Cinta Keinara

Cinta Keinara
Mendadak Menikah


__ADS_3

Keinara baru saja bangun tidur, saat kedua orang tuanya dan


Fakhri baru saja pulang dari masjid. Merasa bangun kesiangan gadis itu


terburu-buru keluar kamar menuju kamar mandi, tak menyadari Fakhri yang hendak


masuk kamar melihat dirinya yang tidak mengenakan jilbab. Rambutnya yang panjang


hitam tergerai begitu saja menjadi  penampilan lain dari Keinara, menarik perhatian Fakhri.


Kaki Fakhri maju beberapa langkah hingga sampai di pintu


yang mengarah ke ruang tengah, agar ia bisa melihat kekasihnya yang  tengah melangkah  ke arah kamar mandi. Meski hanya dapat melihat


bagian punggung gadis itu, pria itu cukup terkesima melihat rambut Keinara yang


panjang  hampir sepinggang , hitam legam,


lurus dan lebat.


“Depan belakang sama cantiknya.....” Gumam Fakhri yang


kemudian masuk kekamar, setelah melihat pak Sasongko yang berjalan ke ruang


tengah dari arah dapur.


Tak lama pria itu keluar lagi menuju halaman. Melakukan


gerakan –gerakan ringan untuk melemaskan otot tubuhnya disana. Sesekali melirik


ke arah pintu, mengharap Keinara muncul dari sana. Setelah sepuluh menit, akhirnya


gadis yang di tunggunya muncul dari balik pintu .


“Mau kemana ?.” Tanya Fakhri ketika melihat Keinara


menggengam sebuah dompet dan tak lagi memakai piyama.


“Mau beli nasi uduk buat sarapan, sekalian jalan-jalan. Mas


mau ikut?”


“Ayuk.....” Fakhri langsung menyambut ajakan Keinara dengan


senang hati, karena sejak tadi ia ingin mengajak gadis itu, pergi jalan-jalan menikmati


pagi di desanya.


Keduanya  berjalan


beriringan menyusuri jalan beraspal hingga mereka sampai di jalan yang di kedua


sisinya di penuhi penjaja makanan dan sayur mayur. Mirip sebuah pasar, tapi hanya


ada di pagi hari dan hanya  sampai jam


tujuh saja. Setelahnya jalan itu akan berfungsi sebagaimana mestinya.


Kehadiran keduanya menjadi perhatian beberapa orang yang ada


disana.


“Mbak Nara....ini calon suaminya?.” Tanya seorang ibu-ibu


yang tengah berbelanja.


Keinara tak menjawab, ia hanya tersenyum.


“Wah gantengnya....cocok sama mbak Nara. Pasti nanti kalau


punya anak , anaknya cantik dan ganten seperti orang tuanya.” tambah wanita itu


mengangumi rupa dua insan yang ada didepannya.


“Aamiin...” Batin Fakhri.


“Ah bu Karti bisa aja....” Balas Keinara sembari tersenyum .


Dan pamit untuk mencari apa yang ingin dia beli.


Fakhri begitu menikmati kebersamaannya dengan kekasihnya di


pasar itu. Ia seperti seorang suami yang menemani istrinya berbelanja, karena


tangannya kini penuh dengan kantong plastik yang berisi makanan dan sayur yang


di beli Keinara.


Merasa cukup, keduanya memutuskan untuk pulang. Rencana


hanya ingin beli nasi uduk , tapi nyatanya banyak makanan yang di beli karena


Fakhri yang menginginkannya. Beberapa makanan tradisional yang dijajakan di


pasar itu, memang begitu menarik perhatian Fakhri, sehingga pria itu  ingin mencicipinya.

__ADS_1


Hari mulai tampak terang dan hangat. Secangkir teh tersaji


didepan Fakhri bersama makanan yang baru ia beli di pasar hingga memenuhi meja.


Dia tak sendiri, tapi bersama Pak Sasongko dan istrinya. Mereka duduk di ruang


tengah sembari menonton televisi. Sementara Keinara berada di dapur, berkutat


dengan mesin cuci yang kemudian ia tinggalkan setelah mesin itu bekerja.


Secangkir teh panas ia seduh tanpa gula, lalu bergabung dengan


orang-orang yang ada di ruang tengah. Gadis itu sempat geleng-geleng kepala


melihat banyaknya makanan yang ada didepannya. Banyak pilihan membuatnya


bingung. Akhirnya ia memakan semua macam makanan yang ada meski hanya sepotong.


“Nak Fakhri...boleh saya bertanya?.” Tiba-tiba pak Sasongko


berbicara dengan nada serius. Fakhri yang tengah melihat kearah tv langsuang


memalingkan wajah ke asumber suara, begitu juga Keinara.


“Boleh....Kalau saya bisa jawab pasti saya akan menjawabnya


pak.”


“Sebelumnya maaf ya....jika saya terlalu cepat menanyakan


hal ini. Jadi begini nak, saya ingin menanyakan tentang hubungan nak Fakhri


dengan putri saya. Jika saya lihat hubungan kalian lebih dari hubungan


pertemanan.........Apa betul dugaan saya nak Fakhri?.” Ucapan pak Sasongko membuat


Fakhri dan Keinara saling bertatapan.


