
Kepergian Rasya melegakan ketiga orang yang ada di ruang pribadi itu. Fakhri kemudian membimbing kekasihnya untuk duduk dan menyodorkan minuman pada gadis itu.
“Minumlah....tidak usah cemas. Mantan pacarmu itu tidak akan balik lagi.”
Fakhri mencoba menenangkan Keinara yang terlihat masih cemas, karena matanya sesekali melihat kearah pintu.
Keinara meneguk minuman sampai habis tak bersisa. Begitu juga Fakhri dan Devan yang merasa haus setelah saraf dan otot mereka sempat menegang.
Devan memutuskan untuk meninggalkan sepasang kekasih itu. Karena dia merasa bahwa dia tak seharusnya ada di antara mereka saat itu. Devan berlalu membawa rasa penasaran dan rasa yang lainnya. Yang pasti ia tak mau berlama-lama menatap wajah Keinara. Ia takut rasa cinta pada gadis itu makin tumbuh subur di hatinya. Bagaimanapun ia tak mau merusak pertemananya dengan Fakhri hanya demi perasaan cintanya pada Keinara. Selama Fakhri memperlakukan Keinara dengan baik, dan tidak menjadikan Keinara sebagai korban
ke-playboyan-nya maka ia akan memendam perasannya dalam-dalam. Tapi jika suatu saat Fakhri mencampakkan Keinara, maka ia orang pertama yang akan hadir untuk gadis itu dan menjadikannya ratu dalam hidupnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu. Tadi waktu kamu masuk kamu kelihatan ketakutan. Apa yang pria itu lakukan sama kamu?.” Tanya Fakhri tanpa melihat Keinara, karena ia harus membuka pesan yang masuk ke ponselnya.
Lama tak ada jawaban, Fakhri akhirnya menoleh ke arah Keinara yang sedang melamun sembari memutar-mutar gelas di tangannya. Saat gadis itu mengedipkan matanya, butiran-butiran bening meluncur begitu saja dari
sudut matanya. Keinara menangis tanpa suara.
Fakhri terkesiap melihat kekasihnya yang tiba-tiba menangis.
“Hei.....kamu menangis??.” Tanya Fakhri sembari memutar tubuhnya ke arah Keinara yang tengah mengusap
air mata, yang sebenarnya tak mau di lihat oleh Fakhri.
Dengan mata yang masih tampak basah, Keinara menatap Fakhri sambil tersenyum. Meyakinkan pria itu bahwa ia baik-baik saja.
“Apa yang kamu tangisi dari pria itu?!.” Lanjut Fakhri, sedikit ada rasa takut wanitanya masih mengharapkan mantan pacarnya itu.
“Aku tidak menangisi dia. Aku hanya teringat bagaimana dulu ia menyakitiku. Luka yang ia buat terlalu dalam, sehingga aku tak sanggup melihat wajahnya. Tapi hari ini ia muncul lagi di hadapanku, dan itu membuat luka lamaku terbuka kembali. Aku benci dia mas...aku sangat membencinya......!!!” Tutur Keinara penuh kebencian pada Rasya. Air mata yang ingin ia simpan akhirnya meleleh juga. Dengan kedua telapak tangannya, gadis itu berusaha untuk menyembunyikannya. Namun Fakhri telah melihatnya.
Tanpa di sadari hati Fakhri terasa teriris melihat kesedihan di wajah kekasihnya. Fakhri menarik tubuh Keinara kedalam pelukan. Dan membiarkan Gadis itu menumpahkan semua kesedihannya di sana.
“Apa yang Rasya lakukan pada Keinara? Sehingga Keinara tampak begitu tersakiti, dan bahkan sangat membenci pria itu.” Tanya Fakhri dalam hati. Namun ia tak kuasa mencari jawabanya dari mulut Keinara.
Mendengar tidak ada lagi isak tangis dari Keinara, Fakhri melepas pelukannya. Menangkup wajah sang kekasih dan menghapus sisa air mata yang masih ada disana.
