
Waktu terus beranjak siang. Kesibukan di rumah Keinara semakin terlihat. Kerabat dan para tetangga dekat dengan sukarela ikut membantu menyiapkan segala keperluan pernikahan Keinara dan Fakhri. Di halaman rumah telah berdiri tenda dan pelaminan sederhana. Masih tampak berapa orang yang tengah melengkapinya dengan hiasan bunga-bunga segar.
Satu jam sebelum pelaksanaan ijab kabul semua sudah siap seratus persen. Ijab Kabul akan di laksanakan pada jam tiga sore. Kedua mempelai juga telah menyiapkan diri mereka. Keinara sudah berada di depan juru rias. Wajah Keinara yang cantik, tak membuat juru rias bekerja ekstra. Hanya menambahkan sedikit polesan aura kecantikan Keinara terpancar sempurna. Membuat terpesona bagi siapa saja yang melihatnya.
Sementara tamu mulai berdatangan memenuhi tenda.Begitu juga dengan keluarga Fakhri. Mereka datang tepat waktu. Rangga sang asisten beserta keluarga juga turut hadir.
Fakhri yang telah rapi dengan stelan jasnya, menyambut kedatangan keluarganya dan keluarga kecil Rangga.
Pelukan hangat dari sang bunda, menciptakan haru sehingga mata Fakhri berkaca-kaca.
“Bunda bahagia sekali, karena akhirnya kamu menjatuhkan pilihan. Jadilah suami yang bertanggung jawab untuk keluargamu,dan jangan pernah membuat orang tua Keinara menyesal telah menyerahkan putrinya padamu.” Nasehat bu Talia saat Fakhri memeluknya.
Fakhri mengangguk dan mencium tangan ibunya memohon restu.Begitu juga sang ayah yang dengan bangga menyambut pelukan putranya, yang kini telah siap mengemban tanggung jawab baru dalam hidupnya.
“Selamat ya bro, akhirnya kamu bisa juga bawa Keinara ke pelaminan.Nggak sia-sia air mata kamu kemarin...he...he.....” Ucap Rangga yang tau persis bagaimana perjalanan cinta Fakhri dan Keinara.
“Sialan kamu....” Balas Fakhri sembari memukul lengan Rangga. Dan keduanya kembali tertawa.
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu tiba juga. Fakhri telah duduk di depan penghulu menggunakan setelan jas dengan warna yang senada dengan kebaya yang di pakai Keinara.
Semua mata terpana ketika mempelai wanita muncul dari balik pintu rumah. Dengan diapit oleh Kakak laki-laki dan ibunya, Keinara melangkah menuju kearah Fakhri .
Fakhri terpana melihat rupa calon istrinya yang tampak anggun dengan balutan kebaya yang di padukan dengan kain jarik. Tubuh ramping dan make up natural membuat penampilan Keinara begitu sempurna. Keinara benar-benar tampil berbeda dari biasanya.
Fakhri tersenyum dan seperti enggan melepas tatapannya.
“Mas udah jangan diliatin terus. Nanti juga ada waktunya buat ngliatin. Bahkan bisa liat sampai ke dalam-dalamnya.” Ucap Penghulu menyadarkan Fakhri. Membuat pria itu salah tingkah.
Keinara yang tampak anggun dengan balutan kebaya telah duduk bersanding di depan penghulu bersama Fakhri . Detik-detik menegangkan akan segera di mulai.
Dengan satu tarikan nafas Fakhri behasil mengucap kalimat sakral yang langsung membuatnya mengambil alih tanggung jawab pak Sasongko menjadi tanggung jawabnya, untuk menjaga dan membahagiakan Keinara. Seperangkat alat solat dan seperangkat perhiasan berlian menjadi mahar pernikahan.
“Sah....” Satu kata yang di ucap oleh para saksi dan para tamu telah mengesahkan Keinara menjadi Nyonya Fakhrisal Permana Putra.
Rona bahagia terpancar dari wajah kedua mempelai. Acara demi acara telah di lalui dan ditutup dengan doa.
Kedua mempelai kemudian di boyong keatas pelaminan untuk menerima ucapan dari para tamu yang hadir.
__ADS_1
“Terima kasih ya nak, sudah mau menerima anak bunda yang menyebalkan itu menjadi suami kamu.Semoga kalian selalu di limpahi kebahagiaan dan kekuatan dalam mengarungi bahtera rumah tangga, yang pasti tidak akan selalu berjalan indah. ” Ucap bu Talia sembari melirik kearah anak bungsunya yag juga tengah meemandang kearahnya sembari tersenyum.
“Sama-sama bunda, Kei juga berterima kasih karena bunda sudah melahirkan dan merawat jodoh Kei selama ini.” Ucap Keinara sembari memeluk wanita yang kini resmi menjadi mertuanya. Wejangan dan nasehat juga terlontar dari sang ayah mertua, yang tak kalah mengharukan.
