Cinta Keinara

Cinta Keinara
Muka Tembok


__ADS_3

Setelah solat berjamaah dengan Fakhri, Keinara melanjutkan tugasnya sebagai pelayan resto. Tugasnya di gantikan oleh karyawan lain yang kebaagian sift sore. Satu jam kemudian Keinara selesai dengan tugasnya.


Dia memang bekerja hanya sampai jam setengah enam sore. Setelahnya dia akan pulang ke kost. Saat hendak menaiki motornya dia melihat sebuah kertas dan setangkai bunga krisan yang mungkin dipetik dari taman resto, Ada di dasbor motor. Dalam kertas itu tertulis


“Please nomer ponselku jangan di blokir....kalau nggak di buka aku akan menemui kamu setiap hari.”


Kei menarik nafasnya berat, dan membuang kertas tersebut ketempat sampah dengan kesal. Keinara memutuskan untuk tidak menuruti permintaan Fakhri dan memilih untuk segera pulang. Selesai mandi sembari menunggu magrib, Kei membuka ponselnya untuk mengecek jadwal kuliah, yang akan di mulai hari minggu depan. Masih tersisa dua hari masa liburnya. Dan itu akan dia manfaatkan untuk bekerja dan mencari buku-buku referensi yang sesuai dengan mata kuliahnya di semester ini.


Saat sedang asyik dengan tulisan tulisan yang ada di layar ponsel, tiba-tiba muncul sebuah panggilan dari Rangga, asisten Fakhri.


Tanpa pikir panjang , Keinara menekan tombol hijau.


“Hallo Assalamu’alaikum pak Rangga."  Sapa Keinara membuka percakapan.


Sesaat tak ada suara dari ujung sambungan telefon.


“Hallo pak Rangga.” Keinara mengulang kalimatnya.


“Wa’alaikumsalam Kei....”


Keinara langsung menekan tombol merah saat mengenali suara yang membalas salamnya. Dan itu bukan suara Rangga, tapi suara Fakhri. Orang yang siang tadi membuatnya naik darah, karena sudah berani mengambil ciuman pertamanya.


“Menyebalkan sekali orang ini. Setelah apa yang dia lakukan, dia masih berani menghubungiku. Dasar muka tembok” Ucap Kei penuh emosi.


Ponsel Keinara kembali berdering, dan nama Rangga yang kembali muncul di layar. Bukannya mengangkat panggilan itu, Kei malah menonaktifkan ponselnya. Dan bergegas melaksanakan solat magrib setelah mendengar kumandang adzan.


Sementara itu Fakhri mengumpat, karena panggilan telfonnya tak diangkat oleh Kainara. Hampir saja Fakhri mau membanting ponsel Rangga ketika nomor Keinara tak bisa dihubungi lagi.


“Hei...itu ponselku, jangan dibanting!!” Teriak Rangga untuk menyelamatkan ponselnya.


“Udah sabar....Keinara lagi marah sama kamu. Jangan dihubungi dulu. Biarkan dia tenang. Tunggu beberapa hari. Baru kamu temui dia dan ajak bicara baik-baik.Kalau kamu begini, yang ada malah dia tambah sebel sama kamu.Bucin boleh, tapi tetep jaga kewarasan bro.” Ucap Rangga lagi menasehati atasannya.


Fakhri mengembalikan ponsel Rangga. Melepas dasi, menggulung lengan kemaja dan membuka dua kancing kemejanya, agar dadanya yang terasa sesak sedikit longgar. Fakhri menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi jabatannya.


“Mungkin memang lebih baik aku tak menghubunginya untuk sementara. Saat ini dia pasti masih marah sama aku. Semoga saja nggak sampai membenci aku. Kalau sampai dia membencku, urusannya jadi gawat. Aku pasti akan semakin sulit mendekatinya. Huh....bodohnya aku. Aku seperti terjebak di jebakan yang aku buat sendiri” Ucap Fakhri dalam diamnya.


Rangga hanya tersenyum melihat atasannya yang gelisah tingkat dewa.


“Enggak bakalan kelar-kelar nih pekerjaan kalau di seperti ini terus. Bucinnya parah banget nih orang.” pikir Rangga.


Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, selain membiarkan bosnya di mode gelisah. Rangga memilih fokus dengan tumpukan berkas yang ada di depannya.


Keinara membiarkan ponselnya tergeletak di bawah bantal, tak berniat mengambilnya apa lagi menghidupkannya kembali. Dia khawatir Fakhri akan kembali menghubunginya.

__ADS_1


Keinara keluar kamar menemui teman-temnnya yang berkumpul di depan televisi sembari makan malam . Saat asyik menikmati makanan, terdengar suara anak kecil mengucap salam. Dan ternyata itu cinta dan ibunya.


