
⚘⚘⚘
Fakhri berjalan mengikuti dua gadis beda umur yang sedang berjalan didepannya. Sepanjang perjalanan hanya Cinta yang banyak bicara. Sesekali Keinara menimpali. Sementara Fakhri hanya jadi pendengar.
“Tante, kita ketaman itu yuk.” Ajak Cinta sambil menunjuk sebuah taman.
“Ayuk...kita kesananya sambil lari ya, siapa yang sampai duluan kesana dia yang menang, gimana ?Cinta berani nggak” Ucap Keinara.
“Belani dong...."
Keduanya pun berlari meninggalkan Fakhri. Fakhri hanya tersenyum melihat keceriaan keduanya.
Keinara berlari lambat, sementara Cinta sudah berlari didepannya dengan cepat dan menjadi pemenangnya.
“Hole Cinta menang....” Teriak Cinta dengan gembiranya.
“Cinta hebat...tante kalah... .” Ucap Keinara memuji.
“Iya dong....Cinta kan anak sehat, tiap hali minum susu, jadi lalinya cepat.”
“Ya udah sekarang Cinta istirahat dulu. Kita duduk di kursi itu yuk.”
Mereka berdua berjalan menuju sebuah kursi panjang yang berada dibawah pohon besar berdaun lebat. Tak lama Fakhri datang menghampiri mereka dengan membawa dua botol minuman mineral.
Fakhri memberikan minuman itu kepada Keinara dan Cinta, setelah membuka tutup botolnya.
“Om...Cinta main kesitu dulu ya.” Pamit Cinta sambil berlalu menuju sebuah ayunan.
“Ya, om tunggu disini.“ Jawab Fakhri.
Keinara hendak menyusul Cinta, tapi tangannya di tahan oleh Fakhri.
“Kei...saya ingin bicara. Saya mohon duduklah sebentar disini.”
“Maaf saya tidak bisa.” Jawab Keinara dengan wajah yang masih terlihat dingin.
“Sebentar aja Kei.” Pinta Fakhri sambil menarik tangan Keinara yang hendak melangkah pergi.
Keinara menghempas tangan Fakhri kemudian berlalu.
“Kei.....” Panggil Fakhri tapi tak digubris oleh pemilik nama.
Fakhri tampak kecewa, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
”Ternyata kamu masih marah sama aku Kei?.” Gumamnya.
Fakhri gusar. Berkali kali Fakhri mengusap wajahnya dan mengacak rambutnya. Fakhri mencoba menekan rasa dihatinya sembari duduk. Matanya terus menatap nanar kearah Keinara yang asyik bermain petak umpet dengan Cinta.Wajahnya begitu ceria, seolah tanpa beban. Fakhri hanya jadi penonton keceriaan dua gadis beda generasi itu.
Fakhri bergegas bangun dari duduknya, saat keponakannya terjatuh dan menangis. Cinta menangis keras sambil memegangi lututnya yang sedikit lecet. Keinara mencoba menenangkan teman kecilnya itu, dengan mengusap lututnya.
__ADS_1
“Cup..cup...dah gak papa, lukanya kecil kok. Katanya Cinta anak hebat. Anak hebat nggak boleh nangis.” Ucap Keinara terus berusaha menenangkan Cinta.
Dari kejauhan Fakhri tampak berlari kearah mereka.
“Cinta gak papa kan?.” Tanya Fakhri.
“Cinta jatuh om, kaki Cinta sakit” Jawab Cinta.
“Makanya Cinta hati-hati, coba om lihat lukanya,” Ucap Fakhri sambil memeriksa kaki cinta .
“Kakinya enggak apa-apa kok, lukanya kecil. Sebentar lagi sakitnya pasti hilang.” Ucap Fakhri menghibur.
Cinta akhirnya berhenti menangis.
“Kita pulang ya Cint?.” Tanya Keinara.
Cinta mengangguk. Keinara membantu cinta berdiri.
”Yuk jalan.”
Cinta kemudian berjalan, tapi baru beberapa langkah dia berhenti.
“Om, kaki Cinta sakit lagi, Cinta gak mau jalan.”
“Ya udah sini om gendong.” Fakhri mengangkat tubuh Cinta, dan mendudukannya diatas bahu.
Fakhri dan Keinara berjalan beriringan tanpa bersuara. Sementara Cinta begitu gembira diatas bahu omnya. Dia tidak tau jika omnya itu sedang dibuat gundah oleh tante Keinara. Fakhri ingin sekali berbicara dengan gadis disampingnya, tapi dia tak tau harus mulai dari mana. Apalagi wajah Keinara yang tampak begitu dingin.
“Tante Kei....nanti Cinta main kerumah tante ya....” Tanya Cinta.
