
"Kisah cintamu boleh tak sesuai harapan, tapi tidak dengan pendidikanmu yang tinggal beberapa langkah lagi selesai." Pesan Dewi sang sahabat, yang menjadi penyemangat Keinara. Gadis itu bertekad untuk segera menyelesaikan tugas akhirnya. Waktu dan pikirannya lebih banyak ia habiskan untuk menyusun skripsi. Ia tak begitu memikirkan Fakhri yang tak pernah menghubunginya sejak pertemuan mereka dua minggu yang lalu.
Namun di hari-hari berikutnya, rasa rindu menyeruak dan menuntutnya untuk bertemu dengan sang kekasih. Keinara hanya bisa menemuinya melalui panggilan video. Karena Fakhri selalu menolak ajakan Keinara untuk bertemu. Dan pria itu selalu punya alasan untuk itu.
Meski kecewa Keinara selalu menerima alasan Fakhri, dan tak memaksakan keinginannya. Ia harus puas hanya melihat Fakhri dari layar ponsel, itupun hanya sebentar dan selalu berakhir dengan drama sakit kepala. Menjadi tanda tanya besar bagi Keinara, soal sakit kepala yang dialami Fakhri. Membuat gadis itu berprasangka buruk, karena hal itu terjadi berkali-kali. Keinara berpikir kalau itu hanya sebuah alasan untuk Fakhri menghindarinya.
Meski Fakhri sudah bisa melakukan aktifitas seperti semula tanpa bantuan kursi roda, nyatanya tak membuat ia berniat menemui gadisnya atau sekedar mengajaknya jalan. Rasa sakit di kepala yang beberapa kali menyerang saat bertemu dan bersentuhan dengan Keinara menjadi alasan ia tak mau menemui gadis itu. Selain itu juga karena ia merasa asing dengan sosok Keinara.
“Wi, kamu tunggu di sini sebentar ya."
Pinta Keinara pada sahabatnya, yang dengan senang hati menemaninya untuk bertemu Fakhri. Rindu yang tak mampu lagi ia bendung menuntunnya untuk menemui sang kekasih di tempat kerjanya.
Dengan membawa makan siang untuk Fakhri, Keinara melangkah masuk kedalam gedung yang telah lama tak ia datangi. Suasana kantor itu masih sama seperti waktu terakhir ia datang.
Tak ada yang menyadari dengan kedatangan gadis itu, kerena semua penghuni gedung, tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Keinara langsung menuju ke ruang kerja Fakhri begitu sampai di lantai tujuh. Sejenak ia mencari-cari Fani, sekertaris Fakhri. Untuk menanyakan keberadaan pimpinannya. Tapi wanita itu tak berada ditempatnya. Akhirnya Keinara memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Fakhri. Merdengar suara Fakhri yang memintanya masuk, Keinara meraih gagang pintu dan mendorong pintu hingga terbuka lebar.
Mata keinara membulat sempurna ketika melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Semula ia tak percaya dengan yang di lihatnya, namun setalah ia menajamkan penglihatannya ia baru yakin apa yang ia lihat nyata adanya.
“Keinara....!!!.” Panggil Fakhri yang tampak sangat terkejut melihat kehadiran gadis itu. Sampai ia harus menyingkirkan perempuan yang sedang duduk di pangkuannya dan langsung berdiri dengan wajah menegang.
Air mata hampir saja menggenangi mata Keinara, namun gadis itu sekuat tenaga menahannya agar air matanya tak mengalir. Netranya menatap ke arah Fakhri dengan tatapan tak percaya.
“Siapa gadis ini yang?." Tanya wanita yang tengah menggelayut manja di lengan Fakhri .
“D...di..dia......” Fakhri gugup sehingga tak mampu menjawab pertanyaan gadis di sampingnya.
Fakhri masih tak percaya dengan keberadaan Keinara yang tak ia duga akan datang kekantornya.
