Cinta Keinara

Cinta Keinara
Bukan yang Dulu


__ADS_3

Keinara yang awalnya begitu bersemangat, kini lebih banyak diam saat orang-orang yang bersamanya berbincang. Fakhri yang juga sedikit bicara beberapa kali melirik kearah gadis itu, Dan menyadari sesuatu.


“Kei...kita ke taman yuk.”  Ajak Fakhri tiba-tiba. Sehingga menghentikan obrolan di ruangan itu.


“I...iya mas, ayo...”  Jawab Keinara kaget.


Gadis itu lalu beranjak seraya berpamitan.


Fakhri tampak tersenyum ketika Keinara mendekat. Ia tidak tau jika gadis itu tengah di landa kebingungan dengan sikapnya. Fakhri yang tadi dingin kini bersikap sedikit manis.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan mu mas?." Tanya Keinara dalam hatinya.


Keinara mendorong kursi roda yang Fakhri duduki, menuju taman yang terletak di belakang rumah itu. Tak lama, keduanya telah duduk berdampingan di sebuah kursi panjang yang ada di taman.


“Kamu sepertinya tidak senang bertemu denganku Kei?.”  Ucap Fakhri yang tengah berusaha untuk  memperlakukan wanita didepannya sebagai kekasihnya, meski ia merasa aneh.


“Kata siapa, aku senang kok.” Balas Keinara tanpa memandang pria pria di sampingnya.


“Kalau senang, kenapa kelihatan sedih gitu.”


“Perasaan mas Fakhri aja.”


Fakhri merah dagu Keinara, agar wajah gadis itu berpaling kearahnya. Mata keduanya kembali bertemu. Fakhri melihat cinta dan kerinduan di mata Keinara. Namun sebaliknya, Keinara bagai melihat orang lain. Pria itu


bukan Fakhrinya yang dulu.


Fakhri melepas tatapannya, saat tatapannya mulai dalam. Ia tak ingin apa yang ia lihat di mata Keinara semakin mempengaruhi pikirannya. Yang nantinya akan berujung pada rasa sakit di kepalanya. Pria itu memejamkan


matanya. Membuat Keinara bertanya-tanya dan cemas.


“Mas kenapa?.”


“Tidak apa-apa Kei, cuma sedikit pusing.”


“Kalau begitu mas harus  istirahat.”


Keinara bangkit dari duduknya hendak mengambil kursi roda. Tapi tangan pria itu mencegahnya.


“Duduklah Kei. Aku tidak apa-apa.”


“Yakin mas tidak apa-apa?.”


Fakhri mengangguk untuk meyakinkan hati gadis di depannya.


“Aku masih ingin menemani gadis yang merindukanku.”


Ucapan Fakhri menciptakan senyum ketir di bibir Keinara.


“Benarkah? Meski mas tak merindukanku?.”


“Kata siapa aku tak merindukanmu. Aku juga merindukanmu Kei.”


“Oh...syukurlah kalau itu benar adanya.” Jawab Keinara datar.

__ADS_1


Lagi-lagi Keinara membuang pandangannya ke arah lain. Tak sanggup menatap pria yang kini terasa asing di hatinya.


Fakhri tiba-tiba memeluk Keinara.


“Kau ragu kalau aku merindukanmu?.” Ucap Fakhri mencoba menepis keraguan Keinara yang tampak nyaman dalam pelukannya.


“Mas lebih tau jawabannya.”


“Aku benar-benar merindukanmu Kei, aku tidak bohong.”


“Semoga ucapanmu benar mas.” Batin Keinara.


Keduanya larut dalam pelukan itu. Sama-sama merasa damai, tapi juga sama-sama merasa asing.


Fakhri melepas pelukannya. Wajah pria itu menunjukkan seperti sedang menahan sesuatu.


“Kei....kepalaku sakit. Aku mau istirahat. Bisa antar aku kedalam”


“Oh iya mas...ayo.”


Keinara membantu Fakhri duduk di atas kursi roda, dan bergegas mendorongnya masuk ke dalam rumah.


“Aku mau istirahat di sofa itu Kei.”


Keinara mengikuti keinginan Fakhri. Dengan lembut Keinara membantu Fakhri turun dari kursi roda sampai pria itu merebahkan tubuhnya. Wajah Keinara terlihat cemas melihat Fakhri yang memegangi kepalanya dan sesekali berdesis menahan sakit.


“Kei, tolong ambilkan obat. Itu ada di atas meja makan.”


Keinara mengambil obat yang dimaksud Fakhri dengan segelas air putih.


Setelah menemukannya, Keinara langsung memberikannya pada Fakhri yang masih meringis kesakitan. Setelah beberapa saat Fakhri tampak tenang. Meski sesekali masih terlihat sedang menahan sakit.


“Mas, aku pamit ya. Biar mas bisa istirahat.”


“Iya Kei, maaf ya sudah ngerepotin kamu....”


“Iya mas tidak apa-apa. Mas istirahat ya....Aku pamit.”


Keinara meraih telapak tangan Fakhri. Menciumnya beberapa detik. Dan tanpa menatap wajah Fakhri, gadis itu berlalu pergi. Meninggalkan Fakhri yang terpaku ketika hatinya terasa menghangat. Mencipta genangan di


sudut mata yang tak Fakhri sadari.


Keinara Dan Dewi berpamitan pada Bu Talia dan Bagas. Yang kemudian mengantarkan keduanya sampai depan pintu.


Setelah kepergian dua tamunya, bu Talia dan Bagas kembali masuk kedalam rumah. Mendapati Fakhri yang tengah terbaring di atas sofa.


“Kepalamu sakit lagi Ri?.” Tanya bu Talia


“Iya bun. Tapi sudah mendingan kok...tadi sudah minum obat”


“Syukurlah....” Bu Talia merasa lega.


“Jadi kamu selalu merasa sakit kepala jika kamu mengingat atau bertemu Keinara?.” Tanya Bagas .

__ADS_1


Fakhri mengangguk.


“Tragis...”


“Hust..kamu ngomong apa si gas.” Bu Talia menimpali.


Sementara Fakhri merasa kesal.


“Ya gimana nggak tragis bun, seharusmnya mereka lagi mesra-mesranya setelah berpisah lama. Eh malah sebaliknya.”


“Bagasss..!!!....sudah hentikan bicaramu. Kasihan adikmu.”  Bu Talia di buat geram oleh anak sulungnya.


“Ha...ha....maaf.”


Ucapan maaf Bagas nampaknya tak merubah reaksi kesal yang ditunjukkan oleh Fakhri.


“Apa kamu juga tidak ingat, penyebab bekas luka yang ada di bahu kananmu?.” Bagas yang sering membantu adiknya mandi, dibuat penasaran oleh bekas luka yang ada di bahu Fakhri. Tapi baru sempat ia menanyakannya. Meski ia tak yakin Fakhri dapat menjawab rasa penasarannya.


“Bekas luka apa.?” Fakhri dan ibunya kompak bertanya.


“Lihat saja bun di bahu kanan Fakhri.”


Bu Talia minta Fakhri untuk duduk, agar dia bisa dengan mudah melihat bekas luka yang dimaksud Bagas pada bahu anaknya.


“Ini seperti luka bekas tersayat. Dan sepertinya luka ini belum lama. Tapi kenapa bunda baru tau?. Kamu tidak pernah cerita ke bunda Ri.”


Fakhri terdiam merasakan kepalanya yang kembali berdenyut, saat ia berusaha mengingat kejadian yang membuat bahunya terluka.


“Aku tidak bisa mengingatnya bun...”  Jawab Fakhri kemudian. Sementara tangannya sibuk memijat keningnya dengan mata terpejam.


“Ya Sudah, tidak usah di ingat-ingat soal luka itu .......Sekarang kamu istirahat. “  Ucap Bu Talia yang kemudian meninggalkan Fakhri bersama Bagas.


Tak ada obrolan diantara dua bos itu sepeninggal ibu mereka. Masing-masing sibuk dengan diri mereka. Fakhri berusaha menekan sakit di kepalanya, sementara Bagas larut dengan game di ponselnya.


Berbeda dengan dua gadis yang tengah berada di dalam sebuah mobil, yang tengah melaju di jalan raya. Mereka tampak sedang membicarakan Fakhri. Lebih tepatnya sikap Fakhri. Keduanya merasakan hal yang sama tentang


perubahan sikap Fakhri.


“Mas Fakhri seperti tak mengenalku Kei. Tadi dia sama sekali tak menyapaku. Waktu aku menyalaminya saja dia terkesan dingin. Apa ini perasaanku saja atau kamu juga merasakan?. ”  Ungkap Dewi.


“Aku juga merasakannya Wi...Aku merasa mas Fakhri berubah. Sikapnya tak seperti dulu sebelum dia kecelakaan.”  Balas Keinara membenarkan ucapan sahabatnya.


“Kok bisa begitu ya, apa kecelakaan itu yang membuatnya  berubah?! .“


“Entahlah....” Keinara benar-benar di buat bingung dengan sikap Fakhri. Meski pria itu akhirnya bersikap manis padanya, tapi tetap saja Keinara  merasa kalau kekasihnya berubah. Pelukan Fakhri  tak sehangat biasanya.


Bahkan mulut pria itu tak sekecappun memanggilnya dengan kata sayang.  Padahal sebelumnya Fakhri jarang menyebut nama Keinara saat memanggil.


“Sudahlah Kei....jangan terlalu dipikirkan. Siapa tau ini hanya perasaan kita saja.” Ujar Dewi mencoba menghibur sahabatnya yang  tampak murung.


“Hahhhh......Semoga ucapanmu benar Wi.” Balas Keinara penuh harap, sebelum akhirnya ia kembali termenung.


Bayangan wajah dingin Fakhri kembali muncul di pelupuk mata Keinara.  Membuat Dada gadis itu terasa

__ADS_1


sesak. Meski masih abu-abu, semua yang ia dapati hari itu tak sesuai ekspektasinya.


__ADS_2