
“Sebenarnya mas ngapain jauh-jauh kesini?.” Tanya Keinara
akhirnya, setelah ia menahan diri untuk tidak berbicara dengan pria pemaksa di
sampingnya, karena rasa kesal dihatinya.
“Untuk menemui kekasihku...?!.” Jawab Fakhri seraya tersenyum kearah Keinara.
“Kekasih yang mana lagi? bukankah kekasihmu ada di Jakarta?.”
“Pacarku cuma ada satu, dan sekarang dia ada bersamaku!.”
Telunjuk Keinara menunjuk kearah dadanya, sementara matanya melebar.”Aku...??!.”
Kembali Fakhri tersenyum dan mengangguk.
“Semua sudah berakhir mas....Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. “ Jawab gadis, yang kemudian memalingkan wajahnya keluar jendela, ketika merasa matanya mulai panas.
Sepertinya Fakhri tak ingin menunda lagi, untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Pria itu menepikan kendaraannya agar leluasa berbicara.
“Kenapa berhenti...!.” Tanya Keinara tampak panik dan ketakutan.
“Aku ingin menjelaskan sesuatu sama kamu.” Balas Fakhri yang telah mematikan mesin tanpa mematikan lampu depan kendaraannya.
“Tapi tidak harus disini kan?.” Keinara menggeser tubuhnya menjauhi pintu, hingga tubuhnya hampir menempel ke tubuh Fakhri.”Ayo jalan mass...!.”
Pintanya, dengan raut ketakutan. Sementara matanya sesekali melihat kearah sisi kiri jalan yang tersorot lampu mobil.
Merasa aneh dengan sikap Keinara yag tiba-tiba ketakutan, Fakhri mengedarkan tatapannya ke arah tempat yang di lihat Keinara. Seulas senyum tipis muncul di wajah Fakhri setelah ia melihat disisi kiri jalan ada pemakaman umum, dan beberapa makam tampak jelas terlihat karena terkena cahaya dari lampu kendaraannya.
“Mas mau kemana?.” Tanya Keinara sembari memegang lengan Fakhri
yang membuka pintu.
“Mau turun sebentar. Di belakang mobil sepertinya ada sesuatu. Aku akan memeriksanya.”
“Mas.....Jangan turun!!”. Gadis itu menarik lengan Fakhri dengan kuat. Menahan pria itu untuk tidak meninggalkannya.
“Sebentar yang.....” Fakhri menurunkan salah satu kakinya hendak turun, tapi tangan Keinara kembali menarik lengannya. Lebih kuat dari sebelumnya.
“Mas....Jangan turun....!!.” Wajah Kei tampak makin ketakutan. Tak tega, akhirnya Fakhri menarik kembali kakinya dan menutup pintu mobil yang sempat ia buka.
Kedua tangan Keinara masih memegang lengan Fakhri dan menyembunyikan wajahnya disana. Sepertinya Fakhri ingin tertawa, namun ia tahan.
Mata Keinara tampak terpejam, saat Fakhri menarik lengannya. Dan ia menurut begitu saja, ketika tangan Fakhri merengkuh tubuhnya kedalam pelukan.
Suasana seketika hening. Ketika katakutan Keinara berubah menjadi kenyamanan. Pelukan menentramkan tak kuasa Keinara tolak, meski ada rasa kecewa, amarah dan benci untuk pria yang kini memeluknya.
__ADS_1
Rasa nyaman dan tenang juga tengah di rasakah Fakhri, setelah sekian bulan rasa itu hilang. Dikecupnya puncak kepala gadis yang telah membalas pelukannya, dengan luapan cinta dan kasih sayang.
Merasa bulu kuduknya mulai merinding, Fakhri menyalakan mesin mobil. Dan meninggalkan tempat itu dengan satu tangan masih memeluk tubuh Keinara.
Merasa telah jauh dari area pemakaman, Keinara menarik tubuhnya dari dada Fakhri. Dalam hati, gadis itu meruntuki dirinya sendiri yang tak mampu mengendalikan rasa takut. Sehingga ia tak harus berada dalam pelukan pria yang bukan kekasihnya lagi.
“Kalau masih merasa nyaman kenapa harus dilepas.” Ucap Fakhri, ketika Keinara melepas pelukannya. Namun terdengar sarat makna di telinga Keinara.
“Jika kenyamanan itu hanya untukku, tak mungkin aku lepas.”
Balas Keinara dengan nada kecewa.
“Tidak ada yang terbagi, semua itu untukmu.”
“Jangan berbohong, karena aku sudah tau faktanya.”
“Di balik fakta yang kamu lihat, ada fakta lain yang kamu tidak tau.”
“Maksud kamu?.”
“Nanti aku jelasin, setelah aku makan itu...” ucap Fakhri dengan telunjuk mengarah ke gerobak batagor yang ada di pinggir jalan.
“Huhhh........” Desah Keinara merasa telah di buat penasaran oleh Fakhri.
