Cinta Keinara

Cinta Keinara
Menang Banyak


__ADS_3

Malam semakin larut. Fakhri telah berada di dunia mimpinya. Tapi calon istrinya masih tampak terjaga. Gadis itu masih tak menyangka jika pernikahannya dengan Fakhri  akan terjadi secepat itu. Sementaraia belum tau apakah keluarga Fakhri merestui  pernikahan mereka.


Keputusan ayahnya bener-benar membuat gadis itu gugup meski ia juga merasa bahagia.


“Ah....rasanya seperti mimpi” Gumam Keinara sembari menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.  Beberapa


kali gadis itu keluar kamarnya untuk kekamar mandi dan mengambil air minum. Apa yang dilakukan gadis itu ternyata mengusik penghuni kamar sebelah.


Drtttt....drtt....drtt......


Ponsel Keinara menyala ketika ada panggilan video dari Fakhri. Merasa heran tapi gadis itu segera mengangkatnya.


“Belum tidur?.” Tanya Fakhri dengan suara serak.


“Belum bisa tidur.” Jawab Keinara


“Kenapa? mikirin besok?.”


Keinara tersenyum tanda mengakui.


“Sabar...tinggal beberapa jam lagi kok.”


“Ih...siapa juga yang lagi nggak sabar!.”


“Ya kali aja...dah nggak sabar tidur di pelukan suaminya.”


“Dasar mesum.....dah mas tidur lagi aja.”


“Aku dah nggak ngantuk. Kamu yang seharusnya segera tidur biar besok badan kamu fit.”


“Dah dari tadi aku usahaain tidur, tapi tetep nggak bisa tidur mas.” Merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa di ajak kerjasama.


“Mau aku temenin?.”


“Enggak....enggak mas.....hei mau kemana...?.” Seketika Keinara di buat panik ketika Fakhri tampak bangun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Dalam hitungan detik pria itu sudah berada didalam kamar


Keinara.  Setelah sebelumnya Fakhri memastikan tidak ada orang yang melihat keberadaannya.


“Mas ngapain kesini !!.” Tanya Keinara kesal karena Fakhri nekat masuk kekamarnya. Ia takut jika orang tuanya melihat Fakhri masuk ke kamarnya.


Fakhri meletakkan jari  telunjuknya didepan bibir, agar Keinara diam. Tanpa meminta persetujuan Fakhri membaringkan tubuhnya di sebelah calon istrinya yang telah menutup rapat tubuhnya  menggunakan selimut.


“Enggak usah mikir macam-macam, aku cuma mau nemenin kamu tidur. Aku enggak mau besok badan kamu jadi enggak fit, karena besok hari penting kita. Dan malamnya mungkin kamu akan begadang sampai pagi.”


“Ih nggak usah nyari-nyari alasan deh....Balik ke kamar sana!.”


Bukannya turun dari ranjang, Fakhri malah mendekap tubuh Keinara.


“Nggak usah protes. Sekarang kamu tidur. Janji aku nggak bakal ngapa-ngapai kamu.”


“Tapi mas...takutnya nanti ada yang mergokin kita,  gimana?.”


“Enggak bakal ada yang mergokin kita, sudah pada tidur semua. Kalaupun ada yang mergokin juga nggak apa-apa toh kita besok mau nikah.”

__ADS_1


Keinara akhirnya pasrah berada dalam dekapan Fakhri, dan berharap Fakhri bakal menepati janjinya untuk tidak berbuat macam-macam dengan dirinya.


“Cup....” Sebuah kecupan di kening Fakhri berikan sebagai penghantar tidur untuk calon istrinya, yang tampak berusaha untuk tidur dalam pelukannya.


Tak lama nafas Keinara terdengar teratur. Gadis itu akhirnya bisa tidur begitu juga dengan Fakhri. Keduanya tertidur dalam satu selimut sampai adzan subuh berkumandang.


Semula Keinara kaget melihat tubuhnya berada dalam pelukan Fakhri. Tapi ia cepat menyadari bagaimana ia bisa berada disana.


“Mas....bangun mas....sudah pagi...!” Ucap Keinara sembari menggoyang tangan Fakhri yang berada di atas pinggangnya. Fakhri tanpa membuka mata mengencangkan pelukannya, sehingga tubuh Keinara menempel sempurna di tubuhnya. Merasa ada sesuatu yang keras menempel di bagian pahanya,  Keinara seketika berusaha  menarik tubuhnya. Takut sesuatu yang keras milik Fakhri itu menuntut sesuatu darinya.


Fakhri berusaha menarik tubuh Keinara kembali ke pelukannya.  Tapi Keinara telah duduk dan berusaha turun dari ranjang.


“Mas sudah subuh....cepet bangun. Mumpung bapak sama mama


masih di masjid.” Keinara kembali menggoyang-goyang tubuh Fakhri, sambil duduk


ditepi ranjang.


Fakhri menuruti perintah calon istrinya dan duduk di samping gadis itu. Melihat Keinara hendak bangun dari duduknya, tangan Fakhri meraih tubuh keinara hingga tubuh gadis itu terduduk diatas pangkuannya, kemudian


kembali memeluknya dengan erat.


“Mas...ih...lepas.....”. Pinta Keinara,berusaha melepas tangan Fakhri yang mendekap tubuhnya.


“Sebentar sayang....Sepertinya aku sudah kecanduan dengan aroma tubuh kamu.” Ucap Fakhri dengan mata terpejam meletakan dagunya di bahu Keinara.


“Mas...udah deh, keburu bapak sama mama pulang.”


