Cinta Keinara

Cinta Keinara
Seperti Tak Kenal


__ADS_3

Sudah lebih dari satu minggu, sejak pertemuan terakhir mereka, Fakhri dan Keinara tak pernah lagi bertemu. Fakhri sudah beraktifitas lagi setelah sempat dirawat di rumah sakit selama dua hari. Fakhri menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Terkadang rasa rindu pada Keinara datang dalam hati pria itu . Namun ia berusaha mengabaikan. Karena dia tau, rindunya tak akan bisa terobati. Dia membiarkan rasa rindu itu hilang dengan sendiri dengan berjalannya waktu. Pria itu sudah rela jika memang ia tak bisa memiliki Keinara, wanita yang sangat ia cintai. Ia akan berusaha mengubur perasaan cintanya. Karena dia merasa Keinara tak bisa ia jangkau lagi. Bagai bintang di langit malam. Fakhri putus asa.


Bagaimana dengan Keinara?.


Keinara yang dengan yakinnya meminta Fakhri menjauhinya, nyatanya kini merasa kehilangan akan sosok pria itu. Rasa kesal dan amarah berangsur menghilang, berganti rasa rindu. Rasa sesal menguasai relung hatinya. Gadis itu tak percaya dengan semua perasaan itu. Ketika rasa rindu datang menyapa, Keinara selalu menepisnya, dengan mengalihkan pikiran dan hatinya pada hal lain. Namun perasaan itu malah semakin sering mengusik hatinya. Membuat gadis itu gusar. Setiap hari ia harus bertarung melawan hatinya sendiri, yang menghendaki kehadiran Fakhri. Seiring waktu berjalan, rasa rindu pada Fakhri makin menjadi. Menuntut untuk bertemu dengan pria itu, tapi itu hal yang tak mungkin dia lakukan. Gadis itu masih punya rasa malu untuk menjilat air ludahnya sendiri.


Hari-hari Keinara terasa sangat hampa, seolah tak lagi berwarna. Karena pemberi warna dalam hidupnya saat ini telah menjauh. Yang tertinggal hanyalah kenangan bersamanya, yang menemani saat rindu itu datang. Tanpa Keinara sadari, ia telah membuat ruang spesial di hatinya untuk Fakhri.  Apakah Keinara mencintai Fakhri? Entahlah. Keinara belum berani menyimpulkannya.


Semesta menjadi saksi, bagaimana kedua insan itu menyimpan rasa mereka. Rasa saling membutuhkan dan rasa saling merindukan. Fakhri menjauhi Keinara demi membuat gadis itu bahagia. Sementara Keinara menjauh dari Fakhri karena rasa kecewa yang akhirnya berubah menjadi rindu. Semesta tak membiarkan kedua insan itu


berjarak, sehingga memberi ruang pada keduanya untuk bertemu.


Siang itu. Fakhri dan Keinara dipertemukan di sebuah toilet kafe. Keinara yang baru keluar dari toilet wanita, berpapasan dengan Fakhri. Tak ada tegur sapa diantara keduanya, hanya mata yang saling memandang dalam beberapa detik. Tatapan penuh kerinduan yang menciptakan debaran tak beraturan di jantung mereka berdua.


Fakhri berdiri memandangi punggung Keinara yang makin menjauh dan hilang di balik tembok kafe. Kesedihan  menghujam sanubari pria itu. Sementara Keinara berusaha menolak keinginan hatinya untuk membalikkan badan, sekedar untuk menatap kembali raut wajah pria yang sangat ia rindukan. Gadis itu lebih memilih untuk segera kembali ke sahabatnya yang sedang menunggu di meja kafe.


Fakhri dan Keinara berada di satu kafe dengan tujuan yang berbeda. Dan jarak tempat duduk yang agak berjauhan. Keinara bersama Dewi duduk di meja paling ujung ruang kafe itu. Sementara Fakhri dan Rangga yang sedang bersama kliennya, duduk di meja dekat pintu keluar.


 “Kamu tidak ingin menemui Keinara Ri?” Tanya Rangga saat kliennya sudah pergi.


“Tidak...”


 “Kenapa?”


“Tidak apa-apa”


Rangga tampak bingung dengan sikap Bosnya. Biasanya lelaki itu jika melihat Keinara bagai semut melihat gula. Sekarang malah seperti tak kenal.


“Apa yang terjadi pada meraka?” Tanya Rangga dalam hatinya.


Tak lama,  Keinara dan Dewi melangkah keluar kafe. Fakhri berpura-pura sibuk dengan ponselnya saat Keinara melewati mejanya. Rangga menyapa dua gadis yang kini berhenti di dekat kursinya.


“Mbak Keinara...apa kabar?” Sapa Rangga bangkit dari duduknya dan menyalami dua gadis di depannya.


“Alkhamdulillah sehat. Gimana kabarnya pak Rangga?” Balas Keinara, sambil melirik ke arah Fakhri.


“Sehat juga Kei. Cuma berdua ini?.”

__ADS_1


“Iya pak....Oh ya pak kenalin, ini sahabat saya.” Ucap Keinara mengenalkan Dewi pada Rangga.


