
Sebuah kafe yang tidak terlalu rame, menjadi tempat aman bagi Fakhri untuk menghindari Bela. Pria itu memilih duduk dikursi yang terletak d sudut kafe. Seporsi nasi goreng spesial dan segelas lemon tea hangat didapuk menjadi pengsisi perutnya, yang mulai terasa lapar di jam makan siang.
Perhatian Fakhri tertuju ke pintu masuk kafe. Karena disana tampak seorang gadis yang tengah mengganggu pikirannya sejak kemarin sedang melangkah masuk bersama beberapa orang laki-laki dan perempuan.
Nasi goreng yang baru di santap separuh, seterusnya di biarkan dingin. Karena ia lebih tertarik menikmati wajah gadis yang baru saja datang itu.
Gadis itu adalah Keinara Rahma Damayanti, Mahasiswi yang sebentar lagi akan lulus dari bangku kuliaah. Dan hari itu ia telah melakukan sidang skripsi tanpa ada revisi.
“Kamu mau makan apa Kei...” Tanya Dion, teman satu kelas Keinara.
“Nasi goreng spesial sama Lemon Tea hangat." Menu yang sama dengan yang di pesan Fakhri.
“Aku orange jus sama burger.” Ucap Dewi yang sibuk membaca pesan dari pacarnya.
“Aku enggak nanya...!!” balas Dion. Yang kemudian mengaduh saat telinga kirinya di tarik oleh Dewi.
“Aw.....aw.....aw....saikit Wi , lepas...!!.” Dion langsung mengusap daun telinganya, begitu Dewi menarik tangannya. ‘’Jahat banget si Wi...!” kembali Dion mngomentari perbuatan wanita di sampingnya.
“Makanya jangan cari gara-gara!!.” Dewi membalas ucapan Dion sembari melebarkan matanya. Sehingga Dion memilih memundurkan wajahnya
“Begini nih kalau Tom and Jerry ketemu...ribut terus. ” Ucap Keinara yang heran dengan kelakuan dua temannya itu.
”Ya mbak, kami pesan itu saja.” Ucap Keinara lagi, yang merasa kasihan pada pelayan yang sejak tadi menunggu kepastian.
Keributan di meja keinara terhenti, saat pesanan mereka datang. Sidang yang berhasil di lalui Keinara dan teman-temannya, nyatanya membuat perut mereka minta untuk segera dimanjakan. Sehingga tak ada suara yang keluar saat mereka makan. Hanya denting suara sendok yanag beradu dengan piring saji.
“Alkhamdulillah....” Ucap Dion yang lebih dulu selesai dengan makannya.
Berbeda dengan Keinara, yang terus mengaduk-aduk nasi gorengnya yang tinggal separuh. Semula tak ada yang menyadari, kalau gadis itu tengah menahan air mata karena teringat sang kekasih yang sangat menyukai makanan yang ada di depannya itu.
“Kei....itu nasi gorengnya nggak salah apa-apa lho. Jangan dibolak-balik kaya gitu. Kasian....!!” Ujar Ratih yang duduk di samping Keinara. Menimbulkan tawa sekaligus tanya.
“Aku ke toliet dulu...” Pamit Keinara sembari mengusap air di matanya. Teman-temannya yang memandanginya akhirnya tersadar, kalau Keinara sedang tidak baik-baik saja.
Keinara bergegas menuju ke toilet dengan menurunkan pandangannya, sehingga ia tak menyadari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikannya.
__ADS_1
Setelah mengunci pintu, Keinara menumpahkan airmata yang sejak tadi ia tahan di tengah suara air yang keluar dari kran.
“Hik....hik.....hik.....mas Fakhri, sesakit ini luka yang kau buat untukku. Kamu jahat mas...hik...hik...”
Dua tangan gadis itu membekap mulutnya sendiri, agar tangisnya tak terdengar oleh orang lain. Airmata gadis itu makin deras membasahi wajah dan tangannya. Dibarengi bahu yang tampak berguncang.
Keinara membasuh wajahnya begitu ia selesai dengan tangisnya. Jejak airmata di pipinya hilang tak berbekas, tapi warna merah masih mewarnai matanya.
Setelah merapikan posisi jilbab, Keinara melangkah meninggalkan toilet. Sebuah suara tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Keinara...!”
“Rasya...!!!!.”
Keinara sangat terkejut melihat bagian dari masa lalunya kini ada di depan mata.
Untuk yang kedua kali Keinara bertemu kembali dengan Rasya, setelah hubungan mereka berakhir tiga tahun lalu (kalau tidak salah).
“Apa kabar Kei...” Tanya Rasya dengan mengulurkan tangannya yang kemudian di tarik kembali karena Keinara memilih menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
“Jangan takut Kei. Aku tidak akan berbuat macam-macam sama kamu.” Rasya menyadari gadis di depannya sedang merasa cemas dengan keberadaan dirinya.
“Maaf...saya harus segera kembali ke dalam. teman-temanku sedang menunggu.” Ucap Keinara saat merasa kecemasannya semakin menjadi. Tanpa menunggu lama-lama Keinara melangkahkan kakinya, tapi baru beberapa
langkah, Rasya memeluknya dari belakang.
