaminan. Tak lupa dia juga menyiapkan uang untuk Fakhri. Sebagai uang ganti atas makanan yang tak jadi dibelinya. Keinara merasa kesal ketika mengingat kejadian kemarin.
Keinara menarik gas motornya menuju kampus untuk mengikuti perkuliahan yang akan berlangsung satu jam lagi. Jarak kos kekampus tidak begitu jauh, hanya butuh waktu sepuluh menit. Keinara sengaja datang lebih awal, karena dia ingin ke perpustaakan untuk meminjam beberapa buku.
Jam satu siang, Keinara selesai mengikuti perkuliahan. Sebelum pergi kekantor Fakhri, dia menyempatkan untuk sholat dan makan di kampus bersama sahabatnya Dewi.
“Habis ini kamu mau kemana Kei?." Tanya Dewi.
“Aku mau langsung pulang, mau istirahat sekalian ngerjain tugas dari bu Rina.” Jawab Keinara berbohong.
Padahal dia mau menemui seorang CEO.
“Oh oke...semoga cepet selesai tugasnya. Jangan lupa aku dikasih tau kalau sudah selesai, karena aku siap menyalinnya he...he...he...” Jawab Dewi sambil tersenyum dan memainkan kedua alisnya.
Keinara hanya menggelangkan kepala mendengar ucapan sahabatnya ,yang gemar nyontek pekerjaan teman. Keduanya beranjak pergi dari kampus dengan kendaraan masing-masing . Sebelum akhirnya mereka berpisah ketika berada dipersimpangan.
Pukul dua siang tepat Keinara sampai ketempat tujuan. Keinara tidak langsung menemui Fakhri, tapi dia menuju ke meja resepsionis.
“ mAssalamu’alaikum mbak Rita....” Sapa Keinara kepada Rita.
“Wa’alaikumsalam, hei Kei...nganter pesanan?.”
“Enggak mbak, mau ketemu Pak Fakhri...ada?.”
Rita menatap dengan rasa heran dan penasaran. Ada apa Keinara menemui pak Fakhri, jika tidak mengantar pesanan. Dan pakaiannya bukan pakaian seragam yang biasa dipakai saat menjadi kurir.
“Ada apa ya Kei...?.” Rita mencoba mencari jawaban atas rasa penasarannya.
“Nggak ada apa-apa mbak, ini ada tugas kuliah. Jadi saya butuh wawancara sebentar dengan beliau.”
__ADS_1
“Sudah buat janji?.”
“Sudah mbak.”
“Tapi pak Fakhrinya lagi rapat Kei. Tuh di ruang sebelah.”
“Oh lagi rapat, udah lama mbak?."
“Sudah lama si...mungkin sebentar lagi selesai. Ditunggu aja.“
“Ya mbak, aku nunggu di situ.” Ucap Keinara sambil menunjuk sebuah sofa.
“Oke...nanti kalau sudah selesai, aku beri tahu kamu.”
“Ya mba, makasih ” Ucap Keinara sembari berjalan menuju sofa.
Keinara menjatuhkan tubuhnya kesofa. Setengah jam kemudian terdengar derap langkah keluar dari ruang meeting. Keinara yang sedari tadi fokus dengan gawainya sepontan mendongakkan wajahnya. Dia melihat orang yang ditunggunya keluar dari ruang meeting yang pintunya berada tidak jauh dari tempatnya duduk. Fakhri melihat keberadaan Keinara, dan dia tau tujuan gadis itu ke kantornya. Sesaat mereka beradu pandang. Tapi Keinara langsung memalingkan wajahnya. Sepintas Fakhri memperhatikan penampilan Keinara, yang tak seperti baiasanya.
Setelah berada diruangannya Fakhri duduk dengan santai di kursi kerjanya. Di tiga menit kemudian dia mendengar suara Keinara yang sedang berbincang dengan sekertarisnya. Fakhri membuka-buka berkas yang ada didepannya agar terkesan sibuk saat gadis itu masuk.
Keinara mengetuk pintu ruangan Fakhri. Setelah ada yang menyilahkan dia masuk, Keinara segera mendorong pintu. Tampak Fakhri sedang duduk di kursi kerjanya, dengan mata fokus ke layar leptop.
“Assalamu’alaikum pak Fakhri...”
“Wa’alaikumsalam...” Jawab Fakhri.
Pandangannya mengarah pada gadis yang sudah ditunggunya. Kecantikan gadis yang tengah berdiri di ambang pintu seperti menghentikan waktu. Hingga untuk beberapa saat netra Fakhri tak berkedip. Di bawah tatapan Fakhri, Keinara melangkah mendekat. Meski rasa gerogi memberatkan langkahnya.
Di detik berikutnya, Keinara memberanikan diri membuka pembicaraan, agar urusannya cepat selesai dan bisa pergi secepatnya dari tempat itu.
__ADS_1
“Selamat siang pak Fakhri, maaf jika mengganggu. Saya yakin anda sudah tau maksud kedatangan saya kemari. Jadi tanpa basa-basi, ini saya kembalikan uang bapak. Karena pak Fakhri tidak jadi memesan makanan dari restoran kami kemarin.” Ucap Keinara sembari menyodorkan sebuah amplop yang diambilnya dari dalam tas . Dan meletakannya tepat di hadapan Fakhri.
“Eh....iya, tapi silahkan duduk dulu." Ucap Fakhri gugup setelah bisa mengkondisikan matanya.
"Terima kasih pak , saya berdiri saja.”
“Duduklah, saya hanya ingin bicara sebentar saja.”
Fakhri berdiri dari duduknya, mengira Keinara akan menuruti ucapannya.
“Terima kasih, saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan pak." Ucap Keinara.
"Ini silahkan diterima.“ Ucap Keinara lagi sambil mendorong amplop yang tadi ia letakan di meja kerja Fakhri.
“Simpan kembali uangmu Keinara Rahma Damayanti.”
Deg....Keinara kaget, mendengar Fakhri menyebut nama lengkapnya.
Tapi kemudian dia mengacuhkannya.
"Itu uang anda pak Fakhri. Karena uangnya sudah saya kembalikan, jadi saya minta SIM saya.” Ucap Keinara sambil menyodorkan tangannya pada Fakhri, yang sedari tadi berdiri di belakang meja.
Melihat wajah Keinara yang begitu dingin dengan tatapan tak bersahabat, membuat Fakhri tak mungkin menahan gadis itu untuk berlama-lama diruangannya. Apalagi mengajaknya berbincang.
Diambilnya kartu SIM milik Keinara dari dalam dompet. Kemudian ingin menyerahkannya dan sekaligus meminta maaf atas sikapnya kemarin. Tapi saat tangannyai baru terulur, Keinara sudah menyambar kartu SIM yang ada ditangannya.
“Terima kasih pak. Urusan kita sudah selesai. Jadi saya mohon pamit, Assalamu’alaikum.“ Ujar Keinara yang langsung beranjak pergi dari ruangan itu.
“Wa’alaikumsalam...” Jawab Fakhri yang tak mampu berucap lagi, dan membiarkan gadis itu pergi begitu saja.
__ADS_1
⚘⚘⚘⚘