
Tiga hari semenjak ia bertemu Fakhri dan Keinara di pesta pernikahan waktu itu, Devan belum bertemu lagi dengan keduanya. Pria itu masih diliputi rasa penasaran tentang hubungan asmara sepasang kekasih itu. Karena ia
sempat melihat Fakhri dan Keinara seperti sedang berdebat, dan keduanya terlihat sama-sama menangis.
“Setelah kejadian itu bagaimana hubungan mereka sekarang?”. Pertanyaan itu kerap melintas di pikiran Devan. Ia tetap bergharap hubungan keduanya beai-baik saja, meski ia juga berharap suatu saat bisa memiliki Keinara.
Mencintai kekasih dari temannya memang bukan keinginannya, tapi ia tak bisa menolak ketika hatinya memilih untuk jatuh cinta pada kekasih temannya itu. Rasa cinta itu hadir begitu saja, saat matanya melihat pesona yang ada pada Keinara di awal perjumpaanya.
Seiring berjalannya waktu, bukannya menghilang rasa cinta itu malah semakin kuat mengisi ruang hatinya yang lama tak berpenghuni. Devan tak mampu lagi menahan luapan perasaannya, sehingga ia membiarkan dirinya larut dalam rasa cinta itu. Dan merindukan Keinara menjadi bebannya sekarang.
Malam terus merangkak semakin larut, tapi Devan masih terlihat membuka matanya. Semua karena rindu yang tengah merongrong batinnya.Tentunya Rindu pada Keinara.
Dengan berbantalkan kedua lengan, Devan terbaring di ranjang king zise miliknya. Matanya menatap ke langit-langit kamar, namun pikirannya melayang ke sosok gadis yang tak seharusnya ia cintai.
Beberapa kali, pria itu tampak menarik nafas panjang. Saat beberapa kali ia mengingatkan dirinya, bahwa gadis yang ia rindu bukanlah miliknya.
“Lama-lama aku bisa gila.....!!!” Ucap Devan gusar. Yang kemudian memilih duduk di tepian ranjang dan mengacak rambutnya. Tapi itu tak mengurangi kegundahan hatinya.
Menonton pertandingan sepak bola di salah satu stasiun TV, menjadi pilihan Devan untuk mengalihkan pikirannya. Televisi berukuran jumbo menjadi teman Devan sampai ia terlelap hingga malam berganti pagi.
“Pagi oma....”. Sapa Devan pada sang nenek yang telah menunggunya di meja makan.
“Pagi sayang.....” Balas Oma Ratih saat Devan mencium kedua pipinya. Segelas susu dan setangkup roti tawar beroleskan selai coklat menjadi menu favoritnya sejak kecil. Dan sepertinya ia tak pernah bosan degan menu itu.
“Van....kapan terakhir kamu ketemu Keinara?.” Tanya Oma Ratna tiba-tiba, yang mengharuskan Devan untuk segera menelan roti yang tengah ia kunyah. Dan hampir saja ia tersedak.
“Tiga hari yang lalu, kenapa oma?.”
“Nggak apa-apa...kangen aja sama gadis itu.”
“Oh.....oma kangen juga sama Keinara?.” Ucap Devan, tak menyadari ada satu kata dari ucapannya yang menarik perhatian oma.
“Hemm....jadi selain aku, ada juga yang kangen sama Kei?. Dan apa itu kamu?.”
“Eh....enggak....enggak .... Bukan itu maksud aku oma ?!.” Balas Devan yang kemudian menyadari kalau seharusnya ia tak memakai kata “juga” dalam ucapannya. Dalam hatinya ia meruntuki bibirnya yang begitu mudahnya membongkar isi hatinya.
Oma Ratna dan cucunya sama-sama merindukan Keinara, tapi dengan makna yang berbeda. Oma Ratna sangat menyayangi Keinara, karena gadis itu mengingatkannya pada sang cucu yang telah kembali kepemiliknyasatu thun yang lalu.
Oma Ratna tersenyum melihat raut wajah cucunya yang memerah.Terlihat lucu.
“Oma sudah lama tidak ngobrol sama gadis itu.....”
“Oma ingin ketemu sama Kei?.”
“Iya.....tapi takut mengganggu waktunya.”
“Apa perlu aku tanyakan sama Kei oma, Mungkin dia punya waktu luang untuk bisa bertemu dan ngobrol sama oma.”
