
Pagi telah menjelang. Keinara menuju ruang tamu bermaksud membangunkan kekasihnya. Tapi ruangan itu telah
kosong. Karena penghuninya baru saja pulang dari masjid bersama tuan rumah.
Setelah mengetahui keberadaan kekasihnya, Keinara kembali kekamar untuk melanjutkan rutinitas subuhnya, membaca beberapa lembar isi Al-Qur’an dan membereskan kamar.
Keinara menyudahi kegiatannya, dan kembali menemui Fakhri yang tampak sedang sibuk dengan ponselnya. Tak ingin mengganggu, Keinara membalikkan badannya. Namun baru beberapa langkah suara Fakhri mengejutkannya. Akhirnya Keinara memutar kembali tubuhnya. Mendekati Fakhri yang sedang menatapnya. Sementara
tangannya terulur. Matanya memberi tanda agar Keinara menyambut tangannya. Namun Keinara malah menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh dan berdiri mematung.
“Ada dua pilihan, Aku kesitu peluk kamu, atau kamu seni dan duduk disebelahku.”
Laagi-lagi Fakhri mengerjai kekasihnya dengan memberinya dua pilihan, setelah Keinara tak kunjung menuruti
keinginannya.
“Ya Alloh....begini amat punya pacar CEO.” Ujar Kienara yang kemudian duduk disamping Fakhri. Pria yang kini sedang tersenyum puas, telah berhasil membuat kesal kekasihnya di pagi buta.
Keinara duduk bersandar dengan tangan di lipat didepan dada, sementara Fakhri sibuk dengan ponselnya.
Kesabaran Keinara terus menipis setelah sepuluh menit merasa di cuekin oleh Fakhri. Gadis itu akhirnya bangkit dari duduknya.
“Mau kemana?.” Tanya Fakhri sembari memegang tangan Keinara.
“Ambil minum buat kamu, biar fokus sama pacarnya, bukan sama ponselnya!!!.” Keinara berkata sambil bersungut kesal dan berlalu menuju dapur.
Sementara Fakhri tertawa geli melihat raut wajah kekasihnya.
“Ini minumnya!!.”
Segelas air putih Keinara letakkan di atas meja dengan wajah yang masih kesal. Kemudian masuk kembali kedalam rumah, tak pedulikan Fakhri yang memanggilnya.
Fakhri berkali-kali melihat ke arah dalam, berharap kekasihnya datang menemaninya karena hampir dua puluh
menit ia duduk sendiri di ruang tamu.
“Jangan-jangan dia beneran marah.” Pikir Fakhri yang sedikit merasa khawatir.
Namun kekhawatirannya langsung hilang, saat dia melihat kekasihnya muncul dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Keinara kini tampak sudah berpakaian rapi, wajah yang sedikit dipoles bedak dan lipstik. Membuat kecantikannya tampak paripurna di mata Fakhri. Dengan membawa nampan di tangannya, gadis itu berjalan mendekat. Wajahnya tak lagi menampakan wajah kesal.
“Masya Alloh cantiknya calon istriku...” Puji Fakhri tanpa berkedip.
“Pagi-pagi nggak usah ngegombal mas, enggak bikin kenyang.” Balas Keinara sambil meletakan nampan berisi
sepiring pisang goreng ke atas meja.
Fakhri tersenyum melihat pipi Keinara yang memerah . Netranya terus menyusuri setiap inci wajah kekasihnya. Tiba tiba Keinara menyentil dahi Fakhri.
“Biasa aja ngeliatnya...” Ujar Keinara sembari menatap gemas pada Fakhri.
Fakhri menarik tangan Keinara sehingga tubuh gadis itu jatuh di pangkuannya. Dengan wajah Keinara tepat berada di depan wajahnya. Fakhri tak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung mencium pipi ranum Keinara. Gadis itu
terkejut dan langsung bangkit dari pangkuan Fakhri.