“Saya...sepupunya mas Fakhri. Saya kesini karena disuruh sama tante Talia untuk mengantarkan makan siang untuk mas Fakhri.” Ucap Keinara dengan suara yang di buat tenang meski tak sempurna.
Keinara menjawab pertanyaan yang seharusnya bukan untuknya dengan jawaban yang mengada-ada. Ia terpaksa berbohong, agar dirinya bisa tau lebih jauh hubungan Fakhri dengan gadis itu.
“Oh...kamu sepupunya Fakhri, Kenalin aku Bela pacarnya Fakhri.” Ucap gadis yang tengah melangkah mendekati Keinara. Dan kemudian meraih tangan gadis itu.
Hati keinara seperti tertusuk ribuan sembilu mendengar pengakuan Bela. Luka yang begitu dalam, dengan rasa sakit yang luar biasa di rasakan oleh gadis yang berusaha bersikap tenang itu.
Fakhri mengalihkan pandangannya saat Keinara menatap kearahnya. Tak sanggup ia menatap mata gadis itu, mata yang menunjukan luka di hatinya.
“Namaku Keinara mbak....” Balas Keinara begitu tangannya bertaut dengan tangan Bela.
“Wow...nama yang cantik, secantik wajah pemiliknya. Yuk duduk dulu....sepertinya kita bisa menjadi teman sebelum kita menjadi keluarga.” Ujar Bela dengan yakinnya.
Sebelum menuruti ajakan Bela, Keinara terlebih dulu melangkah medekati Fakhri yang masih berdiri mematung.
"Ini makan siangnya mas Fakhri." Ucap Keinara sembari meletakkan makanan yang di bawanya ke atas tangan Fakhri, dengan tatapan penuh amarah.
Keinara kemudian duduk berhadapan dengan Bela di sofa, dan matanya sesekali menatap ke Fakhri yang masih berdiri mematung.
Ada rasa bersalah yang menyelinap di hati Fakhri begitu melihat tatapan Keinara. Ia menyadari dirinya kini telah melukai hati gadis itu.
“Yang sini duduk, nggak capek apa berdiri terus...sini...” Panggil Bela karena melihat Fakhri yang terus berdiri.
“Aku ke toilet sebentar.” Balas Fakhri yang langsung berlalu masuk ke ruang pribadinya. Di depan cermin Fakhri melihat ada air yang menggenangi matanya, tanpa ia sadari. Seiring kesedihan yang memenuhi relung hatinya . Pria yang masih mengidap amnesia itu, merasa aneh dengan apa yang tengah terjadi pada dirinya.
“Kenapa aku sesedih ini melihat gadis itu....dan air mata ini.....???”
Fakhri mematung di depan cermin. Membiarkan hati dan pikirannya berperang .
Semetara di ruang kerja Fakhri, Bela dengan wajah cantiknya percaya begitu saja kalau gadis didepannya adalah sepupu Fakhri. Wanita itu berharap, Keinara bisa menjadi pintu masuk baginya untuk masuk kedalam keluarga
Fakhri. Karena ia ingin suatu saat bisa menjadi bagian dari keluarga Fakhri.
“Senang sekali aku bisa bertemu kamu di sini Kei”
“Sama mbak....saya juga senang bertemu dan berkenalan dengan mbak Bela.”
Keinara terus berusaha untuk menahan sakit di hatinya. Sebelum ia yakin kalau posisinya kini sudah di gantikan oleh Bela.
“Apa kamu tinggal di rumah Fakhri,kok bisa kamu yang mengantarkan makan siang kesini?.”
__ADS_1
“Tidak mbak, kebetulan saya sedang main ke rumah mas Fakhri, jadi ibunya mas Fakhri minta tolong ke saya untuk mengantarkan makanan ini.”
“Oh....gitu, makasih ya. Kebetulan Fakhri belum makan siang.”
“Iya mbak sama-sama. Jadi mbak Bela pacarnya mas Fakhri? .”
Bela mengangguk sambil tersenyum bangga.
“Sudah berapa lama?.”
