
Pengantin baru benar-benar tengah di mabuk cinta. Banyak waktu yang dihabiskan untuk memadu cinta di dalam kamar.
"Makasih sayang...." Ucap Fakhri setelah kembali berhasil menebar benih. Diakhiri dengan mengecup kening dan bibir wanita yang masih berada di bawah tubuhnya.
Keduanya terkulai setelah dua kali pergulatan di siang yang panas.
Drtt.....drtt.....drtt......
Keinara segera memakai pakaiannya, ketika mendengar dering ponsel miliknya yang tergeletak di meja rias.
"Kak Devan..." Gumam Keinara begitu melihat layar ponselnya, sembari duduk membelakangi suaminya yang tengah memejamkan mata.
"Assalamu'alaikum kak Devan." sapa Keinara saat wajah Devan muncul di layar.
"Wa'alaikumsalam Kei.....aku ganggu ya?." Balas Devan yang setelah tiga hari absen tidak menelfon Keinara karena kesibukan.
"Enggak kok....kak Devan apa kabar?."
"Alkhamdulillah sehat. Kamu kelihatannya capek banget? Abis ngapain....?."
"Ehmmm....." Otak Keinara seketika bekerja untuk mencari jawaban.Karena tidak mungkin ia bilang habis tempur dengan suaminya.
"Aa..abis beberes rumah kak..." Akhirnya Kei menjawab sekenanya. Merasa otaknya buntu.
"Oh.....Meski kelihatan loyo tapi tetep cantik...he...he....."
"Panas-panas nggak usah ngegombal kak...he...he..."
"Yang...." Suara Fakhri tiba-tiba muncul di tengah-tengah obrolan.
Keinara memutar tubuhnya, sehingga tubuh Fakhri yang tengah terbaring dan bertelanjang dada terlihat di netra Devan. Tubuh Devan seperti tersengat listrik, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Siapa yang nelfon...?." Tanya Fakhri.
"Kak Devan....." Jawaban istrinya membuat Fakhri mengeryitkan dahi dan beranjak mendekati istrinya.
"Fakhri....?!." Gumam Devan di tengah keterkejutannya.
"Ngapain nelfon bini gue!!." Tanya Fakhri penuh selidik.
"Bini...??." Wajah Devan menegang. Dadanya terasa sangat sesak seperti terhimpit suatu beban yang begitu berat.
"Oh ya lupa....aku belum ngasih tau kamu kalau aku dan Kei sudah menikah kemarin. "Ucap Fakhri seraya mengecup kepala istrinya.
"Kak Devan nggak apa-apa kan?." Tanya Keinara melihat perubahan mimik di wajah Devan.
"Kaget ya....tau kami sudah menikah?." sambung Fakhri. Yang segera bisa menangkap arti dari perubahan wajah temannya itu.
"Sepertinya dugaanku selama ini benar,Devan menyukai Kei...." Fakhri menggumam dalam hatinya.
"Setauku kalian sudah putus, tapi sekarang malah sudah menikah. Ya jelas bikin aku kaget...!." Ucap Devan,yang berhasil menyembunyikan segala rasa yang menyakitkan dan berusaha bersikap normal kembali dengan mengulum senyum meski tetap terlihat itu senyuman yang dipaksakan.
__ADS_1
"He...he...maaf ya kak, aku nggak sempet ngabari kak Devan. Pernikahan kami mendadak, karena bapakku menghendaki kami untuk segera menikah begitu tau hubungan kami." Jelas Keinara.
"Berarti yang aku dengar kalian putus itu tidak benar?."
"Benar kak..." Jawab Keinara.
"Tidak benar..." Fakhri menimpali.
"Iih....mas.....benar!!." protes Keinara.
"Tidak benar....."
"Benar......!."
"Tidak.....!."
Keinara tak bisa lagi berucap, bibirnya telah dikunci oleh bibir suaminya. Yang dengan rakus menyesapnya.
Devan langsung menutup telfonnya, merasa tak kuasa lagi menahan sakit di hatinya. Adegan yang baru di lihatnya benar-benar telah meruntuhkan semua impiannya, yang telah ia susun selama ini.
Brakkk....
Ponsel Devan tak utuh lagi, setelah Devan melemparnya. Tak hanya itu, semua benda yang ada di meja kerjanya seketika berpindah ke lantai dan berserakan.
Nafas pria itu tersengal-sengal karena luapan emosi yang menguasainya. Kecewa, sedih serta amarah membaur jadi satu. Tak ada sedikitpun rasa bahagia untuk pernikahan temannya itu.
Setelah meluapkan segala rasa di hatinya pada benda-benda mati yang ada didepannya, Devan terduduk. Melepas dasi yang tergantung di lehernya. Nafasnya masih memburu. Keringat menyembul dari pori-pori di dahinya.
Setelah mendengar dari Dewi, jika hubungan Keinara dan Fakhri telah berakhir, Devan mengambil langkah seribu untuk mendekati Keinara. Ia berniat mengajak Keinara ke pelaminan begitu gadis itu ia dapatkan.
Hampir setiap hari ia menghubungi Keinara baik lewat pesan atau telfon. Dan baru tiga hari ia tak menghubungi wanita itu, keadaannya sudah berubah. Manis menjadi pahit yang seketika menghentikan langkahnya untuk mendekati Keinara.
Wanita yang ia impikan sekarang telah menjadi istri dari temannya sendiri.
Tatapan Devan kosong. Tak ada lagi semangat bekerja. Ia hanya duduk termangu di kursi kerjanya. Beberapa karyawannya terpaksa mengurungkan niatnya untuk menemui dirinya. Setelah melihat kondisi ruang dan penghuninya yang tampak sedang tidak baik-baik saja.
***
Keinara mendorong tubuh suaminya, yang semakin ganas melahap bibirnya. Ia ingat jika ia sedang video call dengan Devan. Ia malu jika Devan sampai melihat apa yang tengah di lakukan suaminya.
"Mas....malu ih....ada kak Devan.!!" Ucap Keinara begitu Fakhri melepas ciumannya.
Tangan Fakhri menarik tangan Keinara yang sedang memegang ponselnya. Lantas menunjukkan jika ponselnya telah mati.
"Kak Devan pasti tadi lihat...." ujar Keinara merasa malu.
"Biarin aja....."
"Iihhh.....nyebeliinnnn.....!!!." ucap Keinara dan hendak bangkit dari duduknya. Namun ia kembali duduk karena Fakhri menarik tubuhnya.
"Devan sering nelfon kamu?." Tanya Fakhri
__ADS_1
"iya...."
"Sejak kapan...?."
"Sejak kita kenal. Tapi akhir- akhir ini ia hampir tiap hari menghubungiku." Jawab Keinara sembari mengingat-ingat. "Kenapa?." tambahnya. Karena suaminya nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak apa-apa."
Fakhri akhirnya memilih tak ambil pusing dengan Devan yang selama ini berusaha mendekati Keinara. Baginya sekarang, Kei sudah menjadi miliknya. Dan tidak akan membiarkan siapapun merebutnya termasuk Devan.
Seminggu sudah Fakhri dan Keinara mejalani kehidupan mereka sebagai suami istri. Fakhri memboyong istrinya ke Jakarta karena pekerjaanya sebagi CEO sudah menanti.
"Ini kamar kita sekarang." Begitu sampai di Jakarta Fakhri langsung mengajak istrinya masuk kekamar yang selama ini ia huni sendirian.
Kamar yang cukup luas, dengan ranjang big size yang dikedua sisinya terdapat meja kecil dengan beberapa laci. Lemari dengan ukuran yang tak kalah besar juga ada disana, bersebelahan dengan meja rias yang baru beberapa hari ia beli untuk istri tercinta.
Disalah satu sudut ruang terdapat kamar mandi dengan segala perlengkapannya yang terlihat mewah.
"Mungkin kita akan menetap di rumah ini dengan ayah dan bunda, karena itu keinginan mereka. Kamu tidak apa-apa kan?."
"Tidak apa-apa mas. Dengan kita tinggal bersama mereka paling tidak kita bisa menemani dan menjaga mereka, diusia mereka yang makin tua." Balas Keinara melegakan hati Fakhri.
"Makasih sayang....I love you." Fakhri merasa beruntung memperistri Keinara. Karena di hari-hari berikutnya ia menjalani kehidupan yang terasa begitu sempurna.
Keinara melakukan kewajibannya sebagai istri dengan baik. Melayani suaminya dari bangun tidur sampai ia tidur kembali, meski ia juga bekerja sebagai guru matematika di sebuah Sekolah Menengah Atas yang ada di Jakarta.
Begitu juga Fakhri. Ia melaksanakan tanggung jawabnya sebagai suami. Memperlakukan istrinya seperti ratu. Dan dia bukan lagi pria play boy. Di hatinya hanya ada satu wanita, yaitu istrinya.
Kebahagiaan mereka makin lengkap, dengan kehadiran bayi laki-laki di usia satu tahun pernikahannya.
Sementara disebuah negara di benua Eropa sana, seorang pria sedang berjuang mengobati luka hatinya. Setelah wanita yang sangat ia cintai menjadi milik temannya.
Cinta yang tak berbalas. Cinta yang belum sempat ia ungkapkan.
Devan, ya pria itu adalah Devan. Yang memilih menetap di Eropa, demi bisa melupakan Keinara.
Ia meninggalkan bisnisnya, demi sebuah kesembuhan atas luka hati yang terlalu sakit.
Meski sudah hampir satu tahun meninggalkan Jakarta, melupakan Keinara belum mampu ia lakukan. Dan cinta untuk wanita itu masih ada.
Banyak wanita yang mendekatinya, tetapi tak bisa membuka pintu hati pria itu. Keinara belum bisa tergantikan.
Satu-satu cara yang bisa ia lakukan untuk bisa melupakan Keinara adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Sehingga bisnisnya yang mulai ia rintis terus mengalami kemajuan.
"Jika Keinara bahagia dengan hidupnya sekarang, maka aku juga harus bahagia dengan hidupku meski tanpanya." Ucapan yang selalu ia ucap untuk menyemangati dirinya.
END
Terima kasih buat semua yang sudah mampir di novel pertamaku yang tidak sempurna ini. Doakan ya semoga author bisa menyempurnakannya di novel yang ke dua....ke tiga....ke empat.....dst.
😘😘🥰🥰
__ADS_1