“Betul pak....saya dan Keinara memang bukan sekedar teman.


Kami punya hubungan lebih dari itu. Bisa di bilang kami itu sepasang kekasih. Dan


kami sudah menjalin hubungan itu hampir setahun. “ Jawab Fakhri tanpa ragu.


“Apa nak Fakhri serius dengan hubungan itu atau hanya untuk


....”


“Saya serius pak.” Ucap Fakhri penuh keyakinan.


ucapan Fakhri.


“Apa bentuk keseriusan nak Fakhri?  Kami sebagai orang tua dari Nara butuh


kepastian. Nara adalah putri kami satu-satunya , kami tidak ingin dia di sia-siakan


atau di buat menderita.”


Fakhri menarik nafas dalam-dalam , dan menghembuskannya


bersama keyakinannya untuk segera meminta Keinara pada orang tuanya.


“Saya ingin menjadikan Keinara menjadi istri saya pak.”


Kalimat itu diucap dalam satu tarikan nafas, tanpa ada ragu sedikitpun. Karena


memang itu yang sekarang menjadi impiannya.


“Nak Fakhri yakin ingin memperistri putri kami?.”


“Saya yakin bahkan sangat yakin....Sebenarnya saya sudah


membicarakan hal ini dengan Keinara. Dan Keinara telah bersedia. Jadi kami


hanya menunggu persetujuan dari bapak dan ibu.”


“Betul apa yang di ucapkan nak Fakhri, Nara?.”


Keinara sejenak menatap Fakhri, kemudian menatap kedua orang


tuanya .


“Iya pak...betul.”


“Karena Nara sudah memutuskan maka kami tidak akan melarang.


Karena semua keputusan ada di tangannya. Kami sebagai orang tua hanya mendukung


dan memberi restu.”


Ucapan pak Sasongko melahirkan kelegaan di hati Fakhri dan


kekasihnya.


“Jika begitu, kapan saya bisa melamar Keinara secara resmi?.”

__ADS_1


“Tak perlu ada acara lamaran.”


“Maksud bapak?.” Sembari menatap Keinara, Fakhri merasa


bingung.


“Kalian langsung menikah....”


Fakhri dan Keinara di buat terkejut.


“Menikah....?.” sahut Keinara


“Iya...kalian langsung menikah...”


“Oh baik pak, apa bapak sudah menentukan waktunya.”


“Sudah....besok sore”


“Hah....!!!.” Kali ini Keinara tak percaya dengan apa yang


di dengarnya. Baginya menikah besok sore adalah terlalu cepat, karena ia belum


memiliki persiapan apapun.


Meski Fakhri juga terkejut, tapi ia langsung menyambutnya dengan


perasaan senang tanpa ragu.


“Bagaimana Nak Fakhri...Bersedia?.”


“Jika itu keinginan bapak, saya bersedia.” Fakhri telah memantapkan


hatinya untuk menikahi pujaan hatinya besok sore. memang mendadak tapi ia


merasa itu yang terbaik, karena setelah itu ia dan Keinara akan selalu bersama.


“Apa itu tidak terlalu cepat pak?, aku belum ada persiapan


apapun.” Ujar Keinara yang masih tak percaya dengan keputusan ayahnya dan itu


sangatlah mendadak.


“Bukankah kamu sudah bersedia menjadi istri Nak Fakhri?.”


Ucap sang ibu yang sejak tadi menjadi pendengar.


“Iya si ma...Cuma kok mendadak banget!,”


“Hal baik, tidak baik untuk di tunda nak!.” Ucap Mama


Keinara lagi.


“Bagaimana Nara, siap menikah besok sore atau tidak sama


sekali?!.” Ucap Pak Sasongko sedikit menakut-nakuti anak gadisnya.


“Ya sudah pak...aku ngikut saja.” Keinara akhirnya pasrah.


“Baik....berarti sudah bisa dipastikan besok sore kalian


menikah ya?.”


Sepasang kekasih itu mengangguk mengiyakan.


“Tapi maaf , pernikahan kalian akan diadakan secara


sederhana. Tidak ada pesta mewah, dan hanya akan dihadiri kerabat dekat dan


tetangga . Nak Fakhri bisa menghubungi keluarga, barangkali  mereka bisa hadir besok sore.”


“Iya pak, saya akan segera menghubungi orang tua dan kerabat


saya.”


Dan mulai saat itu, kesibukan terjadi di rumah Keinara. Meski


mendadak, semua keperluan yang di butuhkan untuk acara besok sore dapat


terpenuhi semua.  Dari tenda hingga


catring sudah siap semua, dan semua berkat Rizki, kakak Kandung Keinara. Yang semula


kaget karena ternyata pria yang waktu itu bertemu dengannya adalah calon adik


iparnya.


“Yang....pakai kartu ini untuk membayar semua yang di butuhkan.”


Ucap Fakhri memberikan kartu ATM pada calon istrinya.


“Makasih ya mas.....” Sempat ragu, namun akhirnya menerima.


“Sama-sama calon istriku...” Balas Fakhri yang tengah diliputi


kebahagiaan, karena mulai besok malam ia tidak tidur sendiri lagi.

__ADS_1


__ADS_2