“Kei jangan pergi, aku sangat merindukan kamu.” Ucap Rasya terdengar memelas.
“Lepas...Rasya...lepas.....hik...hik...”
Pinta Keinara, yang tak mengira Rasya berbuat hal yang membuatnya takut. Sekuat tenaga Keinara melepaskan tangan Rasya yang melingkar di pinggangnya. Namun Rasya malah makin mengencangkan pelukannya.
Keinara terus berusaha terlepas dari pelukan mantan pacarnya, karena pria itu tanpa ragu membenamkan wajahnya di bahu Keinara.
“Bug...Bug....Brak...!!!” Tubuh Rasya terhuyung dan terjatuh menimpa sebuah tempat sampah sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.
__ADS_1
Fakhri yang menyusul Keinara karena gadis itu tak kunjung kembali ke tempat duduknya, menarik tubuh rasya dan menghadiahinya dengan beberapa pukulan. Karena pria itu telah berani menyentuh miliknya.
“Kurang ajar...Baj*****!!!,” Teriak Fakhri.
Dengan penuh amarah, Fakhri menarik tubuh Rasya yang masih terduduk di atas tempat sampah yang pecah karena tertimpa tubuh pria itu. Kekasih Keinara itu kembali menghujani tubuh Rasya dengan beberpa pukulan di bagian wajah. Rasya yang tak terima, membalas pukulan Fakhri. Dan satu pukulannya berhasil membuat Fakhri terhuyung . Fakhri tak menyerah, ia hendak kembali mnyerang Rasya, tapi Keinara telah lebih dulu memeluknya dari depan.
“Sudah cukup mas....hik...hik...!!.” Teriak Keinara yang menangis dan memeluk pinggangnya dengan erat. Seketika amarah Fakhri menurun drastis, ketika merasakan kehangatan dari pelukan Keinara. Fakhri terlena, kemudian ia membalas pelukan kekasihnya.
Rasya yang belum puas membalas perbuatan Fakhri, terpaksa membuang keinginanannya melihat Keinara memeluk tubuh Fakhri seolah melindunginya. Amarah Rasya kini bercampur dengan rasa cemburu. Mata dan hatinya makin panas. Dengan kesal, Rasya akhirnya memilih berlalu dari tempat itu.Meninggalkan Fakhri dan Keinara yang masih menikmati keromantisan mereka. Seolah tak peduli dengan beberapa pasang mata yang tengah memperhatikan mereka.
Fakhri tiba-tiba tersentak, karena gerakan Keinara yang melepaskan pelukannya agak sedikit kasar. Dan tanpa melihat wajah Fakhri dan tanpa sepatah kata gadis itu pergi meninggalkan Fakhri.
“Kei....” Panggil Fakhri saat Keinara melangkah menjauh. Sayangnya, panggilannya itu tak menghentikan
langkah Keinara yang terus menjauh.
Tatapan nanar Fakhri terus mengikuti tubuh Keinara, yang kemudian hilang di balik tembok kafe.
Fakhri berdiri mematung. Merenungi apa yang baru saja terjadi.
“Kenapa aku tak rela pria itu menyentuh Keinara, dan pelukan keinara tadi, seperti sangat aku rindukan.” Gumam Fakhri yang menyadari sesuatu pada dirinya. Pelan tapi pasti, hati dan pikirannya mulai terisi rasa untuk gadis itu. Rasa yang beberapa bulan terakhir seolah tak ia rasakan.
Selang beberapa menit, Fakhri memutuskan pergi dari tempat itu. Dan kembali ke dalam kafe. Netranya mencari keberadaan gadis yang tadi memeluknya., Tapi sayang gadis itu sudah tak ada di kursinya.
POV Keinara
Keinara terkejut melihat tubuh Fakhri yang terhuyung setelah mendapat pukulan dari Rasya. Dia cemas. Tanpa pikir panjang dia memeluk tubuh Fakhri untuk menghalangi Rasya yang sedang bersiap untuk kembali memukul Fakhri.
“Sudah cukup mas...hik...hik...” Pinta Keinara di tengah isak tangisnya.
Rasa damai seketika menyelimuti hati Keinara, saat Fakhri membalas pelukannya. Pelukan yang terasa begitu hangat, pelukan yang sangat ia rindukan. Tangisnya terhenti saat rasa damai itu benar-benar menguasai. Mata gadis itu terpejam menikmati moment yang sudah lama hilang.
Keinara seketika melepas pelukannya, saat kebenciannya pada Fakhri mengingatkannya. Tanpa menoleh dan beucap keinara meninggalkan Fakhri. Tak peduli saat pria itu memanggilnya. Ia terus melangkah masuk kedalam kafe, bergabung kembali dengan teman-temannya.
“Yuk pulang...” Ucap Keinara begitu sampai di depan teman-temannya. Tanpa menunggu reaksi dari teman-tamannya. Keinara mengambil tasnya yang tergeletak di kursi, dan langsung melangkah keluar. Tak peduli dengan teman-teman seperjuangannya yang menatap heran.
__ADS_1
Dewi dan yang lain, segera menyusul Keinara. Sedikit khawatir karena Keinara tampak tidak baik-baik saja.