“Boleh...tapi nanti sore ya.” Jawab Keinara.
“Tapi Cinta maunya bentar lagi, abis Cinta mandi.”
“Aduh maaf Cint...tante bentar lagi mau pergi. Tante udah ada janji sama temen tante. Gimana?. Nanti sore aja yah?.”
“Ya udah deh....tapi tante nanti sore di rumah kan?.”
“Iya nanti sore tante di rumah.” Jawab Keinara sembari tersenyum.
Fakhri yang hanya jadi pendengar, mencerna ucapan Keinara.
Muncul rasa penasaran saat gadis itu bilang ada janji dengan teman. Fakhri penasaran siapa teman Keinara itu. Laki-laki atau perempuan?. Rasa penasaran Fakhri akhirnya terobati saat langkah mereka sudah dekat dengan rumah kost Keinara. Di depan pagar, tampak seorang laki-laki keluar dari dalam sebuah mobil berwarna putih. Fakhri mengenali siapa pria itu yang ternyata adalah karyawannya sendiri, Rendi. Pria yang menjadi penyebab awal Fakhri mencium Keinara, merasa terkejut saat melihat Keinara berjalan bersama bosnya.
“Keinara...kok bisa bareng sama Pak Fakhri.” Tanya Rendi saat Keinara mendekatinya.
“Iya, tidak sengaja ketemu tadi.” Jawab Keinara.
“Selamat pagi pak Fakhri, tak menyangka bisa ketemu disini.” Sapa Rendi.
__ADS_1
“Pagi Ren,.....saya lagi dirumah kakakku. Itu rumahnya...." Jawab Fakhri dengan nada dingin.
“Ehmm...mas Rendi, aku siap-siap dulu ya. Tapi agak lama, mau mandi dulu soalnya.”
“Ya tidak apa-apa, aku tunggu disini saja.” Jawab Rendi.
“Ya....tante Kei masuk dulu ya Cint.” Pamit Keinara pada Cinta.
“Iya tante, jangan lupa nanti sore ya?.”
“Iya tante gak bakalan lupa.dadah....” Keinara berlalu tanpa berpamitan dengan Fakhri.
“Tega banget kamu Kei....” Gumam Fakhri dalam hatinya.
Hatinya mulai tak karuan melihat Rendi hendak pergi dengan Keinara.
“Ini siapa...cantik banget.” Tanya Rendi pada Cinta sambil memegang pipi tembem gadis kecil itu.
“Cinta om...temennya tente Keinala juga.” Jawab Cinta polos.” Om mau pelgi sama tante Kei ya?.”
“Oh namanya cinta....” Balas Rendi.
”Iya om temennya tante Kei juga. Hari ini Om mau nemenin tante Kei beli buku” Jawab Rendi lagi
“Oh...hati-hati ya om.” Pesan Cinta yang dibalas acungan jempol oleh Rendi
"Oke.”
“Ehm...kamu sepertinya dekat dengan Keinara?” Tanya Fakhri tiba-tiba.
“Iya pak..kami sudah kenal cukup lama” Jawab Rendi.
“Teman...atau ...???.” Tanya Fakhri karena penasaran .
“Teman pak...tapi lagi usaha untuk jadi lebih dari teman he...he...” Jawaban Rendi membuat tubuh Fakhri memanas.
Ada sedikit emosi di hatinya. Sekarang dia tau, kalau dia punya pesaing untuk mendapatkan Keinara.
“Oh ya sudah...saya pamit dulu, hati-hati dijalan.” Ucap Fakhri kemudain berlalu dari tempat itu.
“Iya pak...silahkan. Daah cinta....” Ucap Rendi sambil melambaikan tangan ke arah Cinta.
Fakhri merasa tubuhnya terbakar. Belum lenyap kegundahan hatinya kerena sikap Keinara, sekarang ditambah Rendi yang jelas-jelas menunjukan kalau dia juga menyukai Keinara. Rasa emosi mendominasi wajahnya. Kembali Fakhri terbakar cemburu, apa lagi pagi itu ia melihat Rendi dan Keinara akan pergi berdua.
"Masa iya, aku harus bersaing dengan bawahanku sendiri...." Gumam Fakhri.
"Semoga saja aku yang jadi pemenangnya. Tapi bagaimana aku bisa memenangkan hati Kei, kalau sekarang saja aku sudah membuatnya marah." Batin Fakhri.
"Huh...Keinara...Keinara.....kenapa sih kalau marah lama banget." Pikir Fakhri.
__ADS_1
Otak Fakhri terasa buntu. Tak bisa berpikir bagamana cara agar ia segera mendapatkan maaf dari Keinara.
⚘⚘⚘