“Aku baru pernah melihat, seorang wanita yang tampak lebih cantik ketika habis menangis.” Ucap Fakhri sembari tersenyum menggoda.
“Ih mas Fakhri apaan si....” Sahut Keinara, yang kini bukan hanya matanya saja yang memerah, tetapi pipinya pun ikut merona.
__ADS_1
“Sudah jangan menangis. Rasya hanyalah masa lalu yang tak perlu kamu pikirkan atau kamu tangisi. Ikhlaskan apa yang sudah terjadi, agar hatimu tidak terbebani. Kini saatnya kamu menatap ke masa sekarang dan masa depan,
karena ada aku disana yang akan selalu bersamamu dan akan selalu membahagiakanmu.....ya....?!.”
Jemari Fakhri yang masih berada di wajah Keinara, kembali bergerak mengusap pipi gadis itu dengan lembut.
Menujukkan kasih sayangnya.
Keinara mengangguk pelan. Tak dapat ia pungkiri bahwa pria didepanya telah menghadirkan kadamaian di hatinya. Dan berharap Fakhri mampu menutup luka lama yang di buat oleh Rasya dengan cinta tulusnya. Gadis itu
meyakinkan dirinya, bahwa Fakhri adalah kebahagiaanya saat ini dan dimasa yang akan datang. Tak ada keraguan lagi pada pria itu.
“Makasih mas ... telah mencintai dan menyayangiku. Dan aku harap hanya Rasya yang bisa menyakitiku.”
Ucap Keinara dengan kesedihan yang mulai memudar dari wajahnya. Sehingga menghadirkan senyum di wajah kekasihnya.
“Tentu....hanya Rasya yang bisa menyakitimu, dan aku hanya bisa membahagiakanmu. Aku janji sayang...”.
Tutur Fakhri, berjanji pada wanita yang baru beberapa jam menjadi kekasihnya.
Janji untuk saling menyayangi, mencintai dan saling setia, telah terpatri di ikatan cinta dua insan itu. Dan mereka sudah yakin bisa melangkah bersama, dengan menerima segala kelebihan dan kekurangan mereka masin-masing.
Fakhri dan Kekasihnya memutuskan untuk pergi dari tempat yang semestinya menjadi tempat pertama yang mengukir hal indah untuk mereka berdua. Namun sayang, air mata Keinara harus tumpah di sana juga, dan itu semua karena Rasya. Jika mengingat hal itu Fakhri merasa geram.
Keinara dan Fakhri telah d tunggu Rangga di halaman Restoran. Mata Rangga menyempit ketika
melihat bosnya menggandeng tangan Keinara dengan mesra.
“Ada yang baru jadian rupanya..... Syukurlah.....” Gumam Rangga dan kemudian membukakan pintu mobil untuk keduanya.
Mobil yang ditumpangi Keinara terus melaju meninggalkan restoran, Tapi kejadian Keinara bertemu Rasya masih tertinggal di memori gadis itu.
Flash Back ON
Keinara keluar dari Private room restoran itu menuju sebuah toilet yang di tunjukkan oleh pelayan.
Tak sampai tiga menit, gadis itu telah menyelesaikan kegiatannya di dalam toilet. Dengan langkah pasti ia ingin kembali bersama kekasihnya, yang tentu sedang menunggunya. Namun sebuah suara yang telah lama tidak ia dengar bahkan tak ingin ia dengar, masuk ke gendang telinganya. Sebenarnya gadis itu tak ingin melihat pemilik suara tapi karena masih ada rasa tidak percaya bahwa pemilik suara itu adalah orang yang saat itu ada di otaknya, maka Kienara memberanikan diri untuk menoleh memastikan siapa pemilik suara itu. Seketika gadis itu kecewa karena ternyata dugaannya benar. Tak jauh darinya tengah berdiri seorang pria yang merupakan bagian dari
masa lalunya.
