
Hari yang terasa berat bagi Fakhri akhirnya datang juga. Karena sejak hari itu sampai tiga puluh hari kedepan ia harus berjauhan dengan tambatan hatinya. Kainara yang harus melaksanakan KKN di sebuah desa di luar kota juga merasakan hal yang sama. Sama-sama berat berpisah, meski hanya tiga puluh hari dan jaraknya hanya empat sampai lima jam perjalanan.
Sebuah bus besar sudah di siapkan oleh pihak kampus untuk membawa para mahasiswa ke tempat KKN. Namun
Fakhri telah menyiapkan kendaraannya juga untuk mengantar Keinara. Setelah melalui perdebatan kecil, akhirnya Keinara pergi ketempat tujuan dengan di antar kekasihnya.
Mobil Fakhri melaju tidak jauh dari bus yang seharusnya mengantar Keinara. Sepanjang perjalanan tangan Fakhri seolah tak bisa lepas dari tangan wanitanya, bahkan sesekali ia menciuminya seperti mencium pipi bayi. Meski kesal dengan tingkah pacarnya, Keinara memilih membiarkan setelah ia merasa lelah harus terus terlibat insiden
tarik menarik tangan dengan pria itu. Kebucinan Fakhri terkadang membuat Keinara tidak nyaman, meski ia juga menyukainya.
Empat jam lima belas menit perjalanan yang di tempuh Fakhri dan Keinara, mengantarkan mereka di tempat
tujuan. Dengan setia Fakhri membantu dan menunggu kekasihnya sampai selesai menyimpan barang bawaannya di rumah warga yang akan di tempati Keinara tiga puluh hari kedepan.
“Mas hati-hati ya....” Pesan Keinara untuk pujaan hatinya yang hendak pergi untuk pulang.
“Iya sayang....kamu juga hati-hati. Jaga diri dan jaga hatimu buat aku.” Balas Fakhri yang sudah duduk di balik kemudi mobilnya. Tak bisa ditolak, ketika rasa sedih menghinggapi hati keduannya. Jarak dan waktu sementara akan menjadi pembatas diantara mereka. Hari-hari mereka pasti akan terasa berbeda nanti.
Keinara melambaikan tangannya ketika mobil Fakhri mulai melaju pelan. Namun mobil pria itu tiba-tiba berhenti
setelah melaju beberapa meter dari tempat semula. Berbarengan dengan ponsel Kienara yang berdering.. Dan itu panggilan dari Fakhri.
“Yang...kesini sebentar, sepertinya ada yang kelupaan.” Ucap Fakhri.
Tanpa basa-basi Kienara mendekati mobil Fakhri, yang pintu depannya telah terbuka.
“Kelupaan apa mas?.” Tanya Keinara di depan pintu mobil.
“Masuk dulu sini dan tutup pintunya.”
Keinara semakin di buat penasaran dengan ucapan Fakhri. Gadis itu menuruti permintaan kekasih hatinya itu untuk duduk dan menutup pintu mobil. Keinara terlihat antusias menunggu penjelasan dari Fakhri.
Bukan sebuah penjelasan, tapi malah sebuah pelukan erat dari Fakhri yang gadis itu dapatkan.. Pelukan yang datang tiba-tiba, menimbulkan desiran hangat di hati Keinara. Gadis itu tak berusaha menolak meski ia merasa sudah di bohongi. Keinara melingkarkan tangannya di pinggang sang pria. Membuat Fakhri semakin mengencangkan pelukannya.
“Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu yang.”
Ungkapan perasaan yang begitu dalam terlontar manis dari bibir Fakhri. Dorongan atas keresahan hati karena akan berpisah dengan kekasih hati.
“Aku juga mencintaimu mas.” Balas Keinara yang juga merasa berat berjauhan dengan Fakhri.
Fakhri mengendorkan pelukannya, membiarkan kepala Keinara berada dididanya. Sementara salah satu tangannya meraih tangan Keinara, dan kembali menghujaminya dengan ciuman.
“Jangan lupa selalu beri kabar. karena aku akan selalu menunggunya. Dan jangan pernah bosan jika aku kerap menguhubungimu. Karena tanpa itu, rinduku tak akan bisa terobati saat aku tak bisa menemuimu..Kamu bisa kan melakukannya untukku?.”