“Hei Cinta....sini..sini...tante Klara kangen sama Cinta....”


Klara membopong Cinta yang baru masuk dan menciuminya gemas, sampai Cinta tertawa geli.


“Wah Cinta ganggu nih, tantenya lagi pada makan” Ucap Ibunya Cinta.


“Tidak kok bun, ini udah selesai” Jawab Keinara.


Suasana jadi ramai karena polah tingkah lucu Cinta. Terdengar tepuk tangan saat Cinta berhasil melakukan tantangan dari para Tante.Cinta merasa kelelahan. Satu gelas air putih habis diteguknya. Gadis kecil itu mengambil ponsel dari tangan ibunya dan duduk di sebelah Keinara, yang sedang asyik berbincang. Video Youtube menjadi hiburannya sekarang, setelah kelelahan bermain.


“ Hallo om....”


Cinta ternyata sudah berpindah aplikasi. Kali ini ia mengunakan apliksai centang biru dan melakukan panggilan Video dengan omnya, Fakhri. Tanpa di sadari oleh para wanita dewasa yang bersamanya.


“ Hallo Cinta...ada apa? Om lagi sibuk nih.”


Balas Fakhri dengan wajah kuyu dan merasa terganggu oleh keponakannya.


“Om masih kelja ya?”


“Iya....udah dulu ya.”


“ Ee...Cint... Cinta tunggu.....Cinta lagi dimana itu?.”


Fakhri memnaggil Cinta yang hendak mematikan panggilannya.Tak sengaja netra Fakhri melihat jelas wajah Keinara ada di samping Cinta.


“Cinta sama Bunda lagi main di rumah tante Kei Om.”


“Oh ya...!!. Coba mana tante Kei-nya?.”


Cinta mengarahkan ponselnya kearah wajah Keinara.


Seketika wajah Fakhri berubah. Dari yang kuyu menjadi manis.


“Cinta..pegang ponselnya kaya gitu dulu ya.”


“Tapi Cinta jadi gak bisa lihat wajah om Fahli.”


“Ya udah coba ponselnya turunin dikit.....”


Cinta menurunkan ponselnya, sehingga wajah omnya terlihat jelas.

__ADS_1


“Kaya gini om?.”


“Mundurin dikit Cint....”


Cinta menuruti perintah omnya dengan benar. Dari tempat kerjanya Fakhri dapat melihat jelas Keinara dan keponakannya. Keinara belum menyadari kalau Fakhri sedang menikmati wajahnya sambil berbicara dengan Cinta. Setelah sekian menit Keinara akhirnya menyadari. Karena Bunda Cinta melihat naknya sedang berbicara dengan seseorang.


“Cinta kmau lagi nelfon siapa?.” Tanya Fahira.


“Sama om Fakhli bunda.” Jawab Cinta.


Tak sengaja Keinara melihat kearah ponsel. Fakhri tak melewatkan hal itu untuk menyapa Keinara.


“Selamat malam tante Keinara.”


Sapa Fakhri dengan senyum merekah.


“Selamat malam pak Fakhri.”


Keinara membalas dengan senyum yang terpaksa. Sekedar untuk menutupi rasa kesal yang masih ada untuk pria itu.


“Cinta, tante kebelakang sebentar ya, tante haus.”


Pamit Keinara, yang sebenarnya ia hanya ingin menghidari Fakhri.


“ Lho...tante Kei mau kemana?.”


Tanya Fakhri yang melihat Keinara bangkir dari duduknya.


“Tante Kei mau minum om.”


“Oh...ya udah ya Cint, om lanjut kerja lagi. Salam buat tante Kei dan tante-tante yang lain ya.”


Fakhri tau, Keinara menghindarinya. Terpaksa ia menyudahi obrolannya. Tak ingin membuat Keinara merasa tak nyaman dan membuat gadis itu tambah sebel paanya.


“Iya om...dada....”


Cinta dan Fakhri saling melambaikan tangan, sebelum mengakhiri obrolan mereka.


Setelah melihat Keinara,Fakhri seperti habis meminum segelas es teh yang menyegarkan kerongkonganya. Membuat pria itu bersemangat untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya, yang entah kapan akan selesai


Sementara Cinta kembali menunjukan kelucuannya, menghibur ibu dan teman-teman dewasa yang setia menjadi penonton. Tak terkecuali Keinara. Gadis itu telah bergabung kembali dengan Cinta.


🥰🥰🥰

__ADS_1


Reader yang budiman....jangan lupa tinggalin jejak ya...biar autornya tambah semangat..😘


__ADS_2