“Belum lama sih,,,yah sekitar dua mingguan lah.”
“Oh....selamat ya mbak, semoga hubungan mbak bela dan mas Fakhri langgeng .”
Tak terbayangkan sakitnya, ketika ia harus mengucap doa untuk wanita didepannya dan pria yang di cintainya.
“Aamiin...makasih Kei doanya.”
“Sama-sama mbak. Kalau begitu saya pamit mbak. Saya masih ada keperluan lain.”
“Padahal aku ingin ngobrol banyak sama kamu Kei.”
“Maaf mbak, sayangnya aku harus segera pergi. Semoga lain waktu kita bisa betemu lagi.”
“Oke deh....sekali lagi makasih ya.”
“Iya mbak Bela. Saya pamit. Salam buat mas Fakhri”
“Iya nanti saya sampaikan.”
Dengan hati yang remuk redam Keinara melangkah keluar dari ruang Fakhri. Ruang yang juga menjadi saksi kisah cintanya dengan Fakhri.
Gadis itu masih berusaha untuk kuat menahan perasaan sedih dan sakit di hatinya. Ia tak ingin menumpahkan air matanya di tempat itu. Meski air matanya terus memaksa keluar.
Keinara bergegas meninggalkan gedung kantor Fahri tanpa melihat orang-orang di sekitarnya. Begitu duduk di mobil, keinara langsung menumpahkan air matanya. Menimbulkan kebingungan untuk sahabatnya yang sedari tadi menunggunya.
“Kei...kenapa?. Kok kamu nangis begini. Ada apa? Mas Fakhri menyakiti kamu?.”
“Sudah nangisnya?.” Tanya Dewi saat sang sahabat terlihat menghapus air matanya.
Keinara melepas pelukan Dewi, dan duduk besandar dengan mata merah penuh air mata dan wajah yang menunjukan bahwa ia sangat terluka.
“Sekarang cerita, apa yang terjadi, sampai kamu menangis seperti ini.”
Keinara menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia menceritakan apa yang baru saja ia alami.
“Ternyata mas Fakhri berubah karena dia telah memilik wanita lain Wi.”
“Maksud kamu, Mas Fakhri punya pacar selain kamu?.”
Keinara mengangguk.
“Dia selingkuh Wi. tadi aku melihat dengan kepalaku sendiri, dia sedang bersama wanita itu di dalam ruang kerjanya. Sakit banget Wi....”
Keinara kembali terisak , saat ia teringat Fakhri tengah memangku seorang wanita.
"Apa kamu yakin, kalau wanita itu pacarnya Fakhri?."
"Aku yakin Wi. Gadis itu sendiri yang mengakuinya didepan Fakhri. Dan mas Fakhri tak menyanggahnya. Aku juga sempat melihat mereka bermesraan Wi." Ucap Keinara sembari mengingat hal pahit yang beberapa waktu lalu ia alami.
“Pantas saja dia tak pernah menemui kamu selama ini. Jadi ini penyebabnya. Kurang ajar sekali tuh orang!!!. ”
Gigi bawah dan atas dewi tampak saling menekan, karena emosinya yang membuncah. Tak terima dengan yang dilakukan Fakhri pada sahabatnya.
“Tega sekali dia menyakiti kamu. Kurang apa coba kamu sama dia. Dasar laki-laki ber***sek!!!”
Dewi menyalakan mobilnya untuk membawa Keinara pergi dari tempat itu. Tapi itu urung ia lakukan setelah melihat Fakhri dengan seoang wanita melangkah keluar gedung dan masuk kedalam mobil.
Dewi mengawasi mobil Fakhri dan kemudian mengikutinya.
“Kenapa kamu mengikuti mobil mas Fakhri. Kamu mau apa?." Tanya Keinara penuh tanya.