Dewi


dan Rangga saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


Mata Rangga sesekali melirik ke arah Fakhri yang tetap fokus pada ponselnya, seolah tak peduli dengan keberadaan Keinara.


“Kalau begitu saya permisi dulu pak”


“Oh ya Kei, silahkan...”


Keinara beranjak pergi. Matanya sempat melirik ke arah Fakhri yang masih asik dengan gawainya.


“Ternyata sesakit ini, melihat sikap mas Fakhri tadi. Ya Alloh....apa yang terjadi dengan


diriku.aku yang memintanya untuk menjauh tapi aku sendiri yang tersakiti.”  Ucap Keinara dalam hatinya.


Hati Keinara seperti ia tak bisa menerima sikap Fakhri padanya.


“Tadi itu siapa Kei?” tanya dewi, membuyarkan lamunan.


“Oohhh.....”


Dua sahabat itu pergi berlalu meninggalkan kafe. Sementara Rangga masih duduk mengomentari sikap Fakhri.


“Aku tak menyangka, gara-gara ciuman kamu itu hubungan kalian sampai seperti ini. Semarah itukah Keinara sama kamu, sehingga sekarang kalian menjadi dua orang yang tak saling kenal. Tapi seharusnya kamu tidak bersikap seperti tadi. Karena kesannya kamu yang sedang marah sama dia ” Ucap Rangga yang merasa bingung dengan sikap bosnya.


Fakhri menghembuskan nafas panjang, sembari melepas ponsel dari tangannya.


“Aku hanya menuruti apa yang menjadi keinginannya.”


“Keinginannya??....maksudnya?.” Rangga makin penasaran.


“Dia ingin aku menjauhinya.”


“Kok sampai seperti itu....?.”

__ADS_1


Fakhri akhirnya menceritakan, dimana di memaksa Keinara untuk mau di ajak bicara.Dari cerita Fakhri, Rangga mrnyimpulkan bahwa apa yang terjadi diantara mereka sepenuhnya kesalahan Fakhri. Rangga menyayangkan sikap Fakhri terhadap Keinara, sehingga membuat gadis itu memutuskan pertemanan mereka.


“Hadeh bos...bos...bodoh sekali anda ini..ha...ha...” ucap Rangga, membuat Fakhri membulatkan matanya.


“Maaf...maaf....tidak bermaksud mengejek, tapi menurut saya tindakan kamu itu adalah sebuah tindakan


bodoh. Kamu itu seperti menyiramkan bensin pada api yang sedang menyala.”


“Iya....aku akui itu.”


“Baguslah kalau kamu mengakuinya. Terus sekarang bagaimana dengan perasaan kamu sama dia?


Apa kamu akan terus mengharapkan cintanya atau berhenti sampai disini?.”


“Entahlah Ngga....aku belum tau, mau aku apakan perasaan ini. Kalau memang sudah tidak mungkin aku berharap cinta darinya, maka aku akan melepas perasaan cintaku padanya dan menguburnya dalam-dalam. Tapi jika masih ada kesempatan maka aku akan mengambil kesempatan itu. Yang pasti saat ini aku sangat mencintainya. Dan


aku sangat tidak nyaman bersikap seperti tadi pada Keinara. Tapi bagaimana lagi aku harus menuruti keinginannya.”


“Kamu sih yang tidak sabaran.  Aku kan pernah bilang, jangan temui Keinara dulu. Gadis itu pasti masih marah sama kamu.”


“Iya aku ingat ucapan kamu itu.... Tapi keinginan yang begitu kuat untuk memiliki gadis itu, mendorongku untuk segera menyelesaikan masalah yang terjadi di antara kami.Namun karena  caraku yang salah dan aku memilih


waktu tidak tepat membuat hubungan kami menjadi seperti ini.”


Rangga menatap iba pada bosnya yang tengah dibuat tak berdaya oleh cinta. Dan tak menyangka kalau bosnya bisa berbuat sebodoh itu. Padahal dalam hal pekerjaan Fakhri selalu bertindak hati-hati dan selalu bermikir matang sebelum mengambil keputusan. Sungguh cinta telah membuat Fakhri menjadi sosok yang berbeda di mata Rangga.


“Sabar bos, saya yakin masih ada kesempatan untuk bisa mendapatakan cinta Keinara.” Ucap Rangga menghibur bosnya.


“Hah....semoga saja he...he....”


“Kalian belum menjadi sepasang kekasih, tapi masalah kalian seperti sudah jadi pacaran saja.....!.”


Fakhri hanya tersenyum mendengar ucapan asistennya.


“Entah pakai apa tuh cewek, bisa bikin aku tak berdaya seperti ini ha...ha...ha....”


Rangga ikut tertawa mendengar ucapan Fakhri.

__ADS_1


“Kamu pikir dia pakai pelet untuk memikat kamu?. Kamu nggak usah di pelet aja sudah nemplok kok, buktinya pacar kamu ada dimana-mana.”


Keduanya kembali tertawa. Dan kemudian memutuskan untuk segera kembali ke kantor.


__ADS_2