“Mas Fakhri...!!!.” Teriak gadis itu, dengan wajah kesal. Fakhri seolah tak peduli, dia hendak menarik tangan Keinara kembali, tapi Keinara mundur menjauh.
“Mas...ih....seneng banget bikin aku kesal....” Ujarnya keinara lagi dengan bibir manyun.
__ADS_1
Fakhri tertawa melihat wajah kekasihnya yang cemberut.
“Maaf...maaf..sayang... jangan cemberut gitu dong. Makanya jangan menggoda.“ Ujar Fakhri.
“Siapa yang menggoda...!!!” Jawab Keinara dengan mata melebar.
“Ih enggak ngaku....kamu sengaja kan bikin wajah kamu cantik manis gitu.”
“Ini udah dari sononya abaaaaang.... enggak dibuat-buat.!!!.”
Seketika Fakhri terkekeh melihat kekasihnya yang tampak makin kesal. Saking kesalnya Keinara mengancam
Fakhri dengan nampan yang di dipegangnya.
Ditengah keributan dua sejoli itu, montir yang di tunggu Fakhri datang dan langsung mengganti ban mobil Fakhri. Tak butuh waktu lama, ban mobil Fakhri akhirnya berhasil diganti. Fakhri kembali ke ruang tamu setelah dua pria yang merupakan montir langganannya pergi.
“Mas, sarapan dulu yuk.” Ucap Keinara dengan senyuman manisnya.
Fakhri duduk berhadapan dengan Keinara. Dia menyuruh Keinara untuk duduk disampingnya.
“Enggak...aku duduk disini aja. Udah mas makan aja.” Tolak Keinara. Gadis itu sudah malas menghadapi keisengan kekasihnya.
“Ya sudah...tapi suapin...” Ucap Fakhri manja.
“Masssss.......!!!” Ucap Keinara dengan nada kesal dan mata melebar.
Sepertinya Fakhri belum puas membuat tambatan hatinya kesal.Tapi kemudian, pria itu merasa tak tega membuat
kekasihnya terus merasa kesal, dan memilih untuk menyantap sarapannya tanpa kenginan mengerjai kekasihnya lagi.
“Iya mas.....mas juga hati-hati. Gak usah ngebut”
“Iya.....” Balas Fakhri, mengusap puncak kepala kekasihnya dan di akhiri dengan gerakan seperti ingin mencium. Reflek Keinara memundurkan tubuhnya, dengan satu tangannya mendorong wajah Fakhri. lagi-lagi Fakhri mengerjai pacar cantiknya.
Fakhri berpamitan dengan pemilik rumah, dan langung menuju ke mobil yang posisinya sudah mengarah ke
arah jalan . Keinara mengantar Fakhri sampai pria itu masuk ke dalam mobil. Fakhri dibuat kaget saat sedang menghidupkan mobilnya, karena tiba-tiba Keinara membuka pintu mobil yang belum terkunci dan duduk disampingnya.
“Ada apa?, mau ikut pulang?.” Tanya Fakhri heran. Keinara menggelang
”Terus.....?.”
“Peluk.....” Jawab Keinara manja sambil membuka kedua tangannya.
Fakhri tersenyum dan langsung menyambut pelukan kekasihnya itu.
“Tumben minta peluk, lagi kesambet apa nih bocah.” Gumam Fakhri dalam hati.
“Tumben...manja banget.” Sindir Fakhri.
“Masih kangen....” Jawab Keinara dengan mata terpejam dan mempererat pelukannya. Fakhri tertawa mendengar ucpan jujur kekasihnya.
“Cuma peluk aja, enggak mau minta yang lain?.” Keinara menggeleng, karena dia tau maksud ucapan Fakhri.
Keinara masih menempel erat ditubuh Fakhri, dan belum ada tanda-tanda melepas pelukannya.
“Mau berapa jam peluknya...??.” Tanya Fakhri yang merasa heran tapi senang.
__ADS_1
“Bentar lagi mas....”