“Coba kamu telfon dia sekarang!.” Pinta oma Ratna yang disambut dengan debaran dalam hati Devan.
“Devan coba ya oma...”
Pria yang merasa hatinya masih berdebar, mengambil benda pipih yang tergelatak di samping piring sarapannya.
“Tut....tut....tut.....tut......”
__ADS_1
Hanya suara itu yang Devan dengar saat ponsel pintarnya menempel di telinga. Dan suara itu terdengar kembali setiap ia mengulang panggilannya.
“Tidak diangkat oma, mungkin ia sedang sibuk...”.
Oma Ratna dan cucunya tampak kecewa. Namun itu tak berlangsung lama, karena saat Devan memutuskan untuk meninggalkan meja makan, Keinara berada dibalik dering ponsel miliknya.
“Kei oma....”. Devan menunjukan layar ponselnya ke arah oma Ratna. Dan kemudian membuat ponselnya
berpindah ke tangan orang tua kesayangannya itu.
“Assalamu’alaikum Kei.....” Sapa Oma Ratna mendahului.
“Wa’alaikumsalam oma....apa kabar?.” Suara Keinara begitu jalas di telinga Devan setelah neneknya menambah volume ponsel. Hatinya menghangat, mencipta sebuah senyum di bibir pemuda berwajah manis itu.
“Alkhamdulillah sehat....kamu sendiri gimana?.
“Sehat juga oma. Maaf tadi Kei sedang di belakang , jadi tidak dengar kalau ponsel Kei bunyi.”
“Iya nggak apa-apa....lagi sibuk ya?.”
“Enggak kok oma...Cuma lagi bantu mama masak di dapur?.”
“Mama?....mama kamu lagi di Jakarta?.”
“Tidak oma....”
“Terus....kenapa kamu bisa lagi sama mama kamu?.”
“Kei sudah pulang ke desa oma, karena kuliah Kei sudah selesai. Maaf oma, Kei nggak sempat pamit sama oma.”
Oma Ratna dan Devan nampak terkejut mendengar ucapan Keinara.Rasa sedih tiba-tiba mengusik perasaan Devan. Sebelum sempat ia mengobati rasa rindunnya, gadis itu kini telah berada jauh darinya.
“Kemarin oma....Maaf sekali lagi oma.”
“Iya tidak apa-apa.....Sebenarnya oma ingin sekali ketemu sama kamu. “
“Ya Alloh... maaf ya oma...Seharusnya kemarin Kei menemui oma dulu sebelum pulang.” Balas Keinara, merasa bersalah.”Semoga lain waktu kita bisa bertemu oma....”
“Iya...udah nggak apa-apa kok, Kamu kapan ke Jakarta lagi?.”
“Inn Syaa Alloh bulan depan oma.Saat wisuda.”
Sedikit ada rasa lega di hati pria yang diam-diam menyimak obrolan dua wanita sepesial dalam hidupnya itu. Setidaknya kini dia punya satu kesempatan untuk bisa bertemu dengan Keinara, meski kesampatan itu akan datang satu bulan lagi.
Obrolan oma Ratna dan keinara terus berlanjut tanpa melibatkan Devan. Yang akhirnya membuat Devan memilih kembali kekamarnya setelah sarapannya habis.
Tanpa peduli dengan pakaiannya yang sudah rapi, Devan merebahkan tubuhnya yang terasa tak bertenaga diatas kasur . Pria itu kembali bergulat dengan pikirannya.
Merasa telah cukup lama meninggalkan omanya, Devan akhirnya meninggalkan kamar bercat serba abu-abu miliknya.
Ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja, begitu ia sampai di ruang makan. Tanpa oma yang sebelumnya menggunakan benda itu.
“Heh....gagal ngobrol sama Kei....salahku juga, kenapa tadi ninggalin oma....bodoh!.” Gumam Devan kecewa, karena ponselnya sudah tak terhubung lagi dengan Keinara. Untuk menghubunginya lagi rasanya malu, karena ia tak punya alasan untuk itu.
Rasa kecewa harus ia buang, karena ia harus segera berangkat ke tempat kerjanya. Devan berharap hari ini ia bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan. Tanpa harus terusik dengan perasaannya pada Keinara.
__ADS_1
Sampai jam makan siang, Devan masih berkutat dengan pekerjaannya. Sampai akhirnya ia harus keluar kantor untuk menuruti keinginan perutnya yang minta diisi. Pilihannya jatuh pada semangkok soto yang di jual di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari kantornya.
