
Kainara memilih menghabiskan waktu liburnya untuk bekerja di restoran. Melayani konsumen yang datang silih berganti hingga sore hari. Disela sela istirahatnya setelah solat asar, Keinara medapati beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya. Seketika raut bahagia muncul dari wajah manisnya. Keinara langsung mengetikan beberapa kalimat, untuk orang yang telah menghubunginya. Setelahnya ia kembali ke pekerjaannya hingga petang menjelang.
Keinara bergegas kembali ke rumah kost setelah pekerjaannya selesai. Satu jam lagi kakaknya akan datang berkunjung.. Pelukan sayang dari Keinara menyambut sang kakak yang datang tepat waktu. Setelah berbasa-basi, keduanya memutuskan untuk mencari makan.
Sedangkan Fakhri, setelah mengantarkan Cinta yang seharian bersamanya, bermaksud menemui pujaan hatinya. Rumah Kost Keinara yang hanya berjarak kurang dari tiga puluh meter dari rumah Cinta. membuat Fakhri memilih untuk berjalan kaki kesana. Namun langkahnya terhenti sebelum sampai ke tujuan. Netranya menangkap pemandangan yang membuat tubuhnya memanas.
Mata bening Fakhri menyiratkan kecemburuan, melihat Keinara sedang menyambut seorang pria yang baru saja datang. Mereka saling berpelukan erat. Sang pria mencium kening Keinara. Mereka seperti dua insan yang sedang saling merindukan.Tampak jelas Keinara sangat bahagia.
Pria itu adalah Riski ,kakak kandung Keinara. Yang menyempatkan untuk menjenguk sang adik, saat berada dikota itu untuk melakukan suatu pekerjaan.
“Bukankah pria itu yang dulu aku lihat bersama Keinara.” Gumam Fakhri.
”Sepertinya kau sangat bahagia Kei saat pria itu memeluk dan menciummu. Siapa dia Keinara. Apa dia kekakasihmu?.” Tanya Fakhri dalam hati.
Saat Fakhri sedang sibuk dengan pikirannya, Keinara dan Riski melangkah keluar dari halaman rumah. Fakhri bergegas pergi dari tempatnya, dan berdiri dibalik pohon yang terletak tidak jauh dari tempat semula . Dari tempatnya sekarang, dia melihat Keinara menggelayut manja dilengan kakaknya. Melangkah menuju mobil hitam yang sedari tadi terpakir dipinggir jalan. Mobil itu kemudian pergi entah kemana.
Hati Fakhri seperti remuk redam tak berbentuk. Dengan perasaan gundah, dia melangkah kembali kerumah kakaknya, dan duduk diayunan yang ada di taman. Berkali kali ia mengusap wajahnya, Berusaha menenangkan hatinya .
Secangkir kopi dan sebungkus rokok menjadi teman dalam kegundahan hatinya. Merokok kebiasaan yang sebenarnya sudah lama di hentikan.
__ADS_1
Kegundahan Fakhri tidak luput dari perhatian kakak perempuannya, Fahira.
“Fakhri, kakak lihat dari tadi kamu kelihatan gelisah. Ada masalah?.” Tanya Fahira.
“Enggak ada apa-apa kok kak.”
“Kalau nggak ada apa-apa kok wajahnya muram gitu. Dan ini ...kamu merokok lagi?.”
“Lagi pingin ngerokok aja.”
“Tapi kakak yakin kamu lagi ada masalah. Cerita saja sama kakak. Siapa tau kakak bisa membantu.”
Fahira yakin, adiknya sedang berbohong. Fahira makin penasaran, tapi ia tak mau memaksa adiknya untuk memberitahukan masalahnya. Pertama kali di mata Fahira, Fakhri menunjukan seperti punya masalah berat.
“Ya udah lah kalau kamu nggak mau cerita. Kakak harap apapun masalah kamu, kamu akan segera dapat jalan keluarnya. Kakak masuk dulu ya.”
Fakhri hanya mengangguk.
Waktu hampir jam sebelas malam. Fakhri masih duduk ditempatnya. Rokok dan kopinya pun sudah ludes.Tapi kegundahan hatinya masih belum juga sirna. Merasa dingin, akhirnya Fakhri memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Tapi ketika hendak melangkah, indra pendengarannya menangkap suara mobil yang berhenti di depan rumah Keinara.
__ADS_1
Fakhri melangkah ke arah pintu gerbang untuk melihat sumber suara. Dari tempatnya berdiri, tepat di bawah lampu jalan terdapat mobil yang beberapa jam yang lalu membawa Keinara pergi. Tak lama keinara keluar dari dalam mobil, disusul oleh seorang pria.
Keberadaan pria itu yang mengusik pikiran Fakhri selama ini. Siapa pria itu? dan punya hubungan apa pria itu dengan Keinara. Menjadi pertanyaan yang terus berputar diotak Fakhri, namun tak kunjung terjawab.
Karena rasa penasaran, Fakhri mendekati rumah Keinara. Lagi-lagi hatinya terasa sakit. Karena pria yang ia sangka sebagai pacar Keinara, masuk kedalam rumah dan menutup pintu dengan rapat. Timbul prasangka buruk di hati Fakhri. Berujung amarah yang hampir tak mampu ia kuasai.
“aakkhhhh.....!!!” Teriak Fakhri dengan gigi saling menekan kuat.
Sebuah kaleng bekas minuman menjadi sasaran empuk tendangan kakinya. Menimbulkan suara berisik. Bahunya naik turun dengan nafas tak beraturan. Amarahnya benar-benar tak bisa ditahan lagi.
Pria itu di buat marah oleh prasangka yang ia buat sendiri. Ia tak berpikir tentang kemungkinan lain tentang siapa pria itu. Rasa cemburu membuat logikanya tak bekerja dengan benar.
Fakhri kembali kerumah Fahira. Ingin rasanya ia melampiaskan semua rasa yang ada dalam dirinya di meja bar. Namun bayangan wajah sang ibu menahannya. Fakhri kembali duduk di ayunan, untuk menenangkan dirinya. Tak lama pria itu lalu masuk kedalam rumah, mencari ketenangan dalam solat isya yang belum ia kerjakan. Fakhri terlelap setelah hati dan pikirannya merasa sedikit tenang.
Sementara di sebrang rumah Fahira, Keinara sudah terlelap di atas kasur. Sementara sang kakak tertidur di atas sofa depan tv. Rasa lelah membuat keduanya tertidur dengan nyenyak sampai pagi menjelang.
🥰🥰🥰
Selamat membaca.....
__ADS_1