
Keinara baru saja bangun tidur, saat kedua orang tuanya dan
Fakhri baru saja pulang dari masjid. Merasa bangun kesiangan gadis itu
terburu-buru keluar kamar menuju kamar mandi, tak menyadari Fakhri yang hendak
masuk kamar melihat dirinya yang tidak mengenakan jilbab. Rambutnya yang panjang
hitam tergerai begitu saja menjadi penampilan lain dari Keinara, menarik perhatian Fakhri.
Kaki Fakhri maju beberapa langkah hingga sampai di pintu
yang mengarah ke ruang tengah, agar ia bisa melihat kekasihnya yang tengah melangkah ke arah kamar mandi. Meski hanya dapat melihat
bagian punggung gadis itu, pria itu cukup terkesima melihat rambut Keinara yang
panjang hampir sepinggang , hitam legam,
lurus dan lebat.
“Depan belakang sama cantiknya.....” Gumam Fakhri yang
kemudian masuk kekamar, setelah melihat pak Sasongko yang berjalan ke ruang
tengah dari arah dapur.
Tak lama pria itu keluar lagi menuju halaman. Melakukan
gerakan –gerakan ringan untuk melemaskan otot tubuhnya disana. Sesekali melirik
ke arah pintu, mengharap Keinara muncul dari sana. Setelah sepuluh menit, akhirnya
gadis yang di tunggunya muncul dari balik pintu .
“Mau kemana ?.” Tanya Fakhri ketika melihat Keinara
menggengam sebuah dompet dan tak lagi memakai piyama.
“Mau beli nasi uduk buat sarapan, sekalian jalan-jalan. Mas
mau ikut?”
“Ayuk.....” Fakhri langsung menyambut ajakan Keinara dengan
senang hati, karena sejak tadi ia ingin mengajak gadis itu, pergi jalan-jalan menikmati
pagi di desanya.
Keduanya berjalan
beriringan menyusuri jalan beraspal hingga mereka sampai di jalan yang di kedua
sisinya di penuhi penjaja makanan dan sayur mayur. Mirip sebuah pasar, tapi hanya
ada di pagi hari dan hanya sampai jam
tujuh saja. Setelahnya jalan itu akan berfungsi sebagaimana mestinya.
Kehadiran keduanya menjadi perhatian beberapa orang yang ada
disana.
“Mbak Nara....ini calon suaminya?.” Tanya seorang ibu-ibu
yang tengah berbelanja.
Keinara tak menjawab, ia hanya tersenyum.
“Wah gantengnya....cocok sama mbak Nara. Pasti nanti kalau
punya anak , anaknya cantik dan ganten seperti orang tuanya.” tambah wanita itu
mengangumi rupa dua insan yang ada didepannya.
“Aamiin...” Batin Fakhri.
“Ah bu Karti bisa aja....” Balas Keinara sembari tersenyum .
Dan pamit untuk mencari apa yang ingin dia beli.
Fakhri begitu menikmati kebersamaannya dengan kekasihnya di
pasar itu. Ia seperti seorang suami yang menemani istrinya berbelanja, karena
tangannya kini penuh dengan kantong plastik yang berisi makanan dan sayur yang
di beli Keinara.
Merasa cukup, keduanya memutuskan untuk pulang. Rencana
hanya ingin beli nasi uduk , tapi nyatanya banyak makanan yang di beli karena
Fakhri yang menginginkannya. Beberapa makanan tradisional yang dijajakan di
pasar itu, memang begitu menarik perhatian Fakhri, sehingga pria itu ingin mencicipinya.
__ADS_1
Hari mulai tampak terang dan hangat. Secangkir teh tersaji
didepan Fakhri bersama makanan yang baru ia beli di pasar hingga memenuhi meja.
Dia tak sendiri, tapi bersama Pak Sasongko dan istrinya. Mereka duduk di ruang
tengah sembari menonton televisi. Sementara Keinara berada di dapur, berkutat
dengan mesin cuci yang kemudian ia tinggalkan setelah mesin itu bekerja.
Secangkir teh panas ia seduh tanpa gula, lalu bergabung dengan
orang-orang yang ada di ruang tengah. Gadis itu sempat geleng-geleng kepala
melihat banyaknya makanan yang ada didepannya. Banyak pilihan membuatnya
bingung. Akhirnya ia memakan semua macam makanan yang ada meski hanya sepotong.
“Nak Fakhri...boleh saya bertanya?.” Tiba-tiba pak Sasongko
berbicara dengan nada serius. Fakhri yang tengah melihat kearah tv langsuang
memalingkan wajah ke asumber suara, begitu juga Keinara.
“Boleh....Kalau saya bisa jawab pasti saya akan menjawabnya
pak.”
“Sebelumnya maaf ya....jika saya terlalu cepat menanyakan
hal ini. Jadi begini nak, saya ingin menanyakan tentang hubungan nak Fakhri
dengan putri saya. Jika saya lihat hubungan kalian lebih dari hubungan
pertemanan.........Apa betul dugaan saya nak Fakhri?.” Ucapan pak Sasongko membuat
Fakhri dan Keinara saling bertatapan.