__ADS_1
“Kamu tenang Kei, aku hanya ingin memberinya sedikit peringatan.” Ucap Dewi yang kemudian menaikan
kecepatan laju mobilnya. Mobil Dewi terus melaju dengan kecepatan diatas biasanya sampai mobilnya mendahului mobil Fakhri. Dan dengan tiba-tiba, Dewi menghentikan mobilnya tepat di depan mobil Fakhri dengan posisi menghalangi menyisakan jarak kurang dari dua meter.
“Aww....Dewi.....!!!”. Teriak Keinara terkejut saat tubuhnya terdorong kedepan hampir menyentuh dasbor.
Sementara di belakang, mobil Fakhri tampak berhenti mendadak. Sampai menimbulkan suara berdecit.
“Kamu tunggu di sini Kei. Jangan keluar. Aku ada urusan sebentar.”
“Kamu mau ngapain Wi....Dewi....” Teriak Keinara , tapi tak di gubris oleh Dewi.
Akhirnya Keinara ikut turun dari mobil untuk menyusul Dewi.Namun ia kemudian memilih berhenti.
Dewi mendekati mobil Fakhri dan mengetuk jendela mobil itu,meminta Fakhri keluar.
“Keluar....!!.” Panggil Dewi dengan penuh amarah.
Tak lama, akhirnya Fakhri keluar. Begitu Fakhri berada diluar mobil, tangan kanan Dewi melayang dan mendarat sempurna di pipi kanan Fakhri, meninggalkan warna merah.
" Plak.....!!!" Tamparan Dewi cukup keras, sampai menimbulkan suara dan membuat tubuh Fakhri sedikit terhuyung.
Tak puas, Dewi kemudian melayangkan tangan kirinya, menampar pipi kiri Fakhri.
"Plak...!!!."
Kedua tamparan Dewi tak membuat Fakhri bereaksi. Pria itu tetap diam tanpa sepatah kata. Seolah membiarkan Dewi melampiaskan amarahnya.
“Hei apa yang kamu lakkukan pada pacarku!!.” Teriak Bela yang juga keluar dari mobil dan menyaksikan saat Dewi menampar Fakhri.
“Dewi....Cukup....!!!.” Teriak Keinara lagi dari kejauhan.
Namun Dewi tak menggubris teriakan dua wanita itu. Gadis ini benar benar sudah gelap mata.
“Tamparan ini tak seberapa sakitnya dibanding sakit yang kamu buat untuk wanita itu.” Ucap Dewi sambil menunjuk ke arah Keinara yang sedang menatap cemas.
“Sebenarnya aku ingin melakukan lebih dari ini, tapi wanita yang kamu hianati itu pasti tidak akan rela. Karena dia sangat mencintai kamu.” lanjut Dewi.
Bela mendekat, tak terima dengan perbuatan Dewi pada Fakhri.
“Hei siapa kamu, berani-beraninya kamu menampar kekasihku.” Teriak Bela. Hampir saja tangannya melayang ke pipi Dewi, tapi tangan Fakhri berhasil menahannya. Membuat perempuan itu kesal.
“Saya tidak punya urusan dengan anda nona. Tapi jika anda ingin tau kenapa saya menamparnya, anda bisa menanyakannya langsung pada laki-laki bre***sek ini!!.”
Setelah berkata seperti itu, Dewi melangkah pergi namun sebelum benar-benar pergi, gadis itu menggebrak bagian depan mobil Fakhri dengan keras dengan kedua tangannya. Membuat Bela kaget sampai tubuh gadis itu berjingkat.
Mata Dewi yang merah menatap tajam penuh ancaman ke arah Fakhri dan Bela. Sebelum akhirnya Keinara menariknya untuk masuk kedalam mobil.
💔💔💔💔💔💔💔
♫ Jika menyakiti aku
♫ Bisa membuatmu bahagia
♫ Maka lakukanlah itu
♫ Tanpamu ku yakin bisa
♫ Ikhlasku mencintaimu
♫ Ikhlasku kehilanganmu
♫ Semoga kau bahagia
♫ Dengan pilihanmu itu
♫ Kau bersama dia
♫ Aku bersama do’a
😥😥😢😢
__ADS_1