__ADS_1
Memori gadis itu denga pria yang saat ini ada dihadapannya terbuka kembali. Memori pahit yang rasya ukir untuknya, sehingga menciptakan luka yang cukup dalam di hati Keinara.
“Kei...apa kabar?,” Sapa Pria pemilik nama Rasya Adriansyah itu.
“Baik....kamu apa kabar?”. Balas Keinara datar.
“Kabarku baik, seperti yang kamu lihat.” Lanjut Rasya dengan wajah tersenyum
“Oh ya Syukurlah. Kalau begitu....saya pamit pergi dulu....”
Keinara melangkahkan kakinya, tapi baru beberapa langkah Rasya memintanya berhenti.
“Tunggu Kei, aku ingin bicara sama kamu. Karena kesempatan ini sudah lama aku tunggu. Selama ini aku mencari kamu tapi aku tak bisa menemukanmu”.
Rasya mendekati Keinara yang enggan berbailk. Kedua tanganannya ia letakkan di atas kedua bahu Keinara yang membelakanginya. Sontak membuat gadis itu terkejut dan segera bergeming dari tempatnya, dan membuat jarak dengan Rasya.
“Jika ingin bicara denganku, maka tetaplah berdiri di situ. Jangan mendekat.” Pinta Keinara dengan nada yang menunjukkan bahwa ia mulai merasa tak nyaman dengan keberadaan Rasya.
“Hei Key...ini aku Rasya, pria yang sangat kamu cintai, kenapa kamu seperti menolakku.”
Ujara Rasya penuh percaya diri.
“Aku ingat betul jika anda itu Rasya, tapi bukan Rasya yang aku cintai. Melainkan Rasya yang telah meninggalkan aku demi wanita lain yang katanya lebih pantas mendampinginya yang seorang keurunan darah biru, kaya raya
dan dari keluarga terpandang......Saya memang menolak kehadiran anda sekarang, karena saya ingin menjaga nama baik anda. Karena anda sendiri yang bilang bahwa saya yang hanya gadis dari kalangan bawah tak pantas bersama anda. Anda masih ingat kan kata-kata anda waktu itu tuan Rasya yang terhormat!!.”
Rasa benci, rasa kecewa, menyesal dan amarah berbaur menjadi satu . Menambah perih luka yang seolah terbuka kembali di hati Keinara. Gadis itu memundurkan tubuhnya beberapa langkah sebelum akhirnya bergegas pergi. Namun tangan Rasya berhasil menggapai tubuhnya. Dan memaksanya untuk masuk kedalam pelukannya.
“Kei aku sangat merindukanmu, aku masih mencintaimu. Aku ingin kamu kembali padaku. Aku yakin kamu juga masih mencintaiku.” Rasya masih berusaha menarik tubuh Keinara.
Sementara gadis didepannya terus menolak.
“Rasya...lepaskan. Aku tidak mencintaimu lagi. Perasan itu telah hilang tak bersisa. Lepaskan tangan saya Rasya..!!.”
“Tidak Kei....tolong dengarkan saya....”
Keinara sudah tidak tahan dengan perlakuan Rasya, akhirnya ia menggigit tangan Rasya yang masih memegangi tangannya.
Tangan Rasya akhirnya terlepas. Keinara segera berlari meninggalkan Rasya yang mengaduh kesakitan. Sejurus kemudian, Rasya melangkah mengejar Keinara yang tampak setengah berlari menuju ke sebuah private room. Rasya merasa itu kesempatan bagus untuknya. Karena menganggap ruangan yang di masuki Keinara itu, bisa menahan Keinara pergi darinya.
__ADS_1
Tapi tebakannya meleset jauh. Pria itu terkejut karena Keinara ternyata tidak sendiri diruangan itu. Ada dua pria bersamanya. Dan salah satunya tampak melindungi Keinara.
Flash Back OFF