“Selamat datang di keluarga kami Keinara...!.” Ucap Fahira yang dulu tetangga sekarang menjadi kakak ipar.
“Makasih mbak....” Balas Keinara seraya tersenyum dan berpelukan.
“Tante Keinala aku juga mau peluk..” Teriak Cinta yang berdiri di samping bundanya. Keinara membungkukkan badannya agar bisa memeluk gadis kecil yang selama ini jadi temannya.
“Cinta...tante kangen banget sama cinta.”
“Cinta juga kangen sama tante....tante pelgi kok nggak bilang-bilang ama Cinta. Kan Cinta nyaliin.”
Hati keinara tersentuh, dan merasa bersalah. Karena waktu kembali ke desa ia tak sempat berpamitan
dengan Cinta.Karena waktu itu pikirannya di buat kacau oleh omnya.
“Iya...maaf, waktu itu tante buru-buru jadi nggak sempet pamitan sama Cinta. Maaf ya....”
“Omelin aja tuh Cin....!.” Celetuk Fakhri memprofokasi.
Fakhri melongo mendengar tuduhan dari keponakannya.
“Nah lho....kena kan...!.” Fahira menimpali sembari tertawa. Fakhri hanya garuk-garuk kepala merasa
dirinya yang malah tersudut.
“Om janji ya, enggak nakal lagi sama tante Keinala...” Ucap Cinta pada omnya, dengan menyodorkan jari kelingking.
“Iya om janji...” Balas Fakhri, lalu menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Cinta. “Emang Cinta tau dari siapa om Fakhli nakal sama tante Kei....” Tanya Fakhri sembari menatap kearah kakaknya.
Fahira menggelengkan kepalanya, saat menyadari Fakhri menatapnya curiga.
“Cinta tau dari tanta Klara...”
“Ya Alloh Klara ember banget tuh orang....sama anak kecil lagi.” Gumam Keinara.
__ADS_1
“Oh..tante Klara....” Ucap Fakhri yang sepertinya perlu membuat perhitungan dengan gadis itu.
“Om....udah minta maaf sama tante Kei?.”
“Udah....Buktinya sekarang tante Kei lagi sama om.”
Cinta lalu mengacungkan dua ibu jarinya “ Sip...” dan tertawa sambil berlari turun dari pelaminan.
Tingkah polos Cinta membuat semua yang melihatnya tertawa.Tapi juga membuat Fakhri seperti seorang terdakwa.
Ucapan dan doa terus mengalir dari para tamu yang hadir, untuk dua mempelai. Tak terkecuali dari Dewi yang juga datang bersama keluarga dan pacarnya.
Kedua sahabat yang belum lama terpisah saling berpelukan melepas rindu.
“Aku nggak nyangka, akhirnya kamu nikah juga sama cowok menyebalkan ini...!.” Ucap Dewi dengan mata melirik ke arah Fakhri, dan langsung disambut dengan tatapan tajam dari Fakhri.
“Emang menyebalkan kan Kei...?.” Tanya Dewi untuk membalas tatapan Fakhri.
Kei mengangguk, kemudian keduanya tertawa. Sementara Fakhri tampak kesal.
“Pokoknya untuk kalian berdua, aku ucapin selamat deh...semoga samawa, langgeng sampai kakek nenek.”
“Aamiin....Makasih Wi...semoga kalian cepet nyusul kita.” Balas Keinara.
“Aamiin...tunggu aja undangannya....” Ucap Dewi sambil melirik Beno kekasihnya yang berada di belakangnya, menunggu untuk menyalami kedua mempelai.
Hari semakin sore, satu persatu tamu pamit pulang. Tinggal dua keluarga mempelai yang masih berkumpul berbincang. Pebincangan ringan antar dua keluarga yang baru pertama kali bertemu.
Merasa gerah, Keinara pamit untuk berganti pakaian dan melepas semua aksesoris yang menempel di kepalanya, di ikuti pria yang telah resmi menjadi suaminya.
Fakhri memilih membersihkan keringat ditubuhnya dengan pergi mandi. Sementara Keinara masih berusaha melepas semua aksesoris yang ada dikepala, dan mengganti kebaya dengan gamis. Tak lupa menghapus make up yang masih menempel di wajahnya.
Selesai berganti pakaian dan membereskan kamarnya Keinara membaringkan tubuhnya sambil menunggu Fakhri. Ia juga ingin mandi, jadi ia harus menunggu Fakhri selesai. Karena dirumahnya hanya ada satu kamar mandi dan satu WC yang terletak di dekat dapur.
Keinara hampir saja terlelap ketika suaminya masuk kedalam kamar dan langsung mengecup bibirnya.
“Masss.....ih seneng banget sih, bikin orang kaget!.” Keinara yang tidur terlentang langsung duduk dan turun dari ranjang.
__ADS_1
“Kamunya mancing-mancing ....!” ucap Fakhri sambil senyum-senyum.
“Mas aja yang mesum...” Keinara segera berlalu sebelum suaminya semakin mengganggunya.