Saat itu keduanya telah berada di alun-alun kota kecamatan yang tampak ramai oleh pengunjung dari segala usia dan pejual makanan. Gerobak makanan berjejer disana. Menawarkan beragam makanan, dari makanan ringan sampai makanan berat, dari yang kering sampai yang berkuah.
Menunggu pesanananya jadi, Fakhri dan Keinara duduk di bangku yang disediakan penjual batagor. Melihat Keinara yang tampak kedinginan Fakhri mengajak gadis itu untuk kembali ke dalam mobil dan menikmati batagor disana.
Namun sebelum sampai ke mobil, Fakhri mengajak Keinara pergi ke mini market yang berada tak jauh dari mobilnya.
“Mau cari apa si mas...” Tanya Keinara begitu masuk ke mni market.
“Nyari perlangkapan mandi, lupa nggak bawa tadi. Soalnya nggak tau mau nginep.”
“Ya udah sana, aku nunggu di luar aja!.” Ucap Keinara dan hendak melangkah keluar.
“Eee....mau kemana, tadi kan bilang mau nemenin!” Fakhri menarik tangan Keinara dan membawanya mencari barang yang ia butuhkan. Sementara dirinya mendorong troli, Keinara mengambil barang yang ia butuhkan di rak pajangan.
“Duh ngapain si mas pakai troli, belanjanya kan cuma sedikit.”
“Biar bisa bawa kamu sekalian.....” Balas Fakhri seraya tersenyum menggoda.
“Ihhh emangnya aku barang....” Keinara langsung mengambil keranjang dan
menyingkirkan troli yang di pegang Fakhri.
Setelah memperoleh semua barang yang di butuhkan Fakhri, keduanya kembali menuju mobil. Bukan untuk pulang, melainkan untuk menikmati batagor.
__ADS_1
“Yang...aku ingin ngejelasin sesuatu sama kamu.”
“Ishhhh...jangan panggil aku yang, panggil aku Keinara.. .!”
“Tapi aku suka....gimana?.”
“Heh....terserah deh...!.”
Fakhri tampak menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia mengeluarkan semua isi hati dan pikirannya.
“Yang....aku minta maaf karena telah membuat kamu kecewa dan sakit hati. Tapi sungguh aku tak berniat melakukannya. Apa yang terjadi, diluar kehendakku. Setelah kecelakaan
itu, aku mengalami amnesia, dan kamu adalah salah satu orang yang tak aku
kenali. Dimataku kamu itu orang asing. Aku berusaha mengingat siapa kamu, tapi
ingatanku tak mampu. Karena aku tak mau kamu bersedih dengan kondisiku, jadi
aku merahasiakan amnesiaku dari kamu. Semula, aku ingin tetap bersikap sebagai
kekasih kamu, meski aku tak ingat siapa kamu. Tapi ternyata aku tak bisa, apa
lagi setiap aku mengingatmu dan berdekatan denganmu kepalaku terasa sakit, sakit yang luar biasa. Akhirnya aku memilih menjauhimu, menolak keinganmu untuk bertemu. Dan itu ternyata membuat aku menerima wanita lain menjadi kekasihku. Meski aku ragu dengan perasaanku pada wanita itu, aku tetap menjalani hubungan itu sampai
akhirnya kamu tau. Melihatmu yang tampak hancur waktu melihatku bersama Bela, itu menjadi titik awal aku mengingat perasaanku padamu. Dan aku benar-benar
mengingatmu dan semua kenangan kita setalah kamu pergi dan mengembalikan cincin itu ” Fakhri menatap wajah Keinara yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tak ia mengerti.
“Yang....tolong maaf kan aku...Seharusnya sejak awal aku tak merahasiakan ini padamu.”
“Memang seharusnya kamu tak merahasiakan hal itu padaku. Sehingga tak menyebabkan kesalahpahaman ini. Seandainya kamu jujur, tentu aku
akan memahaminya. Dan aku tak merasakan sakit karena merasa kau abaikan.” Mata Keinara akhirnya berkaca-kaca . Perasaannya campur aduk antara kecewa, sedih ,
senang dan rasa tak percaya. Sekarang gadis itu bingung bagaimana harus bersikap dengan pria didepannya itu. Bagaimanapun ia telah berprasangka buruk pada Fakhri. Dan itu menjadi salah satu alasanya meninggalkan pria itu.
“Tolong maafkan aku yang....sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu, aku tak ingin kehilangan kamu dan kamu sangat penting bagiku.”
“Tapi hubungan kita telah berakhir mas, dengan hadirnya wanita itu di antara kita.”
“Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa lagi. Karena sebenarnya yang aku cinta itu hanya kamu. Maaf......gara-gara kehadiran Bella kamu jadi tersakiti. Sungguh aku menyesal Kei....”
Penyesalan Fakhri terlihat begitu dalam. Diraihnya kedua tangan keinara dan mendaratkan kecupan di sana.
Sementara Keinara masih tampak termangu. Ada dilema di hatinya. Memaafkan Fakhri dan menerimanya kembali, atau tetap bertahan dengan
keputusannya.
__ADS_1
❤❤❤