Cinta Keinara

Cinta Keinara
Malam Pertama


__ADS_3

Meski hanya di gelar secara sederhana, pernikahan Fakhri dan Keinara tetap berlangsung meriah.Kebahagiaan terpancar tidak hanya dari kedua mempelai dan keluarga, tapi juga dari mereka yang turut hadir.


Rasa lelah tak dirasakan oleh dua mempelai. Kesedihan dan air mata yang sempat menghiasi perjalanan cinta mereka terbayar sudah .Mereka sekarang menjadi satu dalam sebuah ikatan suci.


Setelah solat magrib, keluarga Fakhri dan rombongan berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Sepeninggal keluarganya Fakhri duduk berbincang dengan kakak iparnya,Risqi. Hingga hampir larut malam. Sehingga saat ia masuk kekamar istrinya sudah tertidur pulas.


“Kok dah tidur si yang...” Batin Fakhri dengan raut kecewa. Malam pertama yang ia nantikan terancam gagal.


Sejenak ia memandangi wajah cantik wanita yang hampir saja terlepas dari hidupnya. Pelan-pelan ia membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Agar wanita itu tak terbangun.


Mungkin di malam pertama ia menjadi suami Keinara, ia harus puas hanya dengan memandangi wajah istrinya saja. Wajah lelah sang istri, menahan semua hasratnya.Meski sebenarnya ia sangat menginginkan hak pertamanya sebagai suami di malam itu.


Semula ia hanya memiringkan wajahnya, untuk menikmati wajah istrinya, tapi akhirnya ia juga memiringkan tubuhnya sehingga menghadap ke tubuh Keinara.


Perlahan Fakhri melepas hijab yang masih menutupi kepala istrinya dan seketika tampaklah rambut hitam Keinara yang terikat. Fakhri melepas ikatan pada rambut Keinara,dan rambut panjang istrinya kini terurai menebar wangi sampo.


Wangi rambut Keinara tak bisa menahan Fakhri untuk tidak menciumnya.


Ciuman di rambut akhirnya berlanjut ke area lainnya.Memancing hasaratnya timbul kembali. Dan ia tak bisa lagi menahannya.


Tangan Fakhri mulai menyentuh wajah cantik istrinya,membelai pipi yang terasa begitu lembut. Sentuhan tangan akhirnya berubah menjadi ciuman. Ciuman di kening, berpindah ke pipi dan akhirnya sampai ke bibir. Sementara Keinara sama sekali tak terusik, dia tetap terlelap pulas.


Hasrat Fakhri makin menjadi. Fakhri terus mengulang ciumannya di bibir Keinara dan memperdalamnya menjadi lum*** . Yang akhirnya mengusik tidur Keinara.


“Mas....” Panggil Keinara dengan suara serak terkejut ketika mendapati wajah suaminya berada tepat di depan matanya.


"Maaf ,aku tidur duluan. Soalnya aku ngantuk banget, capek!.” Ucapnya lagi.


Fakhri tak menjawab, dia terus menghujani istrinya dengan ciuman. Dan kemudian memeluknya.


“Sebenarnya aku lapar, tapi kamu sepertinya ngantuk banget. Ya udahlah, kita tidur aja”


“Mas lapar? Aku siapin makanan ya.”


“Enggak...enggak...aku enggak pengin makan.”


“Tadi bilangnya lapar.”


“Aku lapar...penginnya makan kamu”


“Ih...apaan si.“ Ujar Keinara yang tau maksud suaminya.


Wajahnya tersipu dan menyembunyikannya di dada Fakhri.

__ADS_1


Fakhri tersenyum gemas. Diangkatnya dagu istrinya, hingga wajah cantik sang istri tepat berada didepan wajahnya. Kesempatan itu tak ia sia-siakan. Dengan lembut Fakhri menciumi setiap inci wajah Keinara yang tampak pasrah. Ciuman Fakhri tak hanya bertahan di wajah, tapi juga dibagian lain tubuh Keinara, yang membuat sedikit demi sedikit penutupnya terlepas.


Kantuk Keinara perlahan sirna. Sentuhan-sentuhan dari suaminya membuat dirinya seolah melayang. Dan ia benar- benar sedang menikmati surga dunia.


Dua pengantin baru itu larut dalam kebahagiaan dan kenikmatan dimalam pertama mereka menjadi suami istri. Waktu yang kian larut tak menghentikan kegiatan keduanya. Lebih dari satu kali, Fakhri menebar benih di rahim istrinya, dengan harapan benih itu tumbuh menjadi pelengkap keluarga mereka di sembilan bulan yang akan datang.


Melihat Keinara yang kelelahan, Fakhri menyudahi kegiatannya. Dan keduanya akhirnya tertidur sambil berpelukan.


“Mas bangun sudah subuh!” Keinara yang baru selesai mandi dan masih menggulung rambut panjangnya dengan handuk, membangunkan Fakhri yang masih tertidur. Fakhri membuka matanya, pemandangan didepannya membuat hasratnya kembali muncul, dan dia ingin mengulang kegiatan semalam.


Fakri akhirnya bangun dan duduk di tepi ranjang.Menarik tangan istrinya, hingga istrinya berdiri di antara dua pahanya. Sementara kedua tangannya melingkar di pinggang Keinara. Menahannya agar wanitanya tak pergi. Bibirnya mulai beraksi dengan menciumi perut istrinya.


“Mass.....!!” Tangan Keinara berusaha menyingkirkan kepala Fakhri yang masuk ke balik bajunya.


“Yang...aku pengin lagi....!!.”


“Iya...tapi nanti malam, oke....” Ucap Keinara sembari memegang kedua pipi suaminya.


“Maunya sekarang..” Fakhri merengek seperti anak kecil.


“Ini sudah subuh mas. Kita belum solat. Aku malu juga balik kekamar mandi buat mandi lagi.Didapur ada mama dan kak Vina.” Ucap Keinara sembari melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggang.


Bukannya terlepas tapi malah semakin erat. Lama-lama tangan itu naik ke atas meraih dua gundukan, mere*** seperti squishy.


“Hem...masih sakit.....coba aku periksa...!.” Tangan Fakhri meraih pakaian bawah istrinya.


“Maass.......” Keinara melotot dan menjewer kuping suaminya.


“Aw...aw.....aw.....sakit yang....” Fakhri memegangi telinganya yang memerah bekas jeweran sang istri.


“Punya suami kok mesum gini sih.....mas cepet mandi....!!” Ucap Keinara lagi sembari menyiapkan pakaian ganti untuk Fakhri.


Fakhri akhirnya segera beranjak menuju kekamar mandi dengan membawa pakaian ganti yang diberikan istrinya.


Merasa lega karena suaminya berhenti mengganggunya, Keinara segera mengemas spre, yang ternoda oleh bercak darah yang berasal dari selaput daranya, yang berhasil dikoyak oleh sang suami semalam. Keinara menghentikan aktifitasnya mengganti spre, setelah mendengar suaminya memanggil untuk solat subuh bersama.


“Mas mau dibikinin kopi atau teh?” Ucap Keinara sambil memakai hijab, saat keduanya telah kembali kedalam kamar.


Fakhri lalu mendekati istrinya. “Teh aja deh, tapi aku mau ngemil dulu.”


“Mau ngemil apa?”


“Ngemil ini” jawab Fakhri yang langsung mendaratkan bibirnya di bibir Keinara.

__ADS_1


Keinara mendorong tubuh Fakhri ”Ih mas, apaan si. Apa semalem belum kenyang.” Ucap Keinara tersipu.


“Belum...he...he...” jawab Fakhri sambil menarik tengkuk Keinara dan menahannya agar dirinya bebas menikmati bibir istrinya beberapa saat sebagai cemilan pagi.


“Dah sana bikinin teh...nggk usah pakai gula,karena manisnya dah dapet dari sini” Ujar Fakhri sembari tersenyum mengusap bibir Keinara. Wanita itu kemudian berlalu menuju dapur dengan wajah memerah.


Selang beberapa menit, Keinara kembali menemui suaminya yang sedang rebahan di atas ranjang memegang ponsel pintarnya.


“Mas, tehnya aku taruh didepan ya, ngeteh bareng bapak dan kak Rizki” ucap Keinara dengan setengah badannya masih dibalik pintu.Karena Fakhri tak meresponnya, Keinara akhirnya mendekat.


“Mas...denger gak sih aku ngomong?” Ucap Keinara lagi yang bediri di bibir ranjang. Tanpa ia sadari tangan Fakhri menariknya sehingga tubuhnya jatuh diatas tubuh suaminya.


“Aku denger sayang...” Ujar Fakhri dengan tangan melingkar di atas tubuh Keinara.” Biarkan seperti ini dulu istriku, aku masih kangen sama kamu.” Ucap Fakhri lagi ketika Keinara mencoba bangun dari atas tubuhnya.


Keinara tampak menuruti Keinginan suaminya. Wanita itu diam dipelukan suaminya, sambil mendengarkan detak jantung lelaki yang berada di bawah tubuhnya.


“Mas, tapi tubuhku berat.”


“Lebih berat rinduku padamu sayang.”


“Aihhhh....mas ini, dari kemarin kita kan udah bareng. Masa masih rindu aja. Nggak usah modus deh!.”


“Terserah deh kamu ngomomg apa. Aku beneran masih kangen sama kamu. Mungkin ini akumulasi rindu selama beberapa bulan kita tidak bersama. Dan rindu ini takkan pernah bisa berkurang, karena aku akan selalu merindukanmu saat kau tak bersamaku. Aku tau kau juga merindukanku bukan? selama aku tak mengenalimu.” Keinara tak menjawab, hanya anggukan kepala yang dia tunjukkan.


Sesaat kemudian Fakhri merasakan ada cairan hangat di dadanya, yang ia yakini berasal dari mata istri tercinta.


“Hei...kamu nangis?” Tanya Fakhri yang kemudian bangun dari rebahannya.


Ditatapnya wajah sang istrinya, dimana ada aliran seperti anak sungai disana.


"Maaf sayang, jika aku telah membuka kembali luka hatimu.”ucap Fakhri sembari mengusap pipi Keinara yang basah.


“Tidak apa-apa mas, aku hanya teringat bagaimana saat itu aku sangat menderita, menanggung rindu pada orang yang saat itu dekat tapi tak bisa aku sentuh.”


Fakhri meraih tubuh istrinya dalam dekapannya.


”Maafkan aku yang...aku janji, aku tidak kan pernah meninggalkamu lagi. Dan takkan kubiarkan airmatamu menetes lagi karena menanggung rindu.Kamu satu-satunya wanita yang ada dihatiku selain bunda.” Ucap Fakhri meyakinkan istrinya. Ditatapnya lagi wajah istrinya yang tak lagi sendu.


” Ya udah yuk kita kedepan.”Ajak Fakhri tapi sebelumnya ia melu*** bibir istrinya dengan lembut. Sebelum ciuman itu berubah panas, Keinara memundurkan wajahnya.


“Mas..udah!!, aku mau bantu mama beberes rumah.”


Fakhri akhirnya melepas tubuh istrinya yang sejak tadi ditahannya. Keduanya keluar kamar, Fakhri menuju ruang depan menemui ayah mertua dan kakak iparnya. Sementara Keinara membereskan rumah yang tampak berantakan setelah acara kemarin, bersama mama dan kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2