Perhatian pria itu terpecah antara soto dan dua wanita yang juga sedang menikmati menu yang sama dengannya. Devan merasa tidak asing dengan salah satu wanita yang duduk tidak jauh darinya itu. Ia mencoba mengingat ingat siapa gadis itu. Meski agak lama, ia akhirnya berhasil mengingat siapa gadis itu.
Devan mengangkat mangkok soto yang belum ia habiskan isinya, untuk berpindah tempat duduk menjadi satu meja dengan dua wanita yang tadi menarik perhatiannya.
“Hai....boleh saya duduk di sini...?.” Tanya Devan mengejutkan dua wanita yang tengah asik menikmati makanannya. Satu dari dua wanita itu, menyilahkan Devan untuk bergabung setelah ia merasa pernah melihat pria di depannya itu.
“Terima kasih mbak....” Devan mendudukan bokongnya di kursi bersebelahan dengan gadis yang satunya lagi. “Kenalin saya Devan....” Lanjut Devan sembari mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan kedua gadis yang bersamanya.
“Saya Dewi dan ini teman saya ,Wulan. Sepertinya kita pernah bertemu.?” ucap Dewi yang masih ingat dimana ia pernah bertemu dengan bernama Devan itu.
“Iya benar, kita memang pernah bertemu di acara pernikahan teman saya. Kalau tdak salah mbak Waitress di cara itu bersama Keinara.?”
“Iya. Anda juga mengenal Keinara?.”
“Keinara itu pacar teman saya, jadi saya kenal sama dia.”
“Jadi anda temannya Fakhri?.”
Devan hanya mengangguk karena terlanjur memasukan sesendok soto yang hampir dingin ke dalam mulutnya. Sementara otaknya berpikir bagaimana untuk bisa mengajak Dewi berbicara soal hubungan Keinara dan Fakhri.
“Sudah lama berteman dengan Kei?.” Tanya Devan
“Sudah...sejak kami satu kampus dan satu kelas. Kami sahabatan....”
“Kok...sekarang Kei tidak ikut?.” Tanya Devan lagi, yang sebenarnya ia tau jawabannya. Karena baru tadi pagi ia mendengar tentang keberadaan gadis itu.
“Dia sudah pulang ke desanya.”
“Oh.....Kasihan Fakhri, sekarang jadi LDRan sama pacarnya...”
Satu kalimat yang devan harap bisa membantunya untuk tau tentang hubungan Fakhri dan Keinara dari mulut Dewi.
“Mereka sudah putus....”
Hati Devan seketika terasa sejuk mendengar perkataan Dewi. Tubuhnya seolah melayang. Binar bahagia terpampang nyata di mata pria itu.
“Anda kelihatannya bahagia mendengar hal itu ?.”
“Oh...tidak....malah sebaliknya. Saya ikut sedih, karena selama ini yang saya tau mereka saling mecintai. Sangat di sayangkan kalau mereka sekarang putus.” Balas Devan berbohong.”Apa putusnya mereka karena wanita yang bersama Fakhri waktu di pesta itu?. ” sambung Devan. Yang memang sangat ingin tau penyebab putusnya hubungan Fakhri dan Keinara.
“Kalau soal itu saya tidak bisa cerita. Silahkan anda tanya langsung ke teman anda!.” Ucap Dewi yang merasa itu bukan ranahnya untuk menceritakan sebab berakhirnya hubungan dua temannya itu.
“Oh.....ya sudahlah. Biarlah itu menjadi urusan mereka.”
“Nah itu anda tau...!.”
“Hi...hi.....hi..” terdengar suara tawa lirih dari gadis di samping Devan yang sejak tadi hanya jadi pendengar. Mengundang Devan untuk menatap wajah gadis yang bernama Wulan itu.
“Kenapa mbak....?.” Tanya Devan heran , disertai rasa kaget begitu melihat mata bulat bening, dengan bulu mata yang hitam lentik panjang asli buatan Tuhan, hidung mancung, dan bibir tipis berwarna merah jambu milik gadis
yang sejak tadi luput dari perhatiannya.
“Anda seperti emak-emak depan rumahku, yang selalu kepo dengan urusan orang....he..he....” Jawab Wulan dengan bibir masih menyisakan senyuman.
__ADS_1
Malu dan kesal bercampur jadi satu sehingga memaksa Devan segera beranjak dari tempatnya.
"Untung cantik...." Gumam Devan sembari pergi.