“Betul pak....saya dan Keinara memang bukan sekedar teman.
Kami punya hubungan lebih dari itu. Bisa di bilang kami itu sepasang kekasih. Dan
kami sudah menjalin hubungan itu hampir setahun. “ Jawab Fakhri tanpa ragu.
“Apa nak Fakhri serius dengan hubungan itu atau hanya untuk
....”
“Saya serius pak.” Ucap Fakhri penuh keyakinan.
ucapan Fakhri.
“Apa bentuk keseriusan nak Fakhri? Kami sebagai orang tua dari Nara butuh
kepastian. Nara adalah putri kami satu-satunya , kami tidak ingin dia di sia-siakan
atau di buat menderita.”
Fakhri menarik nafas dalam-dalam , dan menghembuskannya
bersama keyakinannya untuk segera meminta Keinara pada orang tuanya.
“Saya ingin menjadikan Keinara menjadi istri saya pak.”
Kalimat itu diucap dalam satu tarikan nafas, tanpa ada ragu sedikitpun. Karena
memang itu yang sekarang menjadi impiannya.
“Nak Fakhri yakin ingin memperistri putri kami?.”
“Saya yakin bahkan sangat yakin....Sebenarnya saya sudah
membicarakan hal ini dengan Keinara. Dan Keinara telah bersedia. Jadi kami
hanya menunggu persetujuan dari bapak dan ibu.”
“Betul apa yang di ucapkan nak Fakhri, Nara?.”
Keinara sejenak menatap Fakhri, kemudian menatap kedua orang
tuanya .
“Iya pak...betul.”
“Karena Nara sudah memutuskan maka kami tidak akan melarang.
Karena semua keputusan ada di tangannya. Kami sebagai orang tua hanya mendukung
dan memberi restu.”
Ucapan pak Sasongko melahirkan kelegaan di hati Fakhri dan
kekasihnya.
“Jika begitu, kapan saya bisa melamar Keinara secara resmi?.”
__ADS_1
“Tak perlu ada acara lamaran.”
“Maksud bapak?.” Sembari menatap Keinara, Fakhri merasa
bingung.
“Kalian langsung menikah....”
Fakhri dan Keinara di buat terkejut.
“Menikah....?.” sahut Keinara
“Iya...kalian langsung menikah...”
“Oh baik pak, apa bapak sudah menentukan waktunya.”
“Sudah....besok sore”
“Hah....!!!.” Kali ini Keinara tak percaya dengan apa yang
di dengarnya. Baginya menikah besok sore adalah terlalu cepat, karena ia belum
memiliki persiapan apapun.
Meski Fakhri juga terkejut, tapi ia langsung menyambutnya dengan
perasaan senang tanpa ragu.
“Bagaimana Nak Fakhri...Bersedia?.”
“Jika itu keinginan bapak, saya bersedia.” Fakhri telah memantapkan
hatinya untuk menikahi pujaan hatinya besok sore. memang mendadak tapi ia
merasa itu yang terbaik, karena setelah itu ia dan Keinara akan selalu bersama.
“Apa itu tidak terlalu cepat pak?, aku belum ada persiapan
apapun.” Ujar Keinara yang masih tak percaya dengan keputusan ayahnya dan itu
sangatlah mendadak.
“Bukankah kamu sudah bersedia menjadi istri Nak Fakhri?.”
Ucap sang ibu yang sejak tadi menjadi pendengar.
“Iya si ma...Cuma kok mendadak banget!,”
“Hal baik, tidak baik untuk di tunda nak!.” Ucap Mama
Keinara lagi.
“Bagaimana Nara, siap menikah besok sore atau tidak sama
sekali?!.” Ucap Pak Sasongko sedikit menakut-nakuti anak gadisnya.
“Ya sudah pak...aku ngikut saja.” Keinara akhirnya pasrah.
“Baik....berarti sudah bisa dipastikan besok sore kalian
menikah ya?.”
Sepasang kekasih itu mengangguk mengiyakan.
“Tapi maaf , pernikahan kalian akan diadakan secara
sederhana. Tidak ada pesta mewah, dan hanya akan dihadiri kerabat dekat dan
tetangga . Nak Fakhri bisa menghubungi keluarga, barangkali mereka bisa hadir besok sore.”
“Iya pak, saya akan segera menghubungi orang tua dan kerabat
saya.”
Dan mulai saat itu, kesibukan terjadi di rumah Keinara. Meski
mendadak, semua keperluan yang di butuhkan untuk acara besok sore dapat
terpenuhi semua. Dari tenda hingga
catring sudah siap semua, dan semua berkat Rizki, kakak Kandung Keinara. Yang semula
kaget karena ternyata pria yang waktu itu bertemu dengannya adalah calon adik
iparnya.
“Yang....pakai kartu ini untuk membayar semua yang di butuhkan.”
Ucap Fakhri memberikan kartu ATM pada calon istrinya.
“Makasih ya mas.....” Sempat ragu, namun akhirnya menerima.
“Sama-sama calon istriku...” Balas Fakhri yang tengah diliputi
kebahagiaan, karena mulai besok malam ia tidak tidur sendiri lagi.
__ADS_1