“Betah amat, padahal mas belum mandi lho.”
“Enggak apa-apa...mas Fakhri masih wangi kok he...he...”
Beberapa saat kemudian Keinara melepas pelukannya.
“Udah mas....mas hati-hati dijalan ya!.” Sembari menarik tangan Fakhri dan mencium punggung telapak tangannya.
“Yakin sudah...kalau mau lagi boleh kok, sini.” Ucap Fakhri dan membuka kedua tangannya, tapi Keinara menggeleng. Tangan Fakhri meraih kepala Keinara, mencium dahi gadis tercintanya itu lama. Kali ini gadis itu tidak berontak, menurut begitu saja.
“Oh ya, aku hampir lupa...” Ucap Fakhri lagi yang kemudian mengambil sebuah kotak merah kecil dari dalam laci dasbor mobilnya. Sebuah cincin bertahtakan berlian dengan ukiran huruf FK yang merupakan inisial keduanya di bagian dalam cincin. Keinara di buat terperangah oleh keindahan cincin yang dalam hitungan detik telah melingkar di jari manisnya.
“Kamu suka?.” Tanya Fakhri melihat ekspresi Keinara.
Keinara mengannguk tanda suka.
“Ini buat aku mas??.” Tanya Keinara seolah tak percaya, bahwa cincin yang pasti mahal itu adalah untuknya.
Fakhri mengangguk pelan dengan raut bahagia.
“Yang....pakai dan simpan cincin ini baik-baik ya. Karena cincin adalah bukti ikatan cinta kita. Kau hanya boleh membuangnya jika kamu tidak mencintaiku lagi.” Begitu dalam ucapan Fakhri membuat Keinara tersentuh.
“Mas...kamu ngomong apa si. Aku akan selalu mencintai kamu mas. Aku akan setia sama kamu. Kamu tidak mudah
tergantikan.” Balas Keinara dengan tatapan penuh makna.
“Makasih sayang..... aku mencintaimu... dan akan selalu mencintaimu. Hanya tuhan yang mampu memisahkan
kita.” Fakhri kembali memeluk kekasihnya. Memeluknya dengan erat. Ada rasa sedih dan berat di hati Fakhri meninggalkan kekasihnya.
“Aku pulang ya...kamu hati-hati disini”
Keinara mengangguk dan menarik tubuhnya dari pelukan Fakhri.
“Mas hati-hati juga ya.”
Fakhri mengangguk dan melepas tangannya dari tangan Keinara yang turun dari mobil. Gadis itu melambikan
tangan saat Fakhri mulai melajukan kendarannya. Mobil Fakhri berlalu, meninggalkan kegelisahan dihati Keinara.
“Mas, kenapa aku penginnya kamu tetap ada disini. Aku tak ingin berpisah, berat banget rasanya. Ya Alloh, lindungilah mas Fakhri.” ucap Keinara dalam hatinya.
Keinara masih berdiri mematung, memandangi mobil Fakhri yang menjauh dan kemudian hilang dari pandangannya. Tiba-tiba dia dikagetkan oleh kedatangan keempat temannya, yang sudah berpakaian rapi dan lengkap dengan perlengkapan yang akan mereka gunakan untuk mengajar.
“Cie...cie...yang lagi sedih ditinggalin pacar...he...he...” Ucap Diva yang sudah berdiri disampingnya.
Keinara hanya tersenyum “Sudah pada siap nih, mau berangkat sekarang?.” Tanya Keinara
“Iya, aku dan teman-teman dah siap dari tadi. Yuk berangkat...hampir jam tujuh soalnya”
“Iya, aku ambil tas dan perlengkapan mengajar dulu dikamar”.
Diva mengangguk. Sesaat kemudian Keinara dan teman-teman satu kelompoknya berangkat dengan berjalan
kaki menuju ke sebuah sekolah dasar yang terletak tidak jauh dari tempat dia menginap.
__ADS_1