“Iya mas aku janji.” Balas Keinara dengan tatapan sendu.
Sebuah kecupan panjang mendarat sempurna di kening Keinara.
Dengan terpaksa keduanya melepas pelukan mereka. Dan harus rela untuk berpisah sementara waktu.
Keinara berdiri termangu setelah melambaikan tangan pada sang kekasih yang berlalu pergi meninggalkannya, sampai mobil yang membawa pria itu hilang dari pandangan.
Fakhri duduk bersandar di tahtanya. Wajah lelah tergambar jelas di wajah pria itu. Lelah dengan pekerjaan yang seperti tidak ada ujungnnya. Dan lelah karena menahan rindu ingin bertemu dan memeluk kekasihnya. Fakhri mencoba menenangkan batinnya, dengan mengusap foto Keinara yang ada di layar ponsel. Pikirannyapun melayang pada gadis itu. Dan tak di sangka gadis itu menghubunginya melalui panggilan video. Mengubah keresahan menjadi kebahagiaan.
Wajah ayu dengan senyum manis terpampang di layar ponsel Fakhri. Terasa adem di benak Fakhri.
“Yang....kenapa baru nelfon?.” Tanya Fakhri dengan berpura-pura kesal.
__ADS_1
“Baru selesai kegiatan mas, maaf.... Mas sudah makan?.” Balas Keinara yang masih bermukena karena baru selesai solat zuhur.
“Belum....sebentar lagi.”
Sudah tujuh belas hari, dua sejoli itu hanya bisa bertemu melalui sambungan telefon. Pekerjaan Fakhri yang semakin banyak, seiring perusahaanya yang semakin berkembang . Membuatnya belum ada waktu untuk menemui kekasihnya.
Cinta Fakhri yang begitu besar, membuat tujuh belas hari yang dilewatinya tanpa Keinara terasa begitu berat. Dan terasa lebih berat saat sang kekasih mengungkapkan rasa rindunya.
Saat kerinduan membuncah dan tak bisa di obati hanya dengan pertemuan di layar gawai, Fakhri akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Keinara.
“Kei...ada yang nyariin kamu tuh.” Ucap Diva teman satu kamar Keinara.
“Siapa?” Tanya Keinara yang sedang membereskan mukenanya selesai solat isya.
“Enggak tau, cowok. Ganteng banget Kei...” Jawab Diva sambil senyum-senyum .
Keinara bergegas menuju keruang tamu. Selama KKN Keinara dan teman satu kelompoknya yang berjumlah lima orang tinggal di salah satu rumah warga, yang memang disediakan untuk mereka. Saat tiba diruang tamu dia terkejut saat melihat kekasihnya sedang duduk bersama tuan rumah.
“Mas Fakhri...” Teriak Keinara karena kaget.
Fakhri hanya tersenyum melihat ekspresi kekasihnya.
“Mba Kei, ini ada tamu.” Ucap pak Budi sang pemilik rumah.
“Eh iya pak...” Keinara melangkah mendekati Fakhri.
“Kalau begitu saya tinggal dulu, mau ke acara tahlilan di rumah pak RT. Tamunya di bikinin minum ya mbak. Saya tinggal dulu mas Fakhri.”
“Iya pak” Jawab keduanya bersamaan.
Saat pak Budi benar-benar sudah pergi, Fakhri menarik tangan Keinara dan memeluknya sejenak. Kemudian
“Mas, kok enggak bilang-bilang mau kesini?.” Tanya Keinara yang tak mampu lagi menyembunyikan rasa bahagianya.
“Sengaja bikin kejutan buat kamu.” Balas Fakhri penuh kerinduan.
Keinara tersenyum ”Makasih kejutannya mas.”
Fakhri kembali tersenyum dan mengusap pipi kekasihnya.
“Mas mau aku bikinin kopi?.”
“Boleh....”.
Keinara bergegas menuju dapur untuk membuat kopi . Sesaat kemudian Keinara kembali ke ruang tamu membawa
secangkir kopi dan mendapati ada beberapa paperbag diatas meja tamu.
“Ini apa mas...”tanya Keinara sembari meletakkan kopi
“Kue kesukaan kamu, tadi aku nyempetin beli waktu mau kemari”
“Oh makasih mas. Aku ambil piring dulu yah.”
Keinara kembali lagi kedapur untuk mengambil piring. Dan tidak sampai satu menit ia sudah kembali . Keinara meletakan kue yang dibawa Fakhri kedalam dua buah piring. Satu piring ia bawa masuk untuk di berikan kepada keempat temannya yang sedang istirahat di kamar.
“Eitss ...ngapain disitu. Sini...!!!” Ucap Fakhri protes karena Keinara tak kembali duduk disampingnya.
__ADS_1
Tanpa berkomentar, Kienara menuruti permintaan kekasihnya.
“Di minum kopinya mas, mumpung masih panas.”
Fakhri menyeruput kopi yang masih sedikit berasap dan memakan potongan kue yang disuapkan Keinara kemulutnya.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan mengucap salam. Dan ternyata suara itu milik bu Lina istri pak Budi sang pemilik rumah yang baru pulang dari masjid.
“Eh ada tamu...sudah lama mas?.” Tanya bu Lina pada pria tampan yang sedang duduk dengan Keinara.
“Alkhamdulillah sudah bu.” Jawab Fakhri sambil menyalami bu Lina.
“Pacarnya mbak Keinara ??.” Tanya bu Lina tanpa basa basi.
“Iya bu.” Jawab Fakhri lagi, yang disambut cubitan kecil dari gadis disebelahnya.
“Eggak apa-apa mbak Keinara, saya juga pernah muda kok...he...he..Ya sudah silahkan dilanjut ngobrolnya. Saya masuk dulu.”
“Eh bu...sebentar. Ini ada sedikit kue, mas Fakhri yang bawa.” Ucap Keinara sembari menyerahkan sebuah paperbag yang berisi beberpa potong kue.
“Oh ya...makasih kuenya mas Fakhri.” Ucap bu Lina lalu masuk kedalam rumah. setelah menerima anggukan dari Fakhri.
Kedua sejoli itu kembali melanjutkan perbincangannya. Sesekali mereka tampak bercanda, dan sesekali
tangan Fakhri membelai pipi Keinara. Rindu telah terobati. Tiba-tiba Pak Budi datang dengan mengucap salam, yang dijawab oleh keduanya.
“Mas Fakhri, Itu didepan mobil mas Fakhri bukan?” Tanya pak Budi.
“Iya pak, betul”
“Ban belakang sebelah kiri kayanya kempes, coba mas Fakhri cek.”
Fakhri akhirnya keluar memeriksa kondisi ban mobilnya. Apa yang dikatakan tuan rumah benar adanya. Karena tidak membawa ban serep, Fakhri memutuskan menghubungi seseorang untuk membantunya.Karena sudah malam dan jarak yang cukup jauh, bantuan baru datang esok hari.
Karena kondisi ban mobilnya yang tak bisa langsung diatasi, akhirnya Fakhri terpaksa harus menginap.
“Nginep mas??” Tanya Kienara.
“Iya mbak, mas Fakhri nginep disini. Dipaksain pulang juga enggak mungkin. Disini nggak ada kendaraan kalau
malam. Nggak apa-apa mbak. Tapi ya itu, mas Fakhri tidur disofa.” Tutur pak Budi.
“Tidak apa-apa pak.” Sambut Fakhri.
“Ya sudah mas, saya masuk dulu.” Ucap pak Budi sambil berlalu.
Fakhri dan Keinara kembali duduk. Dengan posisi seperti semula.
“Mas yakin mau nginep disini?.” Tanya Keinara.
“Yakinlah...” Jawab Fakhri yang tampak senang.
“Ih kok seneng gitu”
“Ya seneng lah, berarti aku bisa berlama -lama sama kamu. Ini namanya musibah membawa berkah.” Jawab Fakhri
sembari tertawa. Kainara memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Fakhri.
__ADS_1
Mereka terus berbincang, sementara waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Pak Budi datang memberikan sebuah bantal dan selimut untuk Fakhri. Fakhri dan Keinara berpisah, masin-masing harus tidur ditempat yang berbeda.