
Fakhri memantas diri di depan cermin. Tampan, penuh pesona dengan pakaian kasual. Fakhri bersiap pergi kesebuah kafe untuk bertemu dengan teman-temannya. Bertemu dan bertkumpul dengan teman menjadi salah satu cara untuk Fakhri membuang kesuntukan setelah sibuk bekerja.
Fakhri sudah ditunggu oleh tiga temannya saat tiba di kafe. Vano, Rino, dan Doni merupakan teman-teman Fakhri waktu kuliah di luar negri. Disela-sela kesibukan, mereka sering menyempatkan untuk bertemu. Hanya untuk sekedar nongkrong di kafe atau di club malam. Karena Fakhri sering menolak datang, jika diajak nongkrong di club malam. Maka kafe menjadi pilihan mereka untuk nongkrong.
“Ini dia yang kita tunggu...hai bro....” Sapa Vano.
“Hai....apa kabar.” Balas Fakhri.
“Kalian sudah lama?.” Tanya Fakhri sambil duduk di sebelah Rino.
“Lumayan lah....” Jawab Rino.
“Sudah pada pesen makanan? Kali ini aku yang traktir deh....” Ucap Fakhri.
Disambut acungan Jempol oleh Vano dan Rino.
“Kami belum pesan makanan, nunggu kamu....” Balas Doni.
Fakhri memanggil pelayan dan memesan makanan sesuai keinginan mereka.
Keempat pria itu, kemudian terlibat percakapan ringan sembari menunggu pesanan mereka datang.
Sementara disisi lain kafe itu, tidak jauh dari tempat duduk Fakhri. Keinara dan Rendy sedang menikmati hidangan mereka. Keinara kaget ketika melihat kedatangan Fakhri.
“Ya Alloh...kenapa harus ketemu dia lagi.” Gumam Keinara dalam batinnya.
Dunia terasa begitu sempit baginya. Pria yang tak ingin ia lihat, malah sering muncul di hadapannya.
Gadis itu berharap, pria yang dimaksud tidak melihat keberadaannya. Meski itu mustahil. Karena tempat duduk mereka jaraknya tidak begitu jauh.
Ditengah-tengah obrolan dengan ketiga temannya, Fakhri menyapukan pandangannya ke ruangan kafe,
yang saat itu sedang ramai pengunjung. Jantungnya berdesir, saat matanya beradu pandang dengan gadis yang akhir-akhir ini membuatnya gundah gulana. Ia tak menyangka, ia akan bertemu lagi dengan Keinara di tempat itu. Sayangnya ada Rendy bersama gadis itu. Fakhri mencoba melempar senyum, tapi sayang Keinara
langsung membuang muka. Membua Fakhri memilih untuk menyudahi tatapannya. Lagi-lagi Fakhri merasakan sakit di hatinya. Rasa cemburu kembali menguasai dirinya. Lagi-lagi Rendy yang jadi pematik kecemburuannya.
Moodnya hancur saat itu juga. Kalau tidak ingat teman-temannya, dia akan memilih pergi. Tapi dia tak mungkin mengecewakan teman-temannya, hanya karena rasa cemburu yang menurut author tak beralasan. Pria pencemburu itu, mengubah posisi duduknya. Fakhri memilih duduk di sebelah Vano yang posisinya membelakangi
Keinara. Untuk menjaga pandangannya, dari pemandangan yang membuat hatinya cemburu. Fakhri berusaha mengalihkan pikirannya dari Keinara, dengan berbincang dan menikmati hidangan yang sudah tersaji di meja.
Keinara dan Rendi yang duduk tidak jauh dari Fakhri, juga tengah menikmati makanannya tanpa suara.
“Ehm....Kei, sebenernya aku ingn mengatakan sesuatu sama kamu.” Ucap Rendi tiba-tiba setelah
menghabiskan makanannya.
“Mengatakan apa mas?.” Tanya Keinara yang juga selesai makan.
“Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin mengatakan ini, tapi baru kali ini aku punya keberanian mengatakannya.” Ucap Rendi dengan nada sedikit serak.
“Mau bicara apa si mas, mukanya kelihatannya serius banget.” Ucap Keinara yang diliputi rasa penasaran.
“Ehm...Kei, sebenernya aku menyukai kamu. Aku jatuh cinta sama kamu sejak pandangan pertama. Selama ini aku menyimpan perasaanku rapat-rapat, tapi kali ini aku tak mampu lagi menyimpan perasaan ini. Kei, maukah kau menjadi kekasihku dan menjadi calon istriku...?” Ucap Rendi lembut, penuh keseriusan.
Keinara terdiam, dia merasa kaget dengan ucapan Rendi. Dia tak menyangka kalau pria itu ternyata meyimpan perasaan untuknya.
__ADS_1
“Gimana Kei...” Tanya Rendi lagi,
Keinara menarik tangannya, ketika Rendy hendak meraihnya.
“Mas Rendi...aku tak menyangka mas Rendi punya perasan lebih terhadapku. Aku jadi bingung mesti jawab apa. Karena selama ini aku sudah menganggap mas Rendi sebagai teman dan menganggap mas seperti kakakku sendiri. Perasaanku sama mas hanya perasaan sebagai teman, tak lebih dari itu.”
“Jadi maksud kamu, kamu tak punya sedikitpun rasa cinta untukku Kei?.”
Keinara mengangguk pelan.
”Maaf mas...saya tidak bermaksud menyakiti perasaan mas Rendi.”
“Kei maukah kau berusaha mencintaiku...jadilah pacarku. Saya yakin suatu saat kau akan bisa mencintaiku.”
“Maaf mas, aku enggak bisa?.”
“Kenapa?...apakah tidak ada sedikitpun ruang di hatimu untukku Kei?.”
“Maaf mas....”
“Apakah kamu sudah mencintai seseorang?.”
Keinara mengangguk. Keianara terpaksa membohongi Rendi, agar pria itu tak lagi berharap
cinta darinya.
”Ada hati yang harus aku jaga mas, maafkan aku.”
Rendi nampak kecewa, namun ia menghargai keputusan Keinara. Rendi sadar, ia tak mungkin memaksa Keinara untuk menerimanya.
“Siapa lelaki beruntung itu Kei?.”
Wajah Rendi berubah sendu, gurat-gurat kekecewaan terpampang jelas di wajahnya.Tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum.
“Aku tidak marah Kei, aku akan tetap menjadi teman kamu. Aku menyadari cinta tak bisa dipaksakan. Aku berharap kamu selalu bahagia dengan kekasihmu itu” Ucap Rendi dengan bijak.
“Makasih mas...” Balas Keinara sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Ya sudah, aku antar kamu pulang ya”
“Nggak usah mas, saya ada janji ketemu temen-temen di sisni juga, untuk mengerjakan tugas kelompok. Sebentar lagi mereka datang”
“Oh begitu....ya sudah saya temani kamu sampai teman-teman kamu datang.”
“Nggak usah mas, mas pulang saja. Sebentar lagi teman-teman aku datang kok.” Jawab Keinara.
“Oh...ya sudah, aku duluan ya.”
“Ya mas, hati-hati dan makasih untuk hari ini”
Rendi mengangguk. Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Ketika hendak berbalik,
Keinara memnaggilnya.
“Mas Rendi....maaf....” Lagi-lagi Keinara mengucapkan maaf pada Rendi. Karena tidak
__ADS_1
bisa membalas perasaan pria itu.
Rendy hanya tersenyum kemudian meninggalkan gadis yang telah menolak cintanya, sendirian.
Sepeninggal Rendi, Keinara mengambil beberapa buku catatan dan leptop dari dalam tasnya. Gadis itu berharap teman-temannya segera datang, agar ia tak khawatir lagi kalau Fakhri akan mendekatinya.
Keberadaan Keinara ternyata tak luput dari perhatian Vano. Sejak Vano datang, ia memang sudah
memperhatikan Keinara. Diam-diam hatinya memuji kecantikan paras gadis itu.
Vano terkejut saat tangan Doni menutupi pandangannya. Seketika khayalannya tentang Keinara buyar.
Vano menyingkirkan tangan Doni dari wajahnya.
“Ganggu kesenangan orang saja kamu ini!.” Ucap Vano kesal.
“Kamu kalau lihat cewek kaya lagi lihat harta karun aja.” Balas Doni
“Samperin aja sana,berani enggak? Dari pada nanti penasaran.” Rino menimpali.
Fakhri tau siapa yang di maksud oleh teman-temannya, gadis yang sejak tadi sengaja tak ia pandang. Fakhri memutar kepalanya, sengaja ingin melihat keberadaan Keinara yang sebelumnya ia lihat bersama Rendi.
“Kemana Rendi?.” Gumam Fakhri karena melihat Keinara duduk sendiri.
Fakhri bangkit dari kursinya, kembali duduk di sebelah Rino.
“Hadeh ini lagi....kaya kucing mau lahiran.” Ucap Rino “Mau liatin cewek itu juga?” Tambah Rino.
Fakhri hanya tersenyum.
“Ayo sana samperin.....” Perintah Rino.
“Aku aja yang nyamperin.” Vino menyela dan bangun dari duduknya.
“Berani kamu nyamperin, aku bikin kamu babak belur “ Ancam Fakhri.
Ketiga temannya melongo mendengar ancaman Fakhri.
“Hei bro....why.....” Teriak Vino.
“Itu cewek, gebetan gue!.” Jawab Fakhri serius.
Ketiga teman Fakhri makin di buat terkejut dengan pengakuan Fakhri.
“Kalau dia gebetan kamu, sana samperin!.” Titah Vino, untuk mengetes kebenaran ucapan Fakhri.
“Dia lagi ngambek sama aku.”
“Jangan ngarang cerita. Bilang aja enggak berani deketin dia.” Ucap Vano lagi.
“Namanya Keinara Rakhma Damayanti. Dia kurir makanan yang sering ke kantorku. Aku baru beberapa bulan kenal sama dia.” Fakhri menjelaskan siapa Keinara pada ketiga temannya.
“Terus kenapa dia sampai ngambek sama kamu?.” Tanya Doni yang makin penasaran.
“Aku cium bibirnya.” Jawab Fakhri singkat, tapi cukup membuat ketiga temannya melongo.Sementara matanya tak lepas dari sosok Keinara yang sedang membaca buku.
__ADS_1
“Gila kamu....!!.” Teriak Rino, tak menyangka Fakhri segila itu, sampai berani nyium cewek berhijab, yang jelas-jelas bukan pacar atau istrinya.
“Kalau lagi kebelet jangan asal nyosor Ri, Lihat-lihat dulu orangnya. Pantas dia marah. Dari tampilannya aja udah kelihatan dia itu cewek bener.” Ujar Doni.