Fakhri akhirnya melepas pelukannya. dan mengajak gadis itu untuk solat berjamaah.


 Tak lama Keinara sudah datang membawakan apa yang dimintanya.


“Mas...aku boleh nanya sesuatu nggak?.” Ucap Keinara dengan nada serius.


“Boleh...mau tanya apa, kelihatannya serius banget?!.”


“Ehm....Gimana dengan orang tua mas tentang pernikahan kita nanti, apa mereka merestui?.”


“Apa ini yang membutamu tidak bisa tidur semalam?.”


“Salah satunya...”


“Denger baik-baik ya calon istriku sayang....Orang tuaku sudah tau tentang hubungan kita sejak lama. Dan sejak itu juga mereka merestui hubungan kita. Pada dasarnya mereka memberi kebebasan pada semua anaknya untuk


menentukan sendiri siapa calon pendampingnya.  Kemarin saya sudah menelfon mereka dan mengatakan jikahari ini kita akan menikah. Meski awalnya kaget  tapi mereka tidak mempermasalahkannya. Hari ini mereka akan datang menyaksikan pernikahan kita kok...”


“Oh syukurlah....” Keinara merasa lega. Setidaknya ia sekarang tau, kalau keluarga Fakhri mau menerima dirinya sebagai bagian dari keluarga mereka.


“Ada lagi yang mau di tanyakan?.”


“Boleh nggak mas, nanti setelah menikah aku bekerja?.”


“Hemmm...bekerja..? Kamu pikir aku tidak bisa menafkahi kamu, sampai kamu berpikiran untuk bekerja! Inn Syaa Alloh aku masih bisa mencukupi semua kebutuhan kamu  bahkan kebutuhan anak-anak kita nanti!.” Fakhri nampak heran dengan keinginan Keinara. Untuk apa Keinara bekerja, jika suaminya memilki segalanya,pikir Fakhri.

__ADS_1


“Bukan begitu maksudku mas....Aku bekerja bukan karena aku takut kamu tak bisa menafkahiku.  Aku hanya ingin mewujudkan impianku menjadi seorang pengajar . Menjadi guru itu cita-citaku sejak kecil lho mas.Tapi kalau kamu nggak ngijinin ya udah nggak papa.” Wajah Keinara berubah mendung. Gadis itu kemudian bangkit dari duduknya.


Pergi ke arah dapur.


Fakhri terdiam sejenak, sebelum akhirnya menyusul Keinara. Fakhri melingkarkan tangannya di pinggang Kienara yang tengah mencuci piring di wastafel .


“Mas....ngapain sih...lepas....atau aku semprotin sabun nih.” Ucap Keinara kesal. Satu tangannya siap menekan botol sabun kearah mata Fakhri yang berada di atas bahunya.


“Baiklah...aku ijinkan kamu bekerja, sepanjang kamu tidak meninggalkan kewajiban kamu sebagai seorang istri.” Akhirnya Fakhri memberi ijin. Karena merasa tak tega menghalangi Keinara mewujudkan impiannya, meski sebenarnya yang ia inginkan Keinara menjadi ibu rumah tangga saja seperti bundanya.


Keinara memutar badannya. Saking senangnya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu Keinara  langsung


menangkup wajah Fakhri.


“Benaran mas.?!.”


Fakhri mengangguk dan menarik tangan Keinara yang penuh busa sabun dari wajahnya.


“Upss...maaf.....” Keinara langsung mencuci tangannya dan membersihkan wajah Fakhri.


“Dah bersih.....” Ucap Keinara setelah membilas pipi Fakhri dengan air bersih serta mengeringkannya dengan ujung jilbab.


“Belum....!.”


“Udah....mas.....nih aku lap lagi.” Lagi ujung jilbab menyapu pipi Fakhri yang sebenarnya sudah bersih dan kering.


“Jangan pakai jilbab bersihinnya!.”


“Ya udah aku ambil tisu dulu!.”


Tangan Fakhri langsug menahan tangan Keinara yang hendak mengambil tisu di meja makan.


“Jangan pakai tisu juga!.”


“Mas.....terus mau pakai apa!Mau pakai kain pel? .” Keinara lama-lama menjadi kesal.


Fakhri menyentuh bibir Keinara. Mata Keinara langsung melotot. Sementara pipi Fakhri sudah berada didepan bibirnya. Menanti untuk di beri sentuhan.


“Nggak mau....!!”


Tangan Fakhri langsung mengungkung tubuh Keinara yang berusaha pergi dari tempatnya.


“Cepetan sebelum ada orang.....” Ujar Fakhri membuat Keinara gugup.


Keinara tampak bingung. Namun tak ada pilihan lain.


“Cup....” satu ciuman dari Keinara mendarat sempurna dipipi Fakhri. Dan itu belum selesai. Fakhri kembali menyodorkan pipi yang sebelah. Meminta hak yang sama.


Keinara makin kesal. namun ia tak bisa terbebas dari kungkungan tangan Fakhri.


“Cup....” Akhirnya kedua pipi Fakhri mendapat hak yang sama.


“Cup....” Kali ini bibir Keinara yang menerima kecupan dari Fakhri. Membuat gadis itu kaget dan terdiam mematung. Sementara sang pelaku berlalu begitu saja.

__ADS_1


“Mas Fakhrii.....!!.” Teriak Keinara setelah ia tersadar dari keterkejutannya.


Fakhri yang mendengar teriakan Keinara hanya mengulum senyum. Kembali duduk bersandar di sofa depan tv dengan perasaan puas . Merasa telah menang banyak, sejak malam